CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Ancaman!


__ADS_3

“Aku tahu kamu bukan orang bodoh yang mau begitu saja diam dan menerima semua ini kan, An?”


Anshell diam diiringi helaan nafas pelan.


 “Jawab aku, An?”


“Ya, Re. Aku punya alasan tersendiri.”


“Bolehkan aku tahu apa alasannya?”


“Aku punya hutang, Retha!”


Kening Aretha mengernyit. “Hutang? Hutang apa?”


Aneh bukan kalau seorang Anshell Damarion Stone punya hutang hingga membuat pria itu bodoh?


“An. Hutang apa?” tanya Aretha, lagi.


“Maaf, Dok. Yang lain sudah siap dan operasi akan dilaksanakan,” sela Suster pada Anshell.


“Apa kamu tidak akan menceritakannya padaku, An?”


“Apa setelah aku menceritakanmu padamu. Kamu akan kembali seperti dulu, menyayangiku dan mencintaiku, Retha?”


Aretha termangu menatap Anshell. Pria itu bukan memberikan jawaban namun memberikan pertanyaan yang menurut Aretha, rasa itu sudah hilang akan sikapnya.


Anshell menatap pada suster dan mengizinkan dokter untuk masuk ke dalam ruangannya tersebut. Anshell berikan senyuman tipis dan berbisik di telinga Aretha.


“Kamu harus kembali padaku, Retha.”


Setelah Anshell mundur dua langkah, tim operasi yang dipimpin Kevin memberikan izin untuk dokter anestesi memberikan suntikan anastesi ke dalam selang infus yang menempel di tangan kanan Aretha.


Pandangan Aretha begitu juga Anshell tak lepas hingga dalam hitungan detik, Aretha memejamkan mata.


Dokter Kevin memiringkan tubuh si pasien dan bersiap dokter bedah  berdiri tidak jauh dari posisinya pinggang sebelah kiri Aretha untuk di donorkan pada Anditha.


Lagi, lagi darah yang selalu bisa pria itu berikan pada Aretha dan mengorbankan gadis bodoh itu demi keselamatan ibunya.


“Apa kamu tidak akan ikut serta?”


Profesor Heru menghampiri Anshell yang berdiri di samping pintu. “Tidak!”


Anshell menyeka air matanya, tak kuasa melihat kesakitan wanita bodoh itu sebelum Anshell pergi dari ruangan tersebut pria itu berkata pada Profesor Heru.


“Tolong selamatkan istri saya, Prof.”


Profesor Heru berikan anggukan dan menatap kepergian Anshell, pria senja itu tahu bagaimanapun Anshell memendam dendam yang begitu besar pada wanita malang di atas meja operasi. Tapi, Heru yakin Anshell masih punya hati nurani yang lembut.


Professor Heru mendekat pada Kevin. “Tolong lakukan yang terbaik seperti yang sudah aku minta padamu,” bisik Profesor Heru yang dianggukan oleh Kevin, paham.


Kevin tersenyum kecil seraya memandangi seseorang dibalik tirai.


“Semoga operasinya lancar dan mereka kembali sehat,” sambung Profesor Heru, sekali lagi Dokter Kevin mengangguk itu pasti.


Kesehatan pasiennya tentunya itu yang diharapkan semua dokter.

__ADS_1


Lima jam kemudian Anshell berdiri di depan ruangan recovery, kedua matanya terlihat basah seraya memandangi Aretha yang baru saja selesai keluar dari ruangan operasi.


“Kamu tidak akan mendekatinya?”


“Dia masih dalam pemulihan. Aku akan melihatnya dari sini saja, Prof.”


Profesor Heru berikan anggukan paham. “Operasinya belajar lancar kan, Prof? Tidak ada kendala?”


Suster memberikan catatan hasil pemantauan nya di dalam ruangan tersebut dan pria senja itu pun membaca dengan teliti.


“Operasi berjalan lancar dan semua terkendali. Kami sudah mengangkat ginjal istrimu!”


Anshell memalingkan wajahnya dan menatap Aretha yang terbaring lemah.


“Aku harap setelah kejadian ini kamu bisa bersikap baik dan juga dewasa pada istrimu.


“Bagaimana pun, wanita yang kamu korbankan di sini adalah istrimu sendiri. Aku tidak ingin mendengarkan kabar tidak-tidak tentang rumah tanggamu, Shell. Apa kamu paham di sini?”


Anshell bungkam. “Belajarlah bertanggung jawab tidak memberikan luka pada siapapun karena uangmu tidak akan menjamin hidupmu akan bahagia bila kamu sendiri masih terus memendam dendam,” nasehat Profesor Heru.


Pria senja itu menutup resume medis lalu memberikan kepada istri setelah memberikan langkah selanjutnya untuk suster dan tidak lupa dengan obat khusus untuk wanita malang di depannya.


“Setelah keadaan stabil kita akan memindahkan istrimu ke ruangan rawat.


“Aku berharap kamu mau ikut turun tangan untuk mendampingi istri mu dalam masa penyembuhan seminggu ke depan pasca operasi. Peranmu sebagai suami tentunya, penting di sini,” kata Prof Heru.


Anshell mengangguk paham. “Lalu bagaimana dengan keadaan Mommyku?”


“Mommy Mu akan sembuh seperti semula setelah mendapatkan donor ginjal yang baik.”


“Baik, Prof. Terima kasih, tolong kabari aku bila Aretha siuman. Aku ke kamar ujung menemui Mommy dulu,” pinta Anshell yang dianggukan pria senja itu, paham.


