
(Pov Arini)
Akhir-akhir ini, sikap Abie terlihat aneh dan mencurigakan, Sebenarnya curiga pada suami itu tidak boleh, karna itu termasuk Su'udzon atau berprasangka buruk, dan Su'udzon itu termasuk dosa, yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada hubungan dan di kawatirkan apa yang kita prasangkakan itu benar-benar akan terjadi, karna ucapan adalah doa begitulah kiranya yang sering ku dengar dari kajian Dr.Aisyah Dahlan di youtube.
Kalau hanya mendengarkan sebuah teori, itu sangatlah mudah, tapi untuk mempraktekan nya ternyata sangat susah. Dan sekarang hatiku sedang dilema, antara berprasangka dan ketidaktenangan hati ini karna melihat Suamiku sering pulang telat.
Setelah berpikir panjang, Akhirnya Aku suruh Fania, supir wanita, yang baru diterima oleh Abie khusus untuk menyupiri Aku maupun Mama, untuk memata-matai Suamiku, Dia mengikuti kemana Suamiku pergi sepulang kerja, dengan naik motor tentunya, kalau naik mobil, pasti ketemu sama suamiku, Dia ku suruh menggunakan masker dan juga topi agar Abie tidak curiga.
Awalnya Fania mengirim foto maupun vidio suamiku yang memasuki Rumah seorang wanita, Fania juga mengirim vidio saat Abie menggendong seorang anak laki-laki untuk membeli es krim, yang tak kalah terkejutnya, anak itu memanggil Suamiku dengan sebutan ayah.
Sungguh hatiku hancur berkeping-keping dan Bulir bening di mataku lolos begitu saja, saat anak itu memanggil suamiku Ayah. Dalam vidio itu, anak itu terlihat begitu bahagia dan Suamiku sangat menyayangi nya.
"Kenapa kamu tidak jujur dari awal kalau kamu sudah mempunyai istri dan anak, apakah Dulu Opah tidak menyetujui pernikahan kalian, lantas mengapa kau bilang padaku kau belum pernah menikah " ku lampiaskan amarahku pada bantal, ku pukul-pukul Dia sepuasnya hingga busanya keluar.
Saat Suamiku sudah pulang, untuk saat ini Aku tidak bertanya pada nya dan Aku hanya diam tidak menghiraukannya saat Dia meminta hak nya padaku, Dia tampak memaklumi keadaanku yang sedang hamil besar , padahal Aku menangis dengan kenyataan yang sedang ku hadapi sekarang ini.
Hingga tadi sore, saat Suamiku belum pulang yang bisa ku pastikan kalau Dia sedang ke Rumah istri dan anak nya itu, Aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri dulu, dengan menulis di secarik kertas yang ku titipkan ke Bi Ana, Akupun pergi di antar Fania, tapi hanya sampai di ujung jalan, selebihnya Aku naik ojek online, agar jejakku tidak diketahui suamiku, karna saat ini Aku tidak ingin melihatnya.
Sebenarnya Aku sadar apa yang Aku lakukan ini salah, keluar dari Rumah tanpa ijin Suami itu tidak boleh dalam agama dan ancamannya adalah di laknat oleh malaikat, Aku sangat faham hal itu saat bu nyaiku di pesantren mengajarkan Bab itu. Tapi entah mengapa saat ini Aku benar-benar tak kuasa menghadapi semua ini, Aku ingin sendiri dulu, maafkan Aku ya Allah.
Di kamar hotel ini, Aku ingin menenangkan diri dengan memikirkan apa yang Akan Aku lakukan kedepan nya.
"Sebenarnya dalam keadaan hamil, seorang wanita tidak boleh stres dan banyak pikiran seperti ink, karna akan berakibat buruk pada perkembangan janin, Tapi Umma malah stres, maafkan Umma ya sayang" ucapku pada Anakku yang masih berada dalam kandungan, ku elus-elus Dia dengan penuh kasih sayang dan rasa bersalah.
Tit...
Bel di kamarku berbunyi, pasti pelayan. Ah, kenapa malam-malam begini ada pelayan , dengan malas Akupun melangkah membukakan pintu, karna bel itu masih saja terus berbunyi.
__ADS_1
"Iya ada apa?" tanyaku sesaat setelah ku buka pintu, pertama kali yang kulihat saat membuka pintu adalah bunga, bunga itu di bawa seseorang yang berpakaian pelayan.
"Ada apa ya malam-malam gini?" Tanyaku kesal.
"Ada titipan bunga dan juga bingkisan ini untuk nyonya !" Ucap pelayan itu dengan senyum Ramah sembari menyerahkan bukcet bunga dan bingikisan ukuran sedang yang berbentuk hati dan terbuat dari bludru merah, tampak nya sih sebuah kotak perhiasan, tapi dari siapa.
"Dari siapa?" Tanyaku lagi dengan nada masih kesal.
"Pemilik Hotel ini." Jawab nya.
"Tapi Aku tidak boleh menerimanya, karna Aku tidak mau menjadi fitnah, Ambil lagi nih, bilang padanya, disini Saya hanya menginap malam ini saja, Aku tidak kenal padanya tapi sudah berani memberi hadiah " segera ku tutup pintu itu dengan kasar, niat hati ingin mencari ketenangan, malah diganggu pemilik hotel, huft...
