CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Keluarga Baru Rania


__ADS_3

"Rania...? kenapa kamu ada disini ?" sontak Arini yang sedang tidur karna tidak enak badan itu terkejut dengan kedatangan sahabatnya. Tapi Rania tidak menjawab dia langsung memeluk Arini. Rania tampak menangis.


"Kamu menangis ? , ada apa Rania ?" Arini semakin kebingungan.


"Mbak, Aku sekarang sudah menemukan keluargaku "Rania menangis karna bahagia.


"Terus, kenapa kau menangis?" Arini masih bingung, sementara Rania sudah melepaskan pelukannya.


"Karna , Aku merasa telah menemukan hidupku kembali mbak , setelah sekian lama seakan mati, dengan apa yang selama ini Aku alami. Hampir seumur hidupku, Aku slalu dicaci maki, di sebut anak haram bahkan sering dianiaya fisik maupun mental, jadi bagaimana sekarang Aku tidak bahagia jika ternyata Aku masih mempunyai keluarga, ada kakek dan kakak serta ibu." Rania menumpahkan semua isi hatinya pada Arini dengan menangis..


Sementara Arfan dan Hadi berada di depan pintu kamar Arini yang terbuka sedang mendengarkan nya, hingga membuat air mata opah tak terasa telah jatuh.


"Alhamdulillah kalau begitu, terus kenapa kau bisa kemari ?" Tanya Arini masih heran.


"Karna Tuan galak nya mbak Arini itu ternyata kakak ku" ucap Rania dengan senyum kebahagiaan.


"Oh iya,? Bagaimana dengan paman dan tantemu serta Mirna ?" Tanya Arini heran.


"Mereka di tangkap polisi, katanya karna kasus penusukan dan penggelapan uang." Guman Rania mengangkat pundaknya tanda tidak tahu.


"Kamu tahu kenapa paman mu juga di kenai kasus penggelapan uang selain kasus penusukan ?" Ucap Arfan yang menyahut saat Rania dan Arini berbicara, keduanya pun menoleh.


"Sebenarnya sejak ibumu meninggal, Opah selalu menigirimu uang untuk biaya hidupmu, sekitar 5 sampai 10 juta perbulan, dan menurut tetanggamu, kamu tidak pernah dikasih , kau dipaksa berjualan kue, untuk makan, serta sekolah dan kuliyah pun dari beasiswa, karna itulah kami segera bertindak " Guman Arfan.


"Benarkahhhh ...ja-di se-la-ma ini Opah mengakuiku dengan membiayaiku, meski sebenarnya Aku tidak merasakannya uangnya, maafkan Aku kak, maafkan Aku opah. jika selama ini Aku suudzon pada kalian " Rania menangis menyesali kesalahannya, dia pun mencium punggung tangan kakeknya serta memeluk memohon maaf.


"Oh iya, sejak kapan kau berteman dengan Arini?" Tanya opah.


"Sekitar semingguan , waktu itu mbak Arini membantuku saat Aku sedang di bully" jawab Rania.


"Benarkah , dulu Arini juga lah yang menolong kakakmu saat dia di tusuk orang suruhan Gunawan, oh iya, Arini, terimakasih kau telah menjadi dewi penyelamat bagi kedua cucuku" mendengar itu Arfan pucat, karna sampai sekarang dia belum mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"A-nu...mmm- ....Katanya kamu tidak enak badan, Aku panggilkan dokter khusus keluarga kami ya " Arfan mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan Arini Priksa , dan ingin tahu apa yang sebenarnya yang membuat Arini tidak enak badan. Arini sebenarnya hanya sedang masuk angin biasa tapi juga sedang tidak enak hati, sebab terlalu memikirkan apa yang dikatakan Arfan kemarin.


"Tidak usah, Aku cuma masuk Angin saja, tadi sudah minum obat, bentar lagi juga sembuh " jawabnya dengan prasaan tak menentu, entah mengapa Arini merasa canggung berhadapan dengan Arfan, tidak seperti biasanya.


"Ya sudah, mbak Arini Istirahat saja dulu, Rania keluar dulu ya, maaf tadi sudah mengganggu istirahatnya, karna saking bahagianya Aku sampe mengganggu mbak Arini "Rania pamit keluar dari kamar Arini, begitu juga Arfan dan opah.


**


Di meja makan yang dulu hanya terisi dua orang , kini terasa berbeda dan terasa hangat bagi opah Hadi, Arfan, Rania dan Ningsih juga ditambah dengan Saidah, moment itu benar-benar membuat Opah Hadi terharu.


Dia jadi teringat kebersamaannya dulu dengan istri tercintanya, juga Aryo, anak semata wayang nya.


"Malam ini, opah benar-benar merasa berbeda, keluarga ku sekarang sudah lengkap, dan Aku sangat bahagia, tapi masih ada yang kurang " Opah menghentikan pembicaraannya.


