
"Nyonya, Tuan menyuruh kita pulang secepatnya, Karna ada kabar penting yang tengah menanti di Rumah " Ucap Dody, Bodyguard yang diperintahkan Arfan untuk menjaga mamanya. Sebelumnya Dody juga di suruh mencari informasi tentang laki-laki yang berbicara dengan Ningsih tadi.
"Kabar penting ?" Ningsih penasaran.
"Iya Nyonya, tuan menunggu di Rumah, itu kejutan " Ujar Dody
"Baiklah "Ningsih hanya bisa menurut seperti anak TK yang disuruh pulang saat sedang senang-senang nya main di playground. Meski sebenarnya hatinya dongkol karna tidak di beri tahu tentang kabar pentingnya, Ningsih Akhirnya manut.
"Mbak, Arfan menyuruh kita segera pulang, katanya ada kabar penting, pulang yuk !"Ujar Ningsih pada Saidah.
"Iya sih ini memang sudah waktunya pulang , sebentar Aku siap-siap dulu !" Jawab Saidah sambil membereskan sesuatu, dan menitipkan toko kue itu pada seseorang yang memang sudah dipercaya untuk mengatur nya.
Akhirnya setelah beres, mereka pun segera pulang, dengan supir dan satu Bodyguard di kursi depan.
"Mbak Ning, ngomong-ngomong tadi siapa yang berbicara sama mbak, kayaknya akrab banget ?" Tanya Saidah pada Ningsih yang memang umur mereka sepantaran, jadi masing-masing manggil mbak.
"Eh..anu...itu....teman lama ku ," Ningsih tergagap, sembari sesekali menyeka anak rambut yang bertengker di pinggir telinganya, untuk diletakkan di belakan telinganya, wajah nya pun tampak merah.
"Oh ...teman, Pantesan, Akrab , bahkan pake banget," Saidah menggoda Ningsih, dengan senyum setengah cengengesan layaknya anak muda yang menggoda temannya.
"Apa an sih mbak ini "Ningsih tersipu malu seperti anak ABG yang baru jatuh cinta. Iya, Ningsih mungkin sedang mengalami puber kedua.
Di dalam mobil, keduanya asyik mengobrol tanpa memperhatikan, kedua pria di daepan nya. Kedua nya tampak seperti kedua sahabat yang masih ABG yang saling menggoda saat salah satunya sedang jatuh cinta.
"Assalamualaikum," Ucap Ningsih dan Saidah saat sudah memasuki Rumah.
"Waalaikumsalam "Arfan yang memang sedang menunggu mamanya langsung menyambutnya, sebenarnya Arfan menyuruh mamanya segera pulang, selain karna ingin memberi tahu tentang kehamilan Arini, juga karna untuk keamanan mama nya setelah Dia dikabarkan oleh Dody tentang pertemuan mamanya dengan seorang laki-laki asing.
__ADS_1
"Memang nya ada kabar apa sih, kok mama di suruh cepat-cepat pulang ?" Ningsih semakin penasaran.
"Mmmm....kasih tahu gak ya...?" Arfan malah menggoda mamanya.
"Anak mama ini kok mulai nakal yah..."Ningsih memencet hidung Arfan seperti anak kecil, Karna memang, bagi setiap Ibu, sebesar dan setua apapun seorang anak, dimata Ibu, mereka tetaplah anak kecil.
Kemudian Arfan memeluk mamanya serta berbisik sesuatu. Melihat kehangatan Ibu dan anak itu, Saidah yang masih disitu merasa sedih, bukan sedih sebab benci, tapi karna sejujurnya , sebagai wanita normal, Dia juga ingin punya anak, namun selama menikah dengan Ayahnya Dewi, Dia tidak dikaruniai anak. Dan Dia belum berpikir untuk menikah lagi setelah suaminya meninggal, demi agar bisa merawat Rania.
"Mama..., sebentar lagi Arfan akan menjadi seorang Ayah" ucap Arfan setengah berbisik.
"Benarkah ?" Ningsih serta merta melelepaskan pelukannya hanya untuk memastikan perkataan anaknya, kemudian memeluknya lagi saat Dia yakin dengan jawabannya, tampak Ningsih begitu sangat bahagia, begitu juga Saidah yang berada di dekatnya juga merasakan kebahagiaan.
"Selamat ya mbak, Kamu akan segera menjadi nenek" ucap Saidah sambil memeluk Ningsih.
"Iya terimakasih mbak yu "mereka pun saling berpelukan, kemudian Saidah pamit untuk melakukan sholat ashar Di kamar nya.
Iya,
Saidah menangis, Ia menangis bukan karna iri dengan kebahagiaan yang dirasakan keluarga Ningsih atas kehsmilan Arini, tapi Ia merasa sedih dengan nasib nya, Saidah juga manusia biasa, hatinya merasa ingin protes pada tuhan, mengapa Dia ditaqdirkan menjadi wanita yang tidak mempunyai keturunan.
