CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Pasrah


__ADS_3

 “Itu aki-aki bau tanah ngajak gelut!” geram Agita.


Gadis Sma itu berjalan menyusul pria tua yang sudah berjalan keluar dari pekarangan rumah.


Sayangnya, langkah digagalkan oleh Dygta yang sudah menarik bocah bar-bar agar tidak membuat masalah lebih rumit lagi.


“Jangan sok jagoan kamu, Git! Kalau kamu bertindak bodoh, Kakak kamu juga yang kena imbasnya,” seru Dygta kesal.


 Entah kenapa bocah ini jauh lebih emosian bawaanya.


Agita menghempaskan tangan pria kota itu dan berjalan mendekati Aretha.


“Kakak kenapa sih diem aja?”


Aretha menarik nafas pelan. “Sudahlah.”


“Sudah maksudnya apa? Kaka akan menyerah begitu saja? Kaka yakin tiga hari lagi mau menikah sama aki-aki tua bau tanah itu?” cecar Agita.


“Nggak ada pilihan lain juga, Git. Kaka nggak mungkin bisa mencari uang sebanyak itu dalam waktu dua hari,” keluh Aretha.


 Diamnya Aretha sejak tadi pun gadis itu tak lepas berpikir untuk mencari pinjaman pada siapa.


“Kata siapa nggak ada pilihan lain, Ka?” Agita masih berseru keras. Gadis itu seolah sangat kesal jauh dan melebihi Aretha.


“Bukannya tadi Kamu mau tumbalin Juragan Karta buat bayar hutang? Sudahlah tumbalin saja.


“Agita tahu bintinya. Gita antar ke Mbah Pinter desa atas, bukannya ilmu hitamnya sangat sakti?” bujuk Agita.


Gadis itu seolah kesal sendiri pada ulah pria tua. Sukabumi bukan terkenal dengan ilmu hitamnya bukan?


“Para istrinya pastinya akan senang Ka dapat duit 5 miliar dari tumbal suaminya,” kata Agita diiringi tawa puas.


Ya, tentu puas. Menurut Agita, Juragan Karto yang terkenal kejam itu sebaiknya memang tidak ada di kampungnya.


Sekalipun usianya sudah tau, tapi pria itu selalu membuat resah warganya terutama anak gadis yang menjadi incaran pria tua tersebut.


“Nyebut, Git. Jangan menghasut Kakak mu yang lagi bingung ini, sana masuk dan lihat Nenek saja,” pinta Aretha, lebih baik begitu bukan dari pada dia harus mendengarkan hasutan sang adik.


Padahal perkataan tadi itu hanya candaan, kenapa sang adik menanggapinya dengan serius.


“Ka.” Dygta duduk di samping Aretha di kursi kayu. “Kenapa Kakak nggak coba bilang sama si bule, barangkali saja pria itu punya,” saran Dygta.


Aretha menarik nafas pelan lalu berikan gelengan pelan. “Kakak nggak mau merepotkan Toby, Dy.


“Jujur, Kakak nggak tega membebani pria baik itu. Setidaknya biar Toby membantu kakakmu di sana untuk menyembuhkan Viola.”


Dygta tahu itu, pastinya pria bule itu akan membiayai keponakannya yang tengah sakit berat.


Apalagi pengobatan di luar negeri tentunya memerlukan biaya yang besar bukan?


“Kalau tidak pada pria yang waktu itu Kakak bawa ke rumah, sepertinya pria itu terlihat kaya.”

__ADS_1


Aretha menoleh ke samping pandangi Dygta, yang pria itu maksudkan Anshell bukan?


Kalau ya, itu. Sudah jangan di ragukan pria itu tentunya punya. Tapi, Aretha tidak mau meminjam pada Anshell.


Dia sudah memutuskan untuk tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu.


Esok harinya yang bisa Aretha lakukan hanya duduk diam di bawah pohon mangga.


 Dia tidak bisa pulang ke Jakarta karena anak buah Juragan Karto selalu mengawasi pekarangan rumahnya.


Belum lagi, beberapa mobil peralatan hajatan pun sudah mulai berdatangan seolah pria tua itu tahu kalau Aretha tidak akan bisa membayar hutangnya dan bersiap dua hari menikah.


“Kamu pulang saja ke kota, Dy. Nggak usah nungguin Kaka di sini. Lagian, juga cari kemana uang 5 milyar dalam waktu sehari?” kata Aretha pada Dygta yang masih betah tinggal di kampung halamanya sekalipun pria itu harus terima dengan bentuk ketidak sukaan adiknya.


“Dygta nggak mau pulang. Dygta harus menolong Ka Aretha buat pergi dari sini. Kita bisa pergi diam-diam malam hari, Ka. Gimana?”


Aretha berikan gelengan pelan. “Kakak nggak mau karena keselamatan Nenek dan Agita tentu itu yang paling penting.


“Sudahlah, Kakak sebaiknya mengakui nggak bisa bayar dan Kakak harus menikah sama Juragan Karto.


