
Mobil mereka Akhirnya sampai di rumah pukul 22.40
"Hey...Budi, angkat tubuh Arini ke dalam " perintah Arfan pada salah satu Bodyguard nya yang bernama Budi.
"Anu tuan, maaf saya kebelet "Budi langsung lari terbirit-birit.
"Kamu " tunjuk Arfan ke Yang lain,
"Maaf tuan muda, saya sedang repot mengurusi belanjaan "dia pun langsung berjalan cepat, begitu pun yang lainnya, termasuk Sony si supir. Mereka sudah dapat Amanah dari opah Hadi untuk tidak menyentuh Arini, dan harus bekerja sama agar tuan Arfan bisa dekat dengan Arini.
Dengan terpaksa, Arfan pun menggendong tubuh Arini , jarak antara mobil dan Rumah Arfan memang sedikit jauh, sedangkan Arfan sudah merasa tidak sanggup menahan degup jantungnya yang semakin kencang saat mengangkat tubuh Arini , tanpa disadari irama langkah Arfan seakan melambat, seiring tatapannya yang tertahan pada wajah cantik Arini yang terbingkai dengan jilbab itu, gejolak Arfan seolah merasa ingin tetap mengangkat tubuh Arini yang sedang tak sadarkan diri itu, iapun mematung hanya untuk ingin melihat wajah arini, namun ia tersadar saat kaki yang menumpu badan nya mulai kelelahan.
"Bi...bi Ana, cepat kemari "Teriaknya memanggil bi Ana. Yang dipanggil pun segera menghampiri.
"Iya tuan muda, loh mbak Arini kenapa ?" Bi Ana tergopoh-gopoh.
"Dia hanya pingsan " Arfan sok tak perduli, dan menaruhnya di sofa ruang tamu.
"Tolong Temanin mbak Arini sebentar ya tuan, Bibi mau ambil minyak kayu putih dulu " Arfan hanya diam , secara tak sengaja tatapannya tertuju pada wajah cantik Arini lagi yang sedang terkulai lemas di sofa, "kau benar-benar sangat cantik...alami " hanya itu saat ini kata-kata yang keluar dari mulut Arfan, bukan lagi ucapan dari dalam hatinya.
Setelah Bi Ana datang, dia segera memubuhkan minyak kayu putih di hidung Arini dan dengan perlahan membangunkan Arini.
"Mbak Arini...bangun mbak.."Bi Ana sangat lembut membangunkan calon mantu di rumah itu, meski Arini maupun Arfan tidak tahu kalau sebenarnya mereka dijodohkan.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Arini siuman, ia tampak lemas, Arfan yang masih di tempat itu mendadak kawatir,
"Mbak Arini kenapa kok sampai pingsan ?" Bi Ana sangat kawatir.
"A-ku syok karna mendengar belanjaan ini ternyata habis limapuluh juta bi, ditambah lagi karna Aku lapar bi..., terakhir makan tadi jam sepuluh pagi, saking sibuknya sampe lupa yang mau makan, mana tuan muda gak ngajak Aku makan, seharusnya mampir gitu, di warteg atau beli nasi goreng atau mie ayam kek , tau nya marah-marah mulu " Arini nyerocos, tanpa menyadari kalau yang diomongin ada disitu.
"Woy....Aku masih disini, gak usah nge gosipin Aku segala , kalau lapar sana makan di dapur !" Sebenarnya Arfan merasa kawatir dan merasa bersalah karna tidak mengajak Arini makan , tapi bukannya minta maaf malah marah-marah karna merasa di gosipin.
Arini tambah kesal dengan sikap tuannya, sedangkan bi Ana mengambilkan makanan untuk Arini. Arfan pun segera beranjak menuju kamarnya melalui lift.
"Biasanya kalau saya dan suami yang belanja bulanan, paling tidak saya cuma habis 25 juta , ini habis 50juta mungkin karna baju dn make up serta hape nya mbak Arini, juga titpan nyonya serta tuan besar "papar Bi Ana.
__ADS_1
"Hah....jadi sudah biasa bi, dan 25 juta dibilang cuma, kalau dikampungku 50 juta itu sudah dapat tanah 6x10 meter bi" Bi Ana hanya tertawa mendengar penuturan Arini yang polos itu.
Tak mau mendengar dua orang itungobrol, Arfan pun segera pergi menuju kamarnya dan merebahkan diri di kasurnya, dan mencoba memejamkan mata.
Insomnia, Arfan tiba-tiba insomnia gegara debaran jantungnya masih belum normal setelah menggendong tubuh Arini tadi, detak jantungnya masih belum beraturan, bayangan Arini seolah masih menari-menari di ingatannya, memenuhi alam bawah sadarnya , hingga membuat mata tuan muda seperti mata panda saat sarapan dipagi harinya.
Arfan, opah dan sekarang setelah bertahun-tahun akhirnya Ningsih sudah bisa ikut bergabung untuk makan bersama di meja yang sama, meski masih duduk di atas kursi rodanya, namun Arini yang mendorongnya.
"Sebaiknya kamu juga ikut bergabung bersama kami disini" Ajak Ningsih.
