CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Jangan panggil Ayah


__ADS_3

Malam itu, Arini yang semula terbakar amarah karna rasa cemburu, kini mulai meredam, hatinya sudah mulai memaafkan suaminya yang tidak berterus terang dari awal sehingga terjadi kesalahfahaman yang fatal.


"Pokoknya ini buat pelajaran buat Abie agar kedepan nya Abie lebih bisa terbuka dan berterus terang dalam hal apapun agar tidak terjadi kesalah fahaman" sergah Arini pada Arfan.


"Saya pikir, Saya tidak berterus terang karna takut Umma cemburu" Arfan masih membela diri


"Tapi buktinya Apa, berantakan kan, jd salah faham gini . Aku malah lebih suka Abie bicara terus terang, dengan begitu, Aku merasa dianggap sebagai seorang istri," Ucap Arini serius


"Iya.. iya ustadah ku, Aku memang khilaf, maafkanlah suamimu ini" ucap Arfan sambil memegang kedua telinganya sendiri.


"Iya...Aku maafkan. Oh iya bi, Abie tahu dari mana Aku ada disini " Arini keheranan.


"Umma lupa, kalau Aku adalah pemiliknya?" Arfan merasa bangga karna bisa menemukan istrinya, padahal tadi pas tahu istrinya pergi Dia kelimpungan.


"Ya Ampun, jadi Aku ini bersembunyi dari musuh, tapi malah Aku bersembunyi di rumah musuh itu sendiri"


"Jadi, Umma menganggap Aku ini musuh,"


"Ysa dak lah Bi, itu cuma perumpamaan saja"


"Sebenarnya Abi suka kita menginap disini, Biar sekalian bulan madu" ucap Arfan dengan mata menggoda istrinya.


"Bulan madu apanya, lah wong istrinya membulat kayak gini" Arini bergeming karna perutnya memang sudah besar.


"Tenang sayang..., Aku akan pela-pelan saja" bujuk Arfan sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Apa an sih bi"


Pagi harinya Arfan dan Arini kembali ke Rumah mereka, Arfan tidak sabar ingin segera memperkenalkan Zidan pada Arini.


"Assalamualaikum "ucap Arfan saat membuka pintu kamar Mamanya, untuk menemui Zidan.


"Waalaikumsalam" jawab Ningsih yang sedang mengganti pakaian Zidan.


"Ayah...pulang, hoye...hoye...Ayah datang !" Seru Zidan yang langsung berhambur memeluk Arfan, melihat itu Arini yang awalnya merasa syok karna suaminya dipanggil Ayah, kini Ia merasa sedih melihat Zidan, masih kecil tapi harus kehilangan kedua orang tuanya.


"Zidan... kamu tidak boleh memanggilnya Ayah" seketika tatapan Arfan dan Ningsih tertuju pada Arini, 'apa mungkin Arini belum bisa menerima Zidan 'batin Arfan.


"Kenapa tante ?" Tanya Zidan polos.


"Zidan, sebaiknya panggil Ayah dengan sebutan Abie, dimana nantinya adik ini juga akan memanggil Abi" ucap Arini sambil mengelus perutnya, memberitahukan pada Zidan kalau adik yang dimaksud itu masih berada di dalam perut.


"Adeknya masih ada di dalam ya tante" tanya Zidan.


"Iya sayang, sebentar lagi keluar kok, Zidan aksn segera punya adek "


"Hoye...hoye ...." Zidan kehirangan.

__ADS_1


"Abi..Abi " Zidan mencoba mengucapkan kata Abie.


"Anak pinter, dan panggil Aku dengan sebutan Umma ya, jangan tante " tuntun Arini.


"Umma...umma... "tiru Zidan.


Arini dengan mudah bisa mengakrabkan diri dengan Zidan, karna Arini memang seorang ustadzzah yang mengajar anak kecil, jadi tidak sulit mengambil hati Zidan.


Melihat sikap istrinya itu, Zidan terharu dan bangga, karna istrinya adalah bidadari surga baginya.


***


"Mas, besok anter Aku Usg ya, beaok waktunya kontrol kandungan "pinta Rania pada Randy


"Iya sayang, Aku usahakan, besok ya, ya sudah sekarang Aku harus segera berangkat, ada hal penting yang harus Aku kerjakan. Jaga juniorku baik-baik dan dengan kasih sayang, jangan sampai kecapek an, jangan lupa makan" Ucapnya sambil mengelus perut istrinya.


Kemudian mengulurkan tangan nya untuk dicium oleh istrinya kemudian Randy mencium kening istrinya, seperti yang mereka lakukan saat Randy keluar tanpa Rania.


Tak lama kemudian ada ketukan pintu lagi, mungkin Randy melupakan sesuatu, pikir Rania.


"Ya.. sebentar Mas" Ucap Rania.


Saat membuka pintu, mata Rania membulat , Dia terkejut melihat siapa yang datang .


"Mirna...tante ?!" Ucap Rania tergugu.


"Iya nak, maafkan tante nak, maafkan kami !" Ucap Santi yang langsung memeluk Rania, Rania hanya bisa mematung.


"Iya, Kami sudah bebas, Kami kesini ingin meminta maaf padamu atas semua dosa-dosa kami padamu" Santi menciumi tangan Rania.


