
Hari ini adalah jadwal untuk Ningsih terapy Ruqyah, mereka yang akan mengunjungi kediaman Ustadz Fuad Hilmi, Arfan menyerahkan urusan kantor kepada Andi, karna dia ingin ikut menemani Mamanya , begitu juga opah Hadi. Sementara Arini tidak ikut, sedang tidak enak badan kata Bi Ana yang memberitahukan pada Nyonya Ningsih. Pak Rudi dan Bi Ana juga diminta ikut.
Sesampainya di kediaman Ustad Fuad, mereka dikejutkan dengan suara teriakan histeris dari seorang wanita yang sedang ditangani Ustadz Fuad, ada banyak pasien yang sedang ditangani disana, bukan hanya oleh Ustadz Fuad, tapi juga oleh santri-santrinya.
Ada yang diobati tapi reaksinya normal, hanya muntah-muntah saja, ada yang berontak sehingga harus dipegangi banyak orang, ada yang histeris teriak-teriak berbicara tidak karuan, dan dimana-mana terdengar ayat-ayat Al qur'an dibacakan. Tempatnya lumayan luas, sekitar 144meter persegi, dan terdapat mihrab disebelah arah barat, dan ternyata, tempat itu memang merupakan sebuah Musholla yang khusus untuk mengobati para pasien.
Giliran Ningsih sepertinya lumayan lama, Arfan yang berpakaian kaos oblong dan celana jeans hitam itu, tengah berjalan santai, melihat-lihat para pasien yang sedang ditangani, pandangannya terfokus pada salah seorang pria berjenggot tipis memakai baju koko dan sarung layaknya seorang ustad, dia sedang memegangi seorang pasian wanita setengah baya yang mengamuk, Arfan terus memperhatikan pria itu , dan merasa tidak Asing dengan yang dilihatnya.
Tak lama kemudian, wanita yang di obati tadi sudah mulai tenang, tidak ngamuk lagi. Dan Arfan segera mendekati Pria yang dilihatnya tadi.
"Hai bro ! Gimana kabar lo ?" Tanya Arfan menepuk pundak pria tersebut, dia menoleh , diam beberapa saat seolah mengingat-ingat laki-laki yang menyapanya.
"Masyaalloh...Arfan ?"mereka pun bersalaman dan saling berpelukan melepas kerinduan, pria yang di sapa oleh Arfan tadi adalah Firman, sahabat waktu zaman kuliah dulu.
"Bagaimana kabar ente sekarang ?" Tanya Firman.
"Masih sama seperti dulu, ganteng dan berkharisma ha ha ha " pede Gaya anak kuliahan.
Mereka memutuskan untuk melajutkan obrolan mereka gazebo di luar musholla tadi, yang letak nya di bagian taman depan, yang aman dari teriakan-teriakan para pasien.
"Kamu sekarang sibuk apa ?" Tanya Arfan,
"Alhamdulillah, sekarang Aku mengamalkan ilmuku di Kampus kita dulu dan tengah mengelola TPQ untuk anak-anak, dan sedang proses membangun pesantren Tahfidz bersama istri ku, kebetulan dia seorang Hafidzah, dan Aku bagian kitab-kitab nya " terang Firman.
"Wah...hebat juga, ternyata sahabatku ini sekarang jadi dosen juga seorang Ustad, sudah berapa anakmu, dan itu perempuan tadi siapamu ?"
"Alhamdulillah, Aku hanya ingin mengamalkan sedikit ilmu yang Aku dapat, berharap bisa berkah. Anakku sekarang 4 putri semua dan yang sedang diobati itu tetanggaku, bukan istriku loh ya..., Aku hanya mengantarnya, dia diruqyah karna diusianya yang sudah berkepala empat, dia belum menikah, setiap ada yang melamar, pasti gagal, terus Aku sarankan diruqyah saja, ternyata selama ini dia dicintai oleh jin yang menguasai tubuhnya, sehingga dia tidak rela jika wanita itu menikah. Tadi yang teriak-teriak itu jin nya, kesakitan tapi gak mau keluar, tapi Alhamdulillah, kayaknya dia sudah terlepas dari jeratan Jin itu " mendengar cerita Temannya itu, Arfan langsung menelan salivanya, dia jadi merasa tersentil.
'apakah Aku sampai sekarang enggan menikah karna Aku dicintai jin juga' batinArfan, sambil bergidik ngeri.
"Kamu kenapa bro? oh iya anakmu berapa ?" Firman membuyarkan lamunan Arfan.
__ADS_1
"A-ku..., belum menikah " Arfan sedikit malu.
"What...??!! Ente normal kan, atau jangan-jangan kau dicintai jin perempuan juga" ucap Firman sambil bergidik ngeri untuk menakut-nakuti Arfan.
"Jangan nakut-nakuti gitu dong bro...Aku hanya belum menemukan yang pas saja " Arfan berbohong, padahal karna trauma.
"Hmmmm...sebenarnya Aku butuh bantuan lo bro " ucap Arfan lagi.
"Apa itu?" Firman mulai serius.
"Tapi jangan diketawain ya ?" pinta Arfan.
"Tolong Ajari Aku sholat dan mengaji, Tolong bimbing Aku, Ajari Aku Islam, Aku meminta Tolong pada mu, karna Aku tahu siapa kau dari dulu, Anggap Aku ini seorang Muallaf yang butuh bimbingan dari nol " Arfan tampak sangat serius.
