
“Ayo….” Ajak Bebby seraya mengapit tangan Aretha untuk segera masuk ke dalam mobil.
Aretha menarik napas pelan seraya berikan anggukan pelan. Akhirnya Aaretha pun ikut bersama dengan Toby dan juga Bebby ke Singapore. Tidak mungkin juga bukan kalau dia tinggal sendiri di rumah baru?
Sejujurnya, Aretha penakut.
“Nanti kamu bisa pulang dengan Dygta,” ujar Beby seraya tahu apa yang dipikirkan temannya.
Aretha berikan anggukan pelan, baru saja dia berjalan menuju pintu mobil. Dering ponsel Aretha membuat fokus wanita itu tersita.
Apalagi ketika melihat gadis kampung itu menautkan kedua alisnya pandangi nama di layar retak tersebut.
“Siapa?” tanya Bebby, penasaran.
Aretha bukan langsung menjawab, namun diam seperti tengah berpikir. “Angkat saja barangkali itu penting.”
“Dia nggak akan buat aku jantungan lagi kan kayak waktu dulu, Beb?” tanya Aretha. Takutnya, dia kembali dikejutkan dengan berita aneh-aneh lagi.
“Belum tentu. Angkat saja.”
Aretha langsung menggeser panggilan dari Agita.
“Ya, hallo Git. Kamu baik-baik saja kan? Nggak mellow dan nggak akan buat jantungan lagi kayak waktu itu?”
Belum saja menjawab, Agita sudah mendengus pelan di ujung sana. “Yaelah, Ka. Aku baik-baik saja kok.”
“Kamu nggak akan galau lagi kan telephone Kakak malam-malam kayak gini?” tanya Aretha memastikan.
Takutnya seperti yang sudah-sudah bocah ingusan itu membuatnya ketakutan. Siapa yang nggak panik kalau adiknya mendadak memutuskan untuk menjadi istri juragan Karto yang ke enam belas bukan?
Agita mencebikan bibirnya di seberang sana. “Nggak, emangnya aku galau apa lagi sih, Ka? Nggak ada.”
“Barangkali saja ngebet pengen nikah sama Juragan Karto lagi,” balas Aretha dengan tawa.
Agita mencebikkan bibirnya lagi di seberang sana. “Ada apa, Git?”
Gadis enam belas tahun di seberang sana pun menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan sebelum dia berkata hal yang lebih penting.
“Ka Aretha, bisakah kakak pulang?”
Alis Aretha saling bertautan diiringi mata menatap Bebby dan Toby. “Ada apa?” tanya Aretha.
Pertanyaan Agita membuat hati Aretha tidak tenang.
“Nenek masuk rumah sakit.”
“Apaah? Nenek kenapa?” seru Aretha dengan nada tinggi.
“Nanti aku jelasin di sini saja yah, Ka. Aku sama Bi Ani nunggu dokter belum keluar periksa Nenek.”
Aretha kembali turun dari dalam mobil seraya mengambil tasnya.
“Ya, kaka segera kesana. Git. Tolong jaga Nenek, ya. Kakak pulang sekarang juga,” ucap Aretha seraya mengakhiri panggilan telepon.
Bila di sini Aretha tengah khawatir dengan keadaan Nek Lastri yang berada di rumah sakit entah karena apa, lain halnya dengan Anshell di seberang sana tak lepas pandangannya menatap satu map calon pendonor untuk Anditha.
“Tuan….”
Gerry kembali masuk ke dalam ruangannya. Anshell pun menaikan pandangannya dan mengangguk seraya mengizinkan Gerry untuk mendekat.
“Kamu sudah menemukannya.”
Gerry berikan anggukan, pria paruh baya itu pun meletakan satu map informasi penting akan seseorang yang diminta oleh tuannya.
“Semua yang anda inginkan sudah ada di dalam map coklat tersebut.”
__ADS_1
Anshell membukanya dan membaca satu persatu hingga beberapa bukti pun ada di dalam sana.
“Jadi dia putri Calista Khan? Pembunuh Kakek dan juga adikku?”
Anshell terlihat murka dengan beberapa hasil penemuan asisten pribadinya. “Ya. Dan dia mantan istri dari tuan besar Aaron Damarion Stone.”
Tangan Anshell terkepal erat dengan sorot mata yang nyalang pandangi Gerry.
“Dia tahu kalau ibunya adalah istri kedua dari Aaron Damarion Stone. Tapi dia tidak tahu kalau wanita itu adalah istri pertama dari sang ayah.”
“Apa dia putri dari ayahku?”
Gerry menggeleng. “Saya akan mencari informasi akan hal itu semuanya, Tuan.”
Dada Anshell bergemuruh keras. Pria itu hanya berikan anggukan seraya jawaban. “Apa kau sudah tahu bagaimana keadaan Darren?”
“Tuan Darren koma. Dia terancam cacat bila tidak menemukan dokter yang tepat untuk mengatasi beberapa tulang rusuk yang patah.”
Anshell tersenyum smirk, dia tahu akan apa yang akan dia lakukan pada wanita tersebut.
“Apa kau sudah tahu alasannya kenapa Lalisa ikut mendonorkan ginjalnya untuk Mommyku?”
Gerry diam, lalu berikan gelengan kepala.
