CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Rania di Lamar


__ADS_3

Acara di Rumah opah Hadi akan segera di gelar, para pelayan sedang sibuk mempersiapkan segalanya. Acara nya di adakan jam 10 pagi, karna Ustad Fuad Hilmi sedang ada jadwal ke luar kota, sehingga acara dimajukan.


Tampak Randy yang di undang Rania juga sudah hadir dan memperkenalkan diri pada keluarga Rania, kali ini Randy mengenakan baju koko serta Sarungan dan kopyah putih, sehingga Aura ketampanannya membuat Rania dan keluarga nya terpesona.


Undangan anak yatim yang berjumlah 200 anak pun sudah datang, begitu juga Ustad Fuad Hilmi, acara pun segera di mulai, Ustadz Fuad Hilmi yang meminpin acara itu, hingga pembacaan burdah beralun merdu, Randy pun ikut membacakan bacaan burdah itu, hingga membuat semua terkesima dengan suara merdu nya Randy.


Hingga jam 13.00 acara sudah selesai, anak-anak yatim yang berjumlah 200 anak itu membubarkan diri secara teratur karna dapat Keluarga Hadi sedang memberi bingkisan kue serta uang 1 juta untuk masing-masing anak Yatim.


Setelah semuanya pulang, tinggal Randy yang masih tersisa, Dia memang sedang berniat melamar Rania, setelah sholat duhur, barulah semua anggota keluarga Rania berkumpul menemui Randy di Ruang tamu,


Opah Hadi, Ningsih, Nek Saidah serta Rania.


"Nak Randy, Apa pekerjaan orang tuamu" tanya Opah Hadi hati-hati karna takut dikira menanyakan status sosialnya, sebab Pak Hadi bukan tipe orang yang membeda-bedakan status sosial.


"Orang Tua saya hanya pedagang pakaian di Pasar Turi Pak" jawab Randy dengan sopan meski sebenarnya hatinya deg-degan dan kawatir dengan pertanyaa Opah Hadi, sebab dari tadi Randy merasa gelisah setelah melihat Rumah Rania yang sekarang, Rumah mewah berlantai tiga dan dengan halaman yang luas itu sebenarnya membuat nyali Randy ciut.


"Kesibukan mu Apa Nak ?" Tanya Opah lagi


"Saya, masih kuliah Pak , sudah semester akhir, selain itu Saya masih menekuni 2 channel yang sedang Saya rintis, bidang konten kreator, hanya itu Pak, " Randy benar-benar merasa tegang, seolah dia adalah seorang pesakitan yang sedang menjalani proses sidang.


Opah Hadi diam, Karna sebenarnya Dia sudah tau semuanya tentang Randy dri rania, pertanyaan itu hanya untuk formalitas semata.


"Apakah kau mencintai cucuku ?"


"Iya Pak, Saya benar-benar mencintai Rania, sejak dari bangku SMA, tapi tidak pernah pacaran dan Sekarang Saya berniat ingin melamarnya, insyaalloh Saya siap lahir batin untuk menikahi Rania." Bulir keringat sebesar biji jagung turut menghiasi perjuangan Randy untuk bisa berbicara saat itu.

__ADS_1


"Mmmm....Apakah kau siap untuk membahagiakan nya?"


"Insyaalloh siap"


"Dan ada satu hal lagi yang ingin Aku sampaikan, kaupun harus jujur dalam mengambil keputusan setelah Aku mengatakannya nanti." Guman Opah Hadi yang tak yakin denga apa yang akan di ucapkannya.


"Iya Pak insyaalloh Saya siap menerima Rania apa adanya"Randy yakin.


"Saat menikah nanti, Saya maupun Kakaknya tidak punya hak menjadi wali nikahnya, Rania harus pake wali hakim, Apakah kau akan tetap mencintai Rania, meski dia harus menggunakan wali hakim.?" tanya Opah Hadi. Randy terkejut dengan ucapan Opah Hadi itu, selama ini dia tidak tahu jika Rania anak yang lahir di luar nikah, karan memang Rania tidak pernah menceritakan nya.


"Itu adalah masalalu orang tua Rania, Saya menerima Rania Apa adanya, insyaalloh Saya akan membahagiakan Rania, dengan kemampuan Saya, karna Saya juga bukan manusia sempurna " Randy mencoba memberi jawaban singkat apa adanya.


Opah Hadi tampak diam, Dia sedang berusaha menelaah ucapan Randi, bagaimana sopan santun nya dan bagaimana kejujurannya dari sorot matanya.


"Rania, Apakah kau sudah siap menerimanya sebagai suamimu ? Apakah kau siap menikah diusia muda, dan bagaimana dengan kuliahmu ?" Tanya Opa Hadi pada Rania, sebenarnya Dia tidak keberatan jika Rania memutuskan untuk menikah di usianya yang masih muda, dari pada telat seperti Arfan.


