
“Tapi bukannya Gavien sama ad—”
“Toby…” Panggilan itu membuat kedua pria itu menoleh ke sumber suara. Aretha bergegas menghampiri pria keturunan Italia itu.
Jangan sampai Toby memberitahukan hal itu, sekalipun Aretha tidak tahu ada hubungan apa antara Xandra dan Gavien. Di sini, Aretha tidak ingin Anshell semakin membenci Gavien dan juga Xandra, kini Aretha paham hubungan rumit empat orang itu.
“Ada apa, Tha?”
“Bebby memanggil kamu, By. Katanya mau minta tolong apa gitu,” ujar Aretha bohong.
Pria bule itu berpamitan sejenak pada Anshell dan berlalu masuk ke dalam rumah butut di depannya.
“Perut kamu sudah kenyang?”
Aretha menggeleng, namun Anshell yang berdiri di depannya mendelik.
“Sudah makan di restoran loh tadi, terus tadi aku lihat kamu makan nasi goreng. Kamu belum kenyang?” tanya Anshell yang dianggukan oleh Aretha diiringi deretan gigi rapinya.
“Astaga. Ya sudah kita cari makan. Di mana tempat makan di sekitar sini yang enak?”
“Ada. Pecel lele haji makmur mau coba?” tanya Aretha yang dianggukan oleh Anshell.
Keduanya berjalan kaki sampai ujung depan yang diiringi obrolan dan juga tawa, hingga tak terasa keduanya sampai dan duduk di tenda pinggir jalan.
Melihat Anshell yang kembali tengah menerima panggilan, Aretha pun langsung mengirim pesan pada Toby untuk tidak menceritakan perihal Gavien dan Xandra, meski langsung di balas dengan rentetan pertanyaan dari pria playboy cap kodok itu.
Hari sabtu akhirnya tiba. Aretha dan Anshell akhirnya mendatangi pesta pertunangan Lalisa dan Gavien. Pesta pertunangan super model dan juga pebisnis muda itu pun diselenggarakan di hotel bintang lima dengan mengundang begitu banyak orang-orang penting.
“Awas ya kalau sampai sana ketemu sama si kutu di depan sana, terus balik dari sini kamu ngerog nangis-nangis. Aku sunat kamu!” ancam Aretha yang langsung dijawab dengan tawa oleh Anshell.
“Galak amat sih kekasihku ini, hmm.”
Anshell mencolek dagu gadis kampung yang disulap bak cinderella semalam. Riasan tipis di wajah putihnya dan juga dress merah selutut membuat penampilan Aretha begitu cantik dan juga, seksi.
“Harus soalnya lakinya terlalu lembek sama si kutu kupret!”
Anshell menatap gemas Aretha. “Nggak lagi! Aku kapok galau di depan kamu karena langsung di omelin.”
“Oh, jadi kamu mau galau sendirian gitu habis ini?” seru Aretha dengan pelototan.
“Nggak akan. Aku nggak akan galau, aku sudah sadar kok sayang.”
Anshell merangkul Alea. “Yuk, kita ngucapin doang terus kita pulang.”
“Hah, cuman itu doang? Nggak cicip-cicip makanan dulu?”
Anshell menarik tangan Aretha. “Nggak usah aku masih mampu belikan kamu makanan yang lebih enak dari yang ada di sini. Cepet.”
Anshell menghampiri Lalisa yang tengah bersama dengan teman-temannya dengan menggandeng tangan Aretha.
“Lis…”
Wanita bergaun putih itu membalikan tubuhnya. Kedua matanya terkejut ketika melihat Anshell pada akhirnya datang bersama dengan wanita yang pernah dia lihat.
“Selamat ya. Semoga acaranya lancar sampai pernikahan nanti,” ucap Anshell, tulus.
Meski hatinya belum mengikhlaskan wanita itu bertunangan dengan pria lain.
“Terima kasih, Shell,” ucap Lalisa seraya memeluk Anshell.
“Dia—”
__ADS_1
Aretha langsung mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan supermodel cantik itu. Dia ingin tahu bagaimana jawaban pria itu. Apa Anshell akan mengakuinya sebagai kekasihnya atau tidak.
“Aku Aretha.”
“Lalisa,” ucap Lalisa.
Anshell melingkarkan tangannya di pinggang Aretha. “Dia siapa?”
“Kekasihku.”
Lalisa terkekeh menatap pewaris Stone. “Benarkah? Cepat sekali kamu mendapatkan penggantiku, Shell!”
Anshell menarik sudut bibirnya ke samping.
“Tentu.”
“Apa wanita ini yang dijodohkan oleh Mommy?” tanya Lalisa penasaran.
Melihat wanita yang digandeng Anshell, mendadak dia tidak terima.
“Bukan. Dia bukan wanita yang di jodohkan mommyku dan aku pun belum menanyakan hal itu, aku masih sibuk dan mommy lagi ada di Dubai juga,” jawabnya.
“Oh,” jawab Lalisa pendek.
“Selamat ya, semoga hubungan kalian langgeng dan cepet nyusul kita.”
NIat hati ingin membuat hati pria itu cemburu mengingat Anshell begitu sangat mencintainya.
Tetapi, ketika melihat di depannya ini rasanya dia tidak percaya kalau Anshell benar-benar mencintainya wanita itu.
‘Ck! Hanya pelarian,’ batin Lalisa tersenyum tipis pada wanita bernama Aretha tersebut.
