
“Morning…” sapa Anshell seraya mengecup kening Aretha.
Pria tampan dengan pakaian formal itu memeluk gadis kampung tersebut.
Gadis kampung dengan pakaian sederhana itu kini berstatus kekasihnya. Kekasih yang dibayar dengan mahal tentunya, karena bila Aretha berhasil membuatnya jatuh cinta. Anshell akan membalas dengan kesetiaan.
“Morning too,” balas Aretha diiringi senyuman.
Gadis kampung itu tidak menyangka kalau sang pujaan hatinya. Ah, lebih tepatnya sang pangeran hatinya akan menjemputnya.
“Ya, sudah kita berangkat. Hari ini aku juga ada bimbingan anak koas,” kata Anshell seraya membukakan pintu depan untuk Aretha masuk.
Aretha berdiri di depan pintu mobil sport Anshell.
“Jadi kamu tidak ke kantor hari ini?”
Anshell menggeleng. “Jadwal kantorku hari selasa dan kamis selebihnya aku ada di rumah sakit. Tapi, bila ada waktu senggang aku datang ke kantor.”
Aretha manggut-manggut paham, dia tahu kalau kekasihnya yang tampan itu bukan hanya seorang Ceo saja, tetapi dia seorang dokter.
Namun, hal itu membuat Aretha senang. Anshell memberitahukan jadwal pekerjaanya sekalipun Aretha tidak memintanya.
‘Semoga kamu bisa menerima aku, An,’ batin Aretha senang mendengarkan hal ini. Anshell mau memberitahukan kegiatannya, sedikitnya pria itu memberitahukan hal yang kecil bukan?
“Tapi aku akan menjemputmu setiap pulang kerja.” Aretha masuk ke dalam mobil Anshell sementara pria itu berjalan mengeliling mobil dan masuk ke dalam mobil hitamnya.
“Tidak usah. Kamu bukan ojekku juga. Aku bisa sendiri, jangan manjakan aku,” tolak Aretha.
Meski hari ini cukup aneh, dari Anshell sepagi ini sudah datang menjemputnya dan Pewaris Stone itu pun tidak membawa Gerry yang terbiasa menjadi supir Anshell.
Aretha meraih ponselnya yang bergetar, satu notifikasi pesan masuk dari Bebby.
[Ck! Alasan lo yang nyaman dengan jantung Mr Lonely sepertinya tidak masuk akal, Tha! Gue tahu, lo pasti tergila-gila kan sama anacondanya Mr Lonely kan?]
Aretha tertawa pelan, bisa-bisanya temannya itu berkata seperti itu.
[Lo mau coba kan rasanya anacondanya yang gemuk itu?] pesan Bebby, lagi.
Mulut Aretha membulat, bukan hanya membaca pesan terakhirnya. Tapi, Aretha terkejut dengan foto yang dikirimkan Bebby padanya.
Mendadak, otaknya traveling dengan kedua mata yang terfokus pada layar persegi yang retaknya itu. Anaconda yang nampak gemuk dan pajang membuat Aretha kesulitan walau hanya untuk menelan salivanya sendiri.
Sepagi ini Bebby sukses membuat otak Aretha sucinya ikut tercemar, sampai Aretha bergerutu kesal karena bagian bawahnya ikut berkedut karena membayangkan sesuatu yang gemuk itu.
Dulu, benda yang gemuk itulah pernah menusuk-nusuk untuk kedua kalinya sekalipun tidak pernah membuatnya mencicipi yang lebih.
Jemari Aretha mengetik dan membalas pesan pada Bebby.
[Aku dan Anshell sudah membahas masalah itu. Tidak ada making love bila hati dia belum ada cinta padaku dan dia belum menyatakan cinta padaku. Jadi, jangan berpikiran yang tidak-tidak Beb] balas Aretha.
“Kenapa wajahmu memerah seperti itu hmm?” sejak tadi dia memperhatikan wajah kekasih barunya yang bersemu merah.
Aretha lekas menatap wajahnya di depan cermin, benar saja wajah kampungnya itu terlihat memerah.
