
Pagi itu Hafsah berkunjung ke Rumah Arini bersama Mama nya, Rania, sekedar ingin bersilaturahim dan Hafsah memang sedang ada keperluan.
"Assalamualaikum tante !" Ucap Hafsah dengan senyum dan semangatnya, karna Hafsah memang pribadi periang.
"Waalaikumsalam keponakan tante yang cantik, " Arini menyambut Hafsah dan Rania dengan hangat.
"Selain mau silaturahim, kami kesini karna Hafsah ada perlu sama mbak!"Ucap Rania pada kakak iparnya itu..
"Hehe...iya tante, Hafsah cuma mau minjam Album foto lama nya Azzam, kak Zidan dan Zahra, dan Akupun ada disitu kan, Mau Aku buat konten , hehe "guman Hafsah agak malu mengungkapkan maksudnya.
"Ohwh...itu, iya , sebentar, Tante ambilin " Arini pun segera mengambilkannya. Tak lama , Arini pun muncul dengan membawa Album foto yang diminta Hafsah.
"Terimakasih tante, Aku ke kamarnya Azzam dulu, boleh kan ya, Azzam nya kan lagi di kantor, mau ngerekam disana" pinta Hafsah malu-malu.
"Iya sana boleh kok, sana ke kamarnya Azzam, sendiri" jawab Arini dan Hafsah pun segera menuju ke kamar Azzam , sedangkan Arini dan Rania masih mengobrol.
Di kamar Azzam, Hafsah membuka Album foto lama anak-anak Arini. Ia tersenyum melihat kelucuan foto mereka saat masih kecil, ada dirinya juga disana berfoto saat menangis karna ditarik-tarik rambutnya sama Azzam.
"Dari dulu lo itu memang usil ya!" Ujar Hafsah sendirian, sambil senyam-senyum sendiri , kemudian Ia pun beralih ke foto yang lain yang tak kalah serunya, hingga Akhirnya Ia menemukan foto saat Azzam masih bayi.
"Ini bayi Azzam kan, iya ini Azzam, ada nama, dan tahun lahirnya , dan ini kenapa bayinya ada dua, tante Arini sama om Arfan masing-masing menggendong bayi, Azzura ? Siapa bayi Azzura ini ya ?" Hafsah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, Ia pun keluar hendak menanyakan nya pada Arini yang sedang asyik mengobrol dengan Rania di luar.
"Tante , tante maaf ganggu, Hafsah mau nanya bentar , Ini bayinya Azzam kan ya, tapi kok ada dua ?" Hafsah Antusias.
Seketika raut wajah Arini tampak sedih.
"Kamu ini kepo banget sih !" Ucap Rania pada putrinya, Ia pun mengusap-usap pundak Arini yang tampak sedih itu. Hafsah pun semakin penasaran.
"Dia kembarannya Azzam, namanya Azzura" jawab Arini sambil terisak sedih.
"Azzam punya kembaran?" Hafsah terkejut.
"Iya, tapi saat masih bayi, sewaktu di Rumah sakit, Dia di culik, hingga saat ini belum di temukan " Arini pun menangis menceritakan hal itu. Kemudian memeluk Rania.
"Maaf tante, Hafsah membuat tante sedih " ucap Hafsah menyesal.
"Tapi, tunggu, kembarannya Azzam perempuan kan ?" Tanya Hafsah lagi.
"Iya , Azzura kan nama perempuan " timpal Rania.
"Aku jadi teringat seseorang, kemarin Aku sama Azzam pas lagi makan tiba-tiba Azzam menubruk seorang gadis, tau gak tan, saat mereka sejajar, wajah mereka itu seperti ada mirip-mirip nya gitu, matanya, alisnya plek banget hidungnya , cuma bibirnya aja yang beda kayaknya" terang Hafsah.
"Beneran kamu, jangan mengada-ada ?" Sahut Rania.
__ADS_1
"Beneran ma, Hafsah yakin, cewek itu memang mirip, bahkan Aku mengira Dia keturunan Pakistan juga kayak Azzam, "
"Kamu beneran kan, melihat wanita yang mirip Azzam !" Arini metakinkan.
"Kami sempat kenalan, Dia bahkan bekerja di kantornya Kak Zidan sebagai Ofice girl ."
"Benarkah ?" Arini tak percaya karna memnag belum memastikan, tapi merasa bahagia seakan menemukan sebuah celah, siapa tahu gadis yang di maksud Hafsah itu benar-benar Azzura.
"Bisa Antar tante menemui nya sekarang?" Pinta Arini bersemangat
"Hayuk !" Hafsah pun semangat.
Mereka pun segera menuju kantornya Zidan, dengan perasaan harap-harap cemas. Mereka berharap, gadis yang di sebutkan Hafsah itu adalah Azzura.
Saat tiba di parkiran, Arini berjalan dengan cepat, Ia sangat tergesa-gesa hingga terjatuh dan lututnya berdarah, tapi tidak Ia pedulikan dan Saat sudah memasuki kantor , Arini, Hafsah dan Arini segera mencari keberadaa Ofice girl Itu.
"Mas, Ofice girl yang namanya Syifa ada dimana ya" tanya Hafsah pada salah satu OB.
"Oh, Dia tadi keluar bersama tuan Zidan"
"Kemana katanya?"
