
(Pov Laila)
Malam ini adalah malam kedua bagiku bersama laki-laki yang selama ini menjadi pujaan hati, yang selalu mengisi hari-hariku dan kini sudah Sah menjadi suamiku sejak kemarin, Aku pun sudah bersiap-bersiap jika Dia memintaku untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang Istri. Namun ternyata, sama seperti di malam pertamaku, Dia hanya berkata maaf.
"Laila, Maaf jika malam ini Aku belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami, Aku harap Kamu mengerti Prasaanku" kata nya sambil berlalu mengambil bantal , kemudian tidur di lantai bawah beralaskan seadaanya., dan Aku hanya bisa diam melihatnya mengacuhkanku, Atau mungkin Dia sedang capek.
Aku hanya mampu menyimpan kesedihanku di bawah selimut yang membungkus kesedihanku dan ke kecewaanku. Aku tidak mau memintanya dulu untuk memenuhi hak ku karna Aku tidak mau jika Dia menyebutku Agresif , jadi biarlah waktu yang mengatur semuanya.
Yusuf adalah pujaan hati ku sejak Aku duduk di bangku SMP, sedangkan Dia kelas tiga SMA , Kami di yayasan yang sama. Saat Dia lewat di depanku, hati ini rasanya berdesir hebat Dan , tatkala Dia menyapaku, rasanya bagai angin semilir menyesap ke relung hatiku, namun seketika Aku terkesiap saat yang ditanyakan padaku saat itu adalah Arini.
Arini adalah teman sekelasku, Kami teman dekat, Aku akui Dia memang sangat cantik , karna Ayahnya memang orang Pakisfan, Arini adalah pribadi yang ramah, ceria, dan kuat, serta rasa pedulinya tinggi.
Dia adalah murid dengan prestasi terbaik , setelah lulus SMP, Dia di Masukkan ke Pesantren oleh orang tuanya selama lima tahunan, jadi Aku merasa lebih tenang, karna Aku tidak harus melihat Yusuf mengejar-ngejar Arini lagi .
Dari dulu Arini tahu kalau Aku sangat mwnyukai Yusuf, karna Dialah tempatku curhat tentang segala prasaanku, pada Yusuf. Tapi setelah Arini lulus dari Pesantren Dia malah mengajar di sekolah agama, TPQ dimana Aku dan Yusuf mengajar.
Sungguh, Hampir setiap saat Aku selalu berpacu dengan kondisi hatiku yang selalu panas dan iri melihat Yusuf mendekati Arini di Depanku.
Bagaimana Aku tidak iri melihat Yusuf mendekati Arini, Arini cantik, Aku sebenarnya juga ingin cantik seperti Dia, tapi itu tidak akan Mungkin, Dia pintar, Aku mungkin juga bisa, tapi tidak akan sepintar Dia, Arini punya segalanya yang dapat dipastikan Dia yang di pilih Yusuf, dari pada Aku.
__ADS_1
Dalam kondisi hati yang seakan selalu tertekan oleh prasaanku sendiri, Aku tidak bisa mengontrol dan menjaga kesehatanku serta pikiranku,, hingga Aku pernah di rawat di Rumah Sakit karna drop terlalu banyak memikirkan hal itu. Sekali lagi Arini adalah sahabat yang baik, Aku tidak akak pernah bisa mengalahkannya dengan cara apapun kecuali memanfaatkan kebaikannya.
"Laila, kenapa kamu sampai jadi begini sih, badanmu itu sampe kurus banget gini, apa yang membuatmu seperti ini sih, padahal kamu itu biasanya selalu ceria dan rajin menjaga kesehatan , kita kan biasa sering olahraga bareng." Guman Arini saat dia menjengukku di Rumah sakit.
"Rin, kamu kan sahabatku, kamu tahu kan , kalau dari dulu Aku sangat mencintai Ustad Yusuf, Aku jatuh sakit karna Dia selalu meng acuhkan dan meng abaikanku Rin, Aku kurang apa Rin, cintaku padanya tulus Rin," Aku menangis lirih pada Arini, sengaja Aku memelas padanya agar Dia menjahui Yusuf saat Yusuf mendekatinya.
"Iya, Aku tahu kok, betapa besar cintamu pada nya, tapi jangan hanya karna seorang laki-laki kamu sampe bucin akut seperti ini hingga masuk rumah sakit gara-gara cinta , Yuk kamu harus bangkit jangan mau dikalahkan oleh cinta " Arini menyemangatiku.
