
Zidan sudah merasa mempunyai keluarga lagi, Dia tidak lagi memanggil-manggil Bundanya, karna Arfan dan Arini dengan sigap menjadi orangtua Asuh yang menyayangi Zidan seperti anak sendiri.
Arini bersyukur, suaminya kini banyak perubahan, dalam hal ibadah kepada Allah juga berbuat baik pada sesama manusia, Hablum minallah wahablum minannas nya telah seimbang, apalagi saat Arfan membawa Zidan ke Rumahnya, suasana sudah mulai terasa ramai, meski anak mereka belum lahir.
Dan Rosulullah sangat menyukai orang yang merawat anak yatim sebagai mana diterangkan dalam Hadits.
Barang siapa mengasihi anak yatim dengan ikhlas karena Allah, maka kelak di akhirat, ia dapat bersama Rasulullah di surga.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: "Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini", kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya." (HR. Bukhari, Shahih Bukhari)
Saat Zidan bermain bola di ruangan keluarga bersama Ningsih dan Arini, tiba-tiba Zidan terpleset saat mengejar bola. Zidan menangis, saat Ningsih dan Arini hendak membangunkan nya dimana posisi Zidan masih terduduk, Ningsih terhenti, Dia melihat ada sebuah cairan yang membuat Zidan yerjatuh, Dia pun berjalan hati-hati, dan melihat Arini seakan penuh ke kahawatiran
"Ada apa Ma?" Tanya Arini heran.
"Coba kamu raba bokong atau kakimu, apakah basah sayang ?" Tanya Ningsih dengan penuh perhatian.
Arini pun melakukan seperti yang diperintahkan Mama Ningsih.
"Iya ma, basah, memang kenapa Ma, ?" Arini heran.
"Kamu duduk saja disitu jangan kemana-mana, disini licin, !" Pinta Ningsih. Kemudian Dia memanggil pelayan.
"Surti.... Sari ....Yuni ,Bi Ana...kesini kalian, cepat !" Dan yang dipanggil pun segera muncul.
"Cepat kalian bersihkan air ini agar tidak ada yang terpleset lagi dan urus Zidan" setelah itu Ningsih menghampiri Arini, sedangkan Arini masih bingung dengan sikap Mamanya.
"Yuni... cepat bilang ke supir, siapkan mobil, kita akan ke Rumah sakit, dan Bi Ana, siapkan perlengkapan untuk melahirkan sekarang, semuanya ada di kamarku dan temani kami ke Rumah sakit ya!" Pintanya lagi.
"Baik nyonya" Bi Ana tergopoh.
"Ini ada Ma ?" Arini masih tidak mengerti.
"Ini...ketubanmu merembes sayang, tuh jatuh ke lantai sampai Zidan terjatuh" terangnya.
__ADS_1
"Tapi Aku tidak merasakan apa-apa ma!"
"Sebaiknya kita segera ke dokter agar air ketubannya tidak habis dan segera ditangani, lagi pula, kandunganmu ini sudah 38 minggu kan, Ayo cepat, perlengkapannnya sudah disiapkan Bi Ana, Kita ke mobil dulu" ucap Ningsih sambil menuntun Arini.
Di Rumah sakit, Ningsih terlihat sangat panik, meski Arini tenang, karna Dia merasa tidak merasakan apa-apa, kecuali terasa basah dari jalan lahir. Arini langsung ditangani oleh dokter kandungan perempuan, sesuai permintaan Arfan saat mereka chek kehamilan setiap bulannya.
Arfan pun datang setelah Ningsih menghubungi nya tadi.
"Bagaimana kondisi Arini ma?"
"Dokter belum memberi tahu"
"Tuan Arfan, Istri anda hampir kehabisan air ketuban, saya minta persetujuan Anda untuk melakukan caesar, apalagi bayi nya ada dua, jadi tidak memungkinkan untuk melahirkan normal."Ucap Dokter Nova.
"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak Saya" jawab Arfan yang kemudian dikejutkan teriakan Arini, semuanya pun menghampirinya.
"Ada apa sayang?" Guman Arfan sambil mengusap-usap kening dan menggenggam tangan istrinya.
"Maaf tuan, kita harus segera mengoperasinya, Aku akan mempersiapkan perlengkapan operasinya dulu."
Dokter Nova dan beberapa asistennya sudah mempersiapkan operasinya. Arini dan Arfan sama-sama tegang, Arini yang sedang kesakitan dengan intensitas rasa sakit yang frekwensinya naik turun, telah mampu membuat Arfan ikut menangis, karna tidak tahan melihat penderitaan istrinya. Darah pun sudah keluar, dokter pun mengecek jalan lahir Arini yang masih pembukaan 7 , sementara Arfan semakin merasa tidak tega dengan suara Arini saat menahan rasa sakit.
Arini pun segera di bawa ke ruang operasi, dan perlengkapannya sudah siap semua meski sebenarnya Arini juga ketakutan untuk menghadapi operasi itu.
saat Dokter hendak menyuntikkan obat bius atau anestesi spinal, tiba-tiba Arini mengedan sendiri, dokter Nova langsung memeriksanya jalan lahirnya.