Jalan pergi dari kampung ini sekalipun membawa Nenek dan Agita keluar dari kampung ini. Itu sangat berbahaya, Aretha tidak mau melibatkan masalah ini pada pria muda di depannya itu.


“Jangan kasih tahu Ka Bebby. Kakak nggak mau Kakakmu kepikiran, biar dia focus pada Violla,” kata Aretha.


Dygta pun tidak berani memberitahukan keadaan Aretha pada Kakaknya sekalipun Bebby sering menghubungi dan menanyakan perihal keadaan Aretha di kampung.


Tak terasa hari H pun tiba. Pria tua itu berseru keras dengan wajah yang terpancar bahagia karena Aretha tidak bisa membayar hutangnya.


“Tunggu saya besok menikahimu, Aretha.”


“Kamu mau mahar berapa dari saya?” tanya Juragan Karto seraya mencolek dagu Aretha.


Aretha menghempaskan tangan tua itu dari wajahnya. “Saya minta mahar 5 milyar Juragan sanggup?”


Mata Juragan Karto seketika mendelik, namun sekian detiknya pria tua itu tertawa terbahak sekalipun tidak ada perkataan yang lucu sama sekali.


 “Kamu mau memeras saya dengan mahar 5 Milyar?”


“Bukannya tadi Juragan nawarin saya mau mahar berapa? Sekarang mendadak bilang saya memeras Juragan?” decak Aretha kesal.


Nek Lastri hanya bisa menangis begitu juga dengan Agita yang yang kini melihat betapa cantiknya Aretha dengan balutan kebaya putih tulang dan riasan singer sunda.


“Maafin, Nenek Nduk.”


Aretha berikan senyuman seraya menahan tangisan. Dia tidak mau Nek Lastri semakin sedih dan jantungnya kumat kalau dia ikut menangis histeris dengan keadaanya kini yang akan menikah dengan pria tua itu.


“Nenek nggak salah. Sudah jangan menyalahkan diri ya, Nek,” ucap Aretha seraya menggenggam tangan Aretha.


Agita begitu saja keluar dari dalam kamar Aretha, gadis tomboy itu marah karena Aretha tidak mau mendengarkan sarannya untuk pergi saja dari kampung ini tanpa harus memikirkan dia dan neneknya. Tentunya Aretha tidak menolak.


“Sudahlah, Dy. Jangan di kejar biarin saja. Nanti kalau dikejar dia ngamuk-ngamuk kayak kemarin sama kamu,” kata Aretha menasehati Dygta.

__ADS_1


Pria itu pun mengangguk pelan dan keluar dari dalam kamar kecil di mana ada dua pria bertubuh besar berjaga di depan kamar Aretha.


Aretha berdiri di depan jendela kamarnya setelah nek Lastri keluar. Aretha menangis memandangi tenda biru yang sudah terpasang di depan rumahnya yang dihias secantik mungkin begitu juga dengan janur kuning yang sudah melengkung di depan halamannya.


Beberapa para tetangga yang membantu acara pernikahannya pun tampak sibuk ke sana kemari.


Acara pernikahan Aretha akan dilaksanakan pukul sembilan pagi masih ada waktu satu jam lagi dimana Aretha akan menjadi istri Juragan Karto.


“Benarkan ini rumahnya?”


Pria itu berikan anggukan pelan dan menunjukan tepat dimana janur kuning itu melengkung di mana ada nama Aretha dan Karto.


Tamu yang sudah berdatangan dan juga kini terlihat ramai membuat seorang itu kewalahan untuk mencari di mana pengantin wanita berada.


“Permisi, Bu. Saya mau tanya pengantinya di mana ya? Saya dari kota teman Aretha,” ucap salah satu orang di sampingnya.


“Oh, ada di dalam. Masuk, saja. Tapi—” seorang wanita tau itu menjeda, dia tidak berani mengatakannya karena melihat banyaknya anak buah Juragan Karto di sekitar sini.


Dua orang itu pun paham dan segera masuk ke dalam rumah panggung nan butut di depan matanya.


“Aretha…”


Sang pemilik nama pun menoleh setelah menjawab panggilan seseorang yang berada di balik pintu.


Aretha terkesiap kaget ketika melihat Anshell berdiri.


Aretha mengerjapkan beberapa kali kedua matanya—membenarkan kalau apa yang dia lihat di depannya itu adalah Anshell.


Pria itu mendekati Aretha dengan rahang yang tegas.


“An…”


“Apa itu kamu?”


“Ya… aku datang ke sini Aretha.”


Aretha tersenyum lebar sekalipun hatinya berkata kalau pria itu datang kesini bukan untuk menyelamatkannya.


Tetapi, memberikan selamat untuknya.


“Untuk?”


Aretha merasa asing dengan pria itu. pria yang sudah beberapa bulan mengenalinya.


Tidak ada sorot mata teduh dan senyuman tampan yang tercetak di wajah tampannya.


Melainkan sorot mata kebencian yang Aretha tidak tahu karena apa.


“Menikahlah denganku!”


“Apah?”

__ADS_1


 Mampir baca yuk.



__ADS_2