CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Kurma Ajwa


__ADS_3

Pagi menjelang, aktivitas di dapur sudah mulai selesai, tampak dua pelayan yang bekerja khusus memasak itu sudah selesai dengan tugasnya. Termasuk Bi Ana yang sudah bekerja bertahun-tahun di Rumah keluarga Hadiningrat itu, Baginya Dia sudah terbiasa dengan kebiasaan majikannya, Dimana tuan muda Arfan yang dulu sering marah-marah, meski tidak ada yang salah, atau Pak Hadi yang mimik wajah selalu datar seolah tidak mempunyai semangat hidup, serta nyonya Ningsih yang selalu di kamar karna memang lumpuh, Kini semua terasa berubah 180 drajat sejak kehadiran Arini.


Sejak kedatangan Arini ke Rumah itu, hal pertama yang Dia lakukan adalah membacakan Ayat-ayat Alqur'an untuk Ningsih yang pada saat itu sedang berteriak-teriak histerik tidak karuan. Juga kehadiran Rania yang membawa perubahan dalam lingkup keluarga yang dulu kaku, datar, dan Hambar, kini terasa semakin menghangat.


Sejak Arini menjadi istri tuan muda Arfan, Dia telah memberi banyak perubahan pada Arfan yang signifikan dan nyata . Dulu tuan muda Arfan galak dan suka marah-marah pada para pelayan, hampir setiap hari, Kini Dia laksana kerbau yang kehilangan tanduknya, Dan Kini Dia seperti seseorang yang baru menemukan hidup baru, wajahnya tambah berseri, guratan ke kakuan di wajahnya kini seakan sirna berganti wajah yang lentur yang senantiasa murah senyum, mungkin semua itu karna Dia dulu tidak mendapatkan kasih sayang yang layak dan cinta Arini lah yang mampu melunakkan hatinya.


Kehangatan keluarga Hadiningrat itu kini dapat dirasakan pula oleh para pelayan. Di meja makan yang biasanya terdengar teriakan Arfan yang marah karna masakannya salah, kini yang terdengar dan terlihat adalah canda tawa penuh kehangatan antara sesama anggota keluarga.


"Semoga keluarga ini akan seterusnya hangat dan seperti ini ya wik," guman Bi Ana pada pembantu yang bernama wiwik.


"Amin...semoga bi, Sungguh Aku sangat bahagia melihat keluarga ini bahagia, beda dengan dulu dimana tuan Arfan selalu marah-marah tak karuan pada kita" jawab wiwik.


"Aminnn "jawab Bi ana .


Sementara di meja makan, Saat aktifitas makanan belum selesai, Hadiningrat memperhatikan Arini tidak menyentuk makanannya.


"Kamu kenapa Nak, kok makanannya tidak dimakan, Apa makanannya tidak enak? Atau Apa kamu sedang Sakit ?" Tanya opah.


"Tidak Opah, bukan begitu, Mungkin Arini hanya sedang tidak enak badan saja, " mendengar itu Arfan yang duduk di sebelahnya reflek langsung merangkul dan meletakkan telapak tangannya di kening istrinya.


"Kenapa Kamu tidak bilang padaku tadi, Biar Aku suruh Bi Ana membawa sarapanmu ke kamar saja sayang, "Arfan tampak kawatir karna Wajah Arini memang terlihat pucat, Dia juga merasa bersalah karna tadi pagi Dia telah membuat istrinya harus mandi jinabah atau mandi besar.


"Kamu bawa saja Istrimu ke kamar !" Pinta Ningsih yang juga merasa kawatir, tanpa berlama-lama, Arfan langsung menuntun istrinya menuju kamar.


Semua tampak merasa kawatir, tapi mereka tetap harus menyelesaikan sarapan mereka, karna Rania dan Randy harus segera Kuliah, Nek Saidah harus segera ke toko kue, sedangkan Ningsih yang biasanya hanya tinggal di Rumah saja, kini Dia juga rajin ikut ke toko kue bersama Saidah. Setelah selesai sarapan, mereka semua berpamitan pada Opah untuk berangkat.


