CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Cinta atau Ambisi semata


__ADS_3

Malam itu Azzura dan Zidan sedang menjadi raja dan Ratu semalam, pesta pernikahan mereka yang di gelar sederhana di kediaman Arfan itu tampak mewah dengan dekorasi yang artistik dan elegan.


Pak Somad dan Budhe Nur juga hadir, meski sebenarnya mereka merasa kecil sebab sedang berada di tengah-tengah keluarga sultan.


"Se-sederhana nya pesta Sultan, Ini pesta paling mewah di kampung Kita Ya Mbakyu " ungkap Pak Somad.


"iya, di kampung kita mana ada pesta semewah ini "jawab Budhe Nur.


Arini maupun Arfan merupakan pribadi yang rendah hati, mereka memperlakukan Pak Somad dan Budhe Nur sama seperti tamu yang lain, dan tidak memandang mereka meski mereka berasal dari kampung, karna bagaimanapun juga, Pak Somad adalah orang yang merawat Azzaura dari kecil.


Acara hanya di gelar di Rumah mereka, bukan di hotel atau di gedung, karna pernikahan mereka digelar tanpa besan, Bibi dan Paman Zidan pun sudah lama tidak ada komunikasi dengan mereka, jadi tidak bisa dihubungi.


Dalam kebahagiaan itu Arini merasa aneh, karna tidak melihat Azzam diantara mereka, hingga acara itu selesai, Azzam masih tidak tampak.


"Ran, Hafsah ada dimana?" Arini bertanya keberadaan Hafsah, pada Rania. karna biasanya mereka memang selalu bersama-sama, seolah belahan jiwa yang tidak bisa dipisahkan.


"Tadi Hafsah kirim pesan, ijin mau pulang dulu, kepalanya sakit katanya" jawab Rania.


"Oh, Aku kira Dia sama Azzam, dari tadi anak itu tidak kelihatan batang hidungnya." Karna Arini sibuk, Ia pun tidak mencarinya.


Malam semakin larut, dan acara pun selesai, semua kembali ke peraduannya masing-masing, termasuk Azzura dan Zidan, sebagai pasangan pengantin baru, mereka diliputi prasaan yang sangat bahagia, meski sebenarnya dua-dua nya lelah sehabis menemui tamu undangan.


"Sayang, kalau boleh Aku tahu, apa yang Umma katakan dulu waktu pertamakali kamu bertemu dengannya di toilet Rumah sakit itu ?" Tanya Zidan sambil merebahkan kepalanya di paha istrinya.


"Memangnya kenapa?" Azzura pun mengelus-elus rambut Zidan agak kaku, karna itu untuk pertamakalinya Azzura disentuh laki-laki.


"Ya aneh saja, tiba-tiba Umma datang mengajakmu ke Toilet dan kemudian dengan tiba-tiba menangis histeris, sembari mengatakan kamu adalah anaknya yang selama ini di carinya" guman Zidan sambil menatap wajah istrinya yang sekarang sudah tidak lagi berjilbab di depannya.


"Hmm, waktu itu Umma memintaku membuka baju " ucap Azzaura sambil menghembuskan nafas, Zidan langsung terperanjat dan mengangkat kepalanya dari paha istrinya itu.


"Terus ?" Zidan penasaran.


"Dan Umma melihat lengan kanan ku, yang ternyata ada tanda lahirnya yang berbentuk seperti bulan sabit"


"Benarkah, sama kayak Azzam kalau gitu, tapi letaknya di lengan kirinya , yang berbentuk seperti bintang"


"Benarkah ? kok unik ya, kita kembar, punya tanda lahir bulan dan bintang" Azzura merasa ta'jub karna sebelumnya memang tidak tahu kalau Azzam juga mempunyai tanda lahir berbentuk bintang.


"Sayang, boleh gak Aku lihat tanda lahir itu" pinta Zidan manja.


"Boleh " namun seketika Azzura terhenyak, karna kata-kata boleh itu berarti , Ia harus melepas bajunya dan jelas Suaminya akan melihat lebih dari tanda lahir yang ingin Ia lihat, menyadari itu Azzura pun tersipu malu, Ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kemudian Zidan pun membukanya perlahan.


"Ijinkan Aku meminta hakku malam ini, Apakah kau tidak keberatan ?" Pinta Zidan dengan suara lembut.


Azzura menunduk malu, dan mereka pun menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami istri sepenuhnya, dengan penuh cinta.


***


Sementara di Rumah yang sama, di kamar yang lain, Azzam, merasa sangat gelisah sejak pembicaraannya dengan Hafsah, Ia pun tidak bisa memejamkan mata meski sedari tadi Ia sudah merebahkan tubuhnya dengan sempurna di atas peraduan.


Tampak ponselnya yang tergletak di sisinya di atas kasur itu pun bergetar, di tatapnya ponsel berlambang Apel di gigit sebelah itu yang ternyata, tertera panggilan dari kontak dengan nama "sepupu bar-bar" , Ia pun mencoba mengangkatnya meski sebenarnya ragu.

__ADS_1


"Halo !"


"Kau belum tidur ?"


"Tidak bisa tidur."


"Sama, Aku juga tidak bisa tidur, Azzam, Rasanya Aku akan memutuskan untuk kabur saja dari sini !" Ucap Hafzah di sebrang telfon.


"Jangan gegabah, bedakan ini Cinta atau ambisi, kasian bibi jika kau seperti itu" grutu Azzam.


"Kalau begitu, bicaralah pada orang tuamu kalau kita saling mencintai dan ingin menikah " bujuk Hafsah.


"Apakah kau sudah bicara pada orang tuamu?"


