CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Salah pergaulan


__ADS_3

Arini dan Arfan sudah menunggu kedatangan Zahra dan Azzam di ruang keluarga, Azzam sebelumnya memang sudah menghubungi mereka, sehingga mereka sudah bersiap meng introgasi Zahra.


"Assalamualaikum " yang ditunggu pun akhirnya datang.


"Waalaikumsalam " Arini dan Arfan sudah tidak bisa menahan kekecewaannya, sedangkan Zahra yang baru datang hanya menunduk takut.


"Umma...maafkan Zahra Umma, Zahra khilaf Ma " Tangisan Zahra pecah, Ia meringkuk di kaki Arini yang sedang duduk di sofa itu, sementara Hati Arini yang sedari tadi dongkol, sekarang seakan sedikit mencair mendapati anaknya minta maaf.


"Zahra.., Kami Sungguh sangat kecewa mendengar apa yang kau lakukan hari ini, apalagi dengan kondisimu yang kami lihat saat ini" ucap Arini sembari memandangi anak gadisnya yang telah membuat kekecewaan mendalam dihati nya. Bagaimana tidak, Anak gadis yang Ia sayang, yang Ia didik dengan didikan agama yang cukup ketat kini terlihat seperti anak gadis yang tidak bebas dan tak punya orang tua.


"Umma Malu melihatmu seperti ini, bagaimana mungkin, Rok abu-abu yang panjang, bisa seperti ini, seakan sengaja di robek, hingga aurat yang selama ini kami ajari untuk di tutupi, kau umbar . Belum lagi rambutmu ini, entah sejak kapan kau seperti ini, bukan perkara rambut yang kau warnai, karna mewarnai rambut dalam hukum islam diperbolehkan asal bukan hitam. Tapi, yang membuat Umma kecewa dan sedih adalah kau tidak menutupi mahkota yang wajib kau tutupi ini " Arini menghentikan ucapannya sambil terisak.


"Kau Tau kan Zahra ! Perbuatanmu yang sengaja memamerkan aurat rambut dan kaki mu itu sama saja menyeret kami berdua bahkan kakakmu juga ke jurang neraka " Arfan yang sedari tadi menahan emosi akhirnya bicara juga dengan nada keras.


Sementara Zahra masih menunduk menangis.


"Umma tidak segera memondokkan kamu agar Umma tidak merasa kesepian di Rumah ini, tapi ternyata kau malah seperti ini !" Lirih Arini,


"Zahra.. jawab Abie dengan jujur , sejauh mana pergaulan mu dengan teman-temanmu, dan kenakalan apa saja yang telah kau lakukan di belakang kami , Ayo jawab jujur atau kau akan tahu akibatnya !" Pinta Arfan, sementara Azzam hanya menjadi Saksi.


"Ehm....Zahra hanya ikut teman-teman nongkrong di Mall, cafe, juga ke salon untuk mewarnai rambut dan..." Zahra menghentikan ucapannya , Dia ragu takut di marahi Abie nya .


"Dan Apa ? Cepat katakan ! Jujur ! Abie akan menyewa detektif untuk menyelidiki perbuatanmu selama di luar Rumah , jadi Abie akan tahu kamu jujur atau tidak , dan kau akan tahu konsekwensinya !" Arfan memaksa Zahra untuk jujur.


"Zahra juga pacaran bi " Zahra terpaksa jujur dengan hati yang penuh ketakutan.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kau pacaran dan sejauh apa yang kau lakukan saat pacaran Hah, cepat katakan !" Zahra semakin ketakutan, Mendengar pertanyaan penuh penekanan itu, Ia menangis sambil berhambur ke pelukan Arini.


"Cepat ! katakan dengan jujur bukankah di keluarga kita semuanya sudah terikat doa wasiat dari kakek buyut kita , Abie sudah memberitahukan semua anak-anak Abie bukan ! Lalu kenapa Kamu pacaran, bukankah pacaran itu mendekati Zina !" Hardik Arfan.


"Tidak Abie, Zahra tidak sampai berzina, Zahra hanya pegangan tangan saja ! Ampuni Zahra Abie , Ampuni Zahra, Zahra juga takut terkena Balak jika melanggar sumpah doa kakek buyut " tangisan Zahra pecah, Arini pun juga tidak sanggup menahan tangisnya.


"Sekarang Abie tidak akan banyak bicara lagi tentang kesalahanmu ini, Abie akan menyuruh detektif untuk mengetahui sejauh mana pergaulanmu selama ini . Pokonya besok sore Abie Antar kamu ke pesantren, cepat masuk kamar dan ganti pakaianmu, yang hancur itu. Abie malu melihatnya, Azzam ! sita Hape Zahra dan belikan Dia perlengkapan yang harus Dia bawa ke pesantren besok sore !" Ucap Arfan tegas, juga frustasi melihat kelakuan anak gadisnya yang salah pergaulan.


