
(pov Arfan)
Setelah mengucapkan salam, malam itu Aku segera menemui istriku di kamar kami, ingin memberitahukan tentang Zidan dan Zahra
"Sayang...kamu sudah tidur?" Sahutku, saat memasuki kamar kami, Tapi tidak ada jawaban, kulihat tampak ada gundukan di atas kasur kami, tanda istriku sedang tidur dengan menyelimuti semua tubuhnya.
Aku buka perlahan selimut itu, karna ingin kucium keningnya sebagaimana biasa Aku lakukan saat pulang dari kerja Aku juga rindu menatap wajah syahdunya, Mungkin Dia sudah tidur karna kelelahan, meski sebenarnya malam masih terlalu awal.
"Umma...sudah sholat Isyak belum, kita sholat berjamaah yuk !" Ajakku yang dengan perlahan mencoba membangunkannya.
Namun, Betapa terkejutnya Aku, setelah Aku menarik selimut warna crem itu perlahan , Aku tidak menemukan istriku, yang ada hanya guling yang tertata kemudian di tutupi selimut seluruhnya, sehingga nampak gundukan seolah-olah seperti seseorang yang sedang tidur. Aku jadi teringat dulu waktu masih remaja, Aku juga pernah melakukan Hal seperti ini, dimana Aku menutup bantal guling agar dikira Aku yang tidur, sedangkan Aku keluar dengan Rifki menonton konser Band Favoritku
Aku terkejut dan panik , pikiranku awalnya mengira itu hanya prank yang biasa dilakukan di konten-konten Youtube, tapi setelah ku cari-cari dan ku panggil istriku berulang kali, hasilnya nihil, hingga Aku berinisiatif menghubungi ponsel. Tapi sayang, ternyata ponselnya tidak di bawa.
Aku mencari-cari lagi keberadaan istriku, di seluruh Rumah, ku tanya Mama, tapi Mama tidak tahu apa-apa, begitu juga para pembantu, tidak ada satupun yang tahu.
Hingga Aku marah dan untuk terakhir kalinya Aku bertanya pada Bi Ana yang sedari tadi belum Aku tanyakan.
"Bi...sebenarnya kemana Arini, apakah Bibi tahu, tak mungkin kan tidak ada yang tahu, kan !" tanyaku pada Bi Ana dengan wajah merah karna sudah dikuasai amarah.
"Anu...ini tadi nyonya ngasih ini " Bi Ana seakan sedang ketakutan, tangan gemetar sambil memberiku selembar kertas.
__ADS_1
'Abie...Saya minta maaf jika Saya pergi tidak ijin suami, Tapi Saya butuh waktu menenangkan diri.
Setelah melihat sikap Abie belakangan ini yang sangat perhatian kepada se orang anak dan seorang wanita cantik, Saya syok, kenapa selama ini Abie tidak jujur, sekarang biarkan Saya sendiri dulu bersama anak yang Aku kamdung ini dan untuk sementara ini Saya masih ingin menata hati dulu, untuk menerima kenyataan bahwa ternyata selama ini Abie mempunyai anak dan Istri yang lain'
Deg.
Arini tahu tentang Zahra dan Zidan, tapi mengapa Dia berpikiran kalau mereka adalah istri dan anak ku.
"Ayah, Zidan mau bobok" rengek Zidan yang sedari tadi memang ku biarkan di sofa tengah, yang rencananya untuk dikenalkan pada Arini.
"Bi Ana, suruh Surti atau yang lain untuk menemani anak ini tidur, oh iya namanya Zidan , untuk sementara ajak Dia tidur di Kamar Bibi dulu. "Aku menyerahkan Zidan, tanpa memberi tahu siapa Zidan sebenarnya.
"Zidan tidur dulu sama mbak-mbak ini ya, Ayah masih ada urusan sebentar" ucapku pada Zidan dengan sikap yang lembut dan pura-pura tenang.
"Arfan jelaskan nanti ma, sekarang Arfan mau fokus mencari Arini dulu" pintaku pada Mama, dan Akhirnya Mama diam.
"Ya sudah sini, biar anak ini tidur sama Mama" Mama mengajak Zidan ke Kamarnya.
