
Setelah kepergian Opah Hadi, Arfan kini semakin lebih bertanggung jawab, baik untuk keluarga maupun perusahaan. Arfan juga lebih memperdalam ilmu agama lagi sesuai permintaan Opahnya , juga agar lebih menjadi lebih baik demi Anak-anaknya kelak.
Kehamilan Arini telah memasuki usia lima bulan, Kondisi tubuhnya sdkarang jauh lebih fit dibanding saat Dia baru memasuki trismester pertama, sehingga ketika ada undangan dari Ustadzar Nur, Arini sangat Antusias, dalam acara peresmian sekolah TPQ yang dulu di rekomundasikan untuk di renovasi oleh Arini.
"Abi...Aku boleh hadir ya ?" Bujuk Arini pada suaminya.
"Tapi itu perjalanan yang jauh bagi Ibu Hamil sepertimu, sebaiknya kau minta maaf saja karna tidak bisa hadir " ucap Arfan sambil memila-milah lembaran kertas penting di meja kerja di ruangan kerja nya malam itu.
"Di anter sama Abi saja gimana, Abi kan tahu, itu sekolahku mengajar dulu, Aku juga rindu pada anak-anak didikku bi...Aku sebeenarnya juga kangen pada Ibu dan Ayahku , ini mungkin juga bawaan bayi, kenapa Aku tiba-tiba sangat merindukan sekolah dan anak-anak, jika Abi tidak mengininkannya berarti Abi tega sama Aku dan bayi kita" Suara Arini sengaja dibuat-buat seolah-olah seperti sedang
menangis.
"Tap tapi, besok Aku kan kerja !"Arfan mulai merespon karna melihat Istrinya sedih.
"Abi lebih pilih istri atau kerjaan, "Arini mulai memajukan bibirnya karna merajuk.
"Tidak, bukan begitu !" Arfan serba salah ," ya sudah , okay , kalau begitu besok kita berangkat "Arfan dengan terpaksa mengijinkan istrinya, masalah kerjaan bisa dialihkan ke Andi dulu, karna Ia merasa tidak kuat jika melihat istri merajuk, apalagi dalsm keadaan Hamil.
***
Arini dan Arfan telah sampai di Kampung Halaman Rumah Arini, mereka menuju Rumah orang tuanya dan singgah disana, sebab acaranya nanti sore; lagi pula letak sekolahnya tidak jauh dari Rumah ibunya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu sekarang kayaknya sudah lebih pandai dalam berdandan nduk." Bu Halimah memuji anak gadisnya, tepatnya anak gadisnya yang sekarang sudah bersuami dan sedang hamil.
"Entahlah Bu, Arini tuh selalu pingin dandan terus selama hamil ini, lagi pula dulu suamiku sudah membayar MUA khusus untuk mengajariku dandan, Aku juga sering lihat tutorial make up di hp, jadi sekarang bisa dibilang Aku sudah mahir Bu , hehehe " terang Arini.
"Katanya sih kalau sedang hamil pingin dandan, atau terlihat lebih cantik dari biasanya,, itu berarti anaknya perempuan " wajah Bu Halimah berbinar.
"Dari dulu Aku kan memang cantik Bu, hanya saja tidak suka dandan , jadi cantiknya masih tersembunyi" ucap Arini bangga.
"Kamu juga harus hati-hati selama hamil ini, banyak pantangan yang harus dihindari, jangan duduk di tengah-tengah pintu, jangan suka melilitkan handuk di leher, bilang sama suamimu jangan membunuh hewan, jangan ...."Belum selesai Halimah meneruskan nya, Arini langsung menyela.
"Ibu, bukan nya Arini tidak percaya dengan mitos yang Ibu bicarakan tadi, tapi Aku pusing jika harus mengingat setiap yang diucapkan Ibu itu , tenang bu, jangan kawatirkan Arini, Arini disana Masih ada Mama Ningsih yang dengan sabar membimbing ku " Arini menggenggam erat tangan Ibunya, Halimah pun terharu memeluk anaknya.
"Seharusnya Ibu berada disisimu saat Anak Ibu hamil untuk pertamakalinya, apalagi saat kamu terkulai lemah saat awal kehamilanmu, Ibu selalu memikirkanmu Nak"Bu Halima menangis tersedu, memikirkan anaknya yang jauh darinya saat hamil.
"Ya tidak bisa nak, Ayahmu tidak bisa ditinggal, apalagi warung makan kita, sebagian besar Ibu yang masak." Guman Halimah.
