
“Loh, Tha. Tumben kamu telat, biasanya juga kamu paling awal?”
Melanie melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul delapan lewat dua puluh menit. Aretha terlambat dua puluh menit dari jam masuknya.
Gadis kampung itu tunjukan gigi putihnya yang tersusun rapi pada Melanie.
“Hehehe… anu, Bu. Jalanan macet,” jawab Aretha dusta.
Semua keterlambatan ini karena ulah Anshell yang terlalu lama mengeluarkan pasukannya sehingga dia terlambat masuk kantor.
Aretha menghempaskan pantatnya di kursi kerjanya dan bersiap untuk bekerja.
Tak lama Melanie datang menghampiri Aretah dan memberikan dua dokumen penting.
“Tolong ini di pelajari dulu. Nona Xandra tidak masuk, beliau masih berduka atas meninggalnya sahabatnya.”
Aretha manggut-manggut, tahu. “Lalu ini?”
“Kita akan mewakili Nona Xandra untuk bertemu dengan klien. Logan Grup jam sebelas siang. Ini proyek besar, Tha,” kata Melanie sedikit menjelaskan.
“Nona Xandra sudah lama ingin mendapatkan proyek besar Logan Grup, tetapi selalu gagal padahal konsep yang kita buat itu sudah bagus dan Ceo Logan itu setuju. Tetapi, sama sekali belum ada kejelasan sampai sekarang ini,” sambung Melanie.
Aretha menggaruk lehernya yang tidak gatal itu, sekelas bosnya saja bisa gagal untuk mendapatkan kerja sama besar itu apa lagi bila hanya dia dan Melanie yang datang?
“Sekarang, kamu yang akan maju untuk kembali menjelasakan dan menyakinkan Tuan Hadinata.
"Semua ini harus kamu pelajar dan ini tugas penting yang harus kamu lakukan sebagai sekretaris bila atasan tidak masuk dan ada urusan penting, kamu paham?”
“Hah? Kok, saya, Bu?”
“Tidak salahnya kamu yang akan maju lebih dulu nanti saya bagian yang menambahkan, barangkali saja Pak Handinata setuju. Kamu pahamkan, Aretha dengan pembicaraan kita ini?”
Aretha manggut-manggut, paham. “Astaga, yang benar saja aku suruh maju? Sekelas Nona Xandra saja gagal, apalagi aku?” gerutu Aretha dalam hati.
Kedua mata Aretha pandangi document tersebut, lelah bergerutu dalam hati Aretha pun lebih baik mencoba dan mulai mempelajarinya dengan waktu yang singkat.
Di sinilah Aretha dan Melanie berada, keduanya kini berada di gedung yang menjulang tinggi perkantoran Logan Grup.
Kedua wanita itu masuk ke dalam ruangan Ceo, hal yang pertama Aretha menangkap, seorang pria yang tengah bermain golf di dalam ruangan kerjanya yang luas tersebut.
“Tuan, orang XS sudah tiba.”
“Saya tahu, suruh orang itu menjelaskan secara rinci tentang kerjasama kita sekaligus proyek besar yang akan Logan berikan pada XS-Empire.
Aretha menatap Melanie sejenak. Dia berpikir sejenak, apa mereka tidak mengizinkannya untuk duduk untuk membicarakan masalah ini.
Aretha mendengus pelan, ketika sekretaris seksi dan cantik itu langsung meminta untuk menjelaskan dengan cara berdiri, sungguh tidak sopan dan membuat Aretha kesal.
Belum lagi, Tuan Hadinata yang di gadang-gadang adalah pemilik itu sama sekali tidak punya wibawa karena pria itu masih asyik dengan permainan golf tanpa melihat dirinya dan cukup mendengarkannya apa yang Aretha jelaskan.
“Cukup. Saya paham dengan bagian itu.”
“Hah?” jawab Aretha pelan seraya menatap Melanie yang sama-sama melihatnya.
Baru pertama ini bagi Melanie diperlakukan tidak layak oleh kliennya sendiri.
“Baiklah saya setuju dengan kerja sama ini,” kata si pria seraya membalikan badannya.
Aretha tersentak ketiak siapa yang kini berada di depannya. Melihat wajah tampan itu yang tidak asing membuat dia tidak aneh lagi.
__ADS_1
Pria itu sama-sama menyebelakan dan kenapa Aretha kembali dipertemukan dengan pria berlesung pipi itu yang kini berjalan mendekatinya.
Terakhir Aretha bertemu dengan pria itu di rumah duka dan itu pun keduanya tidak sempat berbicara karena keburu Aretha pergi dengan Gerry.
“Jadi kamu bekerja di XS?” Darren menatap sejenak wajah gadis polos itu.
Pria itu tidak menyangka kalau dia akan dipertemukan lagi dengan Aretha di kantornya sendiri.
“Maaf, Tuan. Apa anda setuju dengan kerjasama ini?” tanya Aretha bukan menjawab namun gadis itu memilih pada urusan pekerjaan.
Aretha tidak enak dengan Melanie yang sejak tadi menatapnya.
Pria yang tidak lain Darren Hadinata pun berikan senyuman tipis.
“Saya itu bertanya padamu, Aretha.”
“Oh, silahkan duduk,” ucap Darren mempersilahkan kedua wanita itu untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.
Dua wanita itu berseru lega, begitu juga sekretaris cantik yang berdiri di samping Aretha ikut lega juga.
“Tolong buatkan saya minum, Tari,” ucap Darren yang langsung dianggukan oleh Tari sang sekretaris.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Aretha bersamaan dengan Melanie pun turut duduk dan berhadapan langsung dengan pemilik Ceo Logan Grup.