"Loh...ini bayinya kok udah mau keluar " dokter Nova bingung operasi segera dilaksanakn tapi bayinya sudah mau keluar, kepalanya sudah terlihat, Alhasil operasinya pun dibatalkan.
"Ayo mbak terus mengedan, sebentar lagi bayinya keluar Ayo...semangat !" Ucapnya ketika memutuskan untuk membatalkan operasinya.
Dan akhirnya bayi pertama keluar, dengan lancar, 5 menit kemudian bayi kedua pun keluar dengan lancar, hilang sudah rasa sakit yang dirasakan Arini sedari tadi berganti dengan kebahagiaan yang tiada tara ketika melihat putra dan putrinya Lahir.
Pukul 5 sore, keduanya lahir dengan selamat, sehat dan dengan proses normal dan itu merupakan keajaiban bagi Dokter Nova, padahal persiapan caesar sudah siap, tapi bisa lahir dengan selamat meski air ketubannya tinggal sedikit. Kemudian Arfan mengadzankan keduanya dengan penuh haru bahagia, keduanya lahir dengan sehat dan sudah bisa menyusu dengan baik,
__ADS_1
"Mereka Aku kasih nama Azzam dan Azzura, Azzam memiliki makna kebulatan tekad sedangkan Azzura bermakna langit biru cerah. Jadi Azzam dan Azzura akan menjadi kebulatan tekad untuk menuju langit biru cerah bagi kedua orangtuanya. Bagamana, Kamu setuju kan?" Guman Arfan
"Terserah Abie saja asal nama nya punya arti yang baik"jawab Arini, sambil menyusui Azzura.
"Bi..lihat di lengan tangan kanannya Azzura ada tanda lahirnya, bentuknya seperti bulan sabit, lucu ya, coba lihat di tangan Azzam, apa juga ada tanda lahirnya?" Ucap Arini yang baru pertamakali nya bahagia menjadi ibu, Arfan yang sedari tadi menggendong Azzam langsung memeriksanya.
"Eh iya sayang, di lengan tangan kanannya ada tanda lahirnya, bentuknya sepertiiii...agak ke bintang sih, meski bentuknya tidak sama persis dengan Bintang, iya ternyata lucu juga mereka, punya tanda lahir yang unik, bulan dan Bintang." Arfan pun kemudian menfoto dirinya bersama istri dan kedua anaknya, serta menfoto kedua bayinya dengan memperlihatkan tanda lahirnya.
Pukul 02.00, dini hari, Arini yang tidur terpisah dari kedua bayinya merasa tidak tenang, sementara Arfan dan Mamanya sudah tertidur di sofa di kamar inap mereka. Entah mengapa tiba-tiba Arini merasa ingin menyusui anaknya.
Dengan langkah yang tertatih-tatih dan perlahan, Arini berjalan menuju ruangan bayinya, Ia sengaja tidak membangunkan suaminya karna takut tidak dijinkan keluar.
Ketika sampai di ruangan bayinya, Dia di kajutkan dengan se sosok orang yang menutupi wajahnya dengan kain hitam , sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali, Dia terlihat sedang menggendong bayi, mengendap-endap keluar dari ruangan itu.
"Siapa itu ?"Arini bersuara. Sehingga membuat orang itu segera kabur membawa bayi. Arini langsung mengecek bayinya dan iya saja, ternyata bayinya yang di culik.
"Tolong.....! Tolong...!"Arini mencoba berteriak semampunya, karna tidak bisa mengejar penculik itu, andai saja kondisinya tidak selemah itu, Ia pasti sudah mengejar dan menghajar penculiknya tapi saat ini Ia tidak berdaya.
Beberapa perawat datang, begitu juga Arfan yang terbangun mendengar teriakan Arini, mereka semua panik.
"Ada apa sayang ?" Tanya Arfan yang sangat kawatir, karna istrinya tertunduk lemas dan pucat serta menangis.
"Abie....Azzura....hiks ..hiks..." Arini semakin menangis.
"Kenapa? Azzura kenapa sayang ?" Arfan semakin panik, sementara perawat tadi menghubungi keamanan dan yang lain menolong Arini yang sedang butuh perawatan karna syok dan kondisinya lemah.
"Anak kita bi..anak kita diculik, " seketika Arfan langsung panik dan marah, Dia langsung berusaha mengejar penculiknya, bersama scurity dan yang lainnya.
Sekuat tenaga Arfan mengejar dan mengejar penculik itu, namun Penculiknya bersembunyi dibalik gelapnya malam, sehingga Arfan kehilangan jajak, Arfan menangis, Dia lemah dan akhirnya rubuh juga.
Keesokan harinya, Segala upaya telah dilakukan untuk mencari keberadaan penculik bayinya, namun hasilnya nihil. Meski rekaman cctv sudah di putar, namun tidak menemukan bukti apapun, karna penculiknya menutupi seluruh wajahnya.
Arini sangat terpukul dan sedih atas hilanganya Azzura, tapi Ia tetap harus bangkit demi Azzam yang sangat membutuhkannya.
__ADS_1