Sementara Zahra hanya bisa pasrah, karna tahu Abie nya adalah orang yang tegas pada anak nya , serta tak segan-segan memarahi anak-anaknya yang melakukan kesalahan .


"Baik Abie " jawab Azzam.


Arini benar-benar merasa gagal mendidik anak gadisnya, sementara Zahra segera masuk ke kamarnya dengan hati yang ngedumel.


"Kenapa sih Zahra tidak seperti teman-teman Zahra, yang bebas tanpa dipantau atau diawasi orang tuanya, Aku kan ingin menikmati masa mudaku, Aku juga ingin nongkrong kayak mereka , Aku juga ingin pakai baju sesuai keinginanku, biar gak ketinggalan Jaman " Grutu Zahra sambil melemparkan tubuhnya ke kasur.


Dalam mendidik anak selain pendidikan agama, anak itu juga perlu di dukung oleh lingkungan dan pergaulan yang benar.


***


Siang itu Azzam ingin segera kembali ke Kantornya, karna masih ada urusan yang belum diselesaikan , namun Ia mendapat telfon dari Hafsah, Sahabatnya yang baru pulang dari Turkey untuk Traveling , anak dari bibi Rania nya itu memang suka traveling tapi juga untuk kontennya , hubungan mereka pun selain sebagai sepupu juga sebagai sahabat sangat dekat.


"Kuy...tolong jemput gue dong, gue sedang ada Di Juanda nih, gue sengaja tidak ngubungin ortu karna pingin ngasih suprise ." Ucap Hafsah di telfon.


"Elo dari dulu sukanya ngrepotin gue aja, dasar cewek bikin ribet, jadi cewek itu jangan jalan-jalan terus, yang ada elo ngabisin duit aja !" Sahut Azzam .

__ADS_1


"Udah jangan ceramahin gue , mentang-mentang lulusan pesantren, buruan jemput gue, biar ada gunanya elo jadi sepupu !" Hafsah sewot.


"Iya iya, dasar Bawel !"Azzam pun segera meluncur, Untuk urusan Hafsah, Dia tidak bisa bilang tidak. Masalah berkas penting yang Ia bawa tadi, Ia pasrahkan ke supirnya untuk membawa berkasnya ke Kantornya , sehingga Azzam sendiri yang menyetir untuk menjemput Hafsah Di Bandara Juanda.


Sesampainya Di Bandara, Azzam celingak celinguk mencari keberadaan Hafsah, namun tiba-tiba Hafsah menutup mata Azzam dari belakang, karna tinggi mereka sejajar, jadi tidak sulit bagi Hafsan untuk melakukan itu.


"Ini pasti elo, gak bisa apah pake cara lain setiap ketemu " Azzam melepaskan kedua tangan Hafsah yang menutup matanya, kemudian berbalik , dan tanpa sengaja pandangan mereka pun sejajar.


Deg.


Hati Azzam tiba-tiba berdesir, jantungnya berdentum lebih keras yang ritmenya lebit cepat, kedua mata yang tadi ditutupi tangan Hafsah, kini menatap lekat wajah Hafsah dari dekat .


"Elo...Hafsah kan ?"Azzam tergugu.


"Iya lah , memang nya elo gak ngenalin gue, yang selalu elo bilang marmut resek "ucap Hafsah menjitak kepala sahabatnya itu sekaligus sepupu yang sudah dianggapnya kakak .


"Beneran elo Hafsah si marmut yang resek ?"


"Iya ini gue, elo kenapa sih ?"


"Elo beda ?"


"Iya lah harus beda, sekarang gue selain punya chanel khusus traveling , gue juga jadi bloger kecantikan, jadi ya harus cantik dong ! Baru juga beberapa bulan gak ketemu sudah pangling, elo gak nonton chanel gue ?"


'Beneran, kamu sekarang cantik banget, Aku sungguh terpana , dulu dekil karna menyukai hoby yang biasanya dilakukan kaum adam, seperti panjat tebing, naik gunung, Basket dan naik kuda. Kalau saja kamu bukan sepupu ku, Aku pasti akan menikahimu 'batin Azzam.

__ADS_1


"Kuy...dari tadi gak fokus sih, Ayo bawain koper gue, dan Ayo kita makan , Gue lapar, gue kangen lontong balap " Hafsah menarik lengan Azzam, untuk segera beranjak dari Bandara itu.


__ADS_2