CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Kedekatan Herman dan Ningsih


__ADS_3

Di lain kesempatan, Arfan sudah mengantongi informasi tentang laki-laki yang tempo hari terlihat akrab dengan Mamanya, hatinya sedikit tenang karna orang yang di maksud bukan bagian dari orang yang di curigai yang melakukan penyerangan terhadap istrinya.


"Arfan, Mama boleh bicara?" Guman Ningsih suatu sore setelah Arfan dari kantor.


"Ada apa Ma ?"


"Teman Mama, namanya Herman, Dia minta tolong Mama untuk mengantarkan nya berobat pada Ustadz Fuad Hilmi, untuk mengobati anak nya yang sedang sakit seperti Mama dulu" Arfan memperhatikan lekat wajah Mamanya yang penuh pengharapan itu.


Sebelumnya, Arfan sudah tahu siapa sebenarnya Herman itu dari orang yang dipercayakan untuk menggali info tentang nya, dimana orang yang bernama Herman itu merupakan teman Mamanya semasa SMA, sekaligus sahabat Mamanya sampai Kuliah. Diketahui Arfan, sekarang, Herman adalah seorang kepala sekolah di sebuah SMA di Surabaya, Istrinya sudah meninggal dan Dia hidup dengan seorang putrinya yang sedang sakit, serta dibantu oleh seorang asisten rumah tangga, melihat wajah penuh pengharapan dari Mama nya itu, Arfan yakin kalau Mamanya masih sangat peduli dengan Sahabat masa lalunya itu.


"Iya Ma, Mama sebaiknya membantunya, kasian anaknya, hmmm, biar Sony dan Dody yang mengantar Kalian besok pagi, Arfan tidak bisa nganter soalnya" Arfan mengijinkan Mamanya mengantar Herman.


"Terimakasih ya Nak !"Ningsih terharu atas kebaikan anaknya, dan Dia bisa merasakan banyak perubahan yang


Terjadi pada Anaknya semenjak Dia mengenal Arini, dan Ningsih sangat bersyukur akan perubahan yang terjadi pada anaknya itu.


"Ma, kak, boleh Rania bicara" tiba-tiba Rania juga hadir di antara mereka.


"Iya ada apa Ran ?" Ujar Arfan.


"Mmm...boleh gak, Rania ikut suami, Mas Randy merasa tidak enak jika harus menumpang disini, Dia sudah membeli rumah untuk Ku, meski rumahnya sederhana, tapi itu hasil kerja keras Mas Randy sendiri selama menjadi konten kreator" ucap Rania hati-hati.


"Apakah kamu dan suamimu tidak betah tinggal disini?" Ningsih bertanya pada Rania dengan wajah penuh pertanyaan.


"Tidak Mah, Rania sangat nyaman tinggal bersama keluarga yang hangat disini, tapi Rania dan Mas Randy hanya ingin mandiri.." guman Rania


"Boleh sih, tapi kalian juga harus bertanya pada Opah!. Dan kapan rencana kalian akan pindah ?"tanya Nigsih.


"Setelah Nek Saidah menikah "ucap Rania girang.


"Tapi nanti kamu sering-sering ya main kesini?"pinta Ningsih.


"Pasti Ma " Rania memeluk Ningsih, Meski Rania anak dari hasil perselingkuhan suaminya, Ningsih sudah menganggap Rania anaknya sendiri, dan melupakan masa lalunya dengan Dewi.


***

__ADS_1


Ningsih di antar Sony dan Dody untuk mengantar Herman ke Kediaman Ustad Fuad Hilmi, setelah menghubungi Herman melalui ponselnya, Ningsih segera menuju ke kediaman Herman.


Sampailah Ningsih di Alamat sesuai sharelok yang dikirim Herman melalui aplikasi hijau, Tampak sebuah Rumah yang modelnya hampir sama dengan model rumah lainnya yang berjejer di sepanjang jalan di prumahan itu.


"Assalamualaikum, " ucap Ningsih sesampainya di depat Rumah Herman


"Waalaikumsalam " Seorang asisten rumah tanngga, bernama Ijah, menyahut dari dalam seraya membukakan pintu untuk Ningsih.


"Mari Bu, masuk, Pak Herman memang menunggu Ibu, Dia sekarang sedang mempersiapkan mbak Hanum di kamarnya" ucap Ijah, Wanita yang sudah hampir berusia senja dengan prawakan agak gemuk itu bersikap ramah pada Ningsih, seraya membimbingnya ke kamar Hanum.


Kamar Hanum tidak tampak seperti kamar orang sakit, kondisi nya sangat rapi, itu karna Herman yang di kenal Ningsih dulu sangat rapi, Meski masih muda, Dia suka memasak sendiri dan mencuci bajunya sendiri, Ingatan Ningsih pun menerawang jaman dulu dimana Dia pernah ke Rumah Herman untuk menjenguk Ibunya yang sakit, Herman yang merawat sendiri Ibunya, serta memasak dan menyuapi Ibunya yang lemah tatkala itu.


"Nduk, Kamu pasti Ningsih ya, Herman selalu bercerita tentangmu, ternyata kamu memang cantik " guman Ibunya Herman dengan suara parau karna kondisinya yang masih sakit.


Ningsih melirik Herman, sedangkan Herman pura-pura mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


"Iya Bu, kulo Ningsih." Jawabnya.


