
“Jadi ginjal ini untuknya?”
Aretha mengatupkan bibirnya rapat, seraya menoleh ke samping di mana sang suami berada.
Pria itu bahkan masih asik berbicara, tak usah ditebak lagi dengan siapa pria itu berbicara dari nada bicaranya yang lembut, manja dan tawa seperti itu Aretha sudah tahu.
“Dia sakit keras?” kata Aretha dalam hati.
Aretha duduk di tepi ranjang dengan dada yang terasa sesak, bahkan pikirannya sejak tadi tak berhenti memikirkan sang suami yang meminta satu ginjalnya.
“Kau menangis, hmm?”
Seruan suara itu membuat Aretha mengangkat pandangannya, dia menarik nafas pelan seraya menghapus air mata yang entah sejak kapan berjatuhan.
Pria yang tak lain Anshell Stone mengayunkan langkahnya menghampiri sang istri.
Ya, Anshell lah pemenangnya. Pria itu berhasil menikahi Aretha dengan sebanyak mungkin dia mengancam gadis kampung itu hingga dia rela berkelahi dengan pria tua kaya di kampung ini untuk mendapatkan Aretha.
Mendapatkan hanya untuk membalas dendam kematian orang yang dicintainya.
“Apa sekarang kau menyesal menikah denganku?”
Anshell menarik dagu Aretha agar wanita itu menatapnya, tidak tertunduk dan membisu tidak menjawab pertanyaannya.
“Kau akan hidup enak dan bergelimang harta Aretha. Aku akan menjamin semua kebutuhanmu dan juga orang-orang di sekitarmu.”
Anshell tersenyum penuh kemenangan menatap manik mata hitam lebam sang lawan yang menatapnya dengan kedua mata basah.
“Darren sudah berangkat ke Amerika untuk pengobatan. Keadaan putri si jallang itu pun perkembangnya beberapa hari ini cukup membaik dan aku yakin dia akan sembuh sekalipun menelan biaya besar.”
Anshell menatap nyalang mengeratkan cengkramannya.
“Aku menanggungnya dan aku memberikan tander besar untuk Toby.
“Biaya pengobatan Nenekmu dan juga bibimu sudah aku cover. Apa kau masih menangis seperti ini, hmm?”
“Seharusnya kau senang bukan?”
Anshell menghempaskan dagu Aretha hingga tubuh kecil itu terjerembab terlentang di atas tempat tidur.
Aretha buru-buru bangun dan kembali duduk.
“Sekarang giliranku meminta hak ku!”
Kening Aretha mengernyit, sebelah tangannya kembali menghapus air matanya secara kasar.
“Kau harus menyerahkan satu ginjalmu dan—”
Aretha menyilangkan kedua tangannya di dada dengan erat. “Tubuhmu!”
Pria jangkung itu mendekat kasur di mana wajah Aretha begitu panik.
__ADS_1
“Kau tahu. Aku tidak bisa berjanji pada Nenekmu yang memintaku untuk membahagiakanmu. Tidak—”
Anshell menggeleng. Lagi dan lagi Aretha hanya diam dan air mata yang berjatuhan di pipinya pun sebagai jawaban.
“Tapi aku akan menjalankan peran sebagai suami yang baik untukmu!”
Dalam hati Aretha dia tertawa keras. “Suami yang baik?” gumam Aretha dalam hati.
“Bila dia akan berperan menjadi suami baik tidak mungkin akan meminta satu ginjalnya,” batin Aretha.
“Seharusnya anda tidak menanggapi perkataan nenekku. Anda pun tidak harus berjanji pada siapapun.”
Anda?
Anshell mengetatkan rahangnya ketika mendengarkan panggilan anda.
“Pernikahan ini hanya selembar kertas perjanjian dan juga kontrak. Enam bulan bukan?” tanya Aretha seraya menatap manik mata indah Anshell.
“Baiklah. Aku pun akan berperan menjadi istrimu yang baik selama enam bulan kedepan!”
‘Dia itu pembunuh Kake dan adikmu, Anshell. Jangan pernah ada hati secuil pun pada wanita di depanmu. Dan ingat satu hal lagi—’
Anshell menajamkan tatapan. “Dia anak pembunuh Suster An. Ingat itu!” kata hati kecil Anshell mengingatkan fakta baru di mana Aretha adalah putri dari seorang pembunuh suster An istri dari pamannya.
