CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Aku Baik-Baik Saja!


__ADS_3

“Kamu baru pulang, Nak.”


“Mom…” kata Anshell seraya berjalan cepat. Dipeluknya mommy tercinta dan kecupan di pipinya.


“Kamu baru pulang dari pesta pertunangan Lalisa?” tanya Andita seraya menatap sang putra yang diiringi senyuman.


Terlihat kalau putranya nampak berbeda, Anshell terlihat tidak sedih atau patah hati yang bisa Andita lihat saat ini.


“Aku baru pulang dari rumah sakit, tadi ada operasi. Anshell merangkul Andita dan mengajaknya untuk berbicara sejenak di ruang keluarga.


“Terus, kamu nggak ke acara Lalisa?”


Andita penasaran, apa putranya datang ke pesta tersebut atau tidak.


“Aku datang kok. Kenapa, penasaran begitu hmm?”


Andita menarik napas sejenak. “Kamu baik-baik saja melihat wanita itu bertunangan dengan pria lain?”


Anshell menyandarkan punggungnya lalu menarik napas sejenak, melihat Lalisa bertunangan dengan pria lain bukan dengan dirinya yang sudah sepuluh tahun ini mencintainya dengan tulus, tentunya dia tidak baik-baik saja. Sakit hati, itu pasti.


Tapi, sekali lagi. Apa dia harus menangisi keputusan Lalisa yang memilih Gavien dari pada dirinya?


Tentu jawabanya tidak. Dia sudah berjanji pada Aretha tidak akan pernah menangisi wanita sekalipun itu rasanya sakit.


Gadis kampung itu benar, tidak seharusnya dia lemah karena cinta. Mungkin memang belum jodohnya, harus bagaimana lagi.


Anshell menggenggam tangan Andita lalu mengecup punggung tangan wanita paling dicintainya.


Seseorang yang baru saja menuruni anak tangga pun mendengus pelan, pria itu berjalan menghampiri ibu dan anak yang tengah berbicara.


“Aku baik-baik saja. Mungkin Gavien yang terbaik untuk Lalisa, bukan Anshell Mom.”


“Sekarang katakana pada Anshell, apa Mommy waktu itu bertemu dengan Lalisa dan mengatakan kalau Lalisa suruh mundur karena Mommy mau menjodohkan aku dengan wanita lain?”


Andita mengangguk pelan. “Mommy menanyakan Lalisa apa siap untuk menjadi istri kamu, berkomitmen.


“Kalau Lalisa belum siap ya minimal kalian bertunangan.


“Tapi jawabannya dia belum siap, Mommy tanya lagi kapan siapnya, sampai setahun ke depan pun dia belum siap walau hanya bertunangan denganmu.


“Jadi Mommy memutuskan untuk Lalisa mundur karena Mommy akan menjodohkanmu, dan dia dengan cepat bersedia dan kini malah bertunangan dengan pria lain,” ungkap Andita panjang lebar.


“Dia tidak serius dan Mommy sudah lelah menunggu kalian untuk bersama.


“Lalisa tidak mencintaimu karena Mommy lihat Lalisa tidak ada pegerakan sama sekali ingin menikah denganmu.”


Itu benar, sudah sekian kalinya dia melamar Lalisa namun ditolak dan kini wanita itu akhirnya bertunangan dengan pria yang dicintainya.


“Lalu siapa wanita yang ingin Mommy jodohkan padaku?”


“Apa kamu mau dengannya?”


“Sudah ada calon rupanya,” jawab Anshell dengan senyuman.


“Apa kamu akan setuju dengan pilihan, Mommy?”


Anshell menggendikan bahu tidak tahu. Dia belum tahu siapa wanita yang akan dijodohkan dengannya.


Bila itu pun terjadi, dia akan menolaknya.


Anshell merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Andita sebagai bantalnya.


“Apa aku boleh menolak, Mom? Karena aku nggak suka perjodohan.”


Andita mengusap lembut rambut putranya, dia suka kalau berbicara dari hati ke hati dengan putranya.


“Kamu belum tahu siapa wanita yang akan Mommy jodohkan untukmu, Shell.”

__ADS_1


“Siapa pun itu, aku nggak mau, Mom.”


Andita menghembuskan napas pelan.


 “Mommy akan memaksamu sekalipun nanti kamu nggak mau.


“Kenal lah lebih dulu karena Mommy yakin kalau dia wanita baik dan bisa menyayangi kamu dengan tulus.”


“Lalu siapa sebenarnya calon istri Anshell, Mom?” tanya Anshell penasaran.


Bolehkah dia tahu, barangkali saja dia kenal.


“Bisakah kalian tidak seperti ini?”


Aaron marah. Pria senja itu berdiri di tengah sofa panjang dengan kedua tangan bersedekap.


Sekalipun pria itu adalah putranya, tetap saja Aaron cemburu melihat istri tercintanya begitu mesra pada putranya sendiri.


Mana lagi putra bangkotannya itu rebahan di atas paha sang istri.


“Ya ampun Dad, sama anak sendiri cemburuan banget sih.”