"Nak Randy....Kalau begitu, bawalah orangtuamu kesini untuk melamar Rania secara resmi, masalah waktunya bisa di atur belakangan" Opah memberi lampu hijau untuk Randy.


"Alhamdulillah, terimakasih Pak, terimakasih atas kesempatannya "Randy merasa lega dan bahagia memdengar keputusan Opah Hadi, begitu juga Rania, Dia memeluk Nek Saidah dan Ningsih bergantian.


***


Ada hati yang sangat terluka dan sedih, tatkala berita pernikahan Arfan dan Arini digelar , Yusuf, sejatinya Yusuf mencintai Arini sejak dulu, saat Arini baru mengajar di TPQ tempatnya mengajar kala itu, bukan Yusuf tidak berusaha mendekatinya, segala usaha sudah ia lakukan, namun apa daya jodoh tak berpihak padanya. Karna hatinya yang lelah, sedih dan sakit sebab ditinggal nikah oleh sang pujaan hati, akhirnya ia pun jatuh sakit.


Mengetahui Yusuf sakit, Laila langsung menjenguknya.Laila juga pengajar di tempat Yusuf ngajar, dan berteman dekat dengan Arini, Laila dari dulu menyukai Yusuf, dan Arini tahu akan hal itu, dan itulah mengapa Arini selalu mengabaikan Yusuf .

__ADS_1


"Ustadz, ikhlaskanlah orang yang kita cintai tapi tidak mencintai kita, lebih baik fokuslah pada orang yang benar-benar mencintai kita" ucap Laila pada Yusuf yang tengah terduduk dengan tatapan kosong di ruang tengah Rumahnya.


"Aku tahu bagaimana prasaan Sampian, tidak dianggap ada oleh orang yang kita cintai itu sangatlah menyakitkan, tapi ikhlas kanlah dan kembalilah seperti Ustadz Yusuf yzng dulu , karna anak-anak sangat membutuhkan Sampian, kembalilah ke kelas, Aku juga sangat membutuhkan Sampian karna kita kekurangan pengajar" ucap Laila penuh pengharapan.


"Apa maksudmu, Aku yang mengabaikanmu?" Tanya Yusuf hati-hati. Laila hanya menunduk, bulir-bulir air matanya pun jatuh.


"Sebenarnya sejak dulu, Aku menyukai Sampian , Tapi Sampian selalu meng acuhkan ku, seolah tidak pernah ada, dan kini Aku sudah terbiasa dengan semua itu, karna sudah belajar mengikhlaskan Sampian." Ucapnya lirih. dan Yusuf serasa tertampar.


"Maafkan Aku, Sungguh Aku terlalu sibuk dengan orang yang tidak mencintaiku, hingga mengabaikan orang yang benar-benar mencintaiku." Yusuf merasa bersalah.


"Aku Sudah belajar melupakan cintaku Ustadz, Aku kesini hanya Ingin agar Sampian kembali ke Tpq lagi, kasian anak-anak, mereka butuh Sampian , Sekarang Aku permisi dulu, Assalamualaikum" guman Laila kemudian hendak pergi, seakan tak tahan dengan semua yang di rasakan hatinya saat itu.


"Tunggu Laila !" Yusuf bangkit dan meski kondisinya masih lemah.


Laila pun diam membelakangi hendak meninggalkannya.


"Ijinkan Aku memperbaiki semua kesalahanku padamu, maukah kau menjadi Istriku? Maukah Kau memulai semuanya dari awal bersamaku?" Ucap Yusuf, dengan yakin, dan Laila sangat bahagia mendengar itu.


"Tapi, apakah ini bukan pelarian karna kau gagal mendapatkan orang yang kau cintai ?" Tanya Laila sembari membalikkan badan nya dan menghadap Yusuf, seakan sedang mencari jawaban dari sorot matanya.


"Bukankah kau sendiri yang bilang, ikhlaskan orang yang tidak mencintai kita dan hargailah orang yang mencintai kita, jadi ajari Aku memulai semuanya dari awal, Aku akan belajar ikhlas melepas masalaluku dan belajar mencintai orang yang mencintaiku, Apakah ini disebut hanya pelarian?" Yusuf meyakinkan Laila, sebenarnya bagi Laila tidak masalah jika hanya untuk pelarian, asalkan Dia bisa memiliki Ustadz Yusuf seperti yang di impikannya selama ini.


"Baiklah, Aku akan menerima Sampian "ucap Laila senyum.Yusuf pun tampak lega.


"Terimakasih Laila, nanti Aku akan bicarakan pada orang tuaku." gumannya.

__ADS_1


"Iya, Saya juga akan bicarakan ini pada orang tuaku" Laila semangat.


__ADS_2