CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Karna Wanita Ingin Di Dengar


__ADS_3

Arini masih sama seperti kemarin-kemarin nya, Badannya masih lemah karna masih mengalami mual-mual dan muntah-muntah, Sebenarnya Dia tidak mau ditinggal oleh Suaminya, pinginnya di manja terus, tapi karna suaminya harus melaksanakan tugas sebagai seorang CEO, Arini Akhirnya merelakan Suaminya pergi ke Kantor, saat jam kerja, dan sepulang dari kantor, Arini meminta sepenuhnya waktu suaminya untuk tidak memikirkan urusan kantor saat bersama nya, Namun Arfan kadang masih mencuri-curi kesempatan untuk bisa memegang ponselnya.


"Abi...., Abi kan sudah janji, mau memberikan waktu untuk ku sepenuhnya malam ini dan akan lebih perhatian lagi padaku selama Kondisiku lemah seperti ini, tapi kenapa Abi masih saja sibuk dengan ponsel Abi . Apa jangan-jangan Abi lagi chatingan dengan cewek lain?" Arini malah terjerumus pada sikap Suudzon pada Suaminya saat Suaminya masih sibuk dengan ponselnya.


"Loh....kok ngomongnya gitu sih, Ini Abi lagi ngurusin urusan Kantor, kalau gak percaya, lihat nih " Arfan memperlihatkan Ponselnya pada Istrinya, bahkan Arini mengecek satu persatu chat di Aplikasi hijaunya, setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan kemudian Arini me-non aktifkan Ponsel suaminya , dan segera menaruhnya di laci nakas di sisi kasur size mereka.


Arfan hanya bisa mengalah dan diam saat Arini melakukan itu, karna Arini kembali minta di peluk oleh suaminya.


"Mungkin ini yang disebut bawaan bayi, Ustadzah yang dulu tomboy, cuek dan suka seni bela diri ini, juga suka olah raga lari, ternyata kini berubah jadi cewek manjaaaa dan ngambekan, haha...ada ada saja sikap Makhluk yang bernama wanita ini" batin Arfan mentertawakan Istrinya yang sedang bucin dan Dia bangga karna istrinya ingin selalu di manja oleh nya.


"Abi, sekarang Aku sudah Siap dipanggil Ummi atau Umma , karna kan Sebentar lagi Aku jadi Ibu, kalau dulu, Aku belum siap karna memang belum pantas" pinta Arini manja pada Arfan, yang tidur dalam dada bidang suaminya.


"Baiklah Umma sayang, " guman Arfan, sembari mengecup kening istrinya.


"Bi...Aku tidak menyangka, setelah sekian lama hidup tanpa suami karna demi merawat dan menjaga Rania, Akhirnya Nek Saidah kini bertemu calon pendampingnya, semoga mereka menjadi jodoh dunia Akhirat ya bi " Arini mengajak ngobrol suaminya.


"Aminnn, Semoga Ustad Basyir adalah Suami yang tepat untuk Nek Saidah, karna Nek Saidah itu orang yang baik dan ikhlas" Arfan pun berharap kebaikan untuk orang baik seperti Saidah.


"Jodoh itu memang Aneh ya Bi, Nek Saidah ketemu jodohnya di usia senja " ujar Arini lagi.


Tiba-tiba apa yang dibicarakan istrinya itu mengingatkan nya pada kedekatan Mamanya dengan laki-laki bernama Herman yang ternyata adalah sahabat lama Mamanya,


'Atau jangan-jangan, mereka dulu pernah pacaran?'batin Arfan.


"Bi...bi..., kok diam aja sih, Aku lagi Ngajak ngobrol bi, Aku bukan hanya ingin di dengar tapi juga harus di respon dong, biar Aku tidak merasa sedang berbicara sendirian" grutu Arini.


"Hmmm, Aku dengar kok Umma sayang, Aku hanya sedang memikirkan Mama yang sedang dekat dengan seseorang, Aku pikir, laki-laki itu mungkin cinta di masa lalunya, karna Aku merasa Mama saat ini aura-auranya sedang mengalami puber keduanya " guman Arfan.

__ADS_1


"Benarkah ? Sejak Aku hamil, Aku jarang keluar kamar sih, jadi banyak yang tidak Aku ketahui. Tapi kalau memang Mama sedang puber kedua, mungkin Dia juga ingin mempunyai pendamping seperti Nek Saidah bi " Ujar Arini lagi.


"Mama sudah tua, sebentar lagi Dia juga punya cucu, tidak mungkin Mama memikirkan mau menikah lagi " Arfan merasa keberatan jika nantinya Mamanya meminta mau menikah.


"Abi, Tujuan Menikah menurut agamaa, Selain untuk memperbanyak keturunan, juga bertujuan agar masing-masing saling merasa tentram, dan menikah itu bukan hanya melulu untuk urusan ranjang.


Seperti nek Saidah dan Ustad Basyir, lihat Ustad Basyir, beliau punya banyak anak dan cucu, tapi merasa kesepian, karna anaknya ikut pasangan masing-masing, Ustad Basyir butuh pendamping yang bisa mendampinginya di Hari-harinya, pendamping untuknya berbagi cerita dan berbagi kasih sayang, yang tidak bisa Dia dapatkan dari anak-anak nya. Dan masih banyak contoh pasangan yang menikah di usia senja, karna mereka sadar, mereka butuh pendamping. " Terang Arini, yang merasakan Suaminya tidak setuju jika Mamanya menikah.


