
18+
"Apakah kau tidak akan marah atau menangis lagi bila Aku menyentuhmu apalagi memelukmu seperti ini" ucap Arfan dengan suara lembut penuh pengharapan, seakan sebutan galak yang di sematkan Arini padanya berubah menjadi Tuan Romantis. Sementara Arini hanya diam dan mulai memejamkan matanya , merasakan kehangatan pelukan suaminya dan merasakan setiap rasa di setiap degupan jantungnya yang sudah mulai tak beraturan.
"Arini......sekarang...Aku sudah hafal doa nya,
Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami." Ucap Arfan yang masih memeluk Arini dengan rasa yang mulai bergelora itu, sementara Arini terhenyak dan hanya bisa menelan salivanya saat mengetahui suaminya sudah bisa menghafal doanya, yang berarti dia pun harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Tuan, lepaskan dulu, Aku kesulitan bernafas" seketika Arfan melepaskannya, setelah lepas Arini hendak memalingkan wajahnya karna malu, tapi Arfan meraih dagunya.
"Jangan panggil Aku Tuan, Aku sekarang suamimu, Aku sekarang milikmu, Jiwa dan ragaku adalah hakmu, kau adalah pakaianku dan Aku adalah pakaianmu, kita harus saling menjaga kehormatan dan juga saling menghangatkan, begitu juga sebaliknya, kau Adalah Istriku, jiwa dan ragamu adalah milikku, jangan lagi kau menangis saat Aku melihat Auratmu, karna kau sudah halal untukku " Arfan seolah menjadi orang lain, yang mendadak menjadi pujanngga, yang pandai merangkai kata rayuan untuk sang pujaan.
Memang begitulah salah satu adab berhubungan suami istri menurut ajaran Islam , seperti yang di terangkan dalam sebuah kalam Ulama'.
"Etika berhubungan badan dengan istri antara lain (1) mengenakan wangi-wangian, (2) menggunakan kata-kata yang lembut, (3) mengekspresikan kasih-mesra, (4) memberikan kecupan menggelora, (5) menunjukkan sayang senantiasa, (6) baca bismillah, (7) tidak melihat ******** istri karena konon menurunkan daya penglihatan, (8) mengenakan selimut atau kain (saat bercinta), dan (9) tidak menghadap kiblat," (Lihat Imam Al-Ghazali dalam Al-Adab fid Din, Beirut, Al-Maktabah As-Sya'biyyah, halaman 175).
"Arini..., sejak pertama melihatmu, sungguh Hatiku bergemuruh tidak karuan, jantungku selalu berdebar cepat saat melihat senyuman dan wajah cantikmu yang selalu menyihir hatiku" gumannya sembari membingkai wajah cantik Istrinya serta melepas jilbabnya, Arini yang sedari tadi mendengar kata-kata lembut suaminya, membuat hatinya luluh lantak tak karuan.
Sementara Arini juga sudah mulai merasakan gejolak rasa yang lebih menggelora lagi saat jilbabnya dilepas dan Rambutnya yang panjang terurai, terlihat oleh suaminya, jika dulu ia menangis, kini hatinya mendesis tak beraturan akibat hujaman kata-kata lembut dari suaminya.
Kini, wajah suaminya berada tepat satu inci di hadapannya, dan ini untuk pertamakalinya dia memandang wajah suaminya dengan begitu dekat. Sungguh, Arini mengkagumi paras tampan nan rupawan yang dimiliki pria yang bergelar suaminya itu, tanpa diperintah, tangannya kini mengalungkan dileher suaminya saat suaminya meluahkan lembutnya cinta yang ia berikan dibibir merah nya, Lembut dan lama , membuat Arini sontak memejamkan mata, terbuai oleh rasa yang kini sudah tidak menentu lagi, pasrah, hanya itu yang raga dan hatinya ungkapkan.
Pasrah, sekali lagi Arini hanya bisa Pasrah saat setiap inci tubuhnya yang tak bersatir itu kini sudah tersentuh cinta keseluruhan yang dicurahkan oleh seseorang yang sebenarnya telah lama mengisi hati nya sejak pertemuan pertamanya, jika dulu ada tangis sedih karna beberapa helai rambutnya tak sengaja terlihat, kini semua lekuk tubuhnya bahkan menjadi ladang pahala bagi suaminya.
Arini yang semula malu menampakkan hitam rambutnya, hingga ia tetap berjilbab di depan suaminya tadi, kini rasa malu itu telah terkikis oleh ******* cinta penuh gelora, ******* indah laksana lantunan irama cinta nan syahdu, beradu dengan sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan oleh Arfan.
