
Hari pernikahan Rania dan Randy yang diadakan berbarengan dengan resepsi pernikahan Arfan dan Arini, sudah tinggal satu hari lagi, Arfan sengaja menyuruh orang-orang nya menjemput orang tua Arini di Kampung, beserta semua karyawan Ali khan yang kebanyakan masih saudara Ali khan dari Pakistan, tak lupa Bi Sumi serta sanak keluarga dari Ibu mertua Arfan itu.
Sekitar lima mobil yang menjemput 14 orang itu sudah terparkir dihalaman Rumah Arfan yang luas , para Rombongan segera turun dengan rata-rata mulut menganga, karna ta'jub dengan Rumah suami Arini.
Fitri , sepupu Arini dari Ibunya, langsung mengeluarkan gawainya untuk segera memotret, kemudian meng uplodnya seketika itu juga dengan caption " lagi nyambangi Ruma Sultan gaes "tampak foto full Rumah Arfan tiga lantai itu, serta foto selfi dirinya yang diposting di jejaring sosialnya.
"Oh my God, crzy rich, suami sepupu gue crazy rich...! cloteh Fitri.
"Ini Rumah apa Istana ?" cletuk Zainab dengan mulut ternganga.
"Ini benar-benar Rumah Sultan ?" Ucap yang lain.
"Rumah kakak Ipar gue nih..."Ahmed bangga.
"Masyaalloh..., Subhanallah....,Hayret ankayz (menakjubkan) " kata Zayn, sepupu Arini dari Bapaknya, yang dari Pakistan.
Kekaguman mereka tidak berhenti sampai disitu, saat hendak memasuki Rumah, mereka pun tertegun dengan gagang pintunya, hanya Bi Sumi yang tidak tertegun, karna memang Dia sudah bekerja bertahun-tahun di Rumah itu, sedangkan orang tua Arini juga sudah pernah kesitu saat membicarakan perjodohan Arini dan Arfan.
Kedatangan keluarga Arini dari Kampung, Disambut dengan hangat oleh opah Hadi langsung, semua terlihat senang dan nyaman dengan sambutan yang menakjubkan itu, Bi Sumi langsung ke belakang menemui para pelayan disana, untuk mengobati rasa rindunya pada para pelayan yang dulu jadi teman seperjuangannya, sementara yang lain dipersilahkan istirahat di kamar yang sudah di persiapkan, tujuh karyawan Pak Ali khan memilih keluar menemui para bodyguard maupun Sony si supir yang pernah mereka kenal dulu, dan mereka tampak akrab, meski bahasa nya tidak begitu singkron.
Tak lupa Fitri cekrek sana cekrek sini, Sampai nabrak guci besar dan hampir rubuh, melihat tingkah anak gadisnya yang masih berumur 17tahun yang hampir merubuhkan guci itu, Ibunya, Zainab hampir jantungan dan syok, takut disuruh ganti guci yang pecah nantinya. Tapi untungnya gucinya tidak pecah, karna refleks bisa ditahan oleh Fitri.
__ADS_1
"Ya Ampun nak, jangan buat Ibu jantungan gini , Ibu harus ganti rugi pake apa kalau sampai guci itu pecah nak!" Keluh Zainab, sambil ngos-ngosan karna hampir jantungan.
"Kan gak jadi rubuh , Bu, tenang..tenang...Fitri akan hati-hati kok "jawab Fitri tenang.
Saat acara makan siang semua di anjurkan makan di meja makan yang sudah di sediakan, karna jumlah orang yang makan kali ini banyak, Hadiningrat benar-benar merasakan nikmatnya kebersamaan, sebab selama ini di rumah besarnya itu Ia lebih sering kesepian, karna sedikitnya anggota keluarga.
"Jangan sungkan-sungkan, Ayo semuanya ..makanlah dengan nyaman, Anggap saja rumah sendiri, Aku justru senang karna banyak orang seperti ini" Opah Hadi beramah tamah sebelum semuanya makan.
Semua terlihat senang dengan makanan yang di sajikan, orang tua Arini dan saudaranya tampak sangat senang dengan keramahan besannya, ada Bi Sumi dan adik dari Ibu Halimah, Ibu Arini tampak terlihat senang dengan sambutan hangat mereka.
