
Sejenak Aretha menarik nafasnya, memberikan oksigen pada paru-parunya agar otaknya mampu berpikir dengan logis tanpa mengumbar nafsu amarah yang memuncak di hatinya.
Diam tanpa kata dan juga tak memutuskan pandanganya pada si pemilik manik sapphire yang baru saja menuai luka di hatinya.
Aretha dengan biasa menyeting wajahnya diiringi senyuman tipis dengan tatapan penuh makna.
Padahal, wanita itu baru saja menangis sejadi-jadinya yang direndam keras dan cukup di dalam hatinya saja akan rasa sakit yang mampu membakar habis hatinya.
‘Tanpa kamu minta pun, aku memang berniat pergi darimu. Jadi jangan khawatirkan hal itu,’ batin Aretha.
Seolah cukup memandang lelaki itu, di detik berikutnya Aretha berbalik badan lalu memasang senyuman lembut seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan anggunnya Aretha berjalan menghampiri ranjang rumah sakit untuk berpamitan pada ibu mertuanya itu.
“Mom.” Panggilan Aretha menyadarkan wanita berusia setengah abad itu yang tengah melamun.
Diraihnya tangan Anditha lalu digenggam erat setelah Aretha mengecup punggung tangan ibu mertuanya.
Sejenak, Aretha melihat ada kesedihan yang terpancar di wajah Anditha bahkan bola matanya pun terlihat basah yang entah karena apa. Apa Anditha, Aaron dan juga di kembar mendengarkan suara keras itu yang membentaknya?
“Aretha pamit ya, Mom.” Dikecupnya kembali punggung tangan Anditha.
“Mommy cepat sembuh agar bisa berkumpul lagi bersama,” ucap Aretha tulus.
Sekalipun putranya begitu jahat menyiksa jiwa dan raganya. Namun, semua itu bukan kesalahan keluarga Stone melainkan ada dendam di hati lelaki itu sehingga berbuat seperti ini padanya.
“Tolong maafkan, putraku.”
Aretha tersenyum anggun seraya menatap ibu mertuanya. Ekspresi yang ditunjukan Aretha pun terlihat begitu tangguh akan apa yang baru saja dialami karena sejauh ini dia sudah mengalami banyak hal, baik dan buruknya dalam hidupnya itu sudah menjadi hal biasa untuknya.
“Tanpa Mommy minta Aretha sudah memaafkannya,” balasnya.
Tatapan Aretha pada Anditha sangat lekat penuh kerinduan jika suatu hari nanti mereka tidak akan bertemu lagi.
“Mom…”
Setetes air mata Anditha pada akhirnya jatuh.
“Sudikan Mommy memelukku? Sedetik saja,” mohon Aretha.
Tanpa memohon pun Anditha memeluk Aretha tidak hanya sedetik melainkan beberapa menit yang Anditha rasa itu belum cukup. Anditha justru ingin memeluk gadis malang di depannya ini berjam-jam bahkan berhari-hari.
Tak hanya pelukan, Anditha pun memberikan kecupan kasih sayang pada gadis malang itu sebelum Aretha keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Hati Anditha tak rela melihat kepergian Aretha yang kini menyisakan keheningan di ruangan tersebut.
Suasana ruangan vvip tersebut terasa sunyi tidak ada lagi orang yang berbicara setelah kepergian Aretha yang disusul oleh Xandria.
Aaron menarik nafasnya lalu bangun dari duduknya dan menghampiri sumber kesunyian dan diamnya sang istri.
“Kau tidak akan mengejar Aretha atau meminta maaf pada wanita itu, hm?”
“Ck! Siapa aku harus meminta maaf pada wanita kampung kayak dia, Dad. Aku nggak salah,” jawab Anshell dengan nada santai namun, perkataan itu membuat Aaron geram.
Aaron menggulung lengan kemejanya lalu melipat tangan di dada tanpa memutuskan tatapannya pada putranya yang masih belum mau menatapnya.
Pandangan Anshell masih sibuk dengan ponselnya tanpa disadari jika putranya itu sudah membuat istrinya menangis.
Tentunya, kekacauan ini adalah ulah putranya sementara pelakunya masih bisa santai.