Aretha mengangguk paham. “Loh, kenapa nggak menikmati hidang yang kita sajikan, Shell?”
Anshell menggenggam erat. “Setengah jam lagi aku ada operasi, Lis. Aku pamit ya, salam untuk Gavien.”
Lalisa berikan anggukan, pelan. Meski kedua matanya memandang sepasang kekasih itu yang terlihat senang.
Namun, ada hal aneh pada Anshell yang memutuskan dengan cepat mencari wanita lain.
“Mereka itu settingan kan? Nggak mungkin seorang Anshell Damarion Stone dengan cepat move on dariku setelah sepuluh tahun begitu bucin sama aku,” gerutu Lalisa.
Seketika bola matanya membulat lebar-lebar ketika pandangannya yang masih lurus menatap Anshell. Lalisa dikejutkan oleh sang pewaris Stone yang mencium kekasih barunya di depan banyak orang.
“Selama ini dia—”
Lalisa menggeleng pelan. “Selingkuh dariku?”
“Siapa yang selingkuh darimu, hm?”
Lalisa menoleh, wanita itu berikan senyuman termanisnya untuk calon suaminya. “Nggak, tadi Anshell ke sini ngucapin selamat pada kita terus dia titip salam sama kamu.”
“Terus.”
“Dia kenalin kekasih barunya,” tunjuk Lalisa pada wanita ber dress merah. Gavien mengikuti arah kemana telunjuk Lalisa.
Gavien, diam sejenak. Dia merasa kenal dengan wanita yang bersama dengan Anshell. Tidak hanya sekali dia melihat wanita itu, tetapi ketika di restoran dan juga—
“Dia sekretaris Xandra? Jadi, Anshell—” batin Gavien pandangi wanita cantik tersebut.
Aretha di seberang sana pun melihat pria itu menatapnya. “Kamu masih lama nggak, An?”
__ADS_1
“Bentar lagi sayang. Ada apa, hmm?”
Ceritanya sudah pamit pulang pada sang empu pemilik hajat. Namun, mendadak ada beberapa koleganya menyapa. Mau tidak mau, Anshell pun menyempatkan untuk berbicara sejenak.
“Aku mau ke toilet dulu. Nggak apa kan?”
“Oh, ya sudah. Nggak apah. Gerry antar kamu ya.”
Aretha menggeleng kepala pelan, Anshell pun mengangguk dan tidak memaksakan kehendaknya.
Melihat wanita ber dress merah itu bak kode untuk Gavien mengikutinya, pria itu pun berlalu begitu saja pergi tanpa sepengetahuan Lalisa untuk mengejar sekretaris Xandra.
“Hai… kamu sekretarisnya Xandra kan?”
Aretha berikan anggukan. Gavien tersenyum lebar, seolah dia punya harapan untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan pada Xandra.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Aretha. Tidak mungkin bukan dia akan menodong pria itu dengan se gerundelan pertanyaan. Terdengarnya tidak sopan.
“Tentu. Saya minta bantuanmu. Xandra sudah seminggu ini tidak kerja, benarkan?”
Lagi, Aretha berikan anggukan. Bosnya memang sudah seminggu tidak masuk kerja dan juga masih ada di Singapore.
Gavien menarik lengan Aretha untuk menjauh dari toilet dan membawanya ke ruangan yang lebih aman. Di halaman luar, Gavien membicarakan semuanya pada gadis itu.
“Yang bener, Tuan.”
Gavien berikan anggukan pelan. “Jadi tolong aku.”
Gavien berikan card keys pada Aretha. “Aku percaya padamu. Tolong sampaikan maafku pada Xandra. Aku melakukan semua ini karena Lalisa. Tolong…”
“Anda hutang penjelasaan yang satu itu, Tuan.”
Gavien mengangguk pelan. “Aku akan menjelaskan yang terpenting kamu datang ke tempat itu dan berbicara dengan Xandra baik-baik. Aku mohon.”
Getaran ponsel Aretha membuat wanita itu langsung menunduk dan melihat siapa yang menghubunginya. Gavien pun meminta Aretha untuk berbicara kalau dia sedang bersamanya.
“Angkatlah.”
“Ya.”
“Hallo, An?” jawab Aretha di bawah sana. “Kamu di mana sih, say. Aku sudah di depan toilet nih.”
Di atas sana Anshell menoleh ke dalam mencari Aretha. “Astaga. Aku lupa. Aku ada di bawah, tadi aku ketemu sama temen kantor di sini yang kebetulan di undang.”
“Ya, sudah aku akan kebawah,” jawab Anshell, lalu mengakhiri panggilannya.
“Jangan cerita pada Anshell, Aretha. Aku belum punya bukti banyak untuk membongkar kebohongan dia.”
Aretha mengangguk pelan. “Kalau begitu aku ke atas dan tolong malam ini juga kamu datang ke tempat yang sudah aku katakan tadi.”
Aretha mengangguk. “Dan tanpa Anshell.”
“Oke, siap.”
“Terima kasih, Aretha. Aku pergi,” ucap Gavien berjalan cepat dan berlalu pergi.
Aretha pandangi kartu hitam tersebut, dia baru tahu kalau ternyata selama seminggu ini Xandra tidak masuk kerja karena Gavien mengurungnya di dalam apartemen dengan seorang pelayan.
“Terus aku kesananya gimana yah?” kata Aretha pandangi kartu tersebut.
“Emangnya kamu mau kemana, sayang?”
__ADS_1