CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Malam pertama yang gol


__ADS_3

"Nek, Tolong katakan yang sejujurnya pada Rania, apakah benar Aku anak haram, Apakah Aku anak yang lahir dari perbuatan haram, kenapa opah tadi bilang kalau opah dan kak Arfan tidak bisa menjadi wali dan harus wali hakim, bukankah dari dulu Nenek selalu bilang kalau Aku bukan anak haram, saat Aku menangis lantaran selalu di sebut anak haram oleh paman dan tante ? "Serangkaian pertanyaan meluncur dari mulut Rania menuntut penjelasan dari Nek Saidah, sementara Nek Saidah hanya bisa pasrah saat Rania menangis di pelukannya.


"Nenek memang selalu bilang, Kau memang bukan anak haram, itu karna memang tidak ada istilah anak Haram, yang ada itu perbuatan haram orang tuanya yang ber zina.


Pada dasarnya semua anak itu terlahir suci, tanpa noda dan dosa apalagi membawa dosa orang tuanya , Ibumu memang melakukan dosa, katanya atas nama cinta dan agar direstui oleh Pak Hadi, hingga merekapun akhirnya menikah di bawah tangan, meski waktu itu Ayahmu sedang berstatus sebagai seorang suami, hingga suatu saat kecelakaan itu datang, merenggut nyawa Ayahmu dan merenggut kedua kaki Ibumu, sejak saat itulah Nenek bertekad, akan menjagamu sepenuh jiwa raga nenek, dan mendidikmu menjadi wanita yang sholihah, agar dosa Ibumu dan Ayahmu diAmpuni oleh Alloh, dan meski pamanmu selalu mengusirku, Aku tetap bertahan demimu " terang Nek Saidah sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Rania.


"Menurut agama, anak dari perbuatan zina, di nisbahkan pada Ibunya saja, jadi tidak bisa bernasab pada Ayahnya, sehingga Ayahnya tidak bisa menjadi wali nikah, dan harus wali hakim." Tambak nek Saidah.


"Tapi, nek, Rania Malu sama Randy, Dia akan melamarku besok, bagaimana jika Dia tahu dan keluarganya tidak menerimaku, Aku malu Nek..." Rania masih menangis tersedu, Opah sedari tadi memperhatikan mereka di depan pintu Nek Saidah yang terbuka itu.


Opah Hadi bersedih melihat cucunya menangis, tapi Dia sangat bersyukur karna Alloh mengirim Saidah untuk melindungi dan membimbing Rania menjadi wanita yang sholihah, terbersit di hati Opah Hadi , rasa Kagum yang tiada hentinya, bahkan rasanya Dia ingin Saidah menjadi pendamping di sisa hidupnya.


'Ah...Aku sudah bau tanah, malah memikirkan pendamping' batin Opah.


"Nek...jadi Ibu juga bersalah pada mama Ningsih, Aku akan meminta Maaf padanya untuk Ibu" Rania Akhirnya ijin pergi ke kamar Ningsih.


Saat menuju keluar, Rania melihat Opahnya.


"Opah, maafkan Ibu Rania ya Pah, Aku tidak mau Ibuku menanggung dosa Pah" lirih Rania.


"Iya, Opah sudah memaafkan Ibumu, Opah juga minta maaf, karna tidak merawatmu dari dulu, sehingga kau di dzalimi oleh Pamanmu sendiri." Sesal Opah.


"Rania juga mau minta maaf pada Mama Ningsih Pah.."


"Iya, sana" Rania pun menghilang dari pandangan Opah Hadi, karna kamar Ningsih berada di lantai bawah.


"Ma...Rania minta maaf atas dosa dan kesalahan Ibu Rania selama ini pada mama, karna Rania baru tahu kejadian yang sebenarnya "Rania memeluk kaki Ningsih yang waktu itu sedang duduk di atas ranjang memegang gawainya , melihat moment pernikahan Arfan, seketika Ningsih meletakkan hape nya dan segera meraih pundak Rania.


"Sudahlah jangan bahas itu, mama tidak mau mengingat masa lalu lagi, lupakanlah, mama sudah memaafkan Ibumu dan menganggap kamu Anak kandung mama sendiri, oh iya, katanya akan ada yang melamar kamu besok?" Ujar Ningsih hangat, Sambil mengusap Air mata Rania.