'Ya Alloh, Apaa salah saya sehingga Nasibku seperti ini, sungguh, Aku juga ingin merasakan seperti yang mereka rasakan, selama ini Aku tidak pernah mengeluhkan hal ini, karna keinginan besarku untuk menjaga Rania dari ketidakadilan paman nya, sekarang entah mengapa hati ini ingin protes dengan nasibku ini, Ampuni hamba yang hina ini ya Rob, Saya hanya wanita biasa, seharusnya Hamba sadar kalau diri ini sudah tua, sudah tidak mungkin merasakan nikmat nya hamil dan melahirkan, apalagi Aku tidak punya suami, Ampuni HambaMU ini ya Allah, Ampuni Aku yang mengeluh ini' ucapnya lirih dalam doa yang ia panjatkan setelah menunaikan sholat ashar.
Di luar, Rania dan suaminya yang baru datang juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kakaknya, kehadiran sang sang calon anak Arfan ternyata memang mampu menciptakan kebahagiaan dalam keluarga besar itu, Rania tak henti-hentinya menggoda kakaknya yang akan segera menjadi ayah, salah satu candaan yang membuat hati Arfan tercubit adalah tentang adzan.
"Kak, nanti kalau keponakanku lahir, kakak harus siap meng adzan kannya ya " ucap Rania.
"Adzan ?"Arfan heran.
__ADS_1
"Iya, seperti di sinetron-sinetron gitu, dimana sesaat setelah bayi dilahirkan, Ayahnya meng adzani nya, dimulai dengan azan dengan suara pelan di kuping sebelah kanan, kemudian iqamah di telinga kiri bayi. Setelah itu sebagai doa bacakan Surah Al Qadar sekali kemudian Al Ikhlas tiga kali. Inya Allah kalam Ilahi serta doa yang baik itulah yang akan menjadi kata pertama didengar sang bayi.
Selain itu saat kehamilan memasuki empat bulan , kakak harus rajin-rajin mengaji di dekat mbak Arini sebagai interaksi antara Ayah dan anak, karna di usia itu, nyawa baru ditiupkan ke jabang bayi berikut dengan tulisan taqdir, tentang rizqi, jodoh dan kematian jabang bayi. Maka dari itulah mengapa ada acara empat bulanan karna untuk mendoakan bayi saat di tiupkannya ruh pada jabang bayi, juga sebagai rasa syukur" terang Rania pada kakaknya.
Sementara Arfan sedang memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa belajar adzan untuk persiapan jika anak nya lahir, karna jangankan adzan, shalat saja Dia tidak pernah melaksanakannya, Dia baru Melaksanakan shalat semenjak mengenal Arini.
***
"Saidah, boleh Aku berbicara sesuatu denganmu" Pak Hadi mengajak Saidah untuk berbicara serius. dan keduanya duduk di Sofa Di ruangan santai, saat penghuni rumah lainnya mulai tidur di kamar masing-masing.
"Iya Pak ada apa?" Jawab Saidah, dengan prasaan tak menentu.
"Saya punya teman, Dia seorang duda sepertiku, Dia mempunyai lima orang anak dan sembilan cucu, tapi Dia kesepian, karna anak -anak nya ikut pasangannya masing- masing, Dia ingin menikah , Insyaallah Dia shaleh, umurnya sepadan denganmu, mau kah kau menikah dengan nya? kalau kau mau, Aku akan kabarkan pada nya, karna Aku sudah menceritakan tentang dirimu pada nya." mendengar itu, Saidah terkesiap, mematung, dan memikirkan atas ucapan Pak Hadi barusan.
"Tapi Aku sudah tua Pak ?"setelah lama terdiam, Dia pun menjawab.
"Tidak ada batasan tua atau muda untuk menikah, karna menikah adalah ibadah, benar kan ustadzah Saidah ?" Guman Hadi dengan panggilan ustadzah, dimana dulu Saidah memang seorang guru ngaji saat di persunting suaminya.
"Tapi...A-ku merasa malu jika harus menikah di usia yang sudah tua ini"Saidah ragu.
"Siapa bilang kau sudah tua, kau itu masih terlihat muda, dan terlihat cantik, kau pantas bahagia, Saya yakin teman Saya ini cocok untukmu" Hadi meyakinkan Saidah. Sementara Saidah hanya Diam.
"Besok, biar Aku suruh Dia kemari, agar kalian saling berbicara dan saling megenal, setelah itu kau boleh memutuskan untuk menerimanya atau menolaknya, Tapi Aku berharap kau menerimanya" ucap pak Hadi.
Tanpa sempat menjawab , pak Hadi segera berlalu meninggalkan Saidah supaya Saidah bisa memikirkan apa yang di ajukan Pak Hadi padanya.
'Sejujurnya , Aku yang jatuh cinta padamu, tapi cinta tak harus memilik, karna Aku sadar diri ini sudah berada di ujung usia, Aku ingin kau menikah dengan temanku , Dia orang baik, Dia yang belakangan ini mengajarkan Aku banyak hal tentang agama , Aku sangat berharap kau berjodoh dengan nya, dan bahagia bersamanya, karna tujuanku adalah melihatmu bahagia. Aku bisa menikahimu , tapi kau berhak mendapatkan kebahagiaan dengan yang pantas untukmu, bukan belengkotan seperti Aku, 'batin Pak Hadi .
__ADS_1
'Apakah ini jawaban dari keluhanku tadi sore pada Allah, sehingga Dia menamparku dengan sangat lembuh, duh Gusti, Ampuni aku ya Rab atas kesalahanku dalam doaku, Ya Rab, jika memang laki-laki itu jodohku, maka mudahkanlah, namun jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah kami dengan cara baik-baik'lirih Saidah dalam pengharapannya.