“Dari mana saja kamu, hah?”


Anshell hela nafas panjang, baru saja masuk sudah mendengarkan suara bariton milik sang Daddy, Aaron Damarion Stone.


“Kamu tidak ikut tindakan operasi tetapi kamu tidak bergabung dengan kami di luar menunggu operasi mommy mu.”


Aaron tahu dengan sifat putranya yang tidaklah mungkin tega membedah tubuh ibunya sendiri.


Meski Aaron sempat tahu kalau sang putra berada di dalam ruangan operasi. Pria senja itu paham kalau Anshell tidaklah akan bisa lama berada di depan Anditha dan turut menyaksikan jalannya operasi dari awal sampai akhir.


“Aku ngadem, Dad. Di ruangan tadi.”


“Ck! Bohong kamu, Shell. Kamu tidak ada di runganmu!” tegas Aaron.


Tentunya, keberadaan Anshell yang tidak ada di ruangan operasi membuat Aaron lekas menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan putranya.


“Aku nggak bilang kan sama Daddy kalau aku ada di ruanganku. Aku dari tadi ada di ruangan lain.”


“Dad…” panggil Xandria pelan menatap Aaron yang terlihat murka pada kakaknya.


Aaron menatap sang putra dengan tatapan menyelidik.


 “Katakan pada Daddymu ini. Dari mana kamu mendapatkan donor ginjal untuk Momy mu?”

__ADS_1


“Siapa yang sudah kamu paksa untuk mengorbankan satu bagian tubuhnya untuk Mommymu, Shell?”


Lagi lagi Anshell hela nafas panjang dan menghindar dari sang Daddy.


Pria itu bukan langsung menjawab namun berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan santai di depan sana mengabaikan bagaimana wajah Aaron Stone terlihat memerah.


“Duduk yuk, Dad. Nggak enak bicaranya sambil berdiri,” kata Anshell, wajah tampannya itu cengengesan di waktu yang tidak tepat.


“Katakan, Shell. Daddy tidak butuh duduk berhadapan denganmu.”


Anshell menarik napas pandangi pria senja di depannya.


 “Daddy nggak usah khawatir berlebihan bisa? Anshell udah gede juga dan tahu mana yang baik mana yang enggak.”


Gertakan gigi Aaron membuat Anshell mendesah pelan.


“Orang ku menemukan warga sekitar sini yang rela mendonorkan satu ginjalnya untuk kesembuhan Mommy.


“Keluarga itu sedang butuh banyak uang karena terlilit hutang juga.”


“Kamu tidak membohongi Daddy kan, Shell?”


Lagi lagi Anshell mendesah pelan, lalu berikan gelengan. “Jadi Daddy tidak percaya pada putra Daddy sendiri?”


Aaron mendengus pelan. “Tidak. Daddy tidak percaya lagi padamu setelah apa yang kamu perbuat pada Darren Hadinata. Sungguh Daddy kecewa padamu, Shell.


“Kamu tidak hanya membuat keluarga Hadinata bersedih, tetapi juga kamu sudah membuat Daddymu ini malu di depan keluarga mereka!”


Anshell bungkam dan hanya memandangi sang Aaron.


“Sampai Daddy mendengarkan kamu berbuat aneh-aneh lagi yang merugikan orang lain—”


Aaron menghunuskan tatapan tajam penuh dengan ancaman pada putranya.


“Daddy tidak akan segan-segan mencoret nama Anshell Damarion Stone dari daftar Keluarga Stone dan juga daftar warisan Stone Company.”


Bola mata Anshell membulat. Aaron mendengus pelan.


“Tidak hanya itu saja, Anshell Stone. Daddy mu ini bisa membuatmu gembel di luaran sana, apa kamu mau mencobanya lebih dulu, hm?”


Anshell menggeleng cepat. “Ya Tuhan, Dadd. Masa iya sama anak sendiri tidak percaya sih!”


Aaron menajamkan tatapannya, sikap putranya yang akhir-akhir aneh dan berulah hingga jatuhnya korban, tentunya Aaron tidak bisa tinggal diam.


“Maka ingat-ingatlah perkataan Daddymu ini. Kamu paham? Murkanya seorang Aaron Damarion Stone itu benar-benar akan menjatuhkan hidupmu sekalipun kamu adalah putraku sendiri!”


Anshell menelan ludah dalam-dalam. Bila Anshell bak iblis di depan Aretha.


Lalu bagaimana dengan sang Daddy yang sangat menakutkan di mata Anshell, setiap perkataan yang menekan dan juga ancaman tentunya membuat nyali Anshell ciut.


Apa lagi ketika datangnya seseorang kaki tangan setianya Aaron Stone. Sudahlah, mungkin diam akan lebih baik dari pada Anshell pada akhirnya celaka sendiri di sini.


Jujur, sekalipun Anshell pemilik perusahan mutlak tanpa ada campur tangan sang Daddy.


Tetapi, ancaman menjadi gembel itu tidak bisa diragukan lagi dengan kerja sang Daddy yang bisa menghancurkan hidup seseorang sekalipun itu anaknya sendiri.

__ADS_1


“Sialan! Siapa yang memberitahukan kejadian itu pada Daddyku. Awas saja kalau aku sampai tahu siapa orangnya!” batin Anshell ikut murka.


“Saya akan menyelidik semuanya, Tuan!”


__ADS_2