
“Wali?” ucap Aretha seraya pandangi Anshell yang berbicara dengan Jordan dan juga Kevin.
Anshell mendengus kasar, pria itu menatap Aretha dengan tatapan benci.
“Maksudmu apa, An?” tanya Aretha bingung.
Jordan menggeleng pelan agar sahabatnya tidak memberitahukan semuanya pada Aretha.
Wanita itu berhak tidak tahu karena tentunya ini akan menyakitkannya.
“Kau sungguh ingin tahu, hah?”
Dari cara Aretha menatap pun jelas dia ingin Anshell menjelasakannya semuanya.
“Baiklah kalau kau ingin tahu!”
Dengan gaya angkuh dan arogansinya, pria itu berbalik badan dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana katun yang dikenakan.
“Kau anak pembunuh. Aku terpaksa menikahimu hanya karena butuh wali untuk mengambil satu ginjalmu.
“Dengan aku menjadi suamimu, aku dengan mudah mengambil satu persatu organ dalam tubuhmu. Mungkin besok satu ginjalmu—”
“Shell—” hardik Jordan. Ini sudah kelewatan.
“Mungkin besok-besoknya aku bisa dengan mudah mengambil dua kornea mata mu, atau satu hatimu bahkan jantungmu sekalipun?”
Mata Aretha basah, hatinya remuk mendengarkan betapa tajamnya lisan pria yang sempat dicintainya itu.
Kini yang ada rasa penyesalan, karena dia pernah mencintai pria seperti iblis di depannya.
“Kenapa tidak sekalian kamu membunuhku Shell dan mengambil semua organ dalam tubuhku agar kamu puas,” kata Aretha dengan suara yang terdengar bergetar.
“Ck! Itu terlalu cepat menuju kematian, aku ingin kamu merasakan sakit lebih dulu dan menderita baru kamu boleh meninggal.”
“Bangke lo!” sahut Jordan, tidak terima.
Pria itu maju selangkah dan berdiri berhadapan dengan sahabatnya. “Lo bela dia, hah?”
“Ya, karena lo sudah keterlaluan, Shell. Dia wanita, dia tidak tahu apapun.
“Bahkan dia tidak tahu kesalahan kedua orang tuanya. Kenapa lo membalasnya sampai separah ini hah?”
Anshell mendorong Jordan untuk menjauh agar dia bisa menatap lebih dekat lagi wajah gadis kampung yang membuatnya muak.
“Lo nggak usah jadi pahlawan Jordan! Tugas lo urus perusahan gue dan masalah ini sudah jadi urusan gue!”
Manik mata Anshell menatap Kevin yang hanya diam dan pria itu sejak tadi hanya menghela napas.
“Kau harus hubungi tim mu kita lakukan siang hari. Aku tidak mau mengulur waktu. Kau paham!”
Kevin hanya menjawab dengan helaan napas dan menatap kepergian punggung pria itu.
“Shell…”
__ADS_1
“Apa lagi!”
“Jangan kejam-kejam pada dia kenapa, Shell. Sumpah, gue kasihan sama dia.
“Dia seumuran adik lho sehll. Kalau posisi dia ada pada adik lo gimana? Ingat karma Shell,” kata Jordan seraya mengingatkan sahabatnya.
Kejadian yang mencengangkan yang baru-baru ini dia dengar, Anshell memukuli sahabatnya sendiri.
Hh—lebih tepatnya saudaranya sendiri hingga cacat dan semua perbuatan Anshell sudah di bayar kontan dengan kejadian kecelakaan ini.
Tetapi, kenapa pria itu belum sadar juga?
‘Aku tahu kamu paling dekat dengannya. Bisakah aku titip agar pria itu tidak menyakiti Aretha?’—pesan Toby.
Jordan mengejar Anshell, lagi. Ia mencoba membujuk sahabatnya itu agar mau untuk berlibur sejenak agar tidak membebani pikiran Aretha.
“Lo kan dokter, Shell. Masa iya, lo sejahat ini.
“Apa lo nggak tahu bahaya kalau wanita itu sempat stress, bisa-bisa dia nggak bisa donorin ginjalnya,” bujuk Jordan.
“Ajaklah Aretha pergi bulan madu ya, dua sampai tiga hari gue cukup. Jangan terlalu keras kepala, Shell.
“Hal yang dipaksakan itu nggak enak, lebih baik dengan sendirinya dia menyerahkan ginjalnya karena gue yakin kalau wanita itu pasti akan menyerahkannya mengingat lo dan dia sudah membuat perjanjian.”
