CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
CEO baru


__ADS_3

Dua puluh dua tahun kemudian


Sesuai wasiat Opah Hadi, Arfan menyekolahkan Anak-anak nya di pesantren. Zidan yang sudah dianggap anak sendiri dan tidak dibeda-bedakan dengan anaknya sendiri, Azzam, Hingga akhirnya Zidan dan Azzam kini telah menyelesaikan study nya di pesantren modern, Mereka masuk pesantren modern itu sejak memasuki sekolah SMA, mereka sekolah dan kuliah disana, sehingga semua kegiatan dan pergaulan keduanya terpantau baik oleh pesantren.


"Assalamualaikum" ucap Zidan dan Azam saat pertamakali memasuki Rumah mereka. Arfan dan Arini pun menyambutnya dengan penuh kebahagiaan.


"Waalaikumsalam" Arfan yang suda berusia 57 tahun itu merasa senang anak-anaknya kini telah kembali setelah sekian lama menuntut ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat. Arfan yakin mereka sudah siap untuk meneruskan perusahaan keluarga Hadiningrat serta siap untuk melanjutkan hidup dengan bekal ilmu agama yang dirasa cukup.


"Abie bangga pada kalian, kalian telah membuktikan bahwa selama di dalam pesantren, kalian telah banyak menunjukkan prestasi yang memuaskan, terimakasih nak" Arfan memeluk anak-anak nya.


"Umma juga bangga, dengan prestasi kalian. bukan hanya ilmu dunia, ilmu agama yang kalian raih pun harus menjadi keberkahan dalam menjalani hidup kalian, sekarang saatnya kalian mengamalkan ilmu kalian" Ucap Arini menasehati mereka.


"Oh iya, Zahra dimana ?" Tanya Azzam yang menanyakan adik perempuannya yang sudah berusia 17 tahun itu.


"Aku disini...."Zahra baru muncul menyambut kehadiran kedua kakaknya.


"Anak manja baru muncul rupanya" Azzam menggoda adiknya.


"Ih kakak, manja gini juga banyak menghasilkan piala yang membanggakan tahu, memang kakak doang yang bisa" Zahra menyombongkan diri di hadapan kakaknya. Azzam dan Zidan memang dikenal Santri yang berprestasi, banyak piala dan piagam penghargaan atas prestasi di bidang nya masing-masing.


Begitulah mereka, hangat dan akrab satu sama lain, karna keluarga adalah segalanya bagi mereka. Sejak kehilangan putri mereka Azzura, sebenarnya Arini sangat rapuh, begitu juga Arfan, mereka tidak pernah berhenti mencari dan mencari, hingga menyewa detektif terbaik pun sudah mereka lakukan, namun Azzura mungkin memang ditaqdirkan hidup terpisah dari kembarannya, Azzam.


Setelah kehadiran Zahra, Arfan dan Arini sedikit terobati, kekuatan mereka seolah kembali lagi, mereka mencoba untuk menerima taqdir dari Allah, sehingga sejak lahirnya Zahra mereka punya semangat hidup lagi.


Sedangkan Ningsih telah meninggal saat Zahra berusia tiga tahun, Zahra seolah menjadi pengganti atas hilangnya Azzura dan kepergian Ningsih.


***


Hari ini Azzam dan Zidan sudah siap untuk ke kantor bersama Arfan, Sesuai kesepakatan dan sesuai kemampuan masing-masing, Azzam akan diangkat menjadi CEO perusahaan di bidang perhotelan dan Azzam menjadi CEO perusahaan dibidang property milik keluarga Hadiningrat yang ssejak 20tahun lalu berganti nama dari SAHARA grop menjadi Hadiningrat grop untuk mengenang mendiang Opah Hadi.


Setelah semua diposisi masing-masing, Zidan dan Azzam yang masih muda, cerdas dan tampan itu mampu membuat banyak para perempuan terpesona, apalagi gaya mereka yang selalu menunduk atau tidak menatap lawan bicaranya ketika berbicara dengan wanita.

__ADS_1


"Sebagai Direktur yang baru disini, saya ingin membuat peraturan baru yang mungkin akan menyulitkan diantara kalian, namun sebelumnya Saya minta maaf jika peraturan ini akan Saya terapkan di perusahaan ini dua hari setelah saya mengedarkan selebaran ini. Jadi saya harap semuanya harus siap menjalankannya dan menerima konsekwensinya jika tidak menjalankannya atau bisa memberi alasan khusus jika tidak bisa melaksanakannya, faham ?" Ucap Zidan dengan tegas di depan para karyawan saat perkenalan itu berlangsung.


Arfan sebenarnya masih mampu mengurus perusahaannya, tapi disisa umurnya itu, Dia ingin menfokuskan pada bekal untuk akhiratnya nanti bersama istrinya yang juga sedang fokus mengelola sebuah TPQ, panti asuhan dan sekolah untuk kaum Dhuafa.


"Ceo itu biasanya hanya fokus untuk memperbesar perusahaan , bukan malah mengurusi jilbab, huf...Aku paling males jika pake jilbab, gerah " bisik Salah satu karyawati pada temannya yang sedang membaca berkas peratura yang dibuat Zidan.