Sementara Arfan masih dalam kekawatirannya.


"Sayang, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang tidak enak badan gini "ucapnya sambil merebahkan tubuh istrinya di atas kasur berukuran besar itu,


"Entahlah bi, Aku baru merasakan tidak nyaman tadi sehabis mandi, rasanya lemes " keluh Arini.


"Biar Aku panggil Bi Ana dulu, " guman Arfan sembari menelfon Bi Ana yang berada di bawah. Tak lama kemudian Bi Ana pun muncul membawa senampan sarapan untuk Arini


"Ayo non, sarapan dulu, Bibi juga bawa obat, katanya non tidak enak badan" pinta Bi Ana, pada Arini yang sedang terduduk di kasurnya itu.


"Tidak bi, Aku tidak berselera makan. oh iya bi, apakah di dapur ada kurma?" Tanya Arini.


"Kurma?, tidak ada non, non mau makan Kurma?, biar nanti suami ku yang membelikan " sahutnya.


"Tidak usah bi, Biar Abi saja yang belikan , iya kan bi ?"lirik Arini pada Suaminya yang sedang sibuk dengan gawainya.


"A-pah, ?" Arfan tidak mendengar karna Dia memang sedang fokus pada Gawainya.


"Abi, Aku lapar, tapi Aku pingin makan kurma saja, mungkin dengan makan kurma, Aku jadi berselera makan" terang Arini.

__ADS_1


"Tapi non, sarapannya ini apa tidak di coba dulu, biar bisa segera minum obatnya " Bi Ana juga merasa kawatir.


"Taruh di sini mungkin bi, jika enak makan nanti Aku makan, maaaf ya bi, jadi ngerepotin bibi " ucap Arink Arini.


"Loh ya gak repot lah non, ini kan memang pekerjaan Bibi dari dulu, melayani keluarga ini" sergah Bi Ana yang kemudian berlalu pergi.


"Abi.. mau ke kantor ya? Tolong Belikan Aku kurma Ajwa dulu dong !" pinta Arini.


"Iya, nanti Aku beliin online saja ya ?" Jawab Arfan yang masih Fokus ke Gawainya.


"Tidak bi, Aku mau Abi yang beliin, pokoknya Abi yang beli , sekarang !"


Bujuk Arini.


"Iya iya nanti, Abi berangkat dulu ya, ini ada urusan penting di kantor."Arfan masih fokus ke pekerjaannya.


"Oh kalau begitu , Abi cepatan aja ke kantornya, sekalian nginap disana, tidak usah peduliin Aku, biar Aku gak makan sekalian"Arini merajuk.


"Loh kok gitu sih sayang..., Abi kan mau ke kantor, seperti biasanya, nanti Abi belikan kurma nya" Arfan mencoba menenangkan istrinya.


"Abi tidak sayang padku " kini Arini bersembunyi dibalik selimutnya.


"Iya iya...Abi belikan sekarang, kamu tunggu disini !"


Arfan pun segera beranjak keluar untuk segera membeli kurma yang diminta. Sesuai Arahan andi, melalui telfon, tak membutuhkan waktu lama, Arfan segera membawakan kurma Ajwa yang di inginkan istrinya.


Lima kilo gram kurma Ajwa sekarang sudah berada di depannya, dan


Arini merasa Kegirangan serta langsung memakannya dengan sangat antusias.


"Kalau begitu, Abi berangkat ke kantor dulu ya "menjulurkan tangannya agar dicium oleh istrinya, Arini pun segera memcium punggung tangan suaminya dengan tadzim, dengan senyum mengembang karna sudah dibelikan kurma.


"Terimakasi bi"senyum termanisnya terlihat nyata.


***


D Kantor, setelah selesai dengan kesibukan nya, Arfan curhat pada Andi.


