CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Jangan Permainkanku!


__ADS_3

“Apa kamu mau aku hangatkan tubuhmu?”


Bola mata Aretha membulat lebar seiring menatap wajah tampan yang begitu dekat.


Bulu mata lentik Aretha mengerjapkan lambat seiring hembusan nafas keduanya terasa. Tubuhnya menengang, Aretha dan Anshell saling bersitatap.


“Kamu sudah menjadi istriku, nggak salahnya aku menyentuhmu, mengusapmu seperti bahkan meminta hakku, Aretha Putri Maharanie,” bisik Anshell secara senssual.


Sepasang bulu mata lentik itu kembali mengedip lambat.


“An—ak—”


“Sssttt….” Anshell kembali berbisik lembut di telinga Aretha seraya dua tangannya bergerak aktif membuka paksa kemeja Aretha.


“An—”


“Hm,” jawab Anshell dengan deheman seraya menoleh pada sang istri.


“Kenapa kamu begitu tegang?”


Hh—pria itu begitu pandai membuat hati Aretha up an down.


 “Aku hanya ingin memberikan minyak hangat kembali pada tubuhmu agar kamu tidak kedinginan,” kata Anshell pelan.


Bohong sekali kalau Anshell tidak menginginkan istrinya berada di bawah kuasanya. Tapi, mengingat Aretha yang kurang sehat dan wajah yang pucat mendadak Anshell tidak tega.


Hm—tidak tega?


Bukannya tujuan Anshell ingin menyiksa Aretha sebagai wujud balas dendamnya atas kejahatan kedua orang tuanya pada keluarganya?


Tetapi, kenapa mendadak dia so baik seperti ini?


Dia seolah luluh begitu saja dengan apa yang di derita gadis kampung itu, seolah mengabaikan bagaimana dendamnya yang membara ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana kakenya merenggang nyawa dan juga sang adik yang meninggal karena tenggalam.


Semau kesakitan itu di saksikan secara langsung olehnya sendiri. Belum lagi Anshell kecil harus mengalami hal-hal yang menakutkan. Sang ibu hampir saja di bunuh oleh Ibunya Aretha ketika wanita itu tidak ingin kehilangan Aaron Damarion Stone.


Dan bagaimana sedihnya ketika mendengarkan kabar kalau Ayah Aretha membunuh Aaron Stone dengan bom di dalam mobilnya karena kalah tander besar.


Masa lalu yang sangat menyakitkan untukknya dan kini begitu saja pria itu luluh.


“Aku bisa sendiri,” jawab Aretha seraya menahan kedua tangan Anshell yang mulai mengusap perutnya.


Nafasnya mendadak tercekat, seraya kedua mata mereka saling memandang. Tangan Anshell dengan lembutnya membalurkan minyak hangat itu kembali di perut dan juga punggungnya.


Anshell tersenyum tipis dan kembali berbisik di telinga istrinya.


“Izinkan aku merawatmu agar kamu lekas sembuh?”


Bola mata Aretha kembali mendelik, benar-benar dia dibuat terkejut dengan sikap Anshell yang aneh.


“Tapi, An—”


“Ssst… aku tidak suka ditolak dan kamu pun tahu, maka diam dan tidak banyak protes,” katanya.


Anshell bangun dari duduknya di tepi tempat tidur, pria itu berjongkok dan memberikan kedua telapak kaki Aretha minyak hangat sebelum pria itu memakaikan kaos kaki miliknya untuk Aretha.


Tentu sikap Anshell yang baik ini semakin membuat Aretha bingung, Anshell benar-benar membuat hatinya ketar ketir dan menangis bersamaan.


Perlakuan Anshell yang lembut membuat Aretha ikut terhanyut sekalipun sinyal otaknya memberikan respon waspada.


Anshell menggendong Aretha dan membawanya ke atas tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya bersama-sama di satu selimut yang sama.


Sesak. Rasanya Aretha sesak nafas ketika tubuhnya dipeluk hangat oleh sang suami.


Ketika Aretha memejamkan kedua mata, hatinya berkata mengucap sebuah harapan, kalau semua ini bukanlah mimpi.