"Sudah saya sampaikan, jika keberatan dengan peraturan yang saya buat, silahkan ajukan alasan yang membuat keberatan atau terima konsekwensinya, saya tidak akan memaksa " ucap Zidan lagi.


semua karyawan pun menunduk, bukannya takut, tapi malu, karna dalam peraturan itu ada peraturan untuk wajib sholat di musholla kantor saat waktu masuk waktu sholat.


"Ceo kita itu lulusan pesantren, jadi ya wajarlah jika peraturannya seperti ini" bisik karyawan yang lain nya pada teman nya.


Sebulan sudah Zidan dan Azzam meminpin perusahan yang di pimpinnya masing-masing, mereka sudah mampu menunjukkan keberhasilannya dalam memimpin sebuah perusahaan dengan baik dan profosional serta proporsional.


Suatu hari Sepulang kantor, Zidan tiba-tiba ingin mengunjungi salah satu TPQ milik keluarganya, karna selama di pesantren, Dia memang mengajar, jadi Zidan merasa rindu dengan suasana TPQ.


Saat melihat-lihat kelas demi kelas yang memang tengah berlangsung kegiatan belajar mengajar sore itu, Zidan terpana dengan seorang ustadzah yang tengah mengajar huruf hijaiyah untuk anak-anak usia Paud.


Tidak seperti lainnya, Ustadzah itu tanpak memakai celana kulot, tunik yang tidak terlalu panjang, serta jilbab yang tidak menutupi dada.


"Pakaiannya belum syar'i, apa Aku harus membimbingnya, agar pakaian nya sesuai syar'i, eh, kenapa Aku berpikiran seperti ini, itukan urusan Dia " batin Zidan.


"Maaf, anda siapa ya, dari tadi liatin Saya selama ngajar, gak ada kerjaan apah ?" Tiba-tiba ustadzah tadi membuyarkan lamunan Zidan, ustadzah itu mendekati Zidan yang ternyata dari tadi ngelamun.


"Eh jangan ge er, Saya hanya sedang memperhatikan anak-anak yang sedang belajar itu" kini Zidan menatap dari dekat Ustadzah yang sedari tadi dipandangnya itu.


Merasa masih diperhatikan, Ustadzah itu marah.


"Hey, kamu jangan kurang ajar ya, Aku tidak suka dilihatin kayak gitu" ujarnya dengan suara agak tinggi.


'Ternyata galak juga nih ustadzah, tapi waktu ngajar kok terlihat lemah lembut, tapi cantik sih, dan meski pakaiannya masih belum syar'i, namun Hatiku deg deg ser di buatnya' batin Zidan

__ADS_1


"Ustadzah syifa, maaf anda dipanggil Ustadz Soleh di kantornya!" Tiba-tiba Anwar memanggilnya, karna tahu, Dia sedang bersitegang dengan Zidan.


"Maaf tuan, Anda sudah menyusuri semua kelas? Biar saya antar ke kelas di atas !" Ucapnya sopan pada Zidan, dan merasa tidak enak atas sikap syifa yang kurang sopan.


"Tadi itu ustadzah disini ?" Tanya Zidan pada Anwar.


"Iya tuan, maaf jika dia tidak sopan!"


"Tidak apa-apa, Saya yang salah kok. Hmm...namanya siapa tadi dan apakah memang pakaian untuk mengajar disini bebas ?" Anwar yang merupakan wakil kepala madrasah itu merasa semakin tidak enak karna pakaian yang di pakai syifa memang kurang sesuai.


"Namanya Nadia Syifa , Dia baru setahun mengajar disini, Dia Alumni sekolah ini juga, masalah pakaian sebenarnya sudah ada aturannya, juga ada seragamnya, yang dipakai 3kali dalam seminggu. Tapi dari dulu jaman Dia jadi murid Dia memang berpenampilan tomboy seperti itu, maaf ya tuan, nanti Dia akan Saya peringatkan lagi "


"Dia masih lajang?" Bisik Zidan Tanpa malu-malu.


"Owh...iya, Dia masih lajang, Dia anak tunggal, rumahnya sekitaran sini kok, dan setahu saya Dia juga belum punya calon atau pacar, meski cantik kagak ada yang berani deketin Dia, soalnya Dia galak , tomboy lagi tapi untung nya Dia masih mau berjilbab" ucap Anwar yang dulu juga pernah menjadi guru ngaji syifa dan bisa merasakan kalau Zidan menyukainya.


"Menarik juga "


"Tuan tertarik dengannya?"


"Menarik juga keperibadiannya, galak dan cantik. Oh iya ustad tidak perlu panggil saya tuan, panggil saja Zidan"


"Ya gak enak tuan, Dari dulu saya juga manggil tuan Arfan dengan panggilan tuan,"


"Udah panggil saja Zidan, oke !"


"Ba-baik Tuan, eh Zidan "


"Masalah syifa, Hanya ustad yang tau ya,"


"Oke "

__ADS_1


__ADS_2