‘Sial. Ini gara-gara si Bebby,’ batin Aretha diiringi senyuman pada Anshell.
“Hmm. Tidak ada. Aku sedang bertukar pesan dengan Bebby.”
“Oh,” jawab Anshell pendek.
Pria jangkung itu memiringkan tubuhnya dan bergerak lebih dekat lagi. Gerakan Anshell yang spontan membuat tubuh Aretha tegang apalagi wajah pangeran nya begitu dekat bahkan bisa dihitung hanya beberapa senti saja.
“Kenapa hmm?”
Anshell hanya memasangkan **** bell agar gadis kampung itu aman dan selamat sampai kantor. Tetapi, Aretha malah mendadak salah tingkah.
“Kamu lagi mikirin apa?”
__ADS_1
Aretha berikan gelengan dengan degupan jantung yang menggila. Jantung Aretha berdetak lebih kencang.
Anshell semakin penasaran akan apa yang dipikirkan kekasihnya itu, anak matanya melirik sekilas ke bawah pada ponselnya. Melihat sesuatu di chat yang belum ditutup itu, Anshell tertawa pelan.
‘Ini dasar racun nya si Bebby dan bodohnya bisa-bisanya aku membayangkan anacondanya Anshell,’ gerutu Aretha dalam hati.
“Kamu membayangkan apa hmm?”
“Tidak ada!”
“Jangan bohong Aretha.”
Aretha menggeleng cepat sementara Anshell mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung keduanya saling beradu.
Hembusan nafas Anshell di wajahnya membuat tubuh Aretha semakin menegang, apa lagi aroma mint yang keluar dari mulut Anshell membuat Aretha semakin tidak berdaya. Aretha tidak bisa memendam hasratnya.
Aretha tanpa sadar memejamkan kedua matanya. Melihat Aretha, Anshell terkekeh.
Dia tahu akan apa yang dipikirkan gadis kampung itu. Satu tangannya menyentuh paha Aretha. Gadis kampung yang tak modis itu mengenakan rok span selutut.
Hanya tangan kekar itu berada di pahanya, nafas Aretha mendadak tercekat, apalagi ketika tangan nakal itu bergerak pelan hingga jarinya yang lentik itu sudah berada di segitiganya.
“An…” panggil Aretha pelan. Gadis sontak membuka kedua matanya menatap Anshell yang terkekeh.
“Apa kamu membayangkan ini hmm?”
“Hah?”
Anshell mendengus. Kata itu lagi yang dia dengar. Anshell tidak suka.
“Bisakah kamu menghilangkan kata itu, Retha? Aku tidak suka!” pinta Anshell tanpa mengurangi gerakan jarinya yang menyusup masuk pada segitiga merah Aretha.
“Hmm… An…”
“Ya, sayang.”
“Kenapa hmm?” tanya Anshell.
Jarinya bermain di bulatan kecil, Anshell tersenyum melihat gadis kampung itu yang mulai bergerak gelisah.
“Hmm, bisakah kamu tidak seperti ini.”
Mulut Aretha membulat lebar bersamaan dengan kedua matanya. Satu tangan Aretha memegang tangan Anshell yang berada di lembahnya satu lagi meremas jok mobil.
“Aku suka.”
“Tapi aku tidak suka,” tolak Aretha.
“Ehmmps… An… please…”
Anshell tersenyum manis. “Bisakah perjanjian yang satu itu kita batalkan.”
Aretha memalingkan wajahnya untuk menatap Anshell. “Yang mana?”
“Making love.”
Aretha menggeleng tidak, dia tahu sikap manis Anshell ini karena pria itu sedang ingin melupakan Lalisa dengan artian dia hanya jadi pelampiasaan.
Dia tidak mau memberikan apapun pada pria yang belum jelas cinta atau tidak padanya.
“Tidak, An! Aku tidak mau, enak saja. Aku tidak mau kamu meneguk madunya di saat hati kamu masih ada wanita sepuluh tahun mu itu,” omel Aretha.
“Lepaskan, kita sudah si—"
“Empss… An…” ucap Aretha, pelan.
