
Sejak hamil, kondisi Arini masih lemah, tubuhnya lemas, dan juga mengalami morning sikcnees, semua makanan yang di makan membuat Arini mual dan muntah, kecuali kurma dan air putih, Sehingga Arini lebih sering tidur-tiduran di kamarnya, pagi ini Arfan panik saat pertamakali melihat istrinya muntah-muntah, setelah sarapan bubur yang di buatkan Bi Ana.
"Bibi masak nya tidak higienis ya, bibi masukin apa ke dalam bubur itu, kok istri ku bisa muntah-muntah parah begini, Kalau sampai terjadi apa-apa bagaimana bi, Ma...mama..., bi..panggil mama kesini, cepetan bi !" Arfan yang sedang panik meminta bi Ana untuk memanggil mamanya, sambil memijit-mijit pangkal leher istrinya yang sedang muntah di wastafel di kamar nya. Sementara Bi Ana berlalu hendak memanggil Nyonya Ningsih.
'Tuan muda lucu sekali kalau panik gitu, padahal itu cuma karna bawaan hamil, hihi....semoga non Arini dan bayinya sehat terus 'batin Bi Ana,
Sementara di kamarnya, Arfan sedang berusaha menghubungi dokter Suci.
"Jangan marahin bi Ana bi, Aku yang tadi minta di buatin bubur" Sahut Arini saat muntahnya mulai mereda, Dia tampak lemas dan pucat.
"Halo dok, bisa kesini sekarang dok, Istri saya muntah-muntah setelah makan bubur, Aku takut Dia keracunan dok, cepat ya dok" pinta Arfan pada dokter Suci, sementara yang di sebrang telfon hanya terkekeh mendengar kepanikan Arfan.
"Tuan tenang dulu, itu sudah biasa bagi orang hamil, itu namanya Morning sickness, biasanya terjadi di trimester pertama, atau 3 bulan pertama " dokter Suci belum selesai menjelaskan, Arfan langsung menyela.
"Apahhh ? Tiga bulan, kasian istri saya dok, ini aja tadi istriku habis muntah-muntah langsung lemes gitu, pucat banget apa ada obatnya agar Istriku tidak muntah-muntah dok"
"Obat nya sih tidak ada, cuma ada yang untuk mengurangi rasa mual nya, Sebentar , nanti Aku kirim obat untuk mengurangi rasa mual nya, oh iya jangan lupa vitamin yang kemarin di minum" pesan dokter Suci.
"Iya dok, terimakasih "Arfan segera menutup ponselnya, karna Mama nya datang beserta Opah, Saidah dan Rania, karna mereka sedang sarapan bersama di bawah.
"Ma...Istriku muntah-muntah ma, kasian Dia, kata dokter tadi itu biasa berlangsung tiga bulan, bagaimana ini Ma , Arfan tidak tega ma " melihat kepanikan dan kekhawatiran Arfan, semua yang ada di kamar itu tersenyum merasa lucu dengan sikap Arfan yang kawatir berlebihan.
"Sabar...sabar...jangan panik begini, itu memang sudah biasa bagi Ibu hamil, hindari saja makanan yang sekiranya membuatnya mual dan muntah, dulu Mama juga mengalami hal seperti ini waktu hamil kamu, memang tidak enak sih, tapi itu memang sudah menjadi kodrat kami sebagai wanita" Ningsih mengelus-ngelus pundak anaknya.
"Kakak ini panik banget, itu artinya kakak harus lebih memperhatikan mbak Arini, jangan mikirin pekerjaan melulu" ucap Rania.
__ADS_1
"Ha ha ha... Opah jadi ingat opah dulu, waktu Omah mu hamil pertama, Opah lebih panik dari kamu ini, Mana lagi ngindamnya aneh-aneh, Omahmu itu dulu pernah ngidam minta buah sawo langsung dari pohon nya, tapi harus Opah yang manjat, tapi Opah malah jatuh dan harus di bawa ke tukang pijet, tiga hari Opah tidak bisa bangun" ucap Opah dengan wajah bahagia mengingat moment dimana Istrinya sedang hamil Aryo.
Semuanya pun ikut tertawa, tertawa karna cerita Opah dan mentertawakan kepanikan Arfan saat ini. Namun tiba-tiba Bi Ana masuk membawa berita.
"Maaf tuan besar, di luar ada Tamu yang mencari Tuan" ujarnya. Setelah mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka.
"Baik, Aku akan segera turun" Opah mengisyaratkan pada Saidah untuk turun, mereka pun turun menuju ruang tamu yang berada di lantai bawah.