Tapi Rania menolaknya.


"Iya, Saya memaafkan kalian" Rania melunak, Dia seolah melupakan semua perbuatan Mirna dan Santi padanya selama ini.


"Terimakasih nak, terimakasih" Santi memeluk Rania lagi.


"Terimakasih ya Ran "Mirna juga memeluk Rania.


"Kalia mau kemana mwmbawa banyak bawaan ini?" Rania melihat tas yang di bawa keduanya.


"Kami di usir dari Rumah kami, Rumah itu disita renternir, kami sekarang tidak punya tempat tinggal" Santi menangis di pelukan Rania.


"Iya Ran, kami tidak punya tempat tinggal, ijinkan kami tinggal disini ya ?" Rengek Mirna.


Sifat Rania yang penyayang dan tidak tegaan membuatnya memikirkan tante dan sepupunya itu, meski kedua nya selalu berbuat jahat padanya.


"Iya Ran, Kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, ijinkan kami tinggal disini ya, untuk sementara saja , sampai kami mendapatkan tempat tinggal yang baru.

__ADS_1


"Tapi..."Rania Dilema.


"Tapi kenapa Ran, Kamu membenci kami, kamu belum memaafkan kami ?"guman Santi.


"Tapi Aku harus ijin dulu pada suamiku" ujar Rania.


"Suami, siapa suamimu?" Tanya Mirna.


"Mas Randi "mendengar pengakuan itu Mirna sedikit menampakkan ke kecewaannya, tapi Santi langsung mengalihkan nya.


"Bukankah ini Rumahmu, kamu kan sekarang jadi cucunya orang kaya ngapain minta ijin ke suami"


"Tapi ini Rumahnya Mas Randi, Dia yang membelikannya untukku,


"Ya sudah telpon dulu suamimu gih, tapi Aku mohon yakinkan suamimu kalau Aku hanya menumpang sebentar disini, sampai Aku punya tempat tinggal." Bujuk Santi.


Rania pun beranjak dari tempat itu untuk menghubungi suamimya.


"Halo Assalamualaikum Mas"


"Waalaikumsalam, ada apa dek, kok nelfon, baru juga keluar, kangen yah ? nih Aku juga lagi nyetir, masih di jalan"


"Mas, sekarang di Rumah ada Mirna dan tante Santi, mereka tidak punya tempat tinggal, mereka mau tinggal disini untuk sementara." Ujar Rania terus terang.


"Apah? Kenapa mereka mau numpang di rumah kita? Bukankah mereka jahat padamu ?"


"Iya Mas, Aku tahu, tapi sejahat apapun mereka, mereka tetap saudaraku, tante dan sepupuku"


"Kamu harus patuh pada suami, Aku tidak mengijinkan mereka tinggal di rumah kita, kamu itu sedang hamil, Aku tidak mau mengambil resiko jika mereka tinggal bersama kita. Ingat Ran, mereka memperlakukanmu dengan kejam selama hidupmu dan kau dengan mudah mau menerima mereka, mungkin kau memaafkan mereka, tapi Aku tidak."


"Mas"


"Sudah , manut saja pada suami, kalau kamu kasian pada mereka , beri saja mereka uang agar mereka bisa mengontrak rumah, asal jangan tinggal di rumah kita"


"Baiklah kalau begitu" Rania sebenarnya berat, tapi Dia harus patuh pada suaminya, demi kebaikan bersama. Dia menemui Santi dan Mirna yang tampak sedang melihat-lihat se isi rumah.


"Seharusnya Aku yang berada di posisi ini ma, menjadi istri Randi dan dibelikan Rumah sebagus ini" rengek Mirna yang merasa iri pada Rania.


"Tenang sayang, jika Rania mengijinkan kita tinggal disini, kita akan buat rencana agar Randy menikahi kamu, pokoknya kita harus pandai ber akting di hadapan mereka. Mendengar Rania datang, mereka kembali ke posisi semula.


"Tante, Mirna, Saya minta maaf, ternyata Mas Randy tidak mengijinkan kalian tinggal disini"


"Apah? Suamimu itu gak bisa ya menghargai tante sebagai tantemu, menantu macam apa Dia"


"Maafkan Suami saya tante, tapi ini ada sedikit modal dari kami agar tante dan Mirna bisa mencari kontrakan dan modal untuk usaha" Rania menyerahkan uang sejumlah 10 juta, melihat itu Mirna dan Santi kegirangan, meski mereka tidak jadi menumpang di rumah Rania, tapi dikasih uang 10 juta, membuat mereka lupa kalau mereka sedang berakting pura-pura berubah baik. Dengan sigap, Santi langsung mengambil uang itu dari tangan Rania secepat kilat.


"Ma...Aku juga mau, Aku mau beli baju ma" Mirna sampe lupa untuk menjaga sikap.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu tante pergi mau mencari kontrakan" Santi permisi pergi dengan nada agak ketus, karna tidak di beri tumpangan di rumah Rania.


"Astaghfirullah ternyata sifat asli Tante masih belum hilang, untunglah Mas Randy melarang ku untuk menampung mereka, padahal tadi saat pertamakali kesini wajah mereka sangat memelas


__ADS_2