"Untunglah, pekerjaan sudah bisa segera diselesaikan meski aku datangnya telat"


"Memangnya tadi tuan langsung nemu kurma ajwa nya?" Tanya Andi.


"Iya Alhamdulillah, lansung nemu "" Arfan kegirangan.


"Syukurlah, non Arini ngidamnya gak aneh -aneh" mendengar penuturan Andi itu, Arfan langsung terkesiap.

__ADS_1


"Maksudnya , itu ngidam? Tahu dari mana kamu" Arfan tak percaya.


"Tuan lupa kalau Aku sudah punya dua anak ? ya Aku menduga pasti nyonya Arini sedang ngidam, ngapain pagi hari tiba-tiba minta Kurma, bahkan maksa tuan sendiri yang harus membelikan ? padahal tuan sedang sibuk mau meeting, Tapi itu sih tak seberapa, dulu Aisyah ngidamnya ribet mulu, masak nyuruh Aku naik pohon mangga malem-malem " ucap Andi yakin.


"Aku tak peduli kisahmu, sekarang kamu handle pekerjaanku, Aku mau pulang " wajah Arfan berbinar-binar, dengan cekatan Dia pun beranjak pulang. Diperjalanan tak lupa dia menghubungi dokter keluarga, untuk memastikan kalau istrinya benar-benar hamil.


Sesampainya di Rumah, Arfan sudah melihat dokter Suci sedang berada di teras menunggunya. Arfa langsung berhambur masuk, seperti se seorang yang baru pulang merantau .


"Bi...Arini dimana?" tanya nya saat Bi ana membukakan pintu.


"Masih di kamar, sedang istirahat tuan " jawab nya. dan tanpa banyak bicara lagi, Dia langsung menuju kamarnya dengan membawa dokter Suci untuk masuk ke kamarnya.


Ceklek..


Tampak Arini masih terbaring, dengan selimut di setengah badannya.


"Sayang...bagaimana kondisi kamu, maaf ya tadi tidak menghiraukanmu" mennggenggam erat tsngan istrinya, Arini pun terbangun. Arfan yang melihat piring bekas kurma di nakas, karna terlihat masih tersisa bijinya, merasa senang.


"Eh Abi, jam segini kok sudah pulang, dan itu dokter?" Arini langsung menualami dokter suci.


"Saya Suci, mau memeriksa kondisi nyonya." jawab dokter suci, yang kemudian memeriksanya, memegang denyut nadinya, terperatur suhu badan serta tes urin.


setelah selesai diperiksa, Dokter Suci menyalami Arini.


"Selamat ya, tuan, nyonya, kalian akan segera menjadi orang tua." ucap dokter Suci setelah memastikannya


"Mm-maksud dokter?"Ariini masih belum begitu mengerti.


"Selamat ! Anda sedang hamil nyonya "


"Apah,?..Aku hamil ?" Senyumn indahnya semakin terlukis jelas di wajah cantinya meski wajahnya tampak sedikit pucat.


"Iya, nyonya hamil, usia kandungannya masih 3 minggu, mohon jaga kesehatan terus ya, nanti Aku kasih resep untuk vitaminnya"! Dokter suci.


"Sayang...terimakasi ya" Arfan langsung memeluk istrinya dengan penuh haru kebahagiaan, tak terasa bulir bening pun lolos dari mata Arini yang lentik itu.


Tampak opah Hadi datang, karna Ia mengetahui ada dokter Suci, Dia pun bertanya.


"Bagaimana kondisi Arini dok?"


"Selamat ya tuan, anda akan mempunyai cicit." OpaH Hadi langsung berhambur ke pelukan Arfan, dan menangis bahagia.


"Selamat ya sayang...Kamu akan menjadi seorang Ayah, impian opah kini telah tercapai" opah Hadi juga sangat haru dan bahagia.


Kabar bahagia itu pun membuat para pelayan dan penghuni rumah juga ikut merasakan kebahagiaan atas kehamilan Arini

__ADS_1


__ADS_2