
Setelah mendonorkan darah , Felix dan Arden berulangkali mengucapkan terimakasih kepada Zalia karena sudah menolong Carlyn .
Edwardpun menyuruh Zayn untuk mengantar Zalia pulang karena dia butuh istirahat .
Keduanya pun langsung menuju ke mobil Zayn yang ada di parkiran Rumah Sakit .
" apa kamu baik-baik saja Zalia ? "
tanya Zayn saat melihat Zalia yang duduk lesu di sampingnya ketika mereka masuk ke mobil .
" aku tiba-tiba merasa sedikit pusing kak Zayn " jawab Zalia sambil memejamkan matanya .
" ya sudah kita masuk ke dalam lagi biar kamu diperiksa sama dokter "
" nggak usah kak , kita langsung pulang saja
nanti sekalian istirahat di rumah "
" gini aja , kita ke apartemen aku dulu terus kamu istirahat di sana , kebetulan lebih dekat dari sini dibanding jika harus pulang ke rumah kamu , kalau kamu sudah baikan baru aku antar kamu pulang , gimana ? "
" terserah kak Zayn saja "
jawab Zalia singkat karena kepalanya benar-benar terasa pusing .
Tanpa membuang waktu Zaynpun langsung meninggalkan rumah sakit untuk segera ke apartemennya . Zayn mempunyai satu unit apartemen yang dekat dengan kantornya sebagai tempat untuk beristirahat ketika hendak keluar kota sebab dekat dengan bandara juga sebagai tempat menyendiri kala hari ulang tahunnya tiba .
Sekitar lima belas menit kemudian mereka sampai di parkiran gedung apartemen milik Zayn . Keduanya pun langsung menuju ke lantai teratas gedung itu . Selama di dalam lift Zayn merangkul pundak Zalia sampai mereka masuk ke dalam kamar Zayn .
Saat Zalia sudah berbaring , Zaynpun mengambilkan air putih untuknya bahkan membantunya meminum air itu .
Setelah Zalia tertidur , Zaynpun keluar dari kamar itu dan masuk ke salah satu ruangan dekat kamarnya .
Terlihat foto wanita cantik yang sedang tersenyum terpampang di dinding ruangan itu . Ya itu foto Gabriella , mendiang ibunda Zayn .
Sambil duduk di kursinya , Zayn memandang potret bundanya yang meninggal dua puluh tahun silam .
" bunda , maafkan aku karena harus melakukan hal ini . Sebenarnya hati kecilku sudah tidak ingin lagi mengingat peristiwa hari itu , tapi melihat wanita yang sudah membunuh bunda masih hidup dengan tenang aku merasa semua ini tidak adil buat bunda dan Zalia . Apalagi wanita itu memberikan nama yang sama dengan nama adikku pada anak yang dikandungnya saat mencelakai bunda hari itu " .
Zayn memejamkan matanya sejenak , pikirannya seakan kembali ke hari mengerikan itu . Melihat bundanya terbaring dengan berlumuran darah , membuat air matanya mengalir membasahi pipinya .
Zaynpun menghapus air matanya dengan telapak tangannya .
" bunda maafkan aku , tapi kali ini aku harus melakukannya " .
Tidak lama setelah itu Zaynpun tertidur di kursinya . Sejam kemudian Zayn terbangun dari tidurnya . Dia masuk ke kamarnya dan melihat Zalia masih tertidur pulas . Zayn kemudian memesan bubur ayam favoritnya di restoran langganan dekat apartemen untuk diantarkan langsung seperti biasanya saat dia mampir ke tempat ini .
Sementara itu di Rumah Sakit , Arden merasa sangat heran dengan perubahan sikap Zayn yang kini sudah bisa dekat dengan wanita bahkan disertai dengan kontak fisik . Padahal dia sangat tahu bagaimana reaksi tubuh Zayn jika terjadi kontak fisik dengan wanita tapi dia sendiri melihat tadi bagaimana Zayn merangkul pundak Zalia .
__ADS_1
Sekalipun maminya sudah sadarkan diri tapi pikiran Arden fokus pada Zayn .
Bahagia rasanya melihat Zayn bisa mengatasi traumanya pada wanita . Sebab dia sudah menganggap Zayn sebagai saudara sekaligus sahabat. Tapi ada sedikit rasa sesak yang mengganjal di hati Arden , Kenapa harus Zalia . Karena memang hatinya sudah terpikat pada gadis manis berambut panjang itu.
Arden memberanikan diri untuk bertanya pada Edward tentang hal itu .