“Mungkin aku akan jatuh cinta padamu dengan cepat bila kamu memberikan yang satu ini,” bujuk Anshell.
__ADS_1
Sungguh, adiknya sudah meronta ingin kembali mencicipi manisnya madu Alanna di mana malam panas waktu dulu dia pernah gagal.
Ah, andaikan waktu bisa diputar. Anshell tidak akan melepaskan hal yang satu itu.
“Kamu cinta atau cuman nafsu saja, hmm? Kalau cuman nafsu lebih baik kamu pergi minta sama Lalisa saja!” omel Aretha.
Anshell mendengus pelan, seperti inilah kalau sudah akur dengan Aretha. Mereka akan seperti kucing dan tikus bila keinginan keduanya bertetantang.
Tetapi, bila keduanya sudah amnesia mereka bak Romeo and Juliet sangat romantis sekali bak dunia milik mereka berdua.
“Sudah siang, please… lepaskan…” mohon Aretha.
Anshell menggeleng tidak, dia ingin tahu bagaimana wanita itu merasakan puncaknya.
“Kamu sudah basah, sayang. Izinkan aku, cuma sebentar saja. Aku tahu bagaimana cara agar keperawanan tidak jebol olehku.”
Aretha terkekeh lalu menarik tangan Anshell. “Dasar dokter messsum. Sudah lepaskan dan jalan. Aku tidak mau terlambat gara-gara ini.”
“Sebentar saja, sayang.”
“No!”
“Sayang…”
Aretha merapikan rok hitamnya lalu menatap Anshell.
“Sebaiknya aku naik angkot saja, An. Aku nggak mau kesiangan. Kamu langsung ke kantor saja, oke.”
Aretha membuka pintu mobil Anshell, namun sayang. Pria itu tak mengizinkannya, Anshell tetap akan mengantarkannya sekalipun dirinya tersiksa dengan adiknya yang sudah bangun dengan gagahnya.
“Terima kasih kamu sudah mengantarkanku, An.”
“Hmm,” jawab Anshell singkat. Dia masih kesal karena Aretha tidak mengizinkannya.
“Kamu marah sama aku?” tanyanya.
“Tidak. Aku hanya sedikit kesal. Kamu tidak mau melepaskan adikku yang sudah memberontak ini.
"Padahal masih ada jalan agar keperawanan masih terjaga kok. Nggak di masuki juga,” rengek Anshell, lagi. Bibirnya mengerucut membuat Aretha gemas.
Aretha suka melihat Anshell seperti ini, merengek seperti anak kecil membuat Aretha merasa Mr Lonely kembali.
“Ya, udah sini aku bantu biar kamu lega.”
Bola mata Anshell langsung mendelik menatap Aretha. Buru-buru Anshell menarik lengan Aretha untuk mengusap adiknya.
“Pindah ke belakang, yuk.”
“Ngapain?”
“Katanya mau bantu melepaskan yang satu ini biar lega,” kata Anshell menunjukkan bagian bawahnya.
“Astaga. Kan bisa di sini pake cara lain nggak harus di belakang juga kan?”
“Hah?” seru Anshell ikut tertular juga pada akhirnya. Padahal dia tidak suka dengan kata itu dan kini dia sendiri ikut mengatakannya.
“Senam tangan kan bisa sama senam mulut?”
Mata Anshell mendelik, padahal pikirannya sudah jauh dan sudah kemana-mana. Anshell sudah tidak sabar ingin mencicipi hal baru, tetapi ini…
“Jadi nggak nih. Keburu telat?”
Anshell menghembuskan napas pelan, dia pandangi Aretha dengan tatapan kesal. Hanya gadis kampung itulah yang membuat moodnya selalu up and down dan sialnya, Anshell suka melakukan hal baru dengan Aretha daripada dengan Lalisa… Hidupnya selalu monoton seperti itu saja.
‘Salah sendiri mau jadi buaya, kan aku kadalin juga,’ batin Aretha seraya menahan tawa melihat ekspresi wajah Anshell yang terlihat tidak setuju.
“Cepat buka celanamu!”
__ADS_1
“Hah?”