CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Dilema Zidan


__ADS_3

Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Zidan pada gadis berjilbab putih yang sekarang terbaring di atas Brankar itu.


"Terimakasih, Bapak sudah menolong Ku, membawaku ke sini. Entah mengapa mulai kemarin dadaku rasanya Sakit, seolah ada yang sesak " ucap Syifa lemah.


"Jangan panggil Bapak kalau di luar kantor, Panggil saja Zidan. Kata dokter tadi, jantungmu lemah, kamu harus banyak istirahat dan makan makanan yang sehat." Saran Zidan padanya.


"Iya Pak manager, eh Zi-dan . Tapi, Bagaimana Aku bisa istirahat, sedangkan Aku baru kemarin diterima kerja, kalau Aku dipecat bagaimana ? Oh iya, sebagai Manager, pasti kamu punya wewenang untuk memecat karyawan kan ya? Apakah Aku akan di pecat ?" Mendengar itu, Zidan tersenyum, karna Syifa memang tidak tahu kalau Zidan lah CEO nya.


"Kata dokter, kamu harus di rawat disini dulu, 2 atau 3 hari , jadi Aku akan hubungi Budhe mu untuk merawatmu disini, masalah pekerjaan, tidak usah dipikirkan, kamu Saya beri ijin dan jangan kawatir, gajimu tidak akan di potong, tenang, aman ! Dan, Aku sudah mencatat nomerku di ponselmu, kalau butuh apa-apa kamu bisa menghubungiku " terang Zidan.


"Kamu kenal Budhe ?" Syifa heran.


"Oh iya, Aku kenal beliau, beliau kan jualan nasi , Aku langganannya " jawab Zidan se kena nya.


"Ya sudah, Aku tinggal dulu, kamu baik-baik disini ya , Assalamualaikum" Zidan pun perlahan menghilang dari pandangan Syifa.


'Aneh sih, kenapa Dia sangat perhatian padaku yang hanya Ofice girl, Dia kan seorang manager, masak harus repot-repot, nganter Aku ke rumah sakit ini, Apakah perhatiannya ini ada maunya ya' batin Syifa yang memandangi punggung Zidan.


'Sungguh, Aku jatuh cinta padamu, pada pandangan pertama, Aku pun sangat bahagia bisa melihatmu setiap hari saat kau membantu Budhe mu, hingga Aku bisa dekat denganmu, saat kau bekerja di Kantorku, meski hanya memandangmu dari jauh.


Namun, Bunga yang baru merekah terpaksa harus layu sebelum waktunya,


Matahari yang baru saja bersinar cerah tiba-tiba mendung


Cuaca yang cerah, tiba-tiba dihampiri gemuruh yang tak disangka


Seperti itulah suasana Hatiku


Saat ucapan tentang perjodohanku dengan Ameera, menngema.


Padahal hatiku telah memilihmu , Syifa.


Sesakit inikah jatuh cinta,


Ketika cinta harus memilih antara kekasih dan Bakti pada orang tua, Syifa...Aku mencintaimu, Tapi justru Aku merasa kalah sebelum berperang' Batin Zidan berkecamuk


Tak terasa bulir bening lolos begitu saja dari kedua retina Zidan saat menjauhi kamar Syifa di rawat.

__ADS_1


Dua hari sudah Arfan dan Syifa Sakit , di rawat di Rumah sakit yang sama, tapi Di kamar yang berbeda. Arfan di kamar VVIP dan Syifa di kamar biasa. Arfan ditemani dan dijenguk semua keluarganya , sedangkan Syifa hanya ditemani Budhe nya, Pak Somad pun baru datang menjenguk Syifa. Tanpa sepengetahuan Arini, Zidan menemui Syifa.


Setelah beramah tamah dengan Pak Somad dan Budhe Nur, Zidan mencoba mengatakan sesuatu yang sudah tidak bisa Ia simpan sendiri.


"Syifa, sesungguhnya, sejak pertama Aku melihatmu, hatiku langsung memilihmu sebagai calon penyempurna separuh agamaku, Aku tidak mau tenggelam dalam dosa karna selalu memikirkanmu dan Aku pun tidak bisa menundukkan pandangan jika bersamamu.


Aku tidak mau berlarut-larut tenggelam dalam rasa ini, selagi disini ada Ayahmu , Aku ingin menghalalkanmu, maukah kau mau menjadi istriku ?" Zidan mencoba memberanikan diri .


Syifa tercekat, Ia tak menyangka, laki-laki yang baru Ia kenalnya tiba-tiba melamarnya, Dan Syifa belum mengenal Zidan sama sekali.


"Kamu melamar Saya?" Syifa ragu.


"Ia, Di depan Ayahmu dan Budhe, Aku melamarmu, maukah kau menjadi Pendamping hidupku ?" Ulang Zidan.


"Tapi kita baru kenal kemarin ?"


"Tapi Aku sudah memantapkan hatiku padamu, sejak pertamakali melihatmu saat kau mengajar di TPQ di kampungmu" Terang Zidan.


"Tapi, A-ku "


"Ijinkan Aku menghalalkanmu, agar Aku bisa menjagamu ! Dan Agar Aku tidak terjebak oleh prasaanku ini!"


"Justru jika terlalu lama Aku tenggelam dalam rasa ini, Aku kawatir akan terjerumus pada hal yang tidak di inginkan."


"Ta-pi A-ku belum bisa , Aku belum mengenalmu "


"Hmmm...baiklah jika itu jawabanmu, mungkin kau belum siap karna merasa belum mengenalku, tapi yang jelas Aku sudah mengutarakan prasaanku " Zidan pun berlalu, Ia merasa lega karna sudah mengatakan isi hatinya pada Syifa .