"Belum , rencana nya besok, kalau mereka menentang hubungan kita ,maka Aku akan kabur dari Rumah !"ucap Hafsah sambil terisak.


"Kenapa kau jadi nekat seperti ini , kau bahkan telah menciumku , kamu kan tahu itu dosa " rutuk Azzam pada Hafsah.


"Karna itulah, jadikan Aku istrimu agar Aku tidak terus-terusan berdosa " bujuk Hafsah lagi.


"Sudahlah ! kita tidur saja dulu, biar kita pikirkan rencana kita" pinta Azzam


"Tapi kau harus janji, kalau kau akan bicarakan ini dengan orang tuamu besok"


"Iya, Aku janji , sudah ya Aku tutup telponnya, Aku ngantuk banget " Azzam segera mematikan ponselnya agar Hafsah tidak merengek lagi, sebenarnya Dia tidak mengantuk, justru tambah bingung apa yang harus Ia katakan pada orang tuanya mengenai Hafsah.


**


Adnan datang mengunjungi Hafsah. Setelah beramah tamah dengan Rania, dan meminta ijin untuk berbicara berdua dengan Hafsah, Rania pun mengijinkan Adnan berbicara berdua dengan Hafsah di ruang tamu.


"Assalamualaikum, ada perlu apa kamu memintaku kesini sepagi ini ?" Tanya Adnan pada Hafsah, dengan suara lembut, sebab tadi malam Ia memang mengirim pesan padanya agar menemuinya pagi itu.


"Waalaikumsam, Aku memang ingin bicara penting denganmu " suara Hafsah ketus, sengaja Ia lakukan agar Adnan tidak menyukainya.


"Ada apa?" Adnan tetap tersenyum meski Hafsah bersikap jutek.


"Aku tidak menerima perjodohan ini, Aku harap kamu urungkan saja niatmu menikah denganku" pemuda dengan kulit bersih dan berjanggut di dagunya itu semakin tersenyum.


"Dengan alasan apa Aku harus mengurungkan perjodohan ini ?"guman nya.


"K-karna Aku tidak mencintaimu " Hafsah sedikit gugup menjawabnya.


"Terus , karna apa lagi ?"


"A-aku sudah tidak perawan lagi, jadi sebelum kamu menyesal, kita sudahi saja perjodohan ini " guman Hafsah, mengaku tidak perawan demi agar Adnan infeel pada nya.


"Benarkah ? Dengan siapa dan dimana kau melakukannya?" Adnan masih terlihat tenang


"Itu bukan urusanmu, pokoknya Aku harap kau batalkan saja perjodohan ini !" Hafsah semakin mengeraskan suaranya.


"Kalau Aku tetap mau melanjutkannya , bagaimana ?"

__ADS_1


"Aku mencintai orang lain " Ucap Hafsah


Mendengar Hafsah berbicara seperti itu, Adnan mengerti maksud Hafsah, ucapan Hafsah itu membuat Adnan tak lagi tersenyum seperti tadi, seakan duri bertengker di kerongkongan nya.


"Sebaiknya pikirkan dulu , batalkan lah perjodohan ini, Aku mohon !" pinta Hafsah.


"Saya permisi dulu, Assalamualaikum !" Ucap Adnan, seraya berlalu pergi dari hadapan Hafsah.


"Waalaikumsalam "


"Loh, Adnan mana kok tidak ada, Mama sudah buatkan teh nih," tanya Rania heran.


"Ma, ada yang ingin Hafsah bicarakan dengan Mama"


"Iya, ada apa sayang"


"Ma, Hafsah tidak mau di jodohkan "


"Kenapa?" Rania terkejut.


"Karna Hafsah mencintai orang lain "


"Adnan itu adalah calon suami terbaik untukmu sayang, Dia dari keluarga baik-baik, pendidikannya tinggi, ilmu agamanya tidak di ragukan lagi, "


"Tapi semua itu tidak bisa menjamin pernikahan akan berjalan dengan Bahagia ma" sanggah Hafsah.


"Cinta pun tak menjamin Rumah tangga akan berjan dengan Harmonis, Hafsah " Rania mencoba menenangkan anak gadisnya.


"Tapi setidaknya Ada cinta ma, sesempurna apapun Adnan, kalau dihatiku ada yang lain bagaimana, apa itu tidak menimbulkan dosa kelak ?"


"Memang nya siapa laki-laki yang kau cintai itu Hah?"


"Mmm....Azzam anaknya tante Arini"


"Apah ? Kau mencintai Azam, sepupu mu sendiri ?


Jadi kedekatan kalian selama ini adalah pacaran ?"Rania tanpak marah.


"Tidak, Hafsah baru sadar dan merasakan cinta padanya, saat Dia lulus dari pesantren"


"Kalian kan sepupuan, kok bisa ? Apakah Azzam juga mencintaimu, ?"


"Iya "


"Lalu, kamu ingin membatalkan perjodohanmu dengan Adnan dan mau menikah dengan Azzam ?" Suara Rania meninggi.


"Iya, Aku tidak mau terus-terusan berdosa ma, bahkan kami pernah berciuman ma, Aku ingin menikah dengan Azzam ma" Air mata Hafsah mulai mencair.


"Hafsah....!!!" Rania syok dan tubuhnya terasa lemas, Ia pun Rubuh di Sofa .


"Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan itu dengan sepupumu sendiri Hafsah " Rania semakin tak sanggup mendengar kenyataan itu.

__ADS_1


Sementara di Rumah Arfan, Azzam sudah mulai berani membicarakan tentang hubungannya dengan Hafsah pada orang tuanya dan Azzam kini sedang menunggu tanggapan orang tuanya.


__ADS_2