
“Apa kamu tidak akan mampir?”
Anshell menatap rumah butut di depannya. “Apa kamu tidak akan pindah dari rumah itu?
"Ke apartemen yang sudah aku belikan atau rumah gitu?”
Aretha mendengus pelan, pria itu bukan menjawab namun malah memberikan pertanyaan. Padahal hal ini sudah dibahas.
“Mereka sudah seperti keluargaku di sini, An. Kalau Bebby dan ibunya mau pindah rumah yang kamu belikan, aku akan pindah.
"Tetapi, bila mereka bilang tidak. Tentu nya aku juga tidak akan pindah!”
Anshell mendengus pelan dengan jawaban yang selalu sama dari gadis bodoh itu.
“Sebenarnya bukan kamu saja yang menawarkan mereka rumah. Toby pun sama kayak kamu.
"Sahabatmu malah meminta ku membujuk Bebby untuk pindah dan tinggal di tempat yang layak. Tetapi, mereka tidak mau.
“Sekalipun yang kita tinggali itu rumah butut, katanya rumah itu banyak kenangan meski kalau hujan kita sering kebanjiran,” kata Aretha dengan tawa.
“Maka dari itu aku meminta kamu pindah.”
Aretha mencebikkan bibirnya. “Jangan dibahas lagi, karena jawabanku tetap sama!” kata Aretha.
Aretha membuka pintu mobil sport hitam tersebut.
“Kamu mau mampir nggak? Kayaknya ada Toby di dalam,” tunjuk Aretha pada mobil sport berwarna merah yang terparkir di dekat pohon.
“Aku mampir.”
Selain Anshell ingin berkenalan dengan keluarga Bebby yang sudah baik mau menampung gadis kampung asal Sukabumi itu, dia pun ingin berbicara dengan Toby, sahabatnya yang sudah lebih dulu dekat dengan Aretha.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam,” jawab ketiga orang yang berada di dalam ruang tamu.
Bebby menatap Toby yang sama menjawab salam. “
Kamu islam?”
“Emangnya ada masalah kalau saya bukan islam terus menjawab salam?” balik Toby bertanya.
Pria itu berikan senyuman untuk Aretha dan menarik gadis itu untuk duduk di samping kursi bututnya.
“Kebetulan kamu sudah pulang, sini makan Tha. Aku bawa makanan banyak.”
Pria tampan itu menunjukan beberapa makanan di atas meja dan benar saja meja kecil itu penuh dengan makanan.
“Ada nasi goreng, martabak, baso kamu pilih yang mana?”
Aretha pandangi Dygta yang tengah makan bakso. “Ada acara apa mukbang banyak gini.”
“Sudahlah makan, tidak ada acara apa-apa,” jawab Bebby seraya memberikan piring dan sendok pada Aretha.
“Acara jadian mereka tuh,” tunjuk Dygta pada Bebby dan juga Toby.
Toby tersenyum lebar karena bahagia, sementara Bebby melotot pada sang adik yang selalu ember.
__ADS_1
“Wah, selamat Beb, Tob. Akhirnya doa mu terkabul juga.”
Toby berikan anggukan pelan dengan wajah bahagianya sementara Bebby sepertinya tidak, entah ada apa lagi dengan sahabat baiknya itu.
“Astaga. Aku sampai lupa kalau aku datang ke sini sama dia.” Saking banyak bicara dia lupa kalau ada Anshell dibelakangnya. Tetapi, kenapa pria itu tidak masuk.
“Siapa yang kamu bawa?” tanya Toby pada gadis kampung itu yang bangun dan keluar.
“Ah, aku sampai lupakan. Aku ke sini sama, dia.”
“Aku,” jawab Anshell seraya berdiri di depan ketiga orang di depannya.
Sontak Tobi terkejut dengan kedatangan pewaris Stone ke rumah butut ini. Tetapi, yang lebih terkejut sahabatnya itu datang bersama dengan Aretha.
Bukannya itu pertanda kalau perkataan waktu lalu benar bukan?
“Hai, Mr Stone. Welcome to home my girlfriend,” ucap Toby mempersilahkan sahabatnya untuk duduk.
“Ck! Apa kau tidak punya uang buat membelikan rumah yang layak untuk dihuni oleh kekasihmu, By?”
Itu lagi. Toby melirik sejenak pada sang kekasih yang hanya membuang nafas.
“Sekalipun rumah ini kumuh dan butut, masih bisa dihuni, Tuan.”
“Ya. Saya tahu.” Kedua mata Anshell pandangi bangunan yang hampir roboh.
“Tapi ini tidak aman bagi kalian tinggali, bisa-bisa bangunan ini runtuh karena kayu sudah rapuh.
"Kalau kamu tidak ingin pergi dari rumah ini, perbaikilah agar kalian tinggal dengan layak,” kata Anshell menasehati wanita mallam itu.
