CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Perhatian Zidan.


__ADS_3

"Dimana orang tuamu ?" Tanya Zidan pada Mila, dengan tatapan tajam.


"Me-mereka sedang keluar kota kak ." Mila tampak ketakutan.


"Berarti kamu sendirian di rumah sebesar ini ?"


"Tidak kak, Ada pembantu yang menemani"


"Apakah Andi juga tidur disini tadi malam ?" Tanya Zidan sambil melirik Andi.


"Tidak kak, Andi baru kesini pagi tadi karna Aku telfon"


"Mila, kamu bahagia tidak, hidup bebas tanpa ada orang tua seperti ini?" Zidan kembali melempar pertanyaan pada Mila.


"Jika disuruh memilih, kau pilih hidup bebas tanpa ada yang mengatur tapi orang tuamu tidak pernah memperdulikanmu atau hidup bahagia bersama orang tuamu, meski dibatasi pergaulanmu ?cepet jawab "


Pinta Zidan.


"Aku pilih ada orang tua kak, selama ini mereka hanya sibuk bekerja dan bekerja, Aku butuh mereka " Mila jujur.


"Zahra, sekarang Ayo kita pulang, Aku tidak perlu menjelaskan kau harus pilih yang mana. Karna Abie saat ini sedang berada di Rumah sakit karna ulahmu , kau tidak mau kehilangan Abie , kan?" Zahra terlihat syok namun tidak bisa berkata apa-apa, Dia pun ikut Kakak nya, dalam perjalananpun ke Rumah Sakit Zahra masih diam, seperti ada rasa ketakutan yang mendalam.


"Berdoalah, semoga Abie bisa melalui masa kritisnya, agar kita bisa masih bisa merasakan kasih sayang sosok Ayah " ucapan Zidan itu sangat menohok Zahra, karna Zidan tampak terisak, mengkawatirkan Abie nya.


Zahra semakin ketakutan, takut benar-benar kehilangan Abi nya dan takut karna Dia yang menyebabkan Abi nya sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, ternyata Arfan sudah dipindahkan di Ruang ICU


"Bagaimana keadaan Abi, Ma ?" Tanya Zidan saat bertemu Arini di depan ruangan Arfan di Rawat.


"Untuk sementara, Abi belum bisa di jenguk, jantungnya mengalami penyumbatan , Dia tidak boleh banyak pikiran" Arini menangis menyampaikan itu.


"Umma...maafkan Zahra Umma, ini semua karna Zahra Umma, Zahra egois, Zahra salah " Zahra menangis dan bersimpuh di kaki Ibunya.

__ADS_1


"Apakah Zahra sayang pada Abie dan Umma?" Arini mengangkat bahu Zahra sehingga posisinya sejajar.


"Iya , Umma, Zahra sayang sama Umma dan Abi, maafkan ke egoisan Zahra, Zahra akan mematuhi keinginan Umma" ucap Zahra.


"Ini bukan tentang keinginan Umma atau Abi atau kepatuhanmu pada kami, tapi ini tentang kepatuhanmu pada Tuhanmu " Arini memastikan Zahra mengerti yang dimaksudnya.


"Iya Ma, maafkan Zahra, Zahra akan berusaha ikhlas kembali ke jalan yang benar" mereka pun berpelukan dengan prasaan sedih.


***


Hari ini hari kedua Syifa bekerja di kantornya Zidan, tapi Syifa sedang sakit, Ia merasa tidak enak jika harus ijin, jadi terpaksa Ia berangkat kerja dengan kondisi sakit


"Nduk, jangan dipaksakan masuk, mukamu pucat banget, biar Budhe ijinkan ke Bos mu " pinta Budhe Nur.


"Saya baru masuk kerja kemarin Budhe, masak sekarang harus ijin, kan gak enak" dengan perdebatan yang alot antara Syifa dan Budhe nya, akhirnya Syifa pun berangkat ke tempatnya bekerja, dengan kondisi yang dipaksakan.


"Den Zidan, Sebenarnya Syifa sedang sakit, mukanya pucat, badannya juga lemas, tapi Dia paksakan untuk tetap masuk kerja, tolong Budhe titip Syifa ya den " ucap Budhe yang melaporkan kondisi Syifa pada Zidan.


Di kantor, Zidan tidak langsung ke ruangannya, Ia mencari-cari Syifa, hingga akhirnya Syifa ditemukan Pingsan di depan ruangan manager, Zidan langsung menggendong dan membawanya ke mobilnya untuk segera dibawa ke Rumah sakit.


Saat menggendong Syifa , Zidan berpapasan dengan Arini, karna darurat, Zidan tidak bisa menjelaskan lebih detail lagi tentangnya yang menggendong Syifa. Setelah rampung mengurusi Syifa, Zidan pun menuju ke Arini.