Dia mendekati Edward yang kala itu sedang duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu .
" om , apa boleh kita bicara berdua di luar ? "
tanya Arden sedikit berbisik .
" oh iya , boleh Ard . Lagian kita beri waktu mami sama papi kamu dulu "
jawab Edward sambil berjalan ke arah pintu ruangan tempat Carlyn di rawat .
Keduanya pun sepakat untuk bicara di kantin Rumah Sakit . Setibanya di sana , mereka mengambil tempat duduk di bagian pojok .
Sambil menunggu pesanan mereka diantarkan , Arden bertanya untuk sesegera mungkin menetralisir rasa penasarannya .
" begini om , aku mau tanya soal kedekatan Zayn dengan Zalia , juga tentang trauma Zayn yang tidak terganggu sedikitpun sekalipun ada kontak fisik dengan Zalia "
" om begitu gembira dengan hal ini Sekalipun awalnya om juga kaget dengan sikap Zayn yang begitu cepat dekat dengan Zalia tanpa munculnya rasa trauma itu . Tapi om hanya mau berpikir positif , mungkin merek memang berjodoh dan hanya Zalia yang mampu untuk menyembuhkan traumanya Zayn "
" berjodoh ? maksud om sekarang ini mereka sudah punya hubungan khusus ? "
Mendengar kata melamar seketika Arden terlihat lemas . Mungkin kesempatan untuk mendekati Zalia pupus sudah . Dia berusaha untuk menyembunyikan hal itu dari Edward dengan menunjukkan ekspresi baik-baik saja padahal hatinya sedang gundah gulana .
" kalau kamu mau tahu cerita lengkapnya tanya langsung saja ke Zayn , waktu itu dia belum sempat cerita secara detail sama om "
" oh iya om nanti aku tanya langsung saja ke Zayn "
Mereka pun menikmati makanan yang sudah diantarkan oleh pelayan beberapa saat kemudian .
*
*
*
Di apartemen Zayn
Zalia yang baru saja terbangun dari tidurnya mengucek matanya dan memperhatikan sekitarnya . Matanya tertuju pada Zayn yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah bisnis tak jauh dari tempatnya berbaring saat ini .
" ka Zayn "
panggil Zalia sambil mencoba untuk duduk .
__ADS_1
Mendengar namanya dipanggil Zaynpun menoleh ke arah Zalia dan segera menghampirinya .
" iya Zal ,, gimana apa sekarang kamu sudah merasa baikan ? "
tanya Zayn sambil duduk di samping Zalia .
" masih sedikit pusing kak , tapi agak mendingan dari pada yang tadi "
jawab Zalia sambil sedikit memijit kepalanya .
" ya sudah , kamu tunggu sebentar aku ambilkan makanan "
Zalia hanya mengangguk untuk menyetujui hal itu .
Beberapa saat kemudian Zayn masuk kembali dengan nampan di tangannya berisi bubur ayam yang sudah dia panaskan kembali .
" kamu makan sekarang ya .
Mau makan sendiri atau disuapin ? "
tanya Zayn sambil tersenyum .
Zalia yang ditanya hanya bengong .
" kalau ditanya itu dijawab Zalia bukan malah bengong kayak gini , ya sudah aku suapin saja ya " kata Zayn lagi sambil mengacak rambut Zalia dan tanpa menunggu jawaban dari Zalia , diapun langsung menyuapinya sampai bubur dalam mangkuk itu habis .
Setelah itu Zaynpun memakan bubur bagiannya .
Karena Zalia masih merasa pusing , Zaynpun berinisiatif menelpon dokter pribadinya untuk datang ke apartemen miliknya .
Setelah diperiksa , dokter mengatakan bahwa Zalia mengalami hal yang biasa dirasakan oleh setiap orang yang selesai mendonorkan darahnya . Dia hanya butuh istirahat yang cukup , esok harinya pasti akan membaik .
Setelah meminta izin pada mamanya , akhirnya Zalia memutuskan untuk menginap di apartemen Zayn dan akan kembali besok paginya . Tidak sulit untuk mendapatkan izin dari mamanya sebab memang tidak ada perhatian khusus baginya selama ini .
Zaynpun memikirkan sesuatu saat tahu akan menghabiskan malam berdua dengan Zalia .
~
~
~
hayo , kira-kira apa ya yang dipikirkan oleh Zayn ??
jangan lupa like ya 🙏🙏
terima kasih sudah mau mampir untuk membaca karyaku 🙏🙏🙏
__ADS_1