"Kamu sudah siap dengan jawabanmu untuknya ?"tanya Opah pada Saidah saat berada di lift menuju lantai bawah. Saidah tergugu, dan Dia belum bisa menjawab pertanyaan Pak Hadi .
"Assalamualaikum, Ustadz Basyir, bagaimana kabarnya ? Oh iya, kita sarapan dulu yuk !" Ajak Opah pada tamunya.
"Saya sudah sarapan tadi, Maaf jika Saya kesini terlalu pagi, ini karna tadi Saya dari Masjid Ar Rahman, mengisi kajian subuh, jadi sekalian mampir " ucap Ustadz Basyir, laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu juga tersenyum ramah saat tidak sengaja bertemu pandang dengan Saidah. Melihat senyum nya, hati Saidah berdentam hebat.
"Oh iya, ini Saidah, sosok perempuan yang Saya ceritakan " Pak Hadi memperkenalkan Saidah, keduanya saling mengatupkan tangan di depan dadanya sebagai tanda bersalaman.
"Hmmm...kita ini sudah tua, sebaiknya tidak perlu bertele-tele lagi tentang urusan yang nantinya akan berpahala ini " ucap Pak Hadi. Ustadz Basyir maupun Saidah sama-sama tergugu, seakan anak muda yang sedang melakukan taarruf pertamakalinya.
"Sebentar, Ada yang akan ku ambil dulu di kamarku, kalian silahkan bicara dulu?" Pak Hadi memberi kesempatan untuk kedua sejoli itu berbicara.
Kedua hati manusia yang hanya berdua di ruang tamu itu sedang berlomba berpacu dalam dentuman demi dentuman tak menentu, keduanya masih saling diam, seolah sedang menata kosa kata yang akan di utarakan.
Ternyata Umur hanya angka, meski usia senja, mereka seperti muda mudi yang baru pertamakali taarruf.
"mmmm....Oh ya, sudah berapa lama kamu ditinggal suamimu?" Akhirnya ustadz Basyir meluncurkan pertanyaan perdananya pada lawan bicaranya yang tampak terlihat kikuk.
__ADS_1
"Sekitar 22 tahun "jawab Saidah singkat.
"Kenapa begitu lama , Apakan kamu tidak bisa melupakan Suamimu?" Tanya Basyir.
"Bukan, tapi karna demi menjaga dan membesarkan cucuku" balas Saidah.
"Aku ditinggal istriku baru 5 tahun, itupun terasa berat sekali, karna semua anak-anaku ikut pasangannya masing-masing" mimik wajah Basyir berubah redup.
"Apakah kau bersedia menjadi pendampingku ?" Ustadz Basyir langsung to the poin. Sontak Saidah terkesiap dan menelan salivanya mendengar penuturan itu.
"A-ku...A-ku..."Saidah tersipu malu, Sementara ustadz Basyir hatinya dag dig dug menunggu jawabannya, jantung nya bertalu-talu bagai rebana yang di tabuh para santri saat mengiringi alunan Nasyid.
"Insya Allah, Aku bersedia" jawaban yang meluncur langsung dari bibir Saidah, membuat ustadz Basyir bagaikan satria yang baru memenangkan peperangan.
Sementara Di balik dinding, Ada prasaan yang sedang luruh, Prasaannya terasa nyeri sekaligus bahagia, karna baru saja merelakan orang yang dicintainya. bahagia adalah kebahagiaan yang masih menyisihkan rasa nyeri dihati. Tak apa sakit, asal orang yang dicintai bisa bahagia, itulah prasaan yang sedang dirasakan Pak Hadi. Dan terasa, bulir bening terjatuh menjadi saksi pengorbanan cintanya pada Saidah.
Akhirnya pernikahan Saidah dan ustadz Bsyir direncanakan di gelar seminggu lagi, karna keluarga Ustadz Basyir baru akan dikabari.
Mendengar berita itu, Ningsih ternganga seakan tak percaya, baru kemarin Dia yang di goda oleh Saidah karna sedang clbk, ini malah langsung mau nikah.
"Ciye....ciye....kemarin yang godain Aku clbk, sekarang dia sendiri yang malah tiba-tiba mau nikah "goda Ningsih pada Saidah.
"Apaan si mbak Ning ini " Saidah tersipu malu.
"Eaaa....eaaa, persis anak perawan baru dilamar jaka ting-ting."Ningsih makin menggodanya.
__ADS_1
"Selamat ya nek.., semoga pernikahan nenek sakinah mawaddah warahmah" ucap Rania sembari memeluk neneknya, terharu.
"Terimakasih semuanya, atas kebaikan kalian yang menampungku disini dan menganggapku bagian dari keluarga ini, semoga Allah yan membayar kebaikan kalian semua" ucap Saidah memeluk Ningsih.