"Tapi kenapa opah " Arfan menyela.


"Kamu "


"Hhhmmm..." opah mengambil nafas dalam dan menghembuskannya, lalu meneruskan ucapannya. "Umurku sudah 77 tahun, Aku tidak tahu kapan Alloh akan memanggil ku, namun sebelum Aku dipanggil, Aku ingin melihatmu menikah dan segera punya anak, kamu itu sudah tua, mau sampai kapan kau akan menolak keinginan opah ini !"


"Tidak pah, kali ini saya akan mewujudkan keinginan opah " jawaban Arfan itu sontak membuat Ningsih dan opah terkejut.


"Benarkah , kapan kau akan mewujudkan nya?" Tanya opah.


"Setelah Aku bisa mengaji dan sholat, Aku sedang belajar pada teman ku, dan akan berusaha sekuat tenaga "ucapnya yakin


"Apah, ngaji dan sholat ? kakak belum bisa ?" Rania menyahut.


Arfan hanya diam, merasa malu pada adiknya .


"Tenang kak, Aku akan membantu kakak belajar agar secepatnya bisa menikah " Rania menggoda Arfan.

__ADS_1


"Tapi jangan belajar sholat atau mengaji hanya karna ingin menikah, itu namanya tidak ikhlas" timpal Ningsih.


"Tidak, Aku ikhlas ma, Aku belajar sholat dan mengaji semata-mata karna ingin mengenal Alloh , tapi mengapa Aku ingin menikah setelah aku bisa sholat, karna aku ingin menjadi imam yang baik untuk istriku kelak " Jawab Arfan yakin


"Hore...! Aku akan segera dapat kakak ipar " Rania merasa bahagia, meski dia baru masuk dalam keluarga itu, tapi dia segera mengakrabkan diri, karna memang kehangatan itulah yang dirindukannya selama ini.


"Oh iya, besok sebaiknya kamu pergi belanja baju-baju atau keperluanmu lainnya, juga buat nenekmu biar kamu diantar Bi Ana" guman Opah, seraya menoleh pada Bi Ana yang setiap makan memang harus berada di dekat mereka.


"Aku pingin ngajak mbak Arini juga pah " pinta Rania.


"Iya, semoga besok dia sehat kembali" giman opah, sementara Arfan merasa kawatir dengan keadaan Arini.


"Oh iya, sebelumnya saya sebagai kakek dari Rania mengucapkan banyak terima kasih atas segala kebaikanmu selama ini yang telah menjaga cucuku, dan hebatnya lagi, kamu mendidiknya dengan pendidikan agama yang benar " ucap opah pada Saidah.


"Itu karna nenek ini dulunya adalah seorang ustadzah di kampungnya pah, jadi jangan diragukan lagi ke mampuannya dalam mendidikku" puji Rania.


"Sudah kewajibanku menjaga nya, meski dia bukan cucu kandungku , karna sebagai seorang wanita, hatiku ingin selalu menjaganya, meski berkali-kali Gunawan selalu mengusirku, dan semuanya demi rasa sayangku pada Rania. dan setelah Rania sudah menemukan keluarganya, mungkin rasanya Aku harus segera pergi." ucap wanita yang sudah berumur 60 tahun itu.


"Nenek jangan bilang seperti itu, Aku sayang sama nenek. nenek jangan pergi " Rania merajuk.


"Ibu sebaiknya disini, tinggal bersama kami, jangan merasa jadi orang lain, anda selalu menjaga Rania selam ini, jadi tetaplah menjadi neneknya sampai kapanpun " pinta Ningsih.


"Bagaimana kalau anda tetap membuat kue dan Rania yang menjualnya" sahut Arfan.


"Masak cucu dari Hadiningrat jualan kue sih " Ningsih menyela.


"Bukan begitu ma, tapi Arfan akan belikan toko untuk Rania dan neneknya , agar nek Saidah mempunyai kesibukan, dan biar tidak merasa sendirian, bagaimana ide ku " ucap Arfan.


"Wah...beneran, Aku jualan kue itu dari SD, dan mempunyai toko kue adalah impianku kak, terimakasih ya kak, kakak baik deh semoga nanti Istri kakak akan cantik dan sebaik mbak Arini, ups...kelepasan, hehehe...habis kalian itu cocok banget sih , tuan galak dan ustadzah Tomboy, hhhh " Rania terkekeh kegirangan dengan ide Arfan sambil menggoda kakaknya.


"Husssttt...jangan brisik anak kecil " ucapnya pada Rania sembari menarik ujung jilbabnya sedikit.

__ADS_1


Semuanya pun ikut tertawa, melihat tingkah Rania dan melihat Arfan merasa kikuk , wajahnya yang merah seperti kepiting rebus.


__ADS_2