CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Akhir yang bahagia


__ADS_3

Masih suasana pengantin baru, Azzura dan Zidan baru pulang dari Honeymoon di Dubai selama 5 hari, perjalanan penuh cinta itu sangat dinantikan kedatangannya oleh semua orang dalam keluarga Hadiningrat terutama oleh-oleh nya.


Semua anggota keluarga mendapatkan oleh-oleh itu masing-masing, termasuk para ART . Tapi Sore itu Azzam belum juga pulang dan tidak bergabung dengan mereka, Zidan pun menghubunginya.


"Kamu lagi dimana? Gak kangen sama adik iparmu ini tah ?" Ujar Zidan.


"Ngapain kangen, yang ada Aku malah bingung mau manggil apa, yang dulu nya kakak sekarang jadi adik ipar " grutu Azzam.


"Gak pingin oleh-oleh ?"


"Pingin ponaan saja !"


"Oke, segera otw ponaannya "Zidan jawab asal.


Sementara Azzam ternyata sedang mengunjungi seorang gadis manis di rumah sederhananya, gadis itu sedang menyelesaikan kue pesanan Azzam. Di rumah yang kecil dan sederhana itu, Rasti tinggal bersama Sang Ibu yang sedang sakit.


Rasti, yang setahun lalu lulus SMA itu tidak bisa menikmati masa mudanya, seperti gadis kebanyakan atau melanjutkan study nya, lantaran ketiadaan biaya, setelah Ayahnya meninggal.


Saat mengunjungi Rumah Rasti, Azzam hanya mengenakan kemeja putih biasa, agar Rasti dan Ibunya tidak merasa sungkan bila melihatnya mengenakan Jas ala CEO.


"Ras, Mas, ingin memberimu sesuatu, tapi Kamu jangan tersinggung ya " guman Azzam saat memberikan hadiah nya.


"Di kasih hadiah kok tersinggung sih" ujar Rasti bingung.


"Bukalah !"pinta Azzam, Rasti pun membuka nya yang ternyata adalah sebuah jilbab, beserta gamisnya. Azzam merasa takut Rasti tersinggung karna Rasti memang belum berhijab, karna bagaimanapun juga, mengajak kebaikan pada orang lain itu memang harus hati-hati, takut menyinggung prasaan.

__ADS_1


"Wah...cantik banget jilbabnya, apalagi gamisnya, terimakasih ya Mas, Aku tidak tersinggung kok, Aku justru senang, karna sebenarnya sudah sangat lama Rasti ingin berhijab, Tapi mungkin Rasti memang belum mendapatkan Hidayah. Rasti ucapkan Terimakasih ya Mas !" Ucap Rasti dengan senyum sumringah.


Azzam dan Rasti semakin hari semakin dekat, Rasti pun banyak mengalami perubahan, Ia mulai belajar pake jilbab, mengganti baju lengan pendeknya dengan yang panjang, karna sebuah perubahan membutuhkan tahapan, tidak langsung instan berubah seketika.


Setelah pesanan kuenya sudah selsai, Azzam pun segera pamit dan mengajak Rasti untuk mengantarkan kue-kue itu ke sebuah panti asuhan untuk di bagikan ke anak-anak yatim.


"Melihat mereka, Aku jadi teringat Almarhum Ayah, mereka sama sepertiku, kehilangan sosok seorang Ayah, semoga kelak mereka menjadi anak yang sholih sholihah, yang bisa membanggakan orang tua mereka di akhirat kelak" ujar Rasti dengan mata yang sudah mulai berembun.


"Aminn, Ras, Maukah kau menjadi Makmum ku?" Ucap Azzam.


"Memang nya ini sudah masuk waktu maghrib ya Mas ?" Jawab Rasti jujur.


"Menjadi makmum bukan dalam sholat saja, tapi dalam mengarungi Bahtera ibadah terpanjang dalam hidup kita" ucapan Azzam membuat Rasti tercekat.


"Mas Azzam, haruskah secepat ini?" Rasti tergugu.


"Hmmm....Insya Allah Rasti siap " Rasti tersenyum saat memberi jawabannya.


**


Beberapa minggu kemudian, pernikahan Hafsah dan Adnan di gelar.


Tampak keluarga Hadiningrat itu sangat bahagia dengan pernihan Hafsah dan Adnan. Arini Arfan, Rania, Randy juga Zidan serta Azzura, Bahagia ditengah pernikahan Hafsah dan Adnan.


Namun tidak dengan Hafsah, Ia merasa sedih dengan pernikahan nya, karna Ia masih merasa berat dengan pernikahan itu, lebih tepatnya saat ini Ia pura-pura tenang dan tersenyum.

__ADS_1


Saat tengah menyalami para tamu, Hafsah melihat Azzam membawa seorang gadis di pesta itu, Hafsah merasakan ada sedikit nyeri yang menjalar ke ulu hatinya.


Azzam memang mengajak Rasti untuk menghadiri acara resepsi yang di adakan di gedung Hotel itu. Meski datang bersama Azzam, Rasti merasa canggung berada di tengah-tengan keluarga Azzam. Azzam pun memperkenalkan Rasti pada Arini dan pada keluarga lainnya, termasuk juga pada Hafsah, Hafsah pun tersenyum saat menyalami Rasti, namun tidak dengan hatinya.


'Aku harus belajar Ikhlas menerima taqdir jodohku, karna Azzam juga punya kehidupan lain yang harus Ia jalani' batin Hafsah.


Sebelumnya, Azzam membawa Rasti ke salon untuk di make over dan membelikannya baju di Butik. sehingga tampilannya membuat Azzam ta'jub begitu juga keluarga Azzam.


"Mas, ini acara nya Sultan ya, Aku malu Mas, "Rasti merasa kecil.


"Belajarlah berada ditengah-tengah mereka, karna kau juga akan menjadi bagian dari mereka"


Rasti hanya menunduk, merasa malu.


Jodoh itu merupakan ketentuan dari Allah.


Tidak perlu memaksakan ingin berjodoh dengan orang yang kita harapkan atau berharap tidak berjodoh dengan orang yang tidak kita harapkan, karna Allah sudah mencatat jodoh masing-masing manusia , yang sudah tertulis di Lauh Mahfud jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini.


Semoga kisah ini bisa diambil hikmahnya, mohon maaf jika banyak kesalahan dalam penulisannya, karna sejatinya Author hanya manusia biasa tempatnya salah dan dosa.


Mohon maaf jika cerita dan tulisan ini hanya Remahan, karna Author memang sedang belajar


Terimakasih atas like , komen serta dukunga semangat untuk Author selama menulis.


Wassalamualaikum.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2