CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Surat cinta untuk Rania


__ADS_3

Assalamualaikum wr.wb.


Tentang rasa ini...


Yang engkau ketahui..


Sejak dulu...


Sejak pertama kali mengenalmu,


Sungguh... hati ingin memiliki


Namun, sang pujaan hati


Ternyata enggan membalas rasa ini


Lantaran teguh dengan agama..


Hingga ku pendam, ku genggam lagi


Tentang rasa ini..


Hingga saat kau siap..


Namun, tahukah engkau..


Betapa sulitnya hati ini menahan semua rasa itu..


Rasa rindu yang menggebu


Yang memenuhi qalbu


Sungguh...Dilan berkata benar


Jika Rindu itu sangatlah berat


Berat, sungguh berat...


Hingga terkadang Aku mencuri pandang


Pada sang pujaan hati


Hingga memenuhi memory hatiku


Saat memory ini penuh...


Ku luahkan semua tentang rasa ini


Pada sang penggenggan hatimu


Di sepertiga malam

__ADS_1


Ku memujuk, ku menghiba


Memintamu pada NYA


Sebagai penyempurna agamaku


Insyaalloh...


Dengan goresan tinta ini


Aku luahkan segala rasa inginku


Bahwa....


Aku siap untuk memilikmu dengan halal..


Sebagai penyempurna agama ku..


Aku siap...


Maka, ijinkanlah Aku menjadi Imammu


Ijinkanlah Aku sempurnakan agamaku


Dengan penyatuan rasa ini melalui kata sakral


Dalam ikrar suci pernikahan.


Wassalam...


Rania Hafidzah.


Sesaat setelah membaca surat itu, Rania senyum-senyum sendiri, berguling-guling dengan posisi kepala di ujung kasur yang kini telah berukuran lebih besar dan lebih empuk di kamar yang 5 kali lebih luas dari kamarnya yang dahulu.


Lebih dari berbunga-bunga, senang dan bahagia yang tak bisa di gambarkan prasaan yang saat ini dirasakan Rania, kali ini berbeda karna tak ada beban, dia sudah tidak terbebani lagi dengan ancaman Mirna selama ini tentang prasaannya pada Randy, karna Randy memang cinta pertamanya, ternyata meski selama ini dia menghindarinya, Randy masih sama seperti dulu, tetap menunggu bahkan sekarang ingin meminangnya.


Rania yang masih berusia 20 tahun itu belum bisa memikirkan untuk menikah, dia berpikir dia harus meminta saran pada nek Saidah, karna Dia sangat bijaksana terutama dalam urusan yang berhubungan dengan agama. Sedangkan Randi yang berusia 24 tahun itu sudah merasa siap untuk menikah, karna memang secara ekonomi dia bisa dibilang sukses dan agamanya juga lumayan, tapi apakah Rania siap menerima Randi dan menikah di usia muda . Dan malam itu, Rania-pun tenggelam dalam prasaannya hingga terbawa dalam mimpinya .


Hangatnya cahaya pagi menyinari senyuman di wajah Rania, setelah sholat subuh berjamaah dengan nek Saidah seperti yang biasa mereka lakukan, Rania meminta pendapat tentang ungkapan prasaan Randy padanya.


“Dikatakan, “Ketergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara: menghidangkan makanan jika tamu telah hadir, mengurusi jenazah jika telah wafat, menikahkan anak gadis jika telah baligh, menunaikan utang jika telah jatuh tempo, dan bertobat dari dosa jika telah melakukan dosa.” (HR Abu Nu’aim dalam Al Hilyah)


Jadi saran nenek, laksanakanlah sholat istikharah dulu, dan jika kau merasa sudah siap lahir batin maka terimalah, karna menikah adalah ibadah terlama, jadi butuh persiapan yang matang dan jika kau yakin Randy akan menjadi imammu dan bisa membimbingmu, maka segeralah menikah , sebab suamimu adalah surgamu dan nerakamu" Nek Saidah menasehati Rania.


"Insyaalloh, Aku akan sholat istikharah dulu nek, sebab Aku masih ragu karna usiaku masih 20 tahun, meski sebenarnya Aku sudah siap menerimanya." Guman Rania.


**


Dua hari kemudian.


Di kampus, Randy sedang menunggu Rania, diparkiran, dia dikejutkan dengan penampilan Rania yang berbeda dari biasanya , setelan kemeja dan rok yang lusuh, serta jilbab yang sudah pudar warnanya, yang biasa dipakai Rania, kini seakan berganti menjadi orang yang berbeda,, membuat Randy semakin terpana, namun yang membuat dia lebih heran adalah saat Rania keluar dari mobil mewah.

__ADS_1


Senyum sumringah tergambar jelas di wajah Rania yang sekarang lebih cerah dan glowing, dengan mengenakan rok polkadot hitam dan atasan tunik warna milo yang dipadu padankan dengan cardigan senada den hijab pasmina nya, Rania menghampiri Randi dengan sikap yang sopan sama seperti sikap yang dulu. Rania pun memberikan sepucuk surat balasan untuk Randy.


Tanpa menunggu lama, Randy pun segera membukanya.