"Bi..kamu tahu kemana Arini pergi!" Tanyaku setelah Zidan pergi tidur ke kamar Mama.
"Saya hanya di titipi ini, setelah itu Nyonya pergi dengan di antar sama Fania" jawab Bi Ana dengan nada agak ketakutan. Fania adalah supir baru khusus Istriku, sebulan belakangan ini.
__ADS_1
"Arggggh...kemana Arini pergi tanpa pamit, apakah Dia tidak tahu kalau perut nya itu sudah besar, kalau kontraksi bagakmana, makhluk yang bernama wanita itu memang kadang tidak bisa berpikir jernih saat cemburh hamil besar pun masih sempat minggat segala." Aku frustasi, dan marah, entah, pantaskah Aku marah pada istriku, sedangkan sebenarnya Aku sendiri yang salah karna tidak berterus terang hingga ternyata Arini tahu sendiri tentang Aku yang sering mengunjungi Zahra dan Zidan, hingga berpikir kalau Zahra dan Zidan adalah Istriku dan anakku.
Aku Kemudian mencoba menghubungi Fania, yang ternyata Aktif
"Halo ! Dimana kamu sekarang, apakah kamu bersama nyonya ?" Tanyaku dengan nada marah.
"Ti-dak tuan !"Fania terdengar sangat ketakutan.
"Jangan bohong kamu ! Dimana Istriku !" Sergah ku padanya dengan suara yang lebih keras.
"Anu tuan, tadi Aku hanya mengantar nyonya sampai depan sebuah jalan, nyonya naik taxi online, Nyonya memesannya denga ponsel Saya. selebihnya Saya di suruh pulang, ini juga Saya sedang di jalan menuju pulang" akhirnya Fania bicara.
Aku semakin tidak karuan, kemana gerangan istriku pergi tanpa sepengetahuan dan ijin dari suaminya, Aku panah tanpa busur, tanpa istriku, Aku seperti kehilangan sesuatu dalam diriku.
Kemana kamu pergi sayang....tidakkah kamu kasian pada anak kita, kamu itu sedang hamil besar, kenapa pake minggat segala...apakah kamu pulang ke rumah orang tuamu ? Apa Aku harus mencarimu kesana" Entah mengapa Pikiranku merasa buntu begini, bingung tidak karuan, dan sangat kawatir, bagaimana tidak, Istriku sedang hamil besar dan Dia pergi entah kemana tanpa pamit pada siapapun.
Sebaiknya Aku harus segera menyusulnya ke Malang, Aku yakin Dia disana, Aku meminta Supir untuk mengantarku ke Malang malam ini tanpa menghubungi Ayah mertua lebih dulu, karna jika bertanya melalui telfon, Aku harus bertanya apa pada mertuaku.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, dan Aku sudah siap untuk menyusulnya ke Malang bersama supirku. Aku benar-benar tidak bisa fokus, meski bukan Aku yang menyetirnya. Hingga mobil ku memasuki tol Surabaya-Malang, Hatiku masih tidak tenang, di tol ini Aku menyuruh Agus, mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di tujuan yang biasanya untuk melalui tol ini dibutuhkan waktu 1 jam 43 menit untuk segera sampai ke Malang, dan Aku ingin sampai ke sana 1 jam saja.
Namun di saat kami melalui kota Purwosari, yang sudah mencapai separuh perjalanan, Aku mendapat telfon dari staf salah satu hotel milikku
__ADS_1
"Maaf tuan, Saya hanya mau memberi kabar, kalau Nyonya tadi chek in di Hotel venus, sendirian, sebenarnya Saya mau kasih tahu tuan dari tadi, tapi telfon anda sibuk terus " Aku lega, tapi juga marah, dan sontak Aku menyuruh mobil berhenti dulu menepi.
"Kenapa kamu tidak memberi tahuku dari awal, kenapa baru sekarang, dasar tidak becus kamu ! ingat , pantau istriku, jangan biarkan Dia pergi dari situ " Aku benar-benar merasa marah pada staf yang bernama Danil itu, Aku bentak Dia , bisa-bisa nya Dia baru meberitahuku, hal sepenting ini, sedangkan kini Aku sudah berada di setengah perjalanan di tol Surabaya-Malang ini.