
Sesampainya di Rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari Rumah nya,
Arini segera menuju kamar inap dimana Ayahnya di opname, setelah diberi tahu adiknya letak kamarnya.
"Ini mungkin Ayah kewalat Arini, dulu pake pura-pura sakit segala agar dia mau ke Rumah calon suaminya, sekarang kalau sakit betulan gini, gimana ? tau rasa, kan yah " omel Halimah, Ibu Arini.
"Cuma asam lambung saja Bu, sebentar juga sembuh, yang penting sebentar lagi kita bakal punya mantu "Ayah Arini, Ali Khan malah terkekeh.
"Tak terasa, ya, yah, Arini akan segera menikah, berarti sebentar lagi, kita akan punya cucu " Halimah ikut terkekeh.
"Iya , padahal kayak baru kemarin, Ibu yang ngajakin Ayah nikah, eh...sekarang anak kita yang akan nikah ,"
"Ayah jangan buka kartu deh, habisnya Ayah dulu gak peka banget sih dan apa pun usaha Ibu di masa lalu , itu semua demi cinta, tapi syukurlah Arini tidak sepertiku, kalau sepertiku , dia yang akan melamar laki-laki. Dan pasti hidungnya pesek kayak Aku hehe..." Halimah tertawa, merasa lucu dengan sikapnya dimasa lalu, dimana dia berjuang sekuat tenaga untuk bersaing dengan puluhan gadis saat mengejar cinta khair Ali khan yang kini menjadi suaminya itu.
Dulu, Ali khan adalah pendatang dari negara Pakistan, Dia ke Indonesia berniat bekerja dan tinggal di Rumah Pamannya yang mempunyai Istri di Indonesia, tepatnya di Malang, kampungnya Halimah, kemudian Ali khan saat itu masih muda, mencoba membuka usaha dengan menjadi Sales makanan ringan, dan di kampung itu jelas banyak para gadis yang menyukai nya dan saling bersaing mendapatkan cinta Ali khan, karna ali khan memang sangat ganteng tapi karna tidak ada yang bisa mengerti bahasa Pakistan, mereka hanya menggunakan bahasa isyarat, seperti orang bisu, sementara Ali khan waktu itu juga belum bisa bahasa Indonesia.
Lalu di antara deretan para gadis yang mengejar cintanya, Halimah Tampil percaya diri, karna dia bisa bahasa Pakistan, sebab Halimah pernah menjadi TKW di Arab Saudi, dan disana dia mempunyai teman sesama Babu yang berasal dari Pakistan, sehingga Halimah sedikit banyak tahu bahasa Pakistan dari nya. Maka dari itu, Halimah menang banyak dari para gadis saingannya, sehingga mereka akhirnya berpacaran selama satu tahun dan Halimah lah yang melamar Ali khan waktu itu, hingga Akhirnya menikah, Ali khan waktu itu berusia 26 tahun dan Halimah berusia 28 tahun, tapi pesona Halimah waktu itu juga cantik, hingga sekarang, meski hidungnya pesek.
"Oh iya, tadi Pak Hadi menelpon, suruh siapkan semuanya, Tuan Arfan akan kesini juga , menyusul Arini " Ali khan membuyarkan lamunan Halimah.
"Siap Yah, Ibu sudah persiapkan semuanya" Halimah semangat..
Ceklek...
Suara pintu di buka, ternyata Arini yang datang.
"Assalamualaikum, Ayah, bagaimana keadaan Ayah, kok bisa sampe di opname kayak gini ?" Tanya Arini yang sangat kawatir, sambil mencium punggung tangan Ayah dan juga Ibunya.
"Mungkin Ayah memang sudah waktunya harus banyak Istirahat dan waktunya menimang cucu" ucap Halimah, memberi kode kepada Arini.
"Ibu, di Rumah sakit gini masih saja bahas itu " Arini sewot.
"Sudah lah Bu, Arini mungkin memang tidak mau melihat orang tuanya segera meminang cucu , hahaha" Ali khan juga menggoda anaknya itu.
"Ayah , Ibu , kalau bahas itu terus Arini pergi saja deh " Arini semakin sewot.
