CEO Dan Ustadzah Tomboy

CEO Dan Ustadzah Tomboy
Ketegasan Abah Anwar


__ADS_3

"Umi...untuk kali ini Abah tegaskan, Nanti kalau kita sudah berada di Rumah calon besan, Umi jangan bicara apapun kecuali yang perlu saja, atau kalau tidak, Abah akan tarik semua uang belanja yang biasa Abah kasih dan Abah yang akan memegang semua uang untuk urusan rumah tangga , jika Umi masih crewet dan banyak bicara yang tidak penting , ingat itu !" Gertak H.Anwar pada istrinya sebelum mereka berangkat ke Rumah keluarga Rania.


"Memang nya salah Umi apa sih , Umi gak salah apa-apa kok diancam gitu, Abah tega deh " grutu Umi Amina sambil me monyong kan bibirnya.


"Mau patuh apa gak sama Abah, kalau tidak siap-siap saja tidak pegang uang selama nya" H.Anwar mengancam istrinya lagi.


"Iya deh...iya, Umi akan patuh " dan Umi Amina akhirnya terpaksa menerima peringatan suaminya yang memang tegas, dimana dia harus menutup mulutnya meski hatinya sudah sangat dongkol dwngan ancaman itu.


Randy dan orang tuanya pun berangkat menuju kediaman Rania, dengan sebuah keanehan dan ketenangan yang beda dari biasanya yang dirasakan Randy dan H.Anwar saat mereka bertiga berada di dalam mobil, iya, mereka merasa tenang sebab Umi nya diam, karna biasanya Uminya tidak pernah bisa diam, selalu rajin dan update dalam berbicara hal apapun, Randy dan Abahnya saling melirik tersenyum melihat sikap Umi Aminah.


Taklama kemudian Randy sampai di kediaman Rumah Hadiningrat, disambut dua Satpam, Sesampainya di halaman, saat Randy memarkirkan mobilnya, Umi Aminah tidak kuat untuk tidak berkomentar.


"Waooo...ini mau ngapain mampir di sini, mau bikin konten Ren ? Kalau mampir-mampir gini, nanti kita kemaleman yang mau ke Rumah calonmu !" Akhirnya muncullah suara Umi Aminah saking tidak kuatnya menahan rasa kepo level tingginya.


"UMI..." Abah menekankah suara untuk mengingatkan ancamannya tadi.


Umi Aminah akhirnya diam setelah mendesah kesal.


Randy membawa Abah dan Uminya masuk ke rumah itu, dengan diantar seorang keamanan.


"Assalamualaikum, " ucap Randy, dan tak butuh waktu lama, pintu besar ber cat putih dan ber gagang emas itu dibuka.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, " jawab Rania yang membuka pintunya dengan tersenyum Ramah, Dia menyalami Umi Aminah dan mencium punggung tangan calon ibu mertuanya,


"Mari silahkan masuk, semua nya sudah menunggu" Rania menuntun mereka di ruang tamu, Umi Amina merasa canggung, karna lantai yang terbuat dari marmer itu seakan membuatnya silau.


"Umi...perkenalkan ini Rania, calon mantu Umi, dan ini Rumah keluarga Rania ," Randy memperkenalkan Rania pada Uminya sebelum mereka menuju ke ruang tamu.


"Hahhhh....apah...."ucapan itu keluar sebelum akhirnya Umi Aminah rubuh dan tak sadarkan diri.


Semua panik, termasuk Randy dan Abahnya, tapi Rania mengusulkan agar Umi Amina di tidurkan di kamar tamu.


"Ma-af merepotkan" Randy merasa tidak enak saat mereka sudah berada di kamar tamu menemani Uminya, disitu juga ada Rania dan nenek Saidah, dan Ningsih.


"Mungkin tekanan darah tingginya kumat Bu."jawab Randy yang juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ada Umi nya. Namun tak lama kemudian Uminya sadar, lamat-lamat Dia membuka matanya, mengerjabkan pelan-pelan dan pandangannya menyapu sekelilingnya serta mencubit lengannya sendiri.


'Aw...Ternyata Aku benar-benar tidak sedang bermimpi, ini nyata, Aku sedang berada di istana, iya ..ini istana Sultan, crazy rich ' gumannya dalam hati.


"Umi kenapa kok bisa tiba-tiba pingsan , Apa yang Umi rasakan ?" tanya Rania. Umi Aminah menatap Rania penuh arti.


