CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Aku Setuju Mama Menikah


__ADS_3

Kabar kehamilan Saidah membawa kebahagiaan bagi keluarga Ustadz Basyir juga bagi keluarga Arfan, semua orang merasa takjub dan bahagia, karna kehamilan Saidah merupakan keajaiban dan kebesaran dari Allah.


"Abie...tadi Rania mengabarkan kalau Nek Saidah hamil, ini merupakan kabar yang luar biasa, beliau hamil di usia kepala lima, dan itu merupakan kehamilan pertamanya" ucap Arini dengan senyum sumringah pada suaminya, saat mereka akan bersiap-siap untuk sarapan.


"Benarkah ? Ini benar-benar hal yang luar biasa dan langka, ini Anugrah bagi orang baik seperti nek Saidah, atas jasa nya merawat dan mendidik Rania dengan ikhlas" guman Arfan yang tak kalah terkejutnya mendengar kabar bahagia itu.


"Oh iya, bagaimana dengan om Herman, apa Abie menyetujui lamaran om Herman kemarin" tanya Arini tiba-tiba.


"Menurutmu bagaimana?"


"Sebenarnya itu hak Mama, tapi karna Mama ingin menjadi orang tua yang bijak dan menghargai kita sebagai anak, makanya Mama meminta ijin dari kita. Lalu sebagai anak, sebaiknya kita membiarkan Mama dengan pilihannya dan berharap pilihan mama bisa membuat Mama bahagia" Arini memberi masukan pada suaminya mengenai Mama Ningsih yang sudah di lamar Herman, dan menunggu persetujuan anak nya.


Arfan mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan, pikirannya sedang menata kalimat jawaban yang akan di ujarkan nya pada istrinya.


"Aku ikhlas om Herman menikahi Mama, demi kebahagiaan Mama, seperti nek Saidah yang sedang bahagia bersama ustadz Basyir." Arini tersenyum mendengar jawaban itu.


"Alhamdulillah, kalau begitu ayuk kita segera temui Mama di meja makan, sekarang kan waktunya sarapan , Mama pasti menunggu kita" Arini menarik lengan suaminya.


"Tapi, Bila Mama menikah, Di Rumah ini hanya tersisa kita berdua, setelah kepergian Opah, Rania memutuskan untuk mandiri, nek Saidah yang ikut suaminya, Rumah ini jadi sepi lagi dong " wajah Arfan menampakkan kesedihan.


"Kita tidak bisa menahan seseorang untuk bisa bersama kita agar kita bahagia, sedangkan orang itu juga punya kebahagiaan sendiri, setiap orang punya taqdirnya masing-masing"


"Baiklah, Aku tidak akan egois, Aku rela Mama mencari kebahagiaannya ." Arfan mengambil keputusan.


Mereka akhirnya turun untuk sarapan.


Ningsih yang menunggunya sejak tadipun bertanya.


"Kalian kenapa lama banget turun nya?" Ucap Ningsih,


"Iya Ma, tadi ada telpon dari Rania , katanya nek Saidah hamil." Ucap Arini yang sudah siap-siap untuk duduk.


"Apah !!! Beneran !! " Ningsih pun merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Iya Ma "


"Masya Allah, Saidah benar-benar beruntung, begitulah kalau menjadi orang baik, balasan nya pasti kebaikan juga " Ningsih merasakan kebahagiaan yang dirasakan Saidah.


"Hmmm Ma, kami memutuskan, mendukung dan menyetujui Mama menikah dengan Om Herman" Arfan akhirnya berbicara.


Aura kebahagiaan langsung terpancar dari wajah yang membingkai senyuman Ningsih , Arfan merasa senang melihat senyuman Mamanya itu.

__ADS_1


"Terimakasih ya Nak ? " ucap Ningsih


"Rencana nya kapan acara pernikahannya Ma ?" Arfan bertanya serius.


"Hmmm, Mama sih nunggu Arini melahirkan, 3 atau 4 bulan lagi mungkin, Mama masih ingin membantu merawat cucu Mama kelak sebelum Mama jadi istri orang." Guman Ningsih sambil mengelus perut Arini yang duduk bersampingan dengan nya .


"Terimakasih Ma, Mama selalu memikirkan kami" Ucap Arini menggenggam tangan Ningsih.


***


Sudah Beberapa hari ini, Afan lebih sibuk dari biasanya, biasanya semua pekerjaannya di atur Asisten Andi, Tapi karna Andi sedang berlibur bersama istrinya ke Paris. Dia mendapat tiket gratis dari Arfan sesuai janji nya pada Andi, jadinya Arfan sekarang malah kerepotan sendiri.


Setelah pulang dari kantor, Arfan mensurvey sebuah lahan yang cocok untuk membangun masjid dan sebuah TPQ, untuk memenuhi wasiat Opahnya. Sesuai sharelok dari seorang penjual, Arfan memasuki sebuah Desa yang rumah penduduknya lumayan padat.