"Iya ma, tapi Aku malu padanya, karna wali nikahku adalah wali Hakim" lirih Rania.


"Kenapa harus malu, kalau Dia laki-laki yang baik, Dia akan menerimamu apa adanya," Ningsih memeluk Rania.


"Terimakasih Ma...,mama memang wanita yang baik "


"Kamu juga nantinya jadi Istri yang baik ya "pinta Ningsih yang menyayangi Rania seperti anaknya kandungnya sendiri, meski hatinya sangat tergores olah luka masa lalu Ibunya.


***

__ADS_1


"Ahmed, Tolong panggilin Ibu, buat bukain Riasan ini, berat banget rasanya "Arini kebingungan melepaskan riasan dan gaunnya.


"Anak Ibu ini kenapa sih, kok manyun gitu " Halimah menghampiri Arini yang sedang berada di kamar adiknya untuk melepas riasannya setelah lelah berfoto-foto, juga karna ingin sholat isyak.


"Ampun dah bu, gini ni, mengapa dari dulu Arini gak suka dandan, berat banget tahu, bulu mata berat, mana pake lem, belum lipstiknya tebel, sidonua ini bikin repot melek, ini juga pondasinya lengket banget " grutu Arini sambil menghapus riasan wajahnya dengan micelar water.


"Hahaha, itu namanya foundation sayang...sekarang kan anak Ibu sudah jadi istri, sudah waktunya kamu belajar dandan, belajar stylis, modis, jangan pake celana terus, coba pake gamis, atau gaun yang cocok untuk seorang nyonya tercantik ini " Bu Halimah merasa gemes dengan sikap anaknya itu.


Setelah selesai di lepaskan semua, mahkota maupun gaunnya, Arini segera pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dan hendak melaksanakan sholat diapu masuk ke kamarnya untuk sholat.


"Tuan, tuan mau sholat Isyak ?" tanya Arini, seketika Arfan terkejut saat dia memegang Gawainya yang langsung jatih ke kasur, seolah sedang ketakutan karna ketahuan, dan wajahnya me merah malu.


"Tuan lagi ngapain, kok kayak ketakutan gitu" Arini merasa curiga.


"Tidak apa-apa kok, oh iya Kamar Mandinya dimana, Aku mau ambil wudhuk dulu, tungguin Aku ya, kita sholat berjamaah" pinta nya.


"Kamar mandinya di sebelah kiri kamar Adikku" jawab Arini. Arfanpun segera menuju kamar mandi yang letaknya di luar kamar, sambil mengalungi handuk.


Sementara Arini curiga dengan hape suaminya yang masih menyala, yang di biarkan tergletak di kasur saat Dia terkejut tadi. Rasa penasarannya membuatnya ingin segera mengambil hape itu, tapi urung karna merasa lancang.


'Lihat dikit kan gak apa-apa, toh sekarang Aku Istrinya, apa jangan-jangan Dia lagi chatingan dengan pacarnya atau...' batin Arini sedang di rasuki rasa penasaran yang membuncah, hingga ia pun memutuskan untuk mengambil dan membukanya.


Akhirnya Arfan selesai dari kamar mandi, dia sudah memakai baju koko dan sarung milik mertuanya, untuk sholat. setelah siap untuk sholat, Arfan meminta maaf pada Arini.


"Maaf, untuk saat ini, Aku belum bisa meng imami mu sholat, karna Aku belum lancar bacanya " Arfan jujur.


"Tidak apa-apa baca saja sebisa tuan, kita sholat isyak dulu, Aku siap jadi makmum tuan" jawab Arini dengan sopan agar suami lebih semangat dalam belajar sholat.


Selesai sholat, Arfan menyodorkan tanganya pada Arini agar dicium, tapi Arini canggung, dia ragu untuk menyentuh dan mencium tangan suaminya, karna dia belum pernah bersentuhan dengan lawan jenis, tapi akhirnya ia mencium ta'dzim punggung tangan suaminya namun ia tetap berusaha untuk tidak terlihat canggung.


Setelah melepas mukenanya, dia hendak menggantinya dengan piyama katun stelan celana panjang yang biasa ia pakai untuk tidur , tapi kali ini ia masih mengenakan jilbab instan untuk tidur, karna masih merasa malu pada suaminya.