"Jika engkau berkenan menunggu jawaban dariku, tunggulah sekitar sebulan lagi, hingga Aku selesai bertanya pada sang khaliq melalui istikharahku dan meminta restu dari kakek dan kakakku "


Hanya itu balasan dari Rania.


Randy semakin bingung, yang ia tahu, Rania hanya punya paman, bibi dan neneknya, kenapa Rania memberiku teka teki yang membingungkan, batin Randy.


**


"Mama...Pokoknya, Aku gak mau tinggal disini, Aku mau keluar ma, disini dingin dan banyak nyamuk ma..." Mirna menangis pada Santi , sambil menampar pipinya sendiri karna digigit ngamuk.


"Kau kira mama juga mau tinggal di penjara ini, huh...kenapa tiba-tiba kita ditangkap polisi dan dipenjara seperti ini sih " gerutu Santi.


"Apa mungkin Rania yang melaporkan kita mah ?" Tanya Mirna.


"Tidak mungkin, sepertinya ini ulah Hadiningrat, kakeknya Rania, dia pasti sudah tahu kalau uang jaminan untuk Rania selama ini mama pakai untuk keperluan kita " Guman Santi.


"Uang ? uang jaminan apa mah, Mirna kok tidak tahu mah "Mirna bingung.


"Iya, tahu nya kamu tuh nikmatin aja, kakek Rania itu termasuk orang terkaya se kota Surabaya ini, tapi dia tidak mengakui Rania sebagai cucunya, dia hanya memberi jaminan biaya hidup untuk Rania, 5 sampai 10 juta perbulan"


"What ...? jadi selama mama dapat uang dari kakeknya Rania, tapi sekarang Rania enak dong , jadi cucunya orang kaya, sedangkan Aku disini menderita dipenjara , Aku tidak terima semua ini mah, ini tidak adil, seharusnya Mirna yang ada diposisi Rania ma...kenapa nasibku malah seperti ini mah " Mirna semakin merengek dan menangis pada mamanya di dalam jeruji besi yang dingin itu.


***


Sebulan sudah Arfan belajar mengaji dan sholat pada Ustadz Firman sepulang kantor ia pasti ke Rumahnya, dan dengan telaten Ustadz Firman mengajari Arfan huruf demi huruf hijaiyah, lafadz demi lafadz hingga menjadi sebuah rangkaian kalimat dan dalam sebulan itu, Arfan bisa membaca ayat-ayat pendek, serta bacaan-bacaan sholat, hal itu karna Arfan sangat betsemangat dan antusias dalam belajar, belum lagi kalau di rumahnya, ia di titeni Rania dalam mengaji.


Dalam sebulan itupun , Ningsih Rajin melakukan terapy ruqyah, hingga akhirnya dia benar-benar terlepas dari jeratan sihir. dan akhirnya Ningsih pun bisa berjalan. Semua nya menyambutnya dengan kegembiraan.


Kecuali Arini, bukan dia tidak bahagia dengan kesembuhan nyonya nya, tapi dengan sembuhnya nyonya Ningsih berarti dia harus berhenti bekerja di rumah itu.


'Entah mengapa Aku merasa berat meninggalkan rumah ini' batinnya.


Sedangkan Arfan yang merasa sudah bisa mengaji dan sholat, sudah merasa siap untuk mengungkapkan prasaannya pada Arini yang selama ini ia pendam. tapi bagaimana mungkin Arfan akan sanggup mengungkapkan prasaannya pada Arini, sedangkan untuk sekedar mengucapkan terimakasih atas pertolongan Arini saat penusukan itu saja dia belum mampu.


Rencananya, dua hari lagi, opah Hadi ingin mengadakan syukuran atas kesembuhan Ningsih serta pembacaan Burdah untuk membentengi Rumahnya, dan setelah acara itulah, Arfan ingin mengungkapkan prasaannya pada Arini.


Arini, Arfan dan Rania pergi ke Mall bersama, tak lupa diikuti body guard nya berbelanja untuk keperluan acara syukuran di rumah nya. tampak Arini dan Rania sangat dekat dan bergandengan tangan saat berjalan, seperti seorang kaka beradik, sementara Arfan berada di belakang mereka.


Saat hendak masuk ke toko bahan makanan, dimana Arini dan Rania sudah berada jauh, Arfan bertabrakan dengan seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar 5 tahunan , anak itu terjatuh, Arfan segera menolongnya .


"Adek tidak apa-apa, maafin om ya dek !" ucapnya sambil mengelus-ngelus rambut anak itu ke belakang .


"Joey... kamu tidak apa-apa sayang, " tiba-tiba seorang perempuan menghampirinya dan memeluk anak kecil itu.


"Joey tidak apa-apa momy " jawab joey polos,


Pandangan Arfan tertuju pada Ibu dari anak kecil yang bernama joey itu, begitu juga wanita itu, keduanya seakan saling mengingat-ingat.

__ADS_1


"Arfan...? kamu Arfan kan ?"


"Amora ?" Keduanya saling memastikan kalau mereka tidak sedang salah orang.


__ADS_2