'Cantik sekali calon menantuku ini, sudah gitu keluarganya crazy rich, Rumah aja kayak istana sultan gini,eh ini memang rumah sultan wah...Aku bisa jadi primadona nih saat kumpul sama Ibu-ibu di pengajian dan Ibu-ibu di pasar , hahaha ' Umi Aminah sumringah dalam hatinya.


"Eh...Anu, tadi kepala Umi terasa pusing dan badan tiba-tiba rasa nya lemes, mungkin sedang anemia, Umi sendiri tidak tahu kok tiba-tiba bisa pingsan gini ya " jawab Umi Aminah yang bermaksud menyembunyikan kenyataan kalau sebenarnya Dia pingsan karna melihat rumah sultan yang megah itu.

__ADS_1


Karna merasa semua sudah baik-baik saja, mereka semua Akhirnya berhambur ke ruang tamu, mereka beramah tamah dengan senyum kebahagiaan karna lamaran itu diterima, tapi Umi Aminah yang sudah janji untuk tidak banyak bicara, hanya bisa menahan semua gejolak rasa kepo level tingginya.


Saat makan malam, Umi Aminah pun tidak bisa berkata banyak saat melihat aneka makanan lezat dan menggugah selera terhidang di meja makan yang berukuran panjang ,karna seperti sedang terikat janji pada suaminya, Umi Aminah tidak boleh berbicara kalau tidak perlu.


Setelah acara pertemuan itu selesai, Randy dan orang tuanya pamit pulang, Kesepakatan pun telah diambil untuk membuat keputusan, bahwa duaminggu lagi Rania dan Randy akan melangsungkan akad nikah, sedangkan untuk resepsinya akan di adakan di salah satu hotel milik keluarga Hadiningrat, berbarengan dengan resepsi pernikahan Arini dan Arfan.


H.Anwar adalah seorang Ayah yang bijaksana , Dia tahu posisi , meski besannya adalah orang kaya, Dia akan tetap membayar biaya resepsi pernikahan anaknya. saat pembicaraan itu berlangsung, Umi Aminah benar-benar tidak bisa ikut bicara, apalagi mata H.Anwar terus menandai gerak gerik Istrinya, sehingga Umi Aminah tidak bisa berkutik.


Sesampainya di Rumah, Umi Aminah meminta ijin pada suaminya.


"Abah, sekarang Umi boleh bicara kan ?" pintanya memelas.


Melihat sikap istrinya yang mau menurut saat melamar Rania tadi, Randy dan H.Anwar tek kuat lagi menahan tawanya.


"Boleh "jawab Abah.


"Alhamdulillah...akhirnya. Abah sih tega mengancam Umi untuk tidak boleh bicara saat di rumah calon besan, padahal kan Umi tidak bisa menyembunyikan kekaguman Umi pada Rumah mewah itu, besan kita ternyata Sultan, masyaalloh mimpi apa Umi semalem, sampe bisa berbesan dengan sultan, tahukan tadi Umi pingsan itu kenapa, Karna Umi takjub dengan Rumahnya, gagang pintu aja mengkilat, kayaknya terbuat dari emas asli deh, kalau saja tadi Randy tidak melarang Umi, pasti Umi sudah keliling Rumah itu , tadi Abah lihat gak, untuk menuju lantai dua dan tiga, ada lift nya loh, bayangkan ada lif di dalam rumah sultan itu ,vas bunganya, sofa di ruang tamunya, dan ranjangnya tadi di kamar tamunya seperti kamarnya para raja, besar dan mengkilat, makanan nya juga ya ampun, makanan enak berjejer di meja makan mulai dari makanan ringat berat maupun penutup, bagaikan makanan dari Sabang sampai Marauke , semuanya ada, duhhhh....Aku jadi gak sabar pingin segera pamer ke ibu-ibu arisan, ibu-ibu pengajian, ibu-ibu di pasar dan ...Abah...Abah...di ajak bicara kok tidur sih, Abah " Umi aminah kesal karna suaminya tidur saat di ajak bicara.


"Padahal Umi belum selesai bicaranya kok ditinggal tidur sih, Abah kebiasaan deh..." grutu Umi aminah .


Sementara Randy tersenyum lega, akhirnya sebentar lagi Dia akan menikahi Rania, gadis yang dia cintai dari dulu.

__ADS_1


__ADS_2