“Saya akan mencari tahu akan hal itu.”
“Tidak usah. Aku akan menemuinya dan akan menanyakan langsung padanya.”
Anshell tersenyum sesaat, wajahnya yang menakutkan itu pun pada akhirnya berseri senang.
Sejak tadi dia menatap dokumen salah satu kandidat calon pendonor ginjal dan itu salah satunya, Lalisa.
“Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih bukan kalau dia bersedia membantuku untuk menyerahkan satu ginjalnya sekalipun Mommyku sudah berkata tidak pantas padanya.”
“Ya, sudah kembalilah pulang dan beristirahatlah.”
Gerry membungkukkan tubuhnya seraya hormat dan tak lama berlalu pergi meninggalkan tuanya yang nampak senang.
Anshell meraih ponselnya lalu mendeal number wanita pujaanya.
Namun, sayangnya panggilan itu dijawab oleh operator sedangkan si pelaku di seberang sana tengah bergelut dengan pria paruh baya di atas tempat tidurnya.
“Hmmps…. Hone…”
“Yes, Babby…” jawab si pria diiringi senyuman menatap wanita muda yang sudah lama ini selalu menghangatkan malamnya.
“I want fuccck haaarrrd with you,” bisiknya di telinga si pria yang tengah bergerak pelan.
Pria itu kembali tersenyum sementara Lalisa menekan perut si pria agar berhenti.
“Sejak kapan kamu ketagihan, hmm?”
Lalisa tersenyum lalu berjalan menuju walk in closet dan kembali dengan membawa satu tas berisi peralatan mainan kesukaan.
“Sejak kamu mengajakku memberitahukan permainan baru,” ujarnya diiringi senyuman.
Si pria pun turun dan membuka tas tersebut, pandangannya teralihkan pada wanita muda itu yang sudah duduk seraya memberikan kedua tangannya dan bersiap untuk diborgol.
“I love you, Lisa,” bisik si pria di telinga wanita cantik yang melukis senyum.
“Me too…”
“Ayo angkatlah, Lis. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Anshell di seberang sana.
Hatinya sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan wanita pujaanya untuk mengungkapkan isi hatinya yang sangat senang sekaligus bangga padanya.
__ADS_1
Sayangnya, panggilannya kembali dijawab oleh operator hingga akhirnya Anshell memutuskan untuk menghubungi manager Lalisa untuk mengetahui di mana saat ini Lalisa berada.
“Oh, baiklah. Terima kasih Sar. Aku akan ke apartemennya,” ujar Anshell seraya menyambar kunci mobil dan berlalu pergi dari dalam ruangannya.
Tujuannya kali ini ke apartemen Lalisa. “Kamu hari ini sangat bersemangat Honey.”
“Yeah, tentu. Aku sangat bersemangat. Apa kamu tahu, Bab.”
“Apa, hmm?” tanya Lalisa seraya mengernyit kening di mana pria itu kembali memasukinya.
“Aku menang judi dan kali ini aku dapat uang banyak.”
“Benarkah?” seru Lalisa ikut senang sekalipun dia tidak butuh uang dari pria itu.
Yang Lalisa inginkan hanyalah kepuasaan seperti yang dilakukan pria yang berada di atasnya.
“Kita berlibur bersama. Kamu mau kemana?”
“Bali.”
“Oke. Terkabul, tapi izinkan aku menuntaskan hal yang satu—”
Deringan ponsel di atas nakas Lalisa membuat pria itu menghentikan kegiatannya.
Lalisa yang kesulitan karena kedua tangannya diikat pun meminta pria itu untuk melihat siapa yang menghubunginya.
“Siapa?”
“Anshell,” jawab si pria yang tak lain Dany.
Lalisa meminta ponsel itu didekatkan tanpa meminta pria itu untuk membuka tali yang mengikat dua tangannya.
“Ya, hallo Shell.”
“Hai, Lis. Kenapa nafasmu memburu? Apa kamu sedang jogging malam?” tanyanya.
Lalisa pandangi Dany sejenak. “Hm… ya, Shell. Ada apa?”
“Aku sudah ada di depan apartemen mu. Apa kamu merubah passport pintunya?” tanya Anshell.
Sejak tadi pria itu kesulitan untuk membuka pintu apartemen Lalisa di mana dia datang membawa Lalisa kejutan.
“Ap-apa. Kamu ada di depan apartementku?”
“Ya. Bukalah.”
“Ohh…. Baiklah… aku akan keluar,” ucap Lalisa seraya meminta pada Dany untuk melepaskan ikatan di kedua tangannya.
“Sial. Pengganggu!”
“Bersembunyilah dan tolong rapikan. Jangan sampai Anshell tahu kita habis olahraga malam, oke. Hone? Aku hanya sebentar,” bujuk Lalisa seraya cepat memakai pakaiannya.
Kening Dany berkerut pandangi Lalisa. “Apa selama ini kamu bercinta dengan Anshell, Lis?”
Lalisa menarik napas pelan, seraya memejamkan mata di mana pintu apartemennya kembali terdengar.
“Bisakah kamu nggak bertanya hal yang?”
“Jawablah. Aku hanya butuh jawaban!”
“Lisa….”
Yuk, sambil nunggu bab selanjutnya mampir baca karya temanku juga....
__ADS_1