
"Kalau tahu pestanya kayak gini, Aku gak bakalan mau ikut, semua nya nyebelin, yang cowok suka godain , yang cewek suka peluk-peluk suami orang seenaknya sendiri, belum lagi ada cewek ngaku mantan, bahkan ngaku pernah tidur bareng sama suamiku, gimana tidak sebel coba!!" Grutu Arini pada suaminya yang kini mereka sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan Andi menuju pulang. Karna pesta itu berhubungan dengan Perusahaan, jadi Andi diminta menemaninya.
"Sabar, sabar sayang " Arfan mencoba menenangkan,
'Seperti inikah wanita jika sedang cemburu, sifatnya mendadak berubah seratus delapan puluh drajat, dulu Aku yang suka marah-marah, sekarang malah istriku yang sering uring-uringan' pikir Arfan.
"Abi, jawab jujur deh, Apa benar Abi punya mantan? Apa Abi beneran pernah tidur dengan cewek itu ?"Arini melempar pertanyaan itu dengan tatapan yang tajam.
"Umi sayang..."
"Jangan panggil Umi, Aku belum punya anak, juga jangan panggil sayang, Aku lagi sebel sama Kamu ! , jawab aja yang jujur bi ?" Amarah Arini seakan semakin meledak, tapi tidak sampai membentak suaminya.
"Sumpah demi Allah, Aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun, ini ada saksi nya, Dia yang selama ini selalu mengatur segala kegiatanku, siapa yang kutemui dan siapa saja yang dekat denganku, tanya saja Dia !" Arfan mencoba menenangkan istrinya lagi, dengan menunjuk Andi sebagai dewa penyelamat dari Amukan Istrinya.
"Nyonya Arini, Aku berani bersumpah, Tuan Arfan memang tidak pernah dekat wanita manapun, makanya Tuan jadi bujang lapuk, Malah Aku sampai sangat kawatir, Takut Tuan sukanya sama Aku, takut seperti kaumnya nabi Luth.
Tapi untunglah nyonya datang diwaktu yang tepat, sehingga Tuan ku ini tidak jadi disebut bujang lapuk " dari kursi belakang, Arfan langsung menjitak kepala Andi yang meski ada pembelaan tapi juga malah menjelek-jelekkan nya.
"Dasar anak buah tidak sopan kamu !! Bos sendiri dibilang bujang lapuk !"
"Awww...ampun Tuan, Saya hanya bercanda , hehehe" Andi terkekeh., melihat pemandangan itu, Arini mulai mengangkat ujung bibirnya sedikit, menandakan kalau Dia percaya pada Suaminya.
"Saya heran, bertahun-tahun Saya kerja pada tuan, baru kali ini ada keanehan yang luar biasa" guman Andi dengan nada sok serius.
"Apanya yang Aneh ?" Arfan .
__ADS_1
"Dulu, Aku selalu menahan kesabaran ketika Tuan sering marah-marah, kayak gak ada yang bener, salah dikit marah, kurang dikit, marah, bahkan makan gak cocok dikit aja langsung muring-muring, Tuan galakku sekarang menjadi Tuan Bucin, ha ha ha" sloroh Andi, dengan tawa kecilnya.
"Maksud kamu, Sekarang Aku yang sering marah-marah, hah ?"Arini merajuk, merasa tersinggung.
"Bukan gitu, Tapi kayaKnya singa yang dulu galak, kini jadi ayem karna sudah ada pawangnya, " jawab Andi cepat membela diri, sambil tetap fokus menyetir.
"Emang nya hujan , pake di pawangin segala!" Arfan menjitak kepala Andi lagi.
"Kayak nya emang ada yang lagi bucin, nih, Tuan jangan lupa ya, untuk siapkan dua tiket untuk dua orang "Andi menagih janji Arfan dulu.
"Maksudmu apa ?"Arfan belum menyadari ucapan Andi.
"Besok Aku kasih kontraknya saja biar Tuan Faham" guman Andi yang merasa tidak enak dengan Arini.