"Tapi nyonya " Arini merasa sungkan.
"Tidak Apa -apa, " sementara Arfan semakin salah tingkah, apalagi karna Arini dia tidak bisa tidur semalaman.
**
Di kantor
"Pagi tuan , loh tuan kenapa, seperti kurang tidur semalem."tanya Andi.
"Oh iya tuan, mengenai penyerangan itu, saya sudah menemukan sebuah nama , Bojes Apa anda kenal siapa Bojes, tuan ? " Arfan hanya berpikir mencoba mencoba mengingat-ingat, namun akhirnya hanya menggeleng.
"Memangnya info apa yang kau ketahui tentangnya ?"
"Menurut penyelidikan saya, dia seorang pemimpin preman, sepertinya dia di suruh seseorang, sekarang bagaimana kita bisa mrngetahui siapa otak dibalik semua ini . " pikiran Andi serius , sedangkan Arfan sedang sibuk dengan Arini yang berani mengganggu tidurnya .
"Sekarang tidak ada meeting kan ?" Tanya Arfan.
"Jam 10.00 kita ada meeting dengan Pak Hendra , selebih nya belum ada jadwal lagi. "
"Oke, kita berangkat mencari Bojes setelah meeting selesai "
"Baik tuan "
**
__ADS_1
"Ayo kejar dia, jangan sampai lolos " teriak Andi pada anak buahnya yang sedang mengejar Bojes yang berlarian di tengah kerumunan orang-orang di pasar Turi, mereka saling kejar-kejaran tidak peduli banyak yang tertabrak, baik orang maupun barang dagangan milik pedagang, hampir setengah jam mengelilingi pasar, Bojes ternyata seperti belut, hingga scurity pun ikut andil atas suruhan Andi, sedang Arfan menunggu di mobil.
Drama pengejaran itu pun mengundang penasaran para pengunjung pasar yang memang sedang ramai pengunjung, tiba di suatu toko Bojes akhirnya terkepung , namun Badannya yang tinggi besar dan dipenuhi tato itu dengan mudah merobohkan scurity dan anak buah yang dikerahkan Andi, seketika roboh semua, hingga satu scurity berhasil menangkap nya dengan kayu rotan warna kuning, iya, scurity itu tahu betul jika Bojes memang mempunyai ilmu kekebalan dan ilmu bajing loncat , dimana dia tidak akan mempan dengan senjata tajam dan dia tidak akan mampu di kejar saat di kejar polisi ataupun siapapun.
Di sebuah ruangan keamanan di Pasar Turi itu, Bojes di introgasi, Arfan pun ada di sana , dengan tangan yang terikat ke belakang di atas kursi lipat.
"Siapa yang menyuruhmu menyerang tuan Arfan ?"tanya Andi.
"Tidak ada yang menyuruhku "
"Lantas apa motif mu menyerangnya"
"Aku hanya merampoknya"
"Kau kira kami bodoh, tidak ada satupun barang yang hilang , jadi katakan sebelum kau ku laporkan ke polisi "
"Laporkan saja , Aku tidak takut, Aku sudah terbiasa, penjara bagiku adalah rumah keduaku " Andi pun geram dengan melayangkan tinju yang mendarat di mukanya, tapi Bojes tak bergeming, dia malah tertawa jahat seolah tidak merasakan apapun.
"Dia tidak akan mau mengaku, tunggu sebentar, temanku sedang mengambilkan sesuatu " ucap Scurity, bernama Bondan, yang sudah berhasil menangkap Bojes.
Tak lama kemudian, teman yang ditunggu datang, dia membawa setangkai daun kelor, bambu kuning dan kotoran ayam. melihat itu Bojes membulatkan matanya.
"Jangan !, jangan lakukan itu "Bojes ketakutan, padahal belum diapa-apain, Andi dan Arfan serta anak buahnya pun keheranan.
"Jadi , mau ngaku atau tidak ?" tanya bondan dengan tenang.
"Asal jangan apa-apa kan aku , Aku mohon !" suara bojes memelas.
"Kamu kan tahu, dulu Aku mantan preman dan aku tahu kelemahanmu, jadi jangan main-main denganku "ucap Bondan sambil mengibas ngibas kan setangkai daun kelor itu mengelilingi tubuh bojes yang terikat di kursi lipat.
"Ba-ik....Aku mengaku, Aku di suruh orang yang bernama Gunawan , Dia akan membayarku 100 juta jika bisa menghabisi keluarga Hadiningrat,"Bojes buka suara.
"Siapa Gunawan ? Dan dimana Alamatnya ?"Arfan bertanya lagi.
"Aku tidak tahu apa-apa , dia yang ke tempatku" Bojes mengaku dengan nada takut.
__ADS_1
Arfan kemudian menelpon dan bertanya pada opahnya. setelah mendapat jawaban dari opahnya, mereka hendak beranjak keluar karna urusannya selesai. Andi menyerahkan uang 10 juta untuk bondan dan anak buahnya, serta urusan Bojes diserahkan pada Bondan, merekapun segera meninggalkan pasar turi itu.