Arfan diam, Dia berpikir , kalau Mamanya pasti selama ini kesepian apalagi Mamanya pernah mengalami Sakit yang cukup lama, Dia bahkan bercermin pada dirinya sendiri, dulu Dia suka marah-marah, uring-uringan tidak jelas, tapi semenjak menikah, hatinya memang merasa lebih tenang, Ada tempat untuk berbagi cerita dan kasih sayang, ternyata Allah lebih mengetahui apa yang diinginkan Hambanya, Sehingga Dia menciptakan sebuah ikatan berupa Pernikahan yang mengikat dua hati anak manusia yang akan membuat keduanya merasa saling membutuhkan.


"Bi...bi...Abi tidur ?" Arini mendongakkan wajahnya ke atas untuk melihat apakah suaminya tertidur, ternyata Arfan memang telah memejamkan matanya. Bukan tidur, tapi Dia sengaja berpura-pura tidur, karna merasa capek jika harus mendengarkan obrolan istrinya.


Mungkin memang sudah menjadi kodratnya wanita, kalau wanita itu ingin selalu dimengerti dan didengar, meski yang dibicarakan hanya obrolan biasa, Apalagi jika Suaminya suka merayu dan memuji istrinya, itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang Istri.


"Yah...ditinggal tidur, padahal masih banyak yang ingin ku bicarakan, mengenai berita yang lagi viral di negri ini, juga mengenai harga minyak yang harganya dua kali lipat serta langka dimana-mana" Namun Arini tidak marah, Dia memeluk suaminya, lebih erat lagi hingga iapun terlelap.


'Tuh kan, proposal obrolan yang Dia ajukan masih panjang, ternyata keputusan untuk pura-pura tertidur adalah keputusan yang tepat.' Batin Arfan dalam pelukan Istrinya yang lagi manja-manjanya.


Pagi-pagi Arfan bangun kesiangan, sedangkan Istrinya masih tertidur setelah shalat subuh tadi. Setelah semuanya beres, Arfan langsung ke kantornya tanpa Ponselnya.


Siang hari, Arini ngidam pingin makan martabak, Dia pun mengubungi Suaminya agar segera membelikan Martabak yang sedang diinginkan nya saat itu, Tapi ternyata Arfan tidak bisa dihubungi.


"Kok Ponselnya tidak Aktif sih, ada apa ini, tidak seperti biasanya Dia begini " Arini mulai di gerayangi rasa cemas . Dia pun mencoba menghubunginya lagi, tapi nihil.


"Abi ....kenapa kamu tidak bisa dihubungi sih, ada apa ini ?" Arini semakin cemas, Dia pun berpikir untuk menghubungi Andi.


"Halo Andi, Suamiku ada bersama kamu? Kok dari tadi tidak bisa dihubungi ?" Tanya Arini penuh selidik.

__ADS_1


"Saya Tidak melihat tuan Arfan dari tadi setelah makan siang nyonya " jawab Andi.


"Baiklah kalau gitu, terimakasih," Arini semakin cemas tak menentu, Dia masih berusaha menghubungi nomer yang bisa dihubungi, tapi tetap tidak bisa dihubungi.


Dalam kecemasannya, Arini semakin menghawatirkan keadaan suaminya, kadang juga berpikir buruk.


'Apakah Abi punya perempuan lain? Ah, Kenapa Aku jadi Suudzon gini" Arini merutuk dirinya sendiri,


'Kata Dokter Aisyah Dahlan, kita tidk boleh suudzon pada suami, karna justru hal yang kita pikirkan bisa jadi kenyataan' Arini menasehati dirinya sendiri.


Sore hari Arfan Akhirnya pulang. Arini senang karna Akhirnya suaminya baik-baik saja. Namun


Arini menyambut Suaminya dengan wajah masam, sesungguhnya Dia tahu, menyambut suami itu harus dengan wajah yang ceria agar rasa capek Suami sedikit hilang, dan itu berpahala, namun karna Arini masih dikuasai rasa kesal, muka nya pun berubah haluan.


"Abi..kenapa dari tadi Abi tidak bisa dihubungi, Aku juga hubungi Andi , tapi Andi tidak tahu apa-apa, memangnya Abi kemana saja sih, pergi sama siapa, atau sama perempuan, Ayo jawab bi " Arini uring-uringan.


"Bagaimana mau jawab, Kamu nanya nya kayak kereta api gitu " Sebenarnya Arfan sedang kecape an, meski agak kesal dengan sikap Istrinya yang marah-marah, tapi Dia bisa memaklumi, karna memang Dia yang salah, karna tidak menghubungi istrinya.


"Umma sayang, Abi tadi siang mendadak ketemu klien di Magetan, Bersama staf Hendra, Saya tidak sempat memberi tahu Andi karna Andi sedang keluar , terus kenapa Ponsel Abi tidak bisa dihubungi, karna....." Arfan lalu membuka laci dan mengambil Ponselnya yang telah di non aktifkan oleh Arini.


"Ini...., ini tadi malam perbuatan siapa ?" Arfan menunjukkan ponselnya pada Istrinya, Arini tercekat, merasa malu dan merasa bersalah.


"Uf...hehe..Maaf bi, ternyata ponselnya di situ toh, pantesan dari tadi tidak bisa dihubungi, hehe " Arini hanya cengengesan menutupi kesalahannya.


Arfan memeluk Arini, seolah ingin mencari kedamaian disana.


"Terus, kenapa kamu menghubungiku?" Tanya Arfan.

__ADS_1


"Siang tadi, Aku pingin Martabak, tapi sekarang Aku tidak mau lagi, Aku pingin dipeluk saja, maafkan Aku ya suamiku " Arini berhambur ke pelukan suaminya


"Iya, sama-sama" Arfan pun menyambutnya.


__ADS_2