"Umma, maaf, tadi Zidan sedang dalam keadaan darurat, Ofice girl di kantor ku sedang pingsan, jadi Aku segera membawanya kesini" Zidan minta maaf, karna tadi tidak menjawab pertanyaan Arini.


"Ofice Girl ? Kenapa harus kamu yang nganter ke Rumah sakit ? Jadi Kamu ke Kantor hanya untuk Ofice Girl itu ?" Arini menangkap sesuatu yang mencurigakan pada sikap Zidan.


"Iya, hemm yang lain sedang sibuk, jadi Kebetulan waktu pingsan tadi , Aku langsung berinisiatif menolongnya" Zidan mencari alasan yang tepat.


"Umma tidak suka kamu dekat dengan perempuan lain, karna Kamu sudah Umma jodohkan dengan putrinya Ustadz Basyir, kamu faham kan ?" Arini menekankan pada Zidan.


"Tapi Ma..."

__ADS_1


"Zidan, Umma mohon, Abi sekarang sedang sakit, jantung nya melemah karna ulah Zahra, jadi jangan buat Abi kumat lagi hanya karna penolakanmu tentang perjodohan ini, Umma hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan massa depanmu, Ameera gadis yang Sholihah dan pantas untukmu" ucapan Arini terhenti saat Azzam memanggilnya.


"Umma..Abie siuman " Arini pun segera beranjak, menemui Suaminya, Arfan hanya boleh di temui satu orang, jadi Arini sendirian di dalam.


"Ma...Azzura Ma, Abie melihatnya datang menemui kita, Azzura datang Ma" guman Arfan terbata-bata saat Dia baru sadar dari masa kritisnya.


"Abi cuma mimpi, dari tadi Abi tidak sadarkan diri, mungkin karna Abi terlalu memikirkan Zahra, jadi teringat sama Azzura, oh iya, bagaimana keadaan Abi sekarang, dadanya masih sakit ?" Arini menenangkan Arfan, yang sebenarnya Ia juga sedang merindukan Azzura, tapi pura-pura tidak peduli dengan ucapan Arfan tentang anak mereka, Azzura.


"Tolong pangggil Zahra kesini"pinta Arfan .


"Iya, Umma akan panggil Dia" Arini pun segera memanggil anak gadisnya yang berada di luar.


"Fatima Az Zahra, Kamu Aku namai Seperti nama putri Rosulullah, Agar kau menjadi kebanggaan orang tua di dunia dan Akhirat, apakah Zahra tahu betapa kami sangat menyayangimu?" Kalimat Arfan masih terbata-bata.


"Iya Abie, Zahra tahu, Abi dan Umma sangat menyayangi Zahra, Maafkan Zahra yang nakal ini bi, Tapi Zahra berjanji tidak akan melakukan yang membuat Abi sakit lagi , Abi harus sembuh, Zahra sayang Abi " Zahra menangis.


"Jangan lakukan itu untuk Abi tapi berubahlah karna Allah, sebab jika kamu berubah karna Abi, kalau Abi tiada, kau akan berulah lagi , "


"Jangan bilang seperti itu bi, Zahra tidak mau kehilangan Abi, Abi harus sembuh, Zahra berjanji akan berubah " Zahra terisak sedih, Arfan pun senyum bahagia karna Anak gadisnya akan berubah.


Sementara Zidan sedang dilema berat, saat ini Syifa terbaring lemah, dan Umma nya melarang nya untuk dekat dengan wanita lain, karna ternyata Ia di jodohkan dengan Ameera.


Namun Ia meminta ijin pada Arini.


"Umma, tadi Saya yang membawa Ofice girl itu kesini, jadi biarkan Zidan mengurus nya dulu, sebagai rasa kemanusiaan" Zidan harap-harap cemas.


"Iya , selesaikan kewajibanmu !" Arini mengijinkan Zidan. Zidan pun senyum sumringah meski dadanya terasa sesak, namun setidaknya Ia masih di ijinkan untuk mengurus Syifa.


Saat Zidan memasuki ruang dimana Syifa di rawat saat ini, Arini penasaran, seperti apa gadis yang mendapat perhatian dari Zidan itu.


Melalui pintu yang terbuka sedikit, Arini mengintip, pandangannya mencari-cari sosok Ofice Girl itu, namun Syifa yang terbaring itu tak terlihat dari pandangan Arini, karna terhalang oleh dokter yang sedang memeriksa Syifa, setelah dokter itu pergi, Arini hampir saja berhasil melihat wajah Syifa, tapi Zahra memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2