Firman sangat memperhatikan ucapan Arfan, mencoba mencerna setiap maksud Arfan, ada ketulusan yang ditangkap Firman dari sorot matanya.
"Hmmm, baiklah Aku bersedia, Aku yang ke Ruahmu atau ente yang ke rumahku ?" ucap Firman serius.
"Oke, kita sepakat, untuk waktunya kita atur belakangan, karna Aku yakin kau pasti sibuk mengurusi SAHARA group " guman Firman.
"Oke, deal !" Arfan sepakat. "Bro...sebenarnya Ada satu hal lagi yang ingin Aku ceritakan ke kamu " Arfan mulai melow.
"Di Rumahku ada seorang gadis yang bekerja mengurusi dan merawat mamaku, Aku merasa Aku menyukainya, dia seorang ustadzah, Aku ingin memperdalam ilmu, karna saran-sarannya yang menyejukkan hatiku " curhat Arfan.
"Tapi kamu berubah jangan karna Dia, sebab jika kau berubah karna dia, andai suatu saat kau terluka olehnya, kau akan kembali ke jalan yang salah lagi, maka dari itu, berubahlah karna Alloh, bukan karna gadis itu " saran Furman untuk Arfan.
"Gitu ya..., tapi sebenarnya Aku ingin belajar sholat dan mengaji awalnya karna melihat mamaku diobati, terus jin nya bilang kalau dia betah di tubuh mama , karna mama maupun kami penghuni rumahku yang lain termasuk Aku tidak pernah melaksanakan sholat atau mengaji, jadi Aku takut rumahku di kuasai jin." Arfan jujur.
"Itu awal yang baik, setidaknya kau tahu salah satu faidah sholat atau membaca Al qur an." Firman menyemangati sahabat lamanya itu.
" Oh iya, ada satu hal yang ingin kutanyakan lagi pada mu. Mmm...mahrom itu apa ?" Arfan bertanya lagi.
__ADS_1
"Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan, dan pernikahan dalam syariat Islam." Jawab Firman singkat.
"Owh...terus kalau saya bilang pada seorang gadis begini 'jadikan Aku mahrommu agar Aku boleh melihat rambutmu', sebab dia menangis merasa berdosa besar saat Aku tanpa sengaja melihat Rambutnya yang bahkan hanya beberapa helai, maksudnya agar dia tidak merasa berdosa saat Aku melihat rambutnya." Penjelasan Arfan membuat Firman terkekeh.
"Kau itu gimana sih, bicara tapi tidak tahu maksud dari apa yang dibicarakan, hahaha..." Firman mentertawakan Arfan.
"Memangnya apa maksud dari perkataanku itu ?" Arfan bingung
"Seharusnya kamu jangan bilang jadikan Aku Mahrommu, tapi katakanlah jadikanlah Aku imammu atau jadikanlah Aku halal untukmu " Mendengar itu, Arfan menelan salivanya.
" Jadi maksudnya, perkataanku itu berarti mengajak gadis itu menikah ? Pantas saja setelah mendengar itu dia diam dan seolah bertanya apakah Aku yakin dengan perkataanku" Arfan syok mendengar penjelasan Firman .
"Hahaha...kamu itu ada-ada saja, melamar anak gadis orang tapi gak tahu arti dari perkataanmu sendiri."Firman metertawakan Arfan terus-terusan.
"Kamu pasti mencintai nya, tapi Kamu tidak menyadari prasaanmu sendiri, dan saranku kalau bisa secepatnya halalkan dia, nikahi dia sebelum terlambat, sebab dari ceritamu tadi, dia menangis karna rambutnya terlihat menandakan dia wanita yang istimewa , bidadari surga, dan semoga kalian berjodoh, masak kalah sama Aku, yang sudah punya 4 putri." Goda Firman.
Pembicaraan mereka harus terhenti, karna Firman dipanggil seseorang, karna pengobatan untuk tetangganya sudah selesai.
Arfan sekarang tahu, tentang prasaannya pada Arini sejak pertamakali melihatnya.
'Apakah ini berarti Aku mencintainya ? dan haruskah Aku mengatakan prasaan ini padanya?' Arfan kembali dilema, Antara prasaannya atau rasa gengsinya.
Sementara Arini yang sedang tidur-tiduran di kamarnya, sebenarnya tidak sedang sakit, tapi sedang bimbang dengan apa yang diucapkan Tuannya kemarin 'jadikan Aku mahrommu' kata-kata itu beralun-alun dengan merdunya di telinganya dan terbayang-bayang bagaimana wajah tuan galak nya itu saat mengatakan nya, terlihat ketulusan dari sorot matanya , Ya Alloh...beri hamba petunjuk, Apakah dia memang bermaksud mau menikahi atau hanya sekedar kata-kata tak berarti ? beri Aku petunjuk MU Rob...!
Drttt...
Ada pesan masuk ke gawainya.
[Tuan galakmu ternyata ganteng juga ya, tapi Aku melihat, ada aura kalian akan berjodoh ] Rania mengirim pesan kemudian mengirimkan emotion love .
[Hah...masak pelayan berjodoh dengan majikannya, jadi cinderella dong Aku ] balas Arini sembari mengirim emotion tertawa.
__ADS_1