"Syifa, kalau boleh Bapak bicara, selama ini kau tidak pernah dekat dengan seorang lelaki, Bapak rasa, kurang etis menolaknya dengan alasan kau belum mengenalanya. Sebenarnya Dia yang menolong Bapak membayarkan hutang Ibu ke juragan Broto, Dia terlihat sangat menyukaimu , Dia tampak tulus mencintaimu, lagi pula , jika kau menikah dengannya, kau bjsa minta tolong padanya untuk mencari orang tua kandungmu" ucap Pak Somad yang sedari tadi ada di ruangan itu.


"Betul itu Nduk, nak Zidan itu laki-laki yang baik dan tulus menurutku" Tambah Budhe.


Syifa semakin tergugu, Ia memang belum mencintai Zidan tapi Ia sudah merasakan perhatian Zidan itu tulus, dan Ia juga berpikir ini kesempatan untuk nya meminta tolong pada Zidan untuk mencari orang tua kandung nya.


Syifa yang kondisinya sudah mulai membaik, segera bangun dan hendak mengejar Zidan, hendak membicarakan lagi dengan lebih leluasa tentang prasaannya.


Zidan yang baru keluar dari ruangan Syifa, Ia bertemu Ameera yang hendak menjenguk Arfan.

__ADS_1


"Assalamualaikum , Zidan." Sapa Ameera.


"Waalaikumsalam, Ameera. sama siapa kamu kesini?"


"Sendiri, ini Aku mau menjenguk om Arfan, bagaimana keadaanya?" Tanya Ameera dengan senyum manisnya, semanis buah-buahan yang Ia bawa.


"Sebaiknya kita ke Abie di kamarnya, disana Ada Umma dan Zahra." Belum sempat Zidan menyelesaikan pembicaraannya, Buah yang dibawa Ameera terjatuh , Zidan pun segera menolong mengambilkan buah itu, saat Zidan tanpa sengaja memegang tangan Ameera yang sama-sama memegang Buah Apel yang hendak di ambilnya, dari jarak lima meter, Syifa melihat mereka , hatinya terasa sasak, maka Ia pun segera berpaling dan kembali ke kamarnya.


"Pak, Budhe, sebaiknya kita pulang sekarang yuk, Syifa sudah sehat kok !" Pintanya.


"Tapi Nduk !" Budhe Nur bingung, Pak Somad segera memberi isyarat pada Budhe Nur agar menuruti Syifa, karna Pasti Syifa butuh me netralisirkan prasaannya setelah ungkapan prasaan Zidan yang mendadak.


Sementara Zidan mengantar Ameera ke kamar Arfan di rawat.


"Assalamualaikum tante Arini" sapa Ameera , kemudian mencium tangan Arini.


"Waalaikumsalam, eh Ameera"Arini sangat senang, karna Dia yang menghubungi Ameera, dengan tujuan, agar Ameera bisa lebih dekat dengan Zidan.


"Kamu itu memang baik, seperti almarhum Umi mu, nek Saidah. selain cantik, hafal Al quran lagi, pokoknya mantu idaman semua Ibu" puji Arini.


"Tante Arini terlalu memuji, Aku tidak ada apa-apa nya dibanding Zidan dengan segudang prestasinya, pasti banyak para gadis yang mendekati " Ameera melirik Zidan.


"Zidan itu se kufu' denganmu, kalian itu memang pantas, sama-sama lulusan pesantren dan apalagi sekarang kamu ngajar tahfidz di lembaga milik Abahmu, nanti kalau kalian sudah menikah, setelah mengurus perusahaan, Zidan bisa juga mengajar " ucapan Arini membuat Zidan terbatuk sedangkan Ameera tersipu malu.


"Umma itu kok ngomongin itu, Abie tuh masih sakit, jangan bahas yang memberatkan " guman Zidan.


"Kondisi Abie sudah membaik kok, Dia juga akan senang jika kamu segera menikah dengan Ameera" lagi-lagi Zidan merasa terdesak dengan ucapan Umma nya yang membahas perjodohan itu.


Arini , Ameera dan Zahra terus saja mengobrol, sedangkan Zidan tidak boleh keluar, Tapi pikiran Zidan hanya tertuju pada Syifa.


Sementara Syifa, langsung mengurus kepulangan nya tanpa sepengetahuan Zidan.


Hingga akhirnya waktu Ameera akan pulang, Arini meminta Zidan yang mengantarkannya. Di Lobi, Syifa melihat Zidan berjalan beriringan dengan Ameera, tapi Zidan tidak melihatnya, dada Syifa pun semakin terasa sesak.


"Mas Zidan belum punya pacar kan?" Tanya Ameera waktu beradaa di mobil saat Zidan mengantarnya.


"Saya tidak punya pacar dan tidak akan pacaran, jika Saya menyukai seseorang, Aku ingin langsung menikahinya , bukan me macarinya " ucapan Zidan tertuju pada Syifa sedangkan Ameera berpikir yang dimaksud itu adalah dirinya, sehingga Ia senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


'Sebenarnya Aku menyukai Syifa dan Aku ingin menikahinya, tapi Umma menjodohkanku denganmu' Zidan ingin mengatakan itu pada Ameera, Tapi takut mengecwakan Umma dan Abienya.


Setelah pembicaraan itu, Zidan terdiam, Ameera pun diam, Dia merasa malu jika harus mengajak Zidan berbicara lagi.


__ADS_2