__ADS_1


Bila dia boleh jujur, Aretha ingin sang pengeran yang dicintainya ini kembali seperti Anshell yang pernah dia kenal.


“An—” ucap Aretha pelan.


Anshell yang sejak tadi memejamkan kedua mata pun mendengar.


Pria itu berkata, “Jangan pernah melepaskan pelukanku, Retha,” bisik Anshell tepat di telinga Aretha.


Lengan kekar itu memeluknya begitu erat, seolah takut terlepas dan itu membuat sebening embun pun jatuh di pelupuk matanya.


Bibir Aretha bergetar, ketika kehangatan pria itu kembali menyapanya walau hanya sesaat.


“Tolong jangan permainkanku. Jangan sakiti aku lagi karena aku tidak sekuat yang kamu kira.”


Aretha menarik nafas dalam-dalam seraya menghapus air mata yang berjatuhan di pipinya.


“Bila boleh aku meminta padamu, jangan hancurkan hatiku karena bila hatiku terluka, entah apa bisa aku memaafkanmu,” kata Aretha pelan.


Anshell menarik napas panjang, dia tidak langsung menjawab perkataan Aretha melainkan membawa gadis itu lebih dekat lagi hingga tidak ada jarak yang memisahkan keduanya.


Anshell mengusap rambut Aretha cukup lama seiring hembusan nafas hangat yang kembali terasa.


Beberapa detik kemudian, Anshell berkata, “Maafkan aku, Re…” lirih Anshell seraya keduanya sama-sama memejamkan kedua matanya terlelap memeluk Aretha.


Di seberang sana, seorang pria tampan berlarian kecil menghampiri pintu lift yang hampir saja tertutup bila dia tidak lekas menjulurkan sebelah tangannya untuk menghadang.


Pria itu masuk ke dalam lift dengan wajah yang berseri senang sembari memegang satu buket mawar pink dan satu paper bag berwarna orange.


‘Aku datang sayang,’ batinnya yang diiringi senyuman.


Tak lama dentingan suara lift pun terdengar, pria itu pun keluar dari dalam lift tersebut seraya menghampiri apartemen bernumber 2501.


‘Kayaknya nggak usah bersuara deh, jadi nggak surprise kan kalau dia tahu aku datang,’ ujarnya seraya mengayunkan langkah nya mencari sang pujaan hati.


‘Astaga tubuhnya membuatku semakin merindu,’ ucapnya.


Pria yang tak lain Jordan berjalan mengindap-indap dengan perlahan setelah menyimpan buket mawar pink tersebut dan langsung memeluk wanitanya dari arah belakang. Sontak wanita itu terkejut dan menoleh ke samping dengan ekspresi marah.


“Astaga, kamu ya—”


“Hehehe… kenapa syok gitu sih, hmm?” bisik Jordan seraya berikan kecupan di rambut panjang wanitanya.


“Gimana nggak syok kamu datang tiba-tiba ke sini, katanya tadi lagi di kantor,” omel si wanita seraya merapikan pakaiannya.


Jordan membalikan tubuh si wanita dan memeluknya erat setelah mengecup bibir candunya.


“Aku merindukanmu makanya aku datang ke sini sayang.”


Sang kekasih pun tersenyum seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Jordan.


Senyuman cantik sang kekasih membuat Jordan ingin kembali menyesap bibir manisnya.


“Aku juga merindukanmu, Jo.”


Digendongnya tubuh wanita yang kini terlihat berisi itu lalu mendudukannya di sofa tepat diatas pangkuannya.


“Apa kamu sudah memberikan hadiah kepada Aretha?”


“Sure. Aku sudah memberikannya tepatnya di kamar hotel tempat biasa Anshell tempati,” katanya seraya tangan nakal itu meremas panttat sang kekasih.


Wanita cantik itu menatap Jordan sejenak. “Mungkin mereka sudah sampai dan membuka beberapa hadiah yang kita berikan di sana,” sambungnya lagi.


“Kenapa hmm?”


“Aku takut Aretha kenapa-napa oleh sahabatmu. Aku tidak mau wanita itu terluka lagi, sudah cukup penderitaan yang dialami selama ini.”