“Ya, harus.”


Aaron menariknya lengan Anshell untuk bangun, Andita yang melihat kedua pria itu pun hanya terkekeh.


“Daddy nggak suka kamu manja-manjaan sama Mommy. Kamu sudah bangkotan bukan balita lagi.”


Anshell menjulurkan lidahnya, kesal. Dia pun bangun dan berpindah duduk.


“Bangkotan juga anak Daddy.”


“Makanya cari istri sana, biar kamu bisa manja-manjaan sama istrimu sendiri nggak sama istri Daddy.”


“Sudah-sudah, kalian itu kalau ketemu pasti berantem. Oh ya, Nak. Adikmu mana.


Semenjak kepergian Crystal sang putri mendadak diam dan diamnya ini membuatnya tidak tenang.


“Jemput juga nggak.”


“Loh bukannya Xandra ada di Singapore? Katanya masih ingin di sana.”


Aaron dan Andita saling pandang.


“Tidak ada. Xandra tidak ada di apartemennya sudah Daddy minta Jojo chek.”


“Emangnya nggak pulang ke sini, Nak?”


Andita mulai khawatir pada putrinya, kehilangan sahabat terbaiknya pasti putrinya sangat terpukul.


Tetapi, sudah seminggu berlalu masa ya Xandra masih betah menyendiri, itu bukan sikap putrinya seperti ini. Andita tahu karakter ketiga anak-anaknya.


“Nggak ada, Anshell pulang duluan kan dari acara pemakaman ke sini.


“Nggak ada Xandra pulang kok dia pun nggak masuk kerja selama seminggu kiran ikut Mommy.”


Aaron meraih ponselnya untuk menghubungi anak buahnya, ada tidak beres dengan putri kesayangannya itu.


Baru saja Aaron mendeal number Jojo, suara sapaan itu di depan sana membuat Aaron mengakhiri panggilannya.


“Malem, Mom… Dad… Ka…”


Xandra berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan juga Anshell yang berada di ruangan keluarga.


“Kamu dari mana saja, Xan?”


Andita bangun dari duduknya lalu memeluk putrinya.

__ADS_1


Xandra menghela napas pelan seraya mengurai pelukannya.


 “Aku ngadem dulu di hotel.”


Anshell mengernyit kening, pandangi sang adik.


“Hotel mana? Sama siapa?”


“Sendiri,” jawab Xandra ketus.


“Mom. Dad, aku izin ke kamar ya.”


“Kamu sudah makan belum, Nak?” tanya Andita, khawatir.


 Wajah Xandra begitu tirus dan terlihat tidak baik-baik saja.


“Aku sudah makan. Ayo, kita ke kamarku,” ajak Xandra yang membuat ketiga orang di depannya itu mendelik.


 Tapi berbeda dengan Anshell yang langsung terkesiap kaget.


Aretha dengan baju tidurnya berdiri dengan membawa beberapa kantong kresek di tangannya.


“Aretha…” Andita berjalan mendekat lalu memeluk sekretaris putrinya.


“Kamu sama Aretha pulangnya?”


Xandra berikan anggukan pelan.


“Ya. Aku ngajak Aretha nginep di rumah, Mom.”


Bola mata Anshell membulat lebar pandangi gadis kampung yang menundukan kepalanya.


“Kenapa kamu terkejut begitu, Ka?” tanya Xandra pandangi Anshell yang sejak tadi tidak henti melihat Aretha.


Anshell berdehem pelan, untuk menetralkan degupan jantung yang berdetak cepat.


 “Nggak ada. Kenapa kamu bawa gadis kampung untuk menginap?”


Aretha menaikan pandangannya, kekasihnya itu memanggilnya dengan panggilan gadis kampung.


“Suka-suka aku, Ka. Ayo, Aretha.”


Xandra mengapit tangan Aretha dimana kedua tangan gadis itu penuh dengan makanan.


“Kamu mau mukbang di atas sama Aretha, Nak?”


Xandra berikan anggukan pelan. Andita tersenyum manis pandangi gadis di depannya.


 “Ya, sudah nanti Mommy minta pelayan untuk membawakan piring dan juga minuman.”


“Oke, Mom. Ayo, kita naik ke kamarku. Hari ini kamu tidur denganku, Aretha!”


“Apah?” itu bukan Aretha yang berseru karena terkejut, tetapi Anshell.


Sejak kapan adiknya dekat dengan Aretha?


“Permisi, Tuan,” ucap Aretha seraya melewati Anshell dan berlalu pergi bersama dengan Xandra menuju lift.


“Ya, sudah Mom, Dad. Anshell mau mandi bau rumah sakit,” pamit Anshell seraya menyusul kedua wanita tersebut.


Andita tersenyum senyum. Dia senang kalau putrinya kini akrab dengan Aretha.


"Mommy aneh nggak sih lihat Xandra?"


"Aneh gimana?" tanya Andita pandangi sejenak putrinya yang kini sudah berada di lantai tiga.


“Kamarku di sebelah, datanglah. Aku kangen, sayang….”

__ADS_1


__ADS_2