“Daddy tidak mengajarkan kau menjadi lelaki pengecut. Apa kau pernah mendengar Daddymu ini berbicara kasar pada Mommymu? Apa pernah Daddy membentak ibu atau adik perempuanmu, hm?”
Anshel masih tetap sama, tak terusik dengan pembicaraan Aaron.
“Apa perlu Daddy mengirimmu ke sekolah kepribadian lagi agar kau tahu bagaimana cara sopan santun pada orang!” Suara Aaron terdengar meninggi.
“Apa perlu Daddy membuatmu gembel dulu agar kamu bisa menghargai orang lain, hah?”
Anshell langsung menaikan pandangannya menatap sang ayah tanpa membalas perkataan tadi.
Anshell berpikir sejenak, kenapa gara-gara dia membentak wanita kampung itu yang tak lain istrinya sendiri, jadi serunyam ini.
Padahal, ini bukan kali pertama Anshell membentak istrinya dan Aretha pun sudah terbiasa dengan sikapnya. Sayang seribu sayang, Anshell terlupa dengan situasinya yang tengah bersama dengan keluarganya hingga keluarganya jadi mengetahui sifat aslinya.
“Minta maaflah sama Aretha.” Anditha membuka suara.
“Mom,” rengek Anshell diiringi hembusan nafas jengah.
“Kalau kamu nggak minta maaf sama dia, jangan datang lagi kesini,” ancam Anditha.
Tidak hanya Aaron yang kecewa dengan sikap putranya, Anditha pun sama.
Wanita yang melahirkan dan membesarkan Anshell pun ikut kecewa karena sebelum ini yang Anditha tahu putranya itu sangat menghormati dan menyayangi wanita termasuk ia dan juga kedua adik perempuannya bahkan seseorang yang selama ini sangat dicintai Anshell, Lalisa…
Lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu menoleh kesamping dimana sang ibu berada. Melihat wajah Andhita yang bersedih membuat Anshell terdiam cukup lama seraya lelaki itu berpikir.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa dengannya, padahal jauh dalam hatinya dia sudah cukup lama menyimpan kerinduan pada istrinya.
Istri yang dia benci dan dia tinggalkan berminggu-minggu tak kunjung ditemuinya dan juga tak pernah dia hubungi walau sekedar menanyakan kabar.
Lalu kenapa dia begitu membenci Aretha?
Apa karena video yang di upload oleh adiknya yang di jadikan status itu. Di mana seseorang yang Anshell benci kini kembali dan dekat dengan istrinya?
Apa karena tangan lelaki itu menyentuh kulit sang istri membuat dia menjadi demikian?
“Tolong usir putraku yang tidak tahu malu itu dan tidak tahu diri itu, sayang,” pinta Anditha pada Aaron.
Anshell menarik nafasnya, dia tersadar dari lamunannya.
“Aku malu punya putra yang bersikap kasar pada wanita,” sambung Anditha, ketus.
Tak lama Anshell bangun dari duduknya, wanita yang dicintainya itu terlihat marah dan kecewa padanya. Tak ingin menimbulkan dendam dan amarah ibunya, Anshell pun memeluk sang ibu.
“Aku minta maaf aku salah, Mom.”
Anditha melirik sinis. “Bukan sama Mommy tapi sama Aretha!” jawab Anditha, judes.
Anshell terkekeh lalu mengangguk. “Ya, ya, ya. Aku salah, aku akan meminta maaf sama dia.
“Tapi, tolong jangan mengusir putramu yang ganteng ini, Mom,” goda Anshell.
Anditha mendengus jengah lalu mendorong tubuh putranya pelan agar melepaskan pelukannya diringi ekspresi marah pada putranya.
“Give me your smile mom, please,” pinta Anshell.
Aretha lekas tersenyum lembut diiringi satu tangannya yang membelai wajah tampan putranya.
Dari tatapan nanar sang putra, Anditha merasa jika putranya menyimpan sesuatu hal yang bersangkutan dengan gadis malang itu.
“Apa kamu tidak akan cerita pada Mommy mu ini, hm?”
Anshell menatap lekat seiringi dua sudutnya membentuk senyuman.
“Kenapa kamu begitu membenci Aretha.”
“Apa Mommy memaafkan orang yang sudah membunuh kakek dan adikku?”
__ADS_1