
"Maafkan Aku tadi malam ya sayang, Aku terlalu terbawa suasana, sampai Aku tidak memperhatikan kondisimu yang kurang fit," Akhirnya Arfan meminta maaf pada istrinya yang sedang berbaring sambil mengelus-elus perut istrinya yang sekarang sedang tumbuh buah cinta mereka.
"Iya tidak apa-apa, Itu kan sudah kewajibanku " Arini tidak tega melihat suaminya yang merengek minta maaf.
"Seperti kata dokter Suci tadi, Di semester pertama, kita boleh melakukan HB , asal hati-hati dan jangan terlalu sering, Tapi melihat kondisimu lemah dan pucat seperti ini, Aku jadi tidak tega, biarlah Aku akan puasa, demi kesehatan Iistriku dan calon anakku ini" lagi-lagi Dia mengelus perut istrinya serta menciumnya, seolah olah dia sedang mencium anaknya.
"Mulai sekarang, Aku akan menuruti semua keinginanmu, katanya gitu kan, kalau ngidam harus di turuti, biar bayinya tidak ileran ." Tambah Arfan.
"Tapi, sebenarnya menurut bu nyai ku di pesantren dulu, beliau berpesan pada santri putrinya, "kalau kalian suatu saat hamil, jangan pernah memanfaatkan bayi yang ada dalam kandungan untuk memenuhi keinginanmu, ngidam boleh jika itu benar-benar keinginan si jabang bayi dan yang wajar, dan tidak di buat-buat, namun jika ngidammu tidak wajar dan mempersulit suamimu, maka itu sama saja kau mendzalimi suamimu dan mengajarkan anakmu kurang ajar pada Bapaknya kelak" begitulan pesan nya, jadi jika Aku ngidam, aku akan minta yang sewajarnya saja yang murni memang keinginan sang bayi, bukan dibuat-buat."terang Arini.
"Aku benar-benar beruntung mempunyai istri sepertimu, sholihah, cantik, pengertian dan membuatku tergila-gila" ucapnya sambil mengecup kening istrinya.
"Bi..., sebenarnya ya, Sekarang Aku ingin makan cilok " Arini mulai manja.
"Gampang itu, Aku akan belikan sama grobaknya sekalian" Arfan merasa permintaannya istrinya sangat remeh.
"Tapi Aku pingin makan ciloknya di Turkey, Cappadocia, sambil naik balon besar itu, Makan cilok di sore hari sambil melihat indahnya pemandangan dari atas " Ucap Arini tanpa dosa.
"Hahh...Aku kira tadi gak minta yang aneh-aneh"Arfan terkejut.
"Ha ha, Aku cuma bercanda kok bi, Aku tahu Abi mampu membawaku ke Turkey kapan saja, tapi untuk sekarang kondisi kita memang sedang tidak aman, Aku juga tahu Abi mampu membelikanku Helikopter sekalipun, atau mobil sport atau barang mewah lainnya, tapi itu tidak ada gunanya untukku, karna Aku gak bisa nyetir, hehe "Guman Arini.
"Aku juga minta maaf ya sayang, sejak kita menikah, kita tidak sempat Honeymoon, karna Aku belum bisa merasa tenang sebelum orang yang menyerangmu dulu belum tertangkap" guman Arfan, menggenggam erat tangan istrinya.
"Iya bi, Aku faham" ujar Arini.
"Hmmm....andaikan kondisin nya sudah kondusif, negara manakah tujuanmu untuk kita Honeymoon? Turkey ?" Tanya Arfan
"Aku belum kepikiran, Apalagi sekarang ada si junior di perut ini, Aku harus lebih menjaga kesehatan ku demi anak kita".guman Arini
Belum sempat Arfan menjawab, tiba-tiba gawainya berdering.
"ada apa ?" Sapanya pada orang yang sedang menelfonnya, yang ternyata adalah bodyguard yang menjaga keamanan Ningsih yang sekarang berada di Toko kue nya bersama Saidah.
"Maaf tuan, Ada seorang laki-laki Asing yang sedang berbicara dengan nyonya Ningsih, " Bodyguard yang bernama Dody itu men infokan kalau Mama nya Arfan sedang di dekati seseorang.
__ADS_1
"Kamu kirim fotonya" Dody pun mengirimnya.
"Siapa Dia, mengapa terlihat begitu akrab, dengan mama"pikir Arfan, saat memperhatikan foto-foto yang dikirim dody.
"Pantau terus !, jaga mama baik-baik!" Pintanya.
"Baik tuan !"jawab Dody.
Sementara yang terjadi pada Ningsih di toko kue,
"Permisi, Tolong carikan Saya kue Tart yang cocok untuk anak perempuanku !" Pinta salah satu pelanggan laki-laki yang mengenakan kemeja warna putih, yang berusia sekitar 59 tahun.