__ADS_1


 Dia menarik napas sejenak tanpa melepaskan pandangannya pada Jordan.


“Terlebih lagi aku tidak percaya kalau kedua orang tua Aretha membunuh dan merusak kebahagiaan keluarga Anshell, entah kenapa aku yakin mereka itu orang baik-baik dan tidak mungkin berbuat jahat,” ucapnya seraya mengusap rahang kokoh si pria.


Jordan pun menarik nafas pelan. “Tidak usah kamu pikirkan karena aku akan meminta Ken untuk menyelidiki lebih lanjut lagi.


“Pria itu bisa diandalkan makanya aku merekomendasikan dia untuk selalu berada di mana keduanya pergi.


“Aku meminta Ken untuk mengawasi Aretha, apa kamu puas?” tanya Jordan seraya menarik dagu sang kekasih untuk dikecup.


Wanita itu menggeleng pelan, dia tidak puas dan hatinya masih saja ketakutan bila Aretha bersama dengan Anshell.


“Apa Aretha akan aman dengan Anshell?” tanyanya lagi.


“Meski pria itu jelmaan iblis tapi aku yakin dia tidak akan melukai istrinya sendiri.”


“Oh, ya seyakin itu kamu kalau sahabatmu itu tidak akan melukai Aretha?”


Jordan berikan anggukan pelan. “Aku bisa melihat kalau Anshell itu bisa luluh oleh gadis kampung dan sekuat Aretha.”


Jordan membuang nafas beratnya ketika mengingat satu orang yang selalu mampu mengusik pikiran sahabatnya.


“Aku bisa melihat ada cinta diantara kedua orang itu, begitu juga Anshell aku tahu sedikitnya hatinya ada gadis kampung itu. Tapi—”


Jordan menatap sang kekasih sejenak. “Dia selalu kalah oleh Lalisa si wanita licik itu.”


“Ah. Itu pasti karena wanita licik seperti Lalisa itu cocoknya dengan sahabatmu yang sama menjengkelkannya.”


“Hussh. Jangan bicara seperti itu.” Jordan mengusap perut sang kekasih.


“Tidak baik berbicara buruk. Jangan sampai calon anakku jadi mirip Anshell atau Lalisa lho, aku nggak ikhlas,” ujarnya dengan kekehan.


“Haish, tidak mungkin lah kalau itu.”


“Maka doakan lah yang terbaik untuk Aretha, semoga honeymoon mereka berhasil dan rumah tangga mereka akan langgeng.”


“Amin. Itu selalu, aku akan selalu mendoakan gadis malang itu. Oh, ya.


“Apa kamu nggak sekalian mencari tahu kenapa si Lalisa itu sampai sekuat itu mempengaruhi Anshell pasti ada sebabnya bukan kenapa Anshell kayak orang bodoh yang mau di sakiti oleh wanita?”


“Tenang, sayang. Aku sudah meminta orang untuk menyelidikinya.”


Wanita cantik itu memeluk senang sekaligus bahagia.


 “Terima kasih banyak, tolong jaga Aretha. Bila dia terluka lagi, bawalah dia padaku aku akan pergi jauh dengan Aretha.”


“Haish, apa kamu pun akan membawa pergi calon anakku hmm?”


“Ya, kalau kamu tidak bisa melindungi gadis malang itu.”


Jordan mendengus pelan, ia pun membawa sang kekasih ke dalam dekapannya.


“Jangan berkata seperti itu, tidak kamu meminta pun aku akan menjaganya dari apapun. Jadi, tolong tarik lagi kata-katamu itu.”


“Aku dan Toby pasti akan menjaga Aretha. Aku akan menghubungi Aretha bagaimana? Apa kamu setuju?”


Wanita itu mengangguk cepat. “Tapi, jangan kasih tahu kalau aku bersamamu. Dia pasti akan mencariku untuk menanyakan hal ini.”


Jordan mengangguk, dia pun paham dengan hal itu.


“Ya, sudah aku akan memastikan Aretha lebih dulu dan kamu duduk manis mendengarkan aku video call dengan Aretha.”


“Oke…”


__ADS_1


__ADS_2