***
Di acara peresmian gedung baru TPQ At Taqwa, Arini di temani Arfan hadir sebagai tamu kehormatan, karna selain Arini dulunya adalah pengajar disana , Dia juga yang memberikan biaya untuk me renovasi sekolahan itu, Dimana memang banyak kerusakan dimana-mana, mulai dari atap yang bocor, tempok yang mengklupas dan kondidi kamar mandi yang buruk.
Setelah di renovasi, sekolah itu kini tampak jauh lebih bagus dibandingkan kondisi yang dulunya sangat memperihatinkan , semua wali murid yang hadir merasa senang karna sekolah anaknya terlihat bagus, namun dalam acara itu ada seorang walimurid yang mengajukan pertanyaan di luar dugaan.
__ADS_1
"Ustadzah, Alhamdulillah, sekolah kita sekarang sudah bagus, tapi ada satu hal yang mengganjal dihati kami, setelah ini apakah uang spp yang semula lima ribu perbulan akan dinaikkan ?" Sontak pertanyaan itu membuat para wali santri berbisik, ada yang beranggapan kalau pertanyaan itu terlalu berani ada yang membenarkan juga meski ada yang mentertawakan pertanyaan itu.
"Meski gedung sekolah kita sudah bagus, hal itu tidak akan mempengaruhi uang spp, Ibu-ibu dan Bapak-Bapak jangan kawatir, yang limaribu perbulan saja masih banyak yang tidak bayar, apalagi dinaikkan" jawab Ustadzah Nur terus terang tapi dengan nada bercanda, sehingga yang hadir tertawa, namun banyak juga yang merasa tersindir.
"Umma, masak spp nya lima ribu perbulan saja orang-orang masih sering nunggak, apa sebaiknya Aku gratiskan saja ?" Bisik Arfan pada istrinya.
"Sebenarnya kita mampu andaikan digratiskan, tapi uang limaribu itu sebenarnya untuk kebutuhan anak-anak juga, dan juga untuk melatih wali murid agar mau berkorban untuk pendidikan agama anaknya, dimana sebagian besar dari mereka merasa eman jika mengrluarkan biaya untuk pendidikan agama anak mereka," jawab Arini terus terang, karna memang Arini sudah lama mengajar di TPQ itu.
Setelah acara selesai, di ruang santai, Arini yang duduk santai bersama ustadzah Nur dan Zainab untuk mengobati rasa rindu mereka, namun Laila tidak tampak di antara mereka, sementara Yusuf hadir sendiri tanpa Laila, menyapa Arin.
"Assalamualaikum ustadzah Arini, sepertinya kamu sedang hamil, sudah berapa bulan kehamilannya?" Tanya Yusuf dengan mimik wajah yang serius saat bertanya.
"Waalaikusalam ustadz, Alhamdulillah, ini sudah lima bulan , oh iya, Laila kok tidak hadir, Aku kangen padanya" tanya Arini, yang berusaha bersikap biasa dihadapan Yusuf.
"Laila tidak bisa hadir karna kondisinya lemah sebab kehamilannya, usia kadungannya masih dua bulan, dan Dia tidak bisa kemana-mana, selain lemah , dia juga mual-mual terus" Yusuf terlihat sangat semangat, dan senyum sumringah tercipta dari bibirnya saat membicarakan kehamilan istrinya.
"Alhamdulillah kalau begitu, selamat ya, semoga Laila dan bayinya sehat, sampaikan salamku padanya. " ucap Arini.
"Iya, pasti, kamu juga selamat ya atas kehamilanmu, semoga Ibu dan bayinya sehat terus" ucap Yusuf.
"Aminn"
__ADS_1
Tampak Yusuf memang sangat bahagia dengan kehamilan istrinya. Mungkin awalnya Dia belum bisa mencintai Laila, Tapi akhirnya Dia bisa mencintai Laila dan bisa move on dari Arini, ternyata cinta itu tercipta karna mereka sering bersama, Laila jelas sangat bahagia dengan sikap Yusuf yang sudah bisa mencintainya, karna itu impiannya.
Ibarat kata, cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini telah bersambut, Yusuf mungkin dulu memang mencintai Arini, tapi waktu telah mengajarkannya bahwa cinta yang halal itu adalah cinta yang sebenarnya, jadi Yusuf sudah bisa melupakan cintanya pada Arini, dan tujuan cintanya kini adalah istri dan calon anak yang sedang dikandung Laila.