"Rin, kamu bisa tolong Aku gak ? " pintaku
"Apa?" Ucap Arini sambari menggenggan tanganku erat.
"Tolong bantu Aku agar Ustad Yusuf mau membalas prasaanku" Aku menghiba padanya.
Egois , Aku memang egois karna hanya mementingkan prasaanku saja, tanpa mau tahu apakah Arini sebenarnya juga mencintai Yusuf, yang Aku tahu, Aku yang sangat mencintai Yusuf, dan Arini adalah sahabatku, apakah Aku salah jika Aku meminta sahabatku untuk mengalah .
Saat Arini bilang Bahwa Ustad Yusuf mau melamarnya, Aku syok dan rasanya pertahananku lemah, Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi sesuai janji Arini, Dia bicara padaku kalau dia aka melakukan apapun untuk membantuku.
Aku merasa bahagia saat Arini tiba-tiba menghilang tanpa kabar, bahkan dia tidak bilang padaku mau kemana, yang jelas, rencana lamaran Yusuf dibatalkan, saat dalam keadaan lemah seperti itu, Yusuf yang merasa ditinggal Arini tanpa kabar datang padaku menanyakan keberadaan Arini, Namun bagiku ini justru kesempatan bagiku.
__ADS_1
"Aku sih tidak tahu Arini kemana, tapi mungkin saja Dia pergi dengan pacarnya karna tidak direstui kedua orang tuanya" jawabku pada Yusuf, dan Dia hanya diam, terlihat Dia sangat terpukul sejak kepergian Arini, bahkan saat mengajar Dia sering salah, mungkin karna terlalu kepikiran Arini.
Kini, Yusuf sudah menjadi suamiku, tapi mengapa Aku merasa tidak bisa memiliki raga maupun hatinya, haruskah pernikahanku akan seperti ini seterusnya ?, Ya Tuhan, tolonglah Aku, lembutkan hati suamiku agar Dia mencintaiku dan mau menganggpku sebagai istrinya.
Ya Tuhan, Apakah ini karna ke egoisanku, Apakah dihatinya benar-benar tidak ada Aku, Apakah hatinya hanya dipenuhi Arini, kadang Aku merasa membenci Arini, kenapa Dia bisa dicintai Yusuf sedimikian rupa, hingga Dia tidak melihat betapa besarnya rasa cintaku padanya sejak dulu.
Aku pun mulai tenggelam dalam anganku meratapi kesedihanku, berselimut kecewa yang mendera, hingga mimpi pun menjemputku di peraduan ranjang pengantin yang hangat ini tapi dingin menjalar ke seluruh hati dan tubuhku.
***
(Pov Yusuf)
Sejak Arini meninggalkanku, hidupku terasa sudah tidak utuh lagi,seakan sayapku patah, dan tak lagi bisa terbang, apalagi ketika Dia di lamar dan dapat restu dari orang tuanya di hadapanku, sungguh hati ini benar-benar hancur berkeping-keping, seolah cermin pecah yang tak kan mungkin bisa disambung lagi.
Belum Aku sempat mengobati luka itu, Aku pun harus mendapat luka lagi, laksana tusukam ombak yang menghujam ke ulu hati saat ke dengar berita pernikahan Arini dan mampu membuatku hancur sehancur nya.
Tentang maharnya yang siapapun akan ta'jub mendengarnya, juga mampu membuatku down, seakan ku terhujam ke dalam inti bumi, ya.., ternyata Arini lebih memilih laki-laki yang tak kan mampu Aku saingi, Apalah dayaku , yang tak kan pernah mampu mengubah buih menjadi permadani.
Kini, saat Aku telah memperistri Laila, Aku masih belum bisa melupakan Arini, sama sekali tidak.Aku tahu dengan tidak memenuhi kewajibanku pada Laila, Aku berdosa, tapi mau bagaimana lagi, dalam pikiran dan hatiku masih ada Arini, Aku takut Laila kecewa jika Aku menyebut nama Arini di depan nya saat Aku penuhi kewajibanku,
__ADS_1
Aku sungguh berdosa pada Istriku, Lalia yang kutinggalkan di ranjang penganting sendirian , Karna Aku masih butuh waktu untuk bisa melupakan Arini, dengan menjauh dulu dari nya, semata-mata untuk menjaga prasaannya dan menata hatiku kembali.
"Maafkan Aku Laila , Aku masih butuh waktu untuk bisa mencintaimu, semoga kamu mengerti, Tapi Aku akan belajar untuk mencintaimu karna kau istriku."