"Endak sayang...jangan pergi gitu, Ayah sakit, butuh kamu " pinta Ali Khan
"Habisnya , Ayah sama ibu , gitu sih," Arii merajuk.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun bercanda dan saling melepas rindu satu saa lain.
Tak lama kemudian, di tengah kehangatan mereka, ada tamu yang datang.
"Assalamualaikum "semua mata tertuju pada nya.
"Waalaikumsalam" jawab mereka berbarengan
"Maaf jika mengganggu kebersamaan kalian ," ucap Yusuf , yang pandangannya langsung tertuju pada Arini, sedangkan Arini membuang pandangannya pada arah lain.
"Bagaimana keadaan Bapak Ali " tanya Yusuf,
"Hmmm...masih sama, nak Yusuf kesini kok bareng sama Arini, kalian janjian ya?" Halimah menyelidik.
"Tidak kok bu, Arini kesini dianter supirnya Pak Hadi, justru Arini tidak tahu kalau Ustadz Yusuf juga kesini " Arini segera menjawab kecurigaan Ibunya.
"Iya Bu, Saya kebetulan saja ingin menjenguk Pak Ali , dan mumpung ada Arini, sekalian saja saya mau membicarakan hal penting dengannya , boleh saya berbicara denganya" pinta Yusuf, Ali dan Halimah sama-sama melihat sorot mata Arini, Arini justru sedang tak ingin bertemu dengannya.
"Sebaiknya bicarakan Saja disini, di depan orang tua ku ," pinta Arini.
"Tidak etis jika pembicaraan kita ini dibicarakan di depan orang tua". Sergah Yusuf.
Dengan prasaan dongkol, Arini pun keluar menuju teras rumah sakit yang menghadap taman, kamar-kamar pasian di Rumah sakit itu memang berjejer berbentuk huruf U dimana di tengah-tenghnya terdapat taman kecil.
Mereka memilih lokasi agak jauh dari kamar Ayahnya dirawat, tepatnya di dekat pintu masuk ruangan Dahlia kelas tiga itu, disitulah mereka berbicara.
"Cepat, apa yang mau kau bicarakan !" Tukas Arini.
"Kau masih bertanya apa yang ingin kubicarakan ? Setelah dengan se enaknya tiba-tiba kau menghilang tanpa jejak, disaat Aku sudah mengatakan pada orang tuaku, bahwa Aku akan melamarmu waktu itu, sebenarnya ada apa denganmu, apa benar kau kabur dengan pacarmu karna tidak dapat restu orang tua ?" Lirih Yusuf, namun pertanyaan terakhir membuat Arini terhenyak.
"Apa maksudmu dengan mengatakan Aku kabur dengan pacarku karna tak direstui orang tua ?" Arini sedikit marah.
"Orang-orang Di Kampung membicarakanmu, kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa jejak, bahkan orang tuamu bilang, mereka juga tidak tahu keberadaanmu, kalau kau memang sudah punya pacar, kenapa dulu kau memberi harapan saat Aku mengajakmu taarruf !" Ujar Yusuf, kecewa.
"Aku bukan nya memberi harapan palsu, tapi karna waktu itu kita memang mengajar di tempat yang sama, kita sudah sama-sama saling mengenal, Aku diam bukan berarti mengiyakan ajakan tarrufmu, karna memang kita sudah saling mengenal dan mengajar di tempat yang sama pula."terang Arini
"Terus kenapa waktu itu kamu tiba-tiba menghilang dan nomermu tidak Aktif, bahkan oran tuamu tidak tahu keberadaanmu" Yusuf masih menyelidik. sedangkan Arini baru teringat jika memang dialah yang meminta orang tuanya untuk tidak menceritakan tentang dirinya pada siapapun.
"Sekarang, Apakah kau masih mau memberiku kesempatan lagi untuk melamarmu?" Arini benar-benar terhenyak mendengar ucapan Yusuf, bagaimana dia bisa menerima lamaran Yusuf, sedangkan Laila, sahabatnya sangat mencintai Yusuf, bahkan Laila pernah jatuh sakit karna mencintai Yusuf, tapi tidak dihiraukan cintanya oleh Yusuf dan Arini bertekad untuk menghapus jejaknya dari Yusuf demi sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak, Aku tidak mau, sebaiknya kau menikahlah dengan orang lain, " pinta Arini dan ingin segera pergi dari Yusuf, tapi tanganya segera di ditangkap oleh Yusuf, melarang Arini pergi.