"Lokasinya kayak nya memang benar ini "Arfan fokus pada ponselnya sesekali melihat-lihat ke kanan mobilnya, sehingga Dia tidak fokus melihat ke depan.


BRAk !!


Arfan menabrak seseorang, seketika Dia syok dan segera turun melihat keadaan orang yang ditabraknya, sore itu, ada beberapa Orang yang lalu lalang, langsung menghampiri Mobil Arfan yang telah menabrak orang tersebut.


Belum sempat Arfan melihat kondisi yang ditabrak, massa langsung saja hendak mengeroyok Arfan tanpa mau tahu apa yang akan di bicarakan Arfan.


"Hey jangan lari ! " ucap salah seorang dari mereka.


"Kalau bawa mobil harus hati-hati dong!" sahut yang lain.


Mereka sibuk mengurusi Arfan tanpa langsung menolong Korban, korban yang tak sadarkan diri malah di foto atau bahkan ada yang men vidio kan nya.


"Sepertinya Dia masih hidup, Ayo kita bawa ke Rumah sakit terdekat!" Perintah seorang berbadan gempal.


Karna korbannya adalah perempuan, maka, massa memutuskan seorang warga, yang perempuan yang ikut.


Di mobil, korban itu di tidurkan di paha seorang warga tadi yang ikut mengantar ke Rumah sakit, melihat wajah Arfan yang ganteng, jiwa kepo emak-emak nya muncul.


"Anda orang mana, kok ganteng banget, kayaknya bukan orang sini ya ?" Tanya emak-emak yang bernama Fatma itu.


"Iya, Saya bukan orang sini"


"Orang mana?"


"Puri indah"

__ADS_1


"Waaauuu.....itu tempatnya khusus rumah gedongan kan ya ! Kamu udah nikah belum."


"Sudah, Saya sudah punya istri"


"Ya...sayang deh, "


"Kenapa bu"


"Mau tak jadiin menantu, hehehe"


"Oh iya dek, Aku kenal orang yang kau tabrak ini, Dia tetangga Saya, namanya zahra, Dia ini janda yang ditinggal mati suaminya, kasian masih muda sudah ditinggal suaminya, Dia punya satu anak yatim yang masih berusia 3 tahun, mungkin sekarang anak nya sedang sama bibinya." Ucap Fatma.


"Maaf bu, Saya beneran tidak sengaja menabraknya" ucap Arfan sambil melirik korban melalui pantulan kaca di mobil bagian depan.


"Asal tanggung jawab saja, warga disini tidak akan seenaknya menghakimi orang lain, kecuali, maling ayam, jambret, begal. Bahkan pernah tuh warga kami menghajar jambret sampai babak belur, baru setelah itu diserahkannya pada polisi" Mendengar itu Arfan hanya bisa menelan salivanya, Dia mengingat dirinya tadi yang di pukul salah seorang warga di bagian bibir Arfan tambak keluadr darah meski tidak sampai mengalir.


"Oh iya dek, kamu mau Apa ke kampung itu" tanya Fatma


"Saya lagi mencari tanah bu"


"Owh...kamu makelar tanah ? Asik dong jika Aku berhasil menunjukkann, Aku akan dapat uang dong "


"Pasti"


"Berapa yang adek butuhkan ?"


"Sekitar 100 meteran yang lokasinya jauh dari masjid, karna Saya ingin membangun masjid"


"Masya Allah, adek ini luar biasa ," belum sempat meneruskan kata-katanya, Mobil sudah terparkir di halaman Rumah sakit terdekat, bu Fatma langsung mwnyuruh Zahra segera di gendong ke dalam .


Zahra sudah di bawa ke IGD oleh perawat yang buru-buru menyambutnya tadi.


Arfan bingung mondar mandir seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan. Akhirnya tak lama kemudian dokter muncul.


"Maaf tuan, istri anda mengalami cidera kaki, sehingga Dia belum bisa mengfungaikan kakinya untuk berjalan, tapi ini akan lama kok" kata seorang dokter yang menganggap Arfan adalah suaminya


"Apah dok , Zahra tidak bisa berjalan ? Kasian Zahra sudah tinggal berdua sama anaknya, sekarang kena musibah" mendengar itu Arfan merasa sangat bersalah.


"Bu..apa ibu mau jika harus merawat Zahra ini sampai sembuh, nanti Aku bayar perminggu nya dua juta" pinta Arfan


"Mau mau." Bu Fatma kegirangan.

__ADS_1


."terimakasih bu, rawat Dia sampai Dia bisa jalan penuhi segala keperluarnya dan anak, Aku yang akan membayar ibu, sebagai tanggung jawabku karna menabraknya" kata-kata Arfan membuat nya bersemangat, siapa yang tidak mau uang dua juta dalam seminggu, yang kebanyakan warga kampung bu Fatma itu pekerjaannya menjadi buruh tani.


__ADS_2