"Gimana , apa kau sudah percaya kalau Aku tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan wanita itu, dan Kamu jangan mudah percaya pada siapapun tanpa ada buktinya, Apalagi menyanggut harga diri suami, Kita itu harus saling percaya, Meski kita memang belum saling kenal sepenuhnya, " pinta Arfan, sambil memcoba merangkul istrinya yang sedari tadi uring-uringan.
"Maafkan Aku suamiku yang sering marah-marah tak menentu pada mu" guman Arini dengan suara pelan, Sambil menyandarkan kepalanya dipundak suaminya.
"Aku maklum, namanya juga cemburu, "goda Arfan.
"Gak kok, siapa yang cemburu" Arini mengelak.
***
Menjelang satu minggu pernikahan serta resepsi Arfan dan Rania, Hadiningrat merasakan telah menjadi orang tua untuk kedua kalinya, Ningsih, sang menantu yang dianggapnya sebagai anak sendiri adalah harapannya untuk menggantikannya menjadi orang tua.
__ADS_1
Keinginan Opah Hadiningrat untuk Arfan sudah terlaksana, tinggal menunggu kehadiran cicitnya. kini Dia sangat mengkhawatirkan Rania, yang terlahir dari perbuatan yang haram, Atas kegundahannya Ia mencurahkannya pada Saidah.
Sejak Saidah tinggal di Rumah itu bersama Rania, Opah Hadi seakan menemukan kembali sosok mendiang Istrinya yang telah lama meninggalnya kembali pada sang khaliq.
Saidah, seorang Nenek yang sangat baik yang merawat Rania dari kecil, Usianya tidak terpaut jauh jaraknya dengan Ningsih, Saidah memang dinikahi oleh kakek dari Ibunya Rania dalam usia yang masih muda, yang waktu itu Kakek Rania berstatus duda dengan 2 anak, Dewi dan Gunawan.
Seorang guru ngaji yang taat beribadah itu, adalah Ibu tiri yang sangat menyayangi kedua anak suaminya , setelah Suaminya tiada, Dia tetap menyayangi anak tirinya, apalagi saat Dewi mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kedua kakinya harus diamputasi, Saidah lah yang merawatnya , dengan penuh kasih sayang, hingga Dewi meninggal kala itu, maka Rania adalah tumpuan harapan kasih dayang nya.
"Saidah, Umur ku sudah sangat senja, tapi masih banyak harapan-harapan yang belum terwujud, Kadang Aku merasa takut harapan itu belum terwujud ketika Ajal menjemput " curhat nya di sebuah kursi di teras tengah yang menghadap ke kolam renang.
"Memang nya apa harapan yang belum tuan capai?" Tanya Saidah lembut.
"Setelah Aku mulai mengenal Allah lagi, Aku ingin mendermakan sebagian hartaku pada yang membutuhkannya " ucap Opah.
"Itu sangat baik Tuan, " Saidah mendukung.
"Dan Tolong jaga Rania seperti Kamu menjaganya dari dulu" pintanya lagi.
"Aku memang sangat menyayanginya dan akan terus menyayanginya" ujar Saidah.
"Dan Aku juga berharap Kamu tetap terus tinggal disini, menjadi bagian dari keluarga ini." Sambungnya lagi
"Maksud Tuan ?" Saidah tidak mengerti.
"Andai Allah memanggilku, tetaplah disini menjadi penggantiku" ujar Opah Hadi dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Tuan jangan bilang seperti itu, tidak ada yang bisa mengira-ngira kematian seseorang hanya dari umur nya, kita semua Pasti akan mati, Tapi tidak ada seorang pun yang tahu, Bahkan malaikatpun tidak tahu "ujar Saidah.
"kamu benar, Tapi Aku berharap andai Aku tiada nanti, kau menggantikan posisiku, merangkul mereka karna kamu penyayang seperti mendiang istriku.""ujar Opah Hadi.