Seingat, Aretha pria itu bukan Tuan Hadinata melainkan Darren salah satu dari keenam pria yang dulu ada di party Mr Lukman.
“Apa kamu sudah lama bekerja di XS?”
“Mau dua bulan, Tuan.”
Aretha menyerahkan satu document perjanjian kerjasama tepat di depan pria yang duduk dengan angkuh tersebut.
Melanie cukup diam meski banyak sekali yang ingin ditanyakan pada Aretha.
“Maaf, Tuan. Saya masih belum jelas di sini. Apa anda setuju?”
Darren diam sejenak lalu menatap Aretha. “Saya setuju.”
“Alhamdulillah,” ucap Aretha berseru senang dengan Melanie.
Kedua wanita itu tersenyum bahagia karena berhasil mendapatkan proyek dari Logan Grup.
“Tapi ada syaratnya, Aretha.” Senyuman Aretah langsung lenyap, kedua matanya pandangi pria tampan di depannya itu.
“Syarat? Apa, Tuan?”
“Syaratnya kamu harus mau makan siang denganku sebagai tanda kerjasama ini saya setuju, bagaimana?” tanya Darren dangan semangat.
Melanie tersenyum lebar, selain dia senang karena kerjasama dengan Logan Grup telah disetujui, dia pun senang ternyata sikap menyebalkan tadi itu ternyata pria muda itu baik hati.
Apa lagi dengan mudahnya pria itu langsung menyetujui kerja sama ini dalam waktu beberapa menit saja.
Darren menatap sejenak wanita bertubuh gempal yang duduk di samping Aretha. “Tetapi, saya hanya ingin makan siang berdua denganmu. Bagaimana?”
Bola mata Aretha dan Melanie membulat, kedua wanita itu mendelik dengan saling bersitatap.
Aretha menatap Melanie bak keduanya berkomunikasi lewat mata. Melanie berikan kedipan mata tanda wanita itu tidak apa-apa tidak diajak untuk makan siang bersama, yang terpenting bagi Melanie adalah Logan Grup setuju, itu saja sudah cukup.
“Terima kasih Tuan Hadinata dengan kerja sama ini, semoga proyek kita berjalan dengan lancar.”
__ADS_1
“Ya, semoga lancar tanpa hambatan,” ucap Darren berjabat tangan dengan Melanie.
Aretha menarik napas sejenak. “Maafkan saya, Bu…”
“Hussh, sudahlah. Aretha. Saya tidak apa-apa, yang terpenting sekarang kan kerja sama ini sudah berhasil kita dapatkan. Nona Xandra pasti senang mendengarkan kabar baik ini.
"Ya, sudah saya akan kembali ke kantor dan akan memberikan tugas ini pada tim yang sudah ditunjuk,” kata Melanie yang dianggukan Aretha pelan.
Aretha tidak enak hati pada Melanie yang kini pulang lebih dulu ke kantor sedangkan dia makan siang di restoran mahal bersama dengan Darren.
“Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih. Terima kasih Tuan sudah menyetujui kerjasama ini.”
Darren tersenyum tipis, seraya mengiris potongan daging bebek bakar menu makan siangnya.
“Jangan panggil Tuan. Saya masih muda, panggil saja Darren kamu mengenalku bukan?”
Aretha manggut pelan. “Ya.”
Darren berikan senyuman pada Aretha. Tidak hanya Aretha yang senang karena kerjasama ini sudah disetujui, tetapi dia pun senang karena sudah lama ini Darren mencari keberadaan gadis polos di depannya ini.
“Saya kira, tidak akan bertemu lagi denganmu, Aretha.”
Aretha menaikan pandangannya lalu menatap pria muda yang selalu tersenyum.
“Selama ini saya sudah mencarimu kemana-mana setelah acara pesta itu, bahkan saya sudah pergi ke apartemen Anshell.”
Kening Aretha semakin mengeryit. ‘Untuk apa Darren datang ke apartemen, Anshell?’
“Maaf, untuk apa anda mencari saya?”
“Tentu masih ada sesuatu yang belum selesai bukan? Setelah dengan Anshell bukannya seharusnya giliran saya?”
“Hah?”
Darren tersenyum lagi kedua matanya menatap betah pada wajah cantik Aretha yang nampak tegang, bahkan gadis itu terlihat memundurkan tubuhnya.
“Saya bercanda, Aretha. Nggak usah tegang itu.”
“Anda tidak serius dengan perkataan tadi kan?”
Darren menghembuskan napas sejenak. “Maumu, bagaimana Aretha?”
Darren menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Jujur, setelah bertemu denganmu aku memang menginginkanmu. Aku ingin kamu berada di ranjangku.
"Akupun ingin kamu jadi milikku seorang dan tidak dimiliki oleh siapapun sekalipun Anshel sudah berucap demikian kalau kamu adalah miliknya, di saat itu.”
Aretha diam, dia mencoba mengingat kejadian beberapa bulan ke belakang. Dulu, Anshell memang mengencam dirinya sebagai miliknya.
Milik yang hanya untuk menjadi pelampiasan, begitu juga sekarang. Pria itu akan datang di saat tengah patah hati dengan Lalisa, dengan sikap yang manis.
“Apa kamu sekarang sendiri, Aretha?”
“Hmm?”
Darren meraih tangan Aretha lalu menggenggamnya.
“Bila kamu masih sendiri. Bolehkah aku memintamu menjadi kekasihku?”
__ADS_1