"Iya tuan, anak anda berapa usia nya ?" Tanya Ningsih, yang kebetulan sedang memantau di bagian khusus kue Tart, sedangkan Saidah memang memantau bagian pembuatan, sebenarnya pegawai di toko itu terdiri dari enam pegawai, Namun Ningsih sedang ingin berinteraksi dengan pembeli.
"Anak Saya usianya 28 tahun" jawab pembeli itu dengan wajah yang tiba-tiba berubah sedih, padahal sebelumnya sangat sumringah. Melihat pelanggannya sedih, Ningsih mencoba bertanya.
"Maaf tuan, ini kue Tart yang cocok untuk anak Anda, biar nanti pegawai saya yang akan menulis nama dan ucapan di atas kuenya " ucap Ningsih sambil menunjukkan kue tart yang elegan berwarna putih dengan hiasan coklat di pinggiran nya.
Pandangan laki-laki itu tanpa sengaja terperangkap pada wajah Ningsih yang sudah mulai menua sama sepertinya, lama ia memandang garis wajah Ningsih seolah sedang mengumpulkan pecahan memory nya tentang wanita yang sedang di tatapnya saat ini dan kemudian memastikan apa yang dilihatnya benar.
"Iya, tuan siapa ya ?"Ningsih merasa belum mengenal.
"Aku, Herman. Ningsih ...Kamu masih hidup ?" Tanya nya, dengan wajah bahagia sembari memegang kedua pundak Ningsih.
"Herman,...?"Ningsih juga sedang mengumpulkan kepingan memorinya tentang orang yang sedang berada di depannya.
"Kamu masih ingat Aku kan, Herman si culun nya Ningsih. " ucap Herman dengan mata mengembun.
"Kamu ? Herman si culun ku ?" Ningsih pun mulai mengingatnya, kemudian reflek Ningsih memeluk Herman, Keduanya kini saling melepas rindu dalam pelukan yang sudah 37 tahun terpisah, taklama kemudian Ningsih melepas pelukannya karna merasa malu sebab tadi langsung memeluknya.
"Kita duduk dulu yuk !" Ajak Ningsih pada Herman pada tempat duduk khusus pelanggan, di sebuah sofa berwarna peach.
"Maaf tadi Aku benar-benar reflek memelukmu" Ucap Ningsih, malu sambil menyeka air mata yang tadi jatuh membasahi pipinya yang sudah mulai muncul kerutan itu.
"Aku tidak menyangka, ternyata kau masih hidup, terakhir Aku mendengar kabar kalau kau sudah meninggal lima belas tahun yang lalu, bersama suamimu" guman Hermawan .
__ADS_1
"Yang meninggal adalah suamiku dan istri keduanya, bukan Aku" ucapnya menunduk, Dia merasa sedih karna terpaksa harus mengingat kembali kenangan yang pahit itu.
"Maaf jika Aku membuatmu sedih" guman Hermawan,
"Tidak apa-apa ," jawab Ningsih datar.
"Kabar istrimu bagaimana?" tanya Ningsih, hati-hati.
"Sofia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu" Herman menunduk sedih.
"Maaf, Aku tidak tahu."ujar Ningsih.
"Terus, selama ini kamu kemana ?" Tanya Hermawan
"Aku baru sembuh dari lumpuh selama lima belas tahun."Ningsih mulai ceria lagi.
"Benarkah ? sembuh dari lumpuh selama lima belas tahun !!" mata Herman membulat merasa tak percaya.
"Iya" Ningsih meyakinkan.
"Terus kamu tiba-tiba sembuh karna apa?" Selidik Herman.
"Di ruqyah "jawabnya.
"Aku pernah dengar sih tentang ruqyah itu, tapi Aku belum pernah tahu cara pengobatannya. Anakku yang akan Aku belikan kue tart ini juga sedang sakit, Dia seperti linglung, kadang histeris, kakinya juga lumpuh, sudah Aku obati kemana-mana tapi tidak ada hasilnya, apa anakku nyoba di ruqyah saja ya ?" Ujar Herman.
"Sejak kapan anakmu seperti itu?"
"Sejak bercerai dari suaminya tiga tahun yang lalu, Anakku, Hanum, seperti orang linglung." Herman sedih.
"Iya nanti coba kau Ruqyah saja anakmu, Nanti Aku antarkan ke Tempatku berobat dulu" Ningsih menawarkan.
"Iya, bantu Aku, sekarang hanya Hanum yang kupunya"Herman menggenggam tangan Ningsih penuh harap.
"Iya, kita atur waktunya nanti, karna Aku harus bicarakan dulu dengan anakku"
__ADS_1
"Terimakasih ya" Ucapan Herman membuat Ningsih menangkap kembali sinyal getaran cinta yang dulu pernah ada.