"Tadi, Andi membawakan baju untuku, tapi ternyata dia juga membelikan baju untukmu, tolong bukalah tote bag itu."pinta Arfan.


Arini langsung mengikuti perintah suaminya, dia mengambil totebag nya dan mengambil isinya.


"Astaghfirullohal adzim, ini baju kok di makan tikus gini sih, memang nya tadi naruhnya dimana tuan, kok sampe dimakan tikus gini "gerutu Arini.


"Tikus apa an sih, mana !" Arfan mengeceknya "ya Ampun, Ini bukannya dimakan tikus, tapi memang modelnya begini, ini namanya lingeri " setelah sadar bahwa itu lingery, Arfan pun melemparnya.

__ADS_1


'Dasar Andi, kenapa Dia beli baju kayak gini untuk istriku, pasti pikirannya traveling nih orang' batin Arfan.


KemudiNan Dia menelfon Andi.


"Halo, dimana Kamu ?"


"loh Saya kan sedang di rumah mertua tuan, saya sedang nonton bola di Asrama nya karyawannya mertua Tuan nih, kan Aku, pak Rudy sama pengawal lain nya juga nginep disini, jagain yang lagi malam pertama hahaha.." goda Andi.


"Ini , .kenapa kamu beli lingery untuk Arini, jangan sampai pikiranmu traveling saat beli lingeri ini yah, awas kamu !" Geram Arfan.


"Itu yang beli Aisyah tadi pas Aku bilang mau kesini karna tuan mau menikah , oh iya..selamat ya tuan,.Akhirnya tuan menikah juga , sudah dulu ya tuan, ini bola nya sudah mau mulai "Andi langsung menutup telponnya.


Saat Arfan menelfon, rupanya Arini keluar ke ruang TV, disana sudah ada Ayah dan ibunya yang sudah siap nonton bola favorit mereka, sedangkan Ahmed bergabung nonton bersama karyawan Ayahnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul jam 11.00, pertandingan besar antara real Madrid vs Chelsea baru di mulai, dan itu adalah favorit Arini banget. Melihat Arini keluar kamar , Orang tuanya terkejut.


"Kamu kok keluar, ini malam pertamamu loh, kasian suamimu, sana masuk !" Ibunya mengusirnya, tapi Arini tidak mau masuk, karna berat dengan acara favoritnya, seolah anak kecil yang merengek minta dibelikan permen.


"Bu, tapi itu club Favorit Aku bu, Real Madrid, bagaimana mungkin Aku tenang bu " ibunya terus mendorong tubuh Arini masuk ke kamarnya, kemudian menutup pintunya.


Di dalam kamar, Arfan merasa kasian pad Arini yang terus meronta-ronta ingin keluar, hingga dia betinisiatif.


"Arini, mari kita nonton live striming saja, Aku juga suka bola, Kamu jagoin siapa?" Guman Arfan seperti sedang merayu Anak kecil yang sedang menangis.


"Benarkah, jadi Tuan juga suka? Aku suka real madrid , " Arini benar-benar seperti anak kecil yang kegirangan.


Akhirnya mereka menonton live striming, duduk selonjoran di ranjang mereka. saat Arini serius menonton bola, Arfan hanya memandang Arini yang baru menjadi istrinya itu, karna sebenarnya dia tidak suka bola.


Sepanjang pertandingan, arfan tertidur, Arini teriak teriak saat jagoannya gagal membuat gol, dan teriak lagi, dengan girang bila bola jagoannya nya gol...


"Gollll.....!!!! Arini berteriak hingga Arfan yang tidur itu terbangun.


"Tuan...jagoan kita menang tuan "ucap Arini yang langsung memeluk suaminya sebagai ungkapan kebahagiaannya saat jagoannya menang.


Namun seketika Arfan langsung terperanjat dengan pelukan yang diberikan Arini secara tidak sengaja itu, seakan tersengat Aliran listrik bertegangan.


Ketika Arini hendak melepas pelukan itu, Arfan malah lebih meng eratkan pelukannya.


"Tolong, jangan lepaskan pelukan ini , ku mohon !" pinta Arfan.

__ADS_1


__ADS_2