“Saya akan membelinya dan saya akan bangun ulang bila perlu sama persis dengan rumah ini lagi,” kata Anshell seolah menjatuhkan harga diri sahabatnya.
“Sial, lo. Datang ke sini cuman mau pamer doang. Gue juga sanggup beli.”
“Bagus kalau begitu, belilah dan bangun ulang. Sangga itu tidak akan bertahan lama, itu membahayakan mereka yang berada di rumah ini,” kata ANshell sok bijak.
Tetapi, dia melakukan ini untuk keselamatan Aretha dan juga mereka semua.
“Aku akan hubungi orang ku untuk mengurusnya.”
“Good!”
“Astaga. Kalau kalian mau pamer kekayaan jangan di sini, tuan tuan,” seru Bebby kesal. Kedua pria itu malah membahas masalah rumah bututnya ini.
Dia bukan tidak mau merenovasi, tetapi yang punya kontrakan saja tidak mau merenovasi sedangkan sewa selalu naik.
“Ada yang ingin aku bicarakan padamu, By. Kita bicara di depan sana saja.”
Toby mengangguk dan berlalu pergi setelah kedua pria itu berpamitan dengan dua wanita yang tengah melahap makanan, termasuk Aretha yang memakan nasi goreng.
Padahal, gadis itu sudah makan malam bersama dengan Anshell di restoran mewah.
“Kenapa lo nggak bilang kalau lo ketemu Aretha?”
“Hah? Kiran lo dah tahu dia tinggal di sini.”
“Nggak. Selama ini gue cari dia!”
__ADS_1
“Kemana lo cari dia ha? Kalau cari pastinya bakal ketemu di mana wanita itu berada.
"Lo sibuk sama si super model sedunia tahu nggak sampai waktu lo itu cuman buat dia doang,” keluh Toby.
Setiap mereka mengajak kumpul bersama, Anshell selalu menolak dengan alasan sibuk dan tidak tahunya pria itu sibuk dengan wanita pujaanya.
“Sabtu depan Lisa tunangan,” kata Anshell seraya pandangi lurus ke depan.
“Sama lo? Terus lo sama Aretha gimana? Gue pikir lo sama dia merajut cinta?
"Jadi lo cuman manfaatin doang, Shell? Wah, tega lo. Kejam banget tahu,” cecar Toby pada sahabatnya.
“Lo kalau cinta sama si Lalisa ya sama dia saja, Shell. Jangan bawa-bawa Aretha, kasihan.
"Dia gadis kampung yang datang ke kota buat cari duit buat bayar hutang. Jangan di phpin nanti lo kualat baru nyaho lo.”
“Sebagai sahabat yang baik, kalau lo dah mau tunangan sama si Lisa nggak usah kasih harapan sama Aretha.
"Gue kasih tahu, Aretha sayang sama lo, Shell.”
Anshell mendengus pelan, begini kalau punya sahabat playboy jadi bicaranya pun tidak ada rem nya.
Bahkan sejak tadi dia ingin menjawab pun terus disalip oleh ocehan sahabatnya yang kini mendadak sok suci.
“Lo bisa nggak kalau ngomong itu di rem. Jangan ngegas terus.”
Toby hela nafas pelan seraya pandangi sahabatnya
. “Gue Cuma nggak mau Aretha sakit hati saja.”
“Ck! Sejak kapan lo sok baik kayak gini, hah?”
Anshell tertawa pelan seraya meremehkan sahabatnya.
“Gue punya adik cewek, Shell, dan kalau adik gue kayak Aretha. Gue nggak akan terima kalau adik gue cuman jadi pelampiasaan.”
Perkataan Tobi seolah menampar Anshell yang langsung bungkam.
“Gue serius sama Bebby. Gue sudah nggak mau memainkan perasaan wanita lagi. Gue insaf dan ingin berubah nggak terus brengsek.”
“Gue dan anggap Aretha kayak adik gue sendiri, dengar curhatan Bebby tentang Aretha.
"Gue iba sama gadis kampung itu, apalagi saat gue tahu kalau Aretha suka sama lo.
"Sampai, hubungan kalian berdua pun gue sudah tahu sekalipun itu cuman pelampiasaan,” ungkap Toby pada sahabatnya.
Anshell diam, dia mulai sadar dengan perkataan Toby. Dia sama dengan pria itu, Anshell punya dua adik perempuan dan bila diperlakukan seperti ini pun sama dia pun tidak akan terima.
“Lalisa bukan sama gue tunangan, tapi sama Gavien.”
Toby mendelik kaget mendengarkan kabar pertunangan Lalisa dengan Gavien.
“Serius lo?”
Anshell berikan anggukan pelan.
“Tapi bukannya Gavien sama ad—”
__ADS_1