CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Sudah Seharusnya!


__ADS_3

“Emangnya kamu mau kemana sayang?”


“Hah?”


Aretha pandangi Anshell sejenak, lalu berikan pria itu senyuman. “Tidak.”


Anshell pandangi kedua tangan Aretha yang memegang kartu hitam. “Kartu apaan itu?” tanyanya lagi.


Aretha tersenyum tipis untuk menutupi kecurigaan Anshell. “Oh, ini. Atm. Tadi aku ketemu sama Toby dia titip ini katanya untuk Bebby,”ujar Aretha bohong.


Entahlah, dia kali ini berbohong lagi pada Anshell. Mau jujur pun tidak bisa. Ini menyangkut Xandra adiknya Anshell yang berada di salah satu apartemen Gavien.


‘Kalau Anshell sampai tahu adiknya di kurung oleh Gavien, bisa ada perang dunia besok,’ batin Aretha mengingatkan bagaimana bencinya Anshell pada Gavien.


Pria itu sudah merebut wanita pujaanya sebuluh tahun dan kini pria yang dibenci itu mengurung adik perempuannya.


“Kita makan malam yuk, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang lezat tentunya. Lebih lezat daripada makanan yang kamu cicipi di dalam tadi,” ajak Anshel yang dianggukan Aretha.


Namun, bukannya Aretha menggenggam tangan pria tampan itu untuk segera membawanya, melainkan gadis kampung itu mengalungkan kedua lengannya di leher Anshell bersamaan dengan keduanya saling bersitatap.


Anshell mengecup bibir Aretha sejenak. “Kenapa hmm?”


“Terima kasih,” ucap Aretha tak lepas pandangi wajah rupawan Anshell. “Untuk apa?”


Anshell menarik pinggang Aretha agar merapat. Keduanya saling bersitatap dan melemparkan senyuman.


“Kamu sudah mengenalkan aku sebagai kekasihmu di depan Lalisa. Sumpah, tadi aku tidak percaya kalau kamu akan berkata seperti itu.”


“Bukannya sudah seharusnya aku mengenalkanmu sebagai kekasihku, hmm?”


 Aretha memeluk Anshell seraya menarik nafas pelan. “Terima kasih, An.”


Aretha mengurai pelukannya sedangkan si pria langsung mengecup kening Aretha.


“Sudah aku katakan padamu, kalau aku akan membuka hati untukmu sekalipun hatiku masih abu-abu. Tapi, nggak salahnya bukan kalau aku menerima cinta dan belajar mencintaimu?”

__ADS_1


Anshell menarik dagu Aretha, dikecupnya bibir manis Aretha tepat di depan lobby di mana banyak orang yang berlalu lalang. Namun, kemesraan Anshell dan Aretha disaksikan oleh dua orang yang tak sengaja melihat pemandangan yang bisa dikatakan aneh.


“Bukannya aku sudah memenangkan Gavien, bukan?” kedua tangannya terkepal erat.


“Kenapa hatiku panas melihat kemesraan pria itu dengan kekasih barunya?” batin Lalisa.


Satu orang yang berdiri di atas tangga pun sama, hatinya mendidih ketika melihat wanita yang selama ini di carinya sekarang ini begitu dekat dengan pria yang di kenalinya.


‘Aneh bukan seorang Anshell Stone bisa berpaling hati pada gadis kampung seperti Aretha? Bukankah selama ini hatinya dikuasai oleh Lalisa?’


‘Apa ini suatu bentuk pelampiasaan di mana Anshell patah hati karena Lalisa bertunangan?’


Ya