__ADS_1
Dua raga dalam satu selimut beradu cinta yang membara di atas peraduan yang menjadi saksi atas nikmat Alloh yang diberikan pada setiap insan yang memilih jalan halal yang diberikan Alloh berupa pernikahan.
Alloh menjaga tubuh keduanya dari perbuatan zina, Arfan yang seakan terlindungi oleh doa kakek buyutnya, dan Arini yang terjaga oleh ketaqwaannya, membuat keduanya malam itu benar-benar bisa merengkuh manis nya madu secara sempurna, tanpa cela meski itu baru bagi mereka dan meski keraguan dan kecanggungan menghinggapi prasaan mereka.
Entah sudah berapa kali permainan mereka berlangsung, namun menjelang subuh, mereka sudah terkapar lemas dalam peluh cinta yang kala itu bergelora panas, Arini yang kelelahan, menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang suaminya yang terlelap setelah terbuai oleh hembusan angin surga.
Suara kokok Ayam jantan saat Fajar , telah membangunkan Arini yang tengah terlelap dalam pelukan suaminya . Ia mengerjabkan mata, meraba-raba apa yang telah terjadi semalam, senyum manis menghiasi bibirnya yang terasa agak membengkak karna perbuatan suaminya.
Ia membangunkan suaminya secara perlahan.
"Tuan...Tuan....Ayo bangun, sebentar lagi adzan subuh, Ayo kita mandi jinabah, apakah Tuan sudah hafal ?" Ucap Arini seraya, mencium kening suaminya.
"Hemmmm...kan masih belum adzan, apakah kau mau nambah?"goda Arfan sambil memeluk Istrinya lebih kencang.
"Entah mengapa sekarang Aku merasa menyesal menikah denganmu" ucapan Arfan seketika membuat Arini terbelalak.
"Apa maksud Tuan, Aku menyerahkan mahkotaku pada tuan, hanya pada tuan, dan Tuan tahu itu, lalu kenapa sekarang Tuan bicara seperti itu" Arini terlihat kecewa dengan perkataan suaminya, hingga Ia berpaling dan memunggungi suaminya.
Arfan tersenyum dan memeluk istrinya dari belakang.
"Sungguh Aku sangat menyesal menikah denganmu sekarang, kenapa gak dari dulu saja kita menikah" ucapan Arfan kali ini membuat Arini berbalik dan mencubit perut suaminya.
"Idih...Tuan bisa saja ngerayunya, padahal selama Aku mengenal tuan, tuan itu adalah ceo yang galak, arogan dan angkuh" ucap Arini ceplas ceplos.
"Dan kamu tahu, yang Aku kenal darimu adalah kau gadid tomboy yang cantik, tapi lembut namun crewet" Arfan terkekeh.
__ADS_1
"Tapi ternyata, semuanya itu salah, yang sebenarnya adalah kamu sekarang bukan lagi gadis, tapi seorang Istri yang sangat cantik dan panas serta hebat di ranjang , hahaha " Arini seketika memukul dada suaminya karna merasa malu diingatkan tentang pertarungannya tadi malam.
Setelah sholat subuh, Arfan sebenarnya ingin menambah permainannya dengan Istrinya, tapi Ia merasa tidak tega, melihat Istrinya meringis kesakitan.
"Kamu tidak bisa ya tidak memanggilku Tuan ?" Ucap Arfan.
"Entahlah, Saya sudah terbiasa dan nyaman dengan panggilan itu"
"Kita sekarang sudah menjadi suami Istri, ubahlah panggilanmu agar lebih enak di dengar"pinta Arfan.
"Hmmm ...panggil Aku Abi, dan Aku memanggilmu Umi "
"Dari mana Tuan tahu panggilan itu?"
"Aku melihat Firman dan Istrinya saling memanggil, terlihat sangat Romantis gitu"...Arfan terlihat sumringah.
"Baiklah kalau gitu, Aku panggil Tuan, Abi. oh iya, mengenai mahar, kenapa Tuan, eh...Abi memberikan 3 milyar, bukan 300 ribu"
"Itu tak seberapa di banding kehalalan dirimu untukku yang untuk selamanya"
"Tapi, uang sebanyak itu bagiku untuk apa?"
"Katanya kita bisa membeli surga dengan uang, jika kau mau silahkan beilah surga yang kau mau dengan maharmu itu, buat masjid,atau buat TPQ atau panti Asuhan, ataupun lainnya" ucapan Arfan seoah membalik perkataan Arini dulu.
"Terimaksih banyak Tuan Abi, Aku mencintaimu "Arini yang masih memakai mukena itu memeluk dengan penuh cinta suaminya., hingga pergulatan itupun kini dimulai lagi
__ADS_1