"Herman itu memang telaten nduk, sejak Bapaknya meninggal, Dia menjadi sangat perhatian pada Ibu, meski Ibu tidak sakit, Herman yang nyuciin baju Ibu, kadang Dia yang masak di dapur, semoga kelak Dia bisa mewujudkan ciya-cita nya , menjadi seorang guru dan menikah dengan orang yang dicintainya " ucap Ibunya Herman sambil terbatuk-batuk.


"Assalamualaikum , Ini pasti Hanum ya " sapa Ningsih pada Hanum, tampak Hanum tidak bergeming, tatapannya kosong.


"Ayo, sebaiknya kita segera berangkat , Aku sudah siap" ucap Herman tak sabar, sembari mendorong kursi roda yang di duduki Hanum.


"Ayo, oh iya Mas, Ibu ,bagaimana kabar Ibumu ?" Tanya Ningsih.


Herman mengambil nafas beberapa saat kemudian menghembuskannya perlahan.


"Sejak Aku patah hati karna ditinggal kamu, Ibu jadi kepikiran Aku terus hingga Jantungnya kumat, dan taklama setelah itu, beliau pergi untuk selamanya" gumannya dengan nada suara sedih.


Ningsih merasa ikut andil dalam rasa sakit yang di derita Ibu nya Herman. "Maaf, Saya tidak tahu tentang kabar Ibumu"


"Itu memang sudah taqdir" ujar Herman


***

__ADS_1


Herman dan Ningsih sudah sampai di kediaman Ustadz Fuadz Hilmi, kondisinya masih sama seperti saat Ningsih berobat disana, masih banyak pasien dengan keluhan yang berbeda-beda.


"Assalamualaikum ustad, Ini ada teman saya Yang mau mengobati anak nya" sapa Ningsih pada Ustadz Fuad, kemudian Herman memperkenalkan diri dan menceritakan apa yang terjadi pada anaknya.


Ustadz Hilmi kemudian memulai ruqyahnya dengan membaca sholawat Al Ibrahimiyah, surat Annas, surat Al falaq dan surat Al ikhlas kemudian 2 ayat terakhir dari surat Yasin.


Saat bacaan ayat-ayat ruqyah yang berasal dari ayat-ayat suci Al qur'an, mulai dilafadzkan oleh Ustadz Fuad, Hanum mulai bereaksi, mula-mula Tubuhnya kaget, kemudian seakan mulai merasakan kepanasan dari arah kaki sampai wajah, hingga Hanum mulai berontak.


Semakin lama bacaan ruqyah itu di laungkan, Hanum semakin menggeliat-geliat, dan semakin merasakan kepanasan yang semakin terasa dan menjalar ke seluruh tubuhnya, sontak, suaranya kini bereaksi, mula-mula menangis, kemudian menggerutu tidak jelas, hingga akhirnya berteriak-teriak histeris, tak lama kemudian Hanum muntah-muntah.


Berteriak-teriak, menggeliat karna merasakan kepanasan, kemudian muntah lagi, hal itu terjadi berkali kali, hingga Akhirnya Dia lemas dan tak bereaksi seperti tadi. Herman memberi putrinya minum dengan air doa yang sudah dibacakan khusus oleh Ustadz Fuad, hingga keadaan Hanum benar-merasa tenang dari sebelumnya.


Hanum kini tertidur beralaskan sajadah di ubin yang beralaskan karpet berwarna merah itu, Hanum jelas sangat kelelahan karna berteriak-teriak dan tubuhnya yang dari tadi membrontak ingin di lepas.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya Ustad?" Tanya Herman yang dari tadi diliputi rasa khawatir yang amat besar.


"Dia terkena sihir " ujar Ustad Fuad.


"Siapa yang tega mengirim nya sihir se keji ini Ustadz, apakah mantan suaminya ?" Herman geram.


"Kita tidak bisa menduga-duga atau menuduh seseorang mengirimkan sihir pada seseorang, karna itu takutnya jatuh fitnah , karna itulah yang diinginkan syetan. Sihir itu memang kejam, selain menimbulkan penderitaan bagi yang terkena sihir, sihir juga bisa menimbulkan Fitnah yang timbul dari rasa Suudzon.


Yang Jelas, sihir itu dikirim karna pengirimnya dikuasai sifat kebencian, sifat iri dan dengki sehingga mudah di bujuk syetan untuk bersekutu dengannya melalui sihir " terang Ustad Fuad.


"Tapi anak saya sakit sejak dia bercerai dari suaminya ustadz, pasti Dia yang mengirimkannya "Herman masih menuduh Mantan menantunya.


"Sudah saya katakan tadi, Kita tidak bisa menuduh, karna sihir ini hal gaib, jangan sampai kita terjebak dalam sifat menuduh atau mem-praduga orang lain yang belum pasti berbuat sesuatu yang kita tuduhkan" Ustad Fuad masih telaten menjelaskan.


Akhirnya Herman diam, tidak lagi bersikukuh menuduh mantan menantunya yang mengirim sihir untuk putrinya.


Kondisi Hanum akhirnya mulai lebih baik dari sebelumnya, dan untuk selanjutnya, Hanum masih harus di terapy ruqyah, untuk menstrilkan hal negatif akibat ilmu hitam yang sudah masuk ke tubuhnya.


"Jangan lupa, Bapak sering-sering mengaji, dan bacalah bacaan yang sudah Aku tulis tadi, untuk mensterilkan Rumah Bapak "


"Terimakasih Banyak Ustadz" Herman memeluk Ustadz Fuadz dengan rasa syukur dan haru bahagia, karna Anaknya punya harapan sembuh.

__ADS_1


__ADS_2