Tapi, tiba-tiba Arfan muncul ditengah mereka, ternyata Arfan medengar apa yang mereka bicarakan sedari tadi.
"Lepaskan Dia !" ucap Arfan.
"Siapa kau ? ikut campur urusan kami" sergah Yusuf, agak keras.
"Saya calon suami Arini " ucap Arfan.
Mendengar itu Yusuf melihat ke arah Arini, Seakan ingin meminta jawaban dari pengakuan Arfan. sementara Arini terkejut mandengar pengakuan Arfan, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Jadi benar kalau , kau pergi dariku dan kabur dengannya" Yusuf merasa kecewa pada Arini.
"Memang nya kenapa?" tanya Arfan.
"Tapi apakah orang tuamu merestui kalian ?" tanya Yusuf, sembari melihat penampilan Arfan dari atas sampai bawah.
"Kalau orang tua Arini tidak merestui kalian, biar Aku yang akan menikahinya " tantang Yusuf.
"Baik, ayo kita ke kamar Ayahnya Arini" Arfan merasa tertantang.
Arini semakin mlongo dengan sikap tuannya, sehingga Dia merasa bingung melihat kedua laki-laki itu, sementara Yusuf dan Arfan berjalan hendak menghampiri kamar Ayah Arini, dan Arini hanya mengekor di belakangnya.
Sesampainya di kamar Inapnya , Orang tua Arini juga terkejut melihat kedua lelaki dihadapannya yang tampak terlihat tegang.
"Maaf Pak Ali khan, pria ini mengaku calon suaminya Arini, apakah kalian mengetahuinya dan merestuinya. Ali khan dan Halimah saling berpadangan seakan saling bertanya dengan apa yang dikatakan Yusuf.
"Hmmm, mungkin iya, Kami belum tahu, maaf, Anda siapa, Kami baru melihatmu, siapa namamu nak?" Ali khan menanyai Arfan dengan lembut.
"Saya Arfan Pak, Saya dan Arini sudah hampir dua bulan sedang taarrufan , dan sekarang Saya berniat hendak melamar Arini pada bapak dan menikahi Arini " guman Arfan . Orang tua Arini merasa lega, ternyata Arfan benar-benar datang, menyusul Arini serta melamarnya, seperti yang diharapkan mereka dan Pak Hadi, jadi Pak Ali tidak harus repot-repot lagi bersandiwara sakit, agar Arini mau menikah dengan Arfan.
"Saya juga hendak melamar Arini, sebelum Arini menghilang beberapa bulan yang lalu, Saya yang berniat melamarnya duluan, jadi sekarang Saya juga ingin melamar Arini" Yusuf tidak mau kalah.
Arini semakin tidak bisa berkata apa-apa dengan apa yang di dengarnya, dimana dua orang laki-laki, sedang melamarnya dalam waktu bersamaan. apalagi orang tua Arini, Yang tak kalah terkejutnya, sebab itu di luar rencana mereka.
"Tadi Kamu bilang hanya bertanya apakah saya merestui Arini dan Nak Arfan, sekarang kamu malah ingin melamarnya juga, coba , kamu tanya pada dirimu sendiri, bagaimana kalau Aku merestui Arini dengan nak Arfan, masihkah nak Yusuf minta restu juga ?" Terang Ali khan. Yusuf pun menunduk, tahu kesalahannya.
"Saya hanya ingin, melanjutkan niat yang dulu, melamar Arini, karna Saya mencintainya, maafkan Saya Pak !" guman Yusuf dengan suara pelan, dan merasa sudah tidak punya harapan lagi.
__ADS_1
"Sebagai laki-laki Saya harap Kamu bisa menerima dengan lapang dada keputusan yang Saya ambil, Saya merestui Arini dengan Nak Arfan" itu mungkin keputusan yang sangat berat bagi Yusuf, tapi dia harus menerimanya, Dia menyalami Arfan, mengucapkan selamat dan pamit pergi dari ruangan itu.