Tak lupa Fitri men foto makanan-makanan yang tersedia di meja, kemudian segera mengshare nya ke sosial medianya, Tapi Ibunya selalu berusaha mengingatkan anaknya agar tidak usah main hp terus.
"Ternyata seru juga ya jika makan bersama rame begini, nanti Aku pingin Arini maupun Rania jangan takut punya banyak anak, biar bisa rame kayak gini, kalian sanggup kan ?" Pandangan Opah Hadi tertuju pada Arini dan Rania.
"Arfan siap Mah, Opah, tapi tergantung Uminya, mau gak punya banyak anak ?" Arfan melirik Istrinya, sementara Arini batuk-batuk mendwngarnya.
"Kalau Rania belum kepikiran itu, karna nikah aja masih besok, Rania mikirin besok yang mau nikah aja " Opah tertawa mendengar itu.
"Tuan...! Tuan .. punya cucu yang lain gak, biar nanti nikah sama Aku aja, Aku masih jomblo kok " tiba-tiba cleltuk Fitri, yang membuat zainab melotot ke arahnya.
"Kalau Cucu saya, cuma satu yang laki-laki, itupun sudah meikah , maaf anda kurang beruntung" canda Opah, terkekeh , semuanya pun ikut tertawa, kecuali zainab yang dari tadi merasa malu denga tingkah anaknya, sambil melayangkan cubitan di perut Fitri.
__ADS_1
Selesai makan, Arini bercengkrama dengan orang tua dan bibinya, melepas rindu, sementara Fitri mengajak Ahmed, untuk keliling Rumah sekedar melakukan live streaming dengan caption menjelajahi Rumah Sultan gaes, dan Zainab hanya busa menahan gondok nya melihat tingkah polah anak nya yang memalukan itu, sebab Ningsih melarang memarahinya.
"Biarkan saja bu, biar anak Ibu tidak bosan disini," guman Ningsih dengan senyuman ramahnya.
"Maafkan tingkah anak saya yang kurang sopan ya bu," Zainab merasa malu, sedangkan Halimah hanya bisa tertawa melihatnya.
"Bu bagaimana kabar TPq At Taqwa, Aku kangen pada anak-anak?"tanya Arini, saat mereka berada di ruang santai.
"Alhamdulillah, Tpq itu sekarang sudah mulai di renovasi, jadi anak-anak sementara di ajar di Rumah Ustadzah Nur "jawab Halimah.
"Alhamdulillah, semoga renovasinya cepat selesai agar anak-anak bisa segera belajar di tempat yang baru" Arini merasa senang.
"Oh iya Rin, Yusuf sama Laila kemarin malam mendadak nikah loh, kayak kamu dulu " ucap Halimah .
"Benarkah ? Alhamdulillah kalau begitu , semoga mereka samawa dan sama-sama terus berjuang dalam mengajar anak-anak Tpq, membantu Ustadzah Nur." Arini turut bahagia dengan pernikahan Laila, sahabatnya.
Ia jadi teringat bagaimana dari dulu Laila sangat mencintai Yusuf, hinga pernah Sakit karna tidak dihiraukan oleh Yusuf sebab Yusuf selalu mengejar-ngejar Arini.
Arini tidak pernah merespon Yusuf, karna tahu jika Laila sangat mencintainya, sehingga saat Yusuf berniat melamarnya , Arini langsung mau saat Orang tuanya menyuruhnya bekerja di Rumah Opah Hadiningrat ini yang ternyata memang diam-diam menjodohkannya dengan Arfan.
Sementara Ali khan berbincang dengan Hadiningrat mengenai Rumah makan, masakan timur tengah nya.
__ADS_1
"kapan-kapan Saya ingin mencoba nya, Terus siapa yang bagian masak di Rumah makan Anda?" tanya Hadi.
"Saya dan Istri, dari dulu kami mengawali dengan perjuangan yang tidak mudah mulai dari nol dan kami berdua pun yang berkolaborasi memasak makanan itu dengan penuh cinta, sehingga rasa makanan itu berbeda dari yang lain" Ali khan berkelakar , Hadi pun tertawa, dalam hatinya Dia jadi teringat mendiang istrinya.