"Wah ... saya kurang Bu "
"Kita langsung hubungi Zidan saja tan !" Hafsan memberi saran, Arini pun segera menghubungi Zidan.
"Kamu dimana sekarang ?" tanpa membalas salam Zidan, Arini langsung bertanya keberadaan Zidan.
"Saya sedang ada di luar ma, ada apa ?"
"Kamu ada dimana? Kamu sama Syifa kan?"
"Zidan ada di Rumah sakit, memangnya Umma tahu Syifa?"
"Memang nya Syifa sakit lagi ?" Tanya Arini
"Tidak, bukan Syifa, tapi kami Ada perlu."
"Baiklah kalau begitu, Umma yang akan ke sana, jangan kemana-mana, tunggu disitu " Arini langsung mematikan sambungan telfonnya, sehingga membuat Zidan merasa was-was.
Sementara di rumah sakit, Zidan yang sedang mencari nama-nama orang tua yang melahirkan dan kehilangan bayinya di tahun dimana Syifa di temukan Pak Somad, merasa tidak fokus lagi, sebab setelah Arini menelfonnyz, Zidan, merasa sangat cemas,
'Apakah Umma mau memarahiku karna masih bersama Syifa, sehingga Umma sampai rela mau menyusulku ke Rumah sakit ini ' batin Zidan kalut.
__ADS_1
"Syifa, sebaiknya kita urungkan dulu pencarian kita, Umma ku tadi menghubungiku, Dia ingin bertemu denganmu" Syifa pun menghentikan mencari nama-nama orang tua di buku catatan di Rumah sakit itu yang sudang usang.
"Ada perlu apa beliau mencariku?"
"Entahlah , Ayo sebaiknya kita segera pergi dari sini, biar kita tunggu Umma di Kantin saja, Aku mulai lapar"
Ajak Zidan. Mereka pun segera menuju kantin.
Tak lama kemudian, Arini, Rania dan Hafsah menemui mereka di Kantin. Zidan benar-benar sangat kawatir Ummanya akan melabrak Syifa dan memarahinya, Ia pun mulai mengambil ancang-ancang untuk menghalangi Ummanya memarahi Syifa.
Sementara Arini, pertamakali melihat Syifa, matanya langsung berkaca-kaca, meski Ia belum yakin bahwa Syifa adalah Azzura, Tapi benar kata Hafsah, Wajah Syifa memang ada kemiripan dengan Azzam.
"Ka-mu yang bernama Syifa kan ?" Tanya Arini.
"Iya nyonya, maaf, jika Saya jalan dengan tuan Zidan" Syifa merasa dirinya salah karna seorang Ofice girl telah lancang jalan dengan CEO nya.
"Bisa Ikut Saya ke Toilet sebentar? Ada yang perlu Saya Bicarakan!" Pinta Arini.
"Umma, kita selesaikan di sini saja kenapa harus di toilet ? Syifa tidak bersalah, !" Zidan semakin resah.
"Ini urusan Perempuan " Arini langsung mengajak Syifa ke toilet, Ia mengajak serta Rania, sementara Hafsah menenangkan Zidan yang juga mengikuti mereka dan menunggu dari luar. Syifa yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa mengikuti permintaan Arini.
Di dalam Toilet wanita.
"Syifa, bisa kamu lepaskan bajumu sekarang ?" Pinta Arini.
"Ta-tapi kenapa nyonya" Syifa ketakutan, 'apakah Aku akan di Bully oleh Ibunya Zidan karna telah lancang jalan dengan anak nya, tapi Ibu dan bibinya Zidan wanita berjilbab, mana mungkin Mereka akan menjahatiku' batin Syifa tak menentu.
"Bukalah nak, Kami tidak akan menjahatimu, Kami hanya minta kesediaanmu membuka bajumu sebentar saja!" Pinta Rania lembut.
Akhirnya perlahan Syifa membuka bajunya, meski sebenarnya Ia merasa malu dan ragu, bagaimana mungkin seorang wanita tanpa sebab meminta wanita lain meminta membuka baju di depannya.
Setelah Syifa membuka bajunya, tapi masih mengenakan jilbab segi empatnya, Arini langsung memegangi lengan tangan Syifa bergantian, Ia mencari tanda lahir berbentuk bulan sabit yang ternyata ada di lengan tangan kanan Syifa.
Setelah menemukan tanda itu, Arini langsung memeluk Syifa dan menangis Histeris, karna saking bahagianya.
"Azzuraaaaa....anakkuuuu..... kau Anakku yang hilang selama ini Syifa !" Syifa pun terkesiap mendengar penuturan Arini, Ia yang juga sedang mencari Orang tua kandungnya, langsung bahagia, dan ikut menangis.
"Umma...." Sebut Syifa dalam tangisnya, Ia menirukan Zidan yang memanggil Arini dengan sebutan Umma.
Mereka tenggelam dalam pelukan dan tangis kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, Rania yang menyaksikan itu pun ikut menangis.
Sementara di luar kamar mandi, Zidan semakin kebingungan, tangisan mereka terdengar dari luar.
__ADS_1
"Umma, Syifa, kalian tidak apa-apa ?" Zidan tidak berani masuk karna mereka berada di tolilet khusus wanita.
"