“Ayolah, gue tau lo nggak sejahat ini, Shell.”
Ken di belakang sana meminta Aretha untuk lekas berjalan menghampiri private jet mewah Anshell.
“Nggak bisa! Next time gue ajak dia ke kebun binatang saja! Bulan madu itu terlalu kebagusan!”
Anshell berhenti melangkah, pria itu membuang napas kesal.
“Gue bilang nggak bisa ya nggak bisa. Gue hari ini ada janji mau ketemu sama Lalisa.
“Dia sudah nungguin gue di sana. Nggak ada waktu buat acara sampah kayak gituan!”
“Lalisa?” ulang Jordan, bola matanya mendelik mendengarkan nama itu lagi.
“Ya,” jawab Anshell singkat.
“Lo emang harus diperiksakan kejiwaan, Shell. Lisa lagi, Lisa lagi. Astaga—” decak Jordan kesal.
“Kayak di dunia ini cuman ada wanita itu saja. Sumpah ya, kalau gue jadi lo.
“Gue sudi mau tunduk lagi sama wanita yang sudah terang-terangan nyakitin gue, nolak gue. Ck! Kayak nggak punya harga diri!” geram Jordan.
“Wanita itu banyak, Shell. Nggak di lagi juga kali. Ingat dia itu sudah punya tunangan, Gavien Mahendra.
“Apa perlu gue cetak namanya terus di tempel di kening lo biar lo nggak mendadak amnesia gitu?” omel Jordan.
Ya, tidak Andreas yang berani. Jordan pun ikut berani berbicara bila nama wanita jallang itu selalu diingat oleh sahabatnya.
“Nggak ada bagus-bagusnya lo inget-inget dia! Come on lah Shell sadar,” pinta Jordan.
__ADS_1
Tidak hanya dia, tapi semua orang yang dekat Anshell pun selalu menyadarkan agar Anshell tidak terus tertipu bujuk rayu wanita ular itu.
“Gue nggak butuh nasehat lo, Dan.
“Gue nggak peduli mau dia istri orang sekalipun Lalisa harus jadi milik gue!” jawaban Anshell seolah mutlak kalau wanita itu harus menjadi miliknya.
“Serah lo deh!” jawab Jordan berhenti di pijakan tangga.
Sahabatnya itu hanya bisa menghela napas panjang dan menatap pria itu masuk ke dalam pesawatnya.
Bila sudah menyangkut Lalisa, semua orang yang kenal Anshell ikut emosi jiwa karena pria itu begitu kekeh selalu mengklaim Lalisa adalah miliknya.
“Aretha…” panggil Jordan saat gadis kampung itu hendak menaiki tangga.
“Ya….”
Jordan meraih kedua tangan Aretha lalu menggenggamnya erat.
“Tolong maafkan sahabatku yang keras kepala dan sudah jahat padamu.”
Aretha menarik napas dalam, lalu berikan senyuman tipis.
“Kamu tidak salah di sini Tha dan tidak seharusnya kamu jadi bulan-bulanan Anshell dengan kebenciannya itu.”
“Sudahlah. Aku tidak apa.”
“Kamu memang wanita baik, kuat-kuat ya, Tha. Anshell pastinya akan sering buat kamu kesal.”
Aretha berikan anggukan pelan. “Kalau dia kelewat kejam padamu, kamu pukul saja kepala dia biar dia amnesia.
“Setuju, aku kalau pada akhirnya dia hilang ingatan total!”
Bug!
“Haish, sial! Kenapa lo mukul gue hah?” sewot Jordan pada si dokter menyebalkan yang memukul kepalanya keras.
“Kalau lo mau mendoakan orang itu yang baik-baik saja. Jangan bicara kayak tadi.
“Apa lo nggak tahu banyak malaikat di sekitar kita yang mencatat perbuatan kita?” ucap Kevin bijak.
“Ck! Sok agamis banget si loh! Padahal lo bukan orang yang taat beragama,” decak Jordan, sebel.
Siang bolong yang panas ini buka hatinya adem. Tapi, dia malah panas dengan ceramah Kevin padanya.
Dengan santainya Kevin hanya menghela nafas panjang.
“Terserah lo.”
“Nyonya Stone. Anda sudah ditunggu oleh Tuan di atas, mari,” ucap Ken menabrak dua pria yang menghalangi jalannya.
Jordan komat kamit di belakang merutuki kekesalannya pada Ken, dia pun menoleh ke samping dan menatap heran dengan salah satu asisten pribadi Anshell yang berdiri dan tidak turut masuk ke dalam.
“Lo nggak ikut masuk?”
__ADS_1