Bel berbunyi lagi, Kali ini Aku ingin memarahi pelayan itu agar tidak menggangguku lagi.
"Sudah Saya bilang Jangan ganggu Saya,!" Ucapku saat membuka pintu, tapi tampaknya orang ini bukan pelayan yang tadi , wajahnya tertutupi oleh bunga, dan bajunya stelah jas warna hitam, apa mungkin Dia pemilik hotel ini?
"Boleh Saya masuk ?" Aku terkesiap, suaranya seperti sangat tidak asing.
"Abie..."seketika Aku palingkan bunga yang menutupi wajahnya itu, iya benar Dia suamiku, Aku segera masuk dan mau menutup pintu tapi ter tahan oleh sepatunya.
"Abie..biarkan Aku sendiri dulu. Aku tidak ingin melihat wajah Abie" sergahku, sedangkan Suamiku langsung masuk ke kamar hotel meski tidak ku ijinkan.
"Kalau marah sama suami, jangan langsung main pergi gitu aja dong, Nusyuz itu namanya, apalagi kamu sedang hamil besar begini," Aku diam saat suamiku mengucapkan itu.
"Kenapa kemari ? " ucapku ketus.
"Saya ingin menemani anakku , kasihan Dia kalau Ummanya sedang marah " ucapnya sambil mengelus-elus perutku.
__ADS_1
"Buat apa, bukankah Abie sudah dengan anak Abie ?" Aku bergeming dan berpaling darinya yang juga duduk di tepi ranjang di kamar hotel ini.
"Sayang, maafkan Aku yang tidak jujur dari awal, kalau saja Aku jujur, pasti kamu tidak akan salah faham seperti ini " Aku menangis mendengar perkataan itu.
"Iya, kenapa Abie tidak berterus dari awal kalau Abie sudah mempunyai Istri dan anak, kenapa bi ?"Aku memangis memukuli pundaknya yang memang duduk bersejajar disampingku.
"Ha ha ha...tuh kan salah faham !" Eh, Dia malah tertawa saat Aku menangis, Aku pun memukulnya dengan bantal.
"Pergi dari sini, Aku tidak mau melihat mu, Aku menangis, Aku sedih, Abie malah tertawa , Aku benci Abie, Aku benci !" Aku benar-benar semakin marah padanya.
"Sayang...tenangkan hatimu, dan dengarkan Aku baik-baik, jangan kdrt begini, Umma lupa, kalau Umma itu jago silat, jadi pukuan bantal ini pun bisa mampu menyakitiku.
"Abie yang tega menyakitiku !" Sttt...suamiku meletakkan jari telunjuknya di bibirku, sehingga Aku tidak bisa bicara
"Kamu tahu dari mana, kalau Abie mempunyai istri dan anak yang lain,?" Suamiku bertanya tapi Aku memulai merajuk, dan kutepis tangannya .
"Jangan sentuh Aku !"ucapku saat Dia mencoba menggenggam tangann nya.
"Nama nya Zidan, anak yang kau pikir anakku itu adalah anak dari Almarhum sahabatku, tapi sejak tadi siang dia yang berstatus yatim, berubah menjadi yatim piatu" Aku terkejut mendengar perkataan suamiku, hingga kemarahanku padanya memudar.
"Coba Abie jelaskan dari awal !"pintaku padanya, karna penasaran.
"Awalnya, tanpa sengaja Aku menabrak seorang wanita namanya Zahra, tapi Aku segera membawanya ke Rumah sakit, hingga kakinya tidak bisa berjalan, dan ternyata Dia mempunyai seorang anak yatim, pertamakali melihat anak itu , hatiku langsung menyayanginya, hingga kamipun dekat dan Dia memanggilku Ayah, Akupun sudah menyuruh orang untuk merawat dan menjaganya selama Dia lumpuh.
Dan Aku sering mengunjunginya karna ingin melihat kondisi kakinya serta bertemu dengan Zidan, tapi Tadi siang Zahra menghembuskan nafas terakhirnya karna terjatuh dikamar mandi, sebab orang yang Aku suruh merawatnya sedang bersamaku untuk urusan penyerahan tanah wakaf, dan saat itu baru Aku tahu, ternyata Zidan adalah sahabatku yang ternyata sudah meninggal, kalau Kamu tidak percaya dengan apa yang Aku katakan, Aku akan mengantarmu ke kuburan mereka berdua. Dan Aku juga memutuskan untuk merawat Zidan menjadi anak asuh kita, Dia sekarang ada di Rumah, tidur sama Mama "
Mendengar penjelasan suamiku itu hatiku yang tadinya marah, langsung merasa iba dengan nasib Zidan dan merasa bangga pada suamiku yang menyayangi anak yatim.
__ADS_1
"Maafkan Aku yang telah salah faham pada Abie" Aku berhambur dalam pelukannya, dan Dia menyambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Abie juga yang tidak berterus terang dari awal" dan kamipun larut dalam cinta yang seolah semakin tumbuh lagi.