“Tidak ada kata bahagia, Aretha! Keseharian mu akan seperti di dalam neraka setelah ini.
“Kau bukan siapa-siapaku sekalipun aku menikah secara sah. Ingat statusmu bukan siapa-siapaku!” kata Anshell seraya menekan setiap kalimatnya.
Terkejutkan Aretha?
Kemana perginya pria yang datang padanya dan meminta untuk membantu mencintainya?
Kemana perginya pria yang selama ini mengatakan cinta?
Apa semua itu, PALSU?
Apa karena kesalahpahaman dengan Darren membuat Anshell seperti ini?
Kenapa dengan mata indah yang Aretha sukai itu?
“Kenapa tidak ada tatapan sayang yang selama ini pria itu berikan padanya? Semua terlihat Anshell sangat membencinya.
Pria itu terlihat menyimpan dendam yang Aretha tidak tahu apa yang sudah ia lakukan pada pria itu.
“Kenapa kamu kini berubah drastis, An?” suara Aretha terdengar lembut, tidak seperti tadi penuh kesal dan menyakitkan.
“Apa Anshell yang aku kenal kini tak punya hati nurani?” tanya Aretha seraya menatap manik indah sang suami.
Pria itu mengetatkan rahangnya. “Tidak! Hati nuraniku kini sudah mati ketika aku mengetahui siapa dirimu, Aretha.”
Bola Aretha tersentak dan membulat lebar. Apa maksud pria itu?
__ADS_1
“Aku baru tahu kalau kau adalah putri dari seorang pembunuh! Ibumu membunuh Kakek dan juga adikku.
“Ayahmu hampir membunuh daddyku. Kau kini sudah tahu bukan kenapa aku bersikap seperti ini, Aretha Maharanie?”
Aretha mengatupkan bibirnya rapat-rapat, entah fakta apalagi yang harus diketahui hari ini.
“Kedua orang tuaku pembunuh?”
“Ya! Kau tidak tahu, hmm?”
Aretha menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata. Kenyataan apalagi yang harus diterima kali ini?
Anshell menarik sudut bibirnya. “Istirahatlah! Besok kita pulang ke kota.
“Kau harus melakukan medical cek up untuk mengikuti serangkaian donor ginjal itu!”
“Tidak mungkin ayahku dan ibuku seorang pembunuh, An! Kamu pasti salah!” elak Aretha.
Dia tahu kalau kedua orang tua nya tidak akan sekejam itu pada orang.
Andini sang ibu adalah seorang wanita baik begitu juga sang ayah yang sudah lebih dulu meninggalkannya adalah sosok pria yang baik.
Tidak mungkin bukan bila kedua orang tuanya pembunuh seperti yang dituduhkan oleh pria di depannya itu.
“Ck! Aku punya banyak bukti yang kuat tentang siapa kedua orang tuamu.
“Jadi, membela diri pun tidak bisa merubah apa yang sudah kedua orang tuamu lakukan,” balas Anshell.
“Jadi kamu menikahiku hanya untuk balas dendam?” tanya Aretha, kini dia tahu sifat asli dari Anshell Stone.
“Ya, itu benar!”
Anshell berbalik badan. “Tidurlah. Aku tidak mau hasil tes besok tidak sesuai.
“Satu ginjal dari anak pembunuh harus diambil untuk menyelamatkan satu nyawa bukan?”
“Sebenarnya untuk siapa ginjalku ini?” Aretha memberanikan diri bertanya sekalipun dia sudah tahu jawabannya.
Anshell menoleh sebentar. “Kuburlah rasa ingin tahumu, Aretha!”
“Apa ini untuk Lalisa?” tanya Aretha lagi seraya menebak.
Anshell menarik nafas pelan. “Kenapa harus aku yang kamu pilih?
“Kenapa harus aku yang kamu pilih untuk menderita? Apa semua karena kedua orang tuaku adalah pembunuh?”
“Ya. Itu salah satunya. Kau pantas hidup menderita Aretha!
"Sumpah demi apapun melihat kau hidup normal seperti ini saja itu tidaklah pantas akan apa yang sudah kedua orang tuamu lakukan pada keluargaku.
"Penderitaanmu adalah suatu kebahagian untukku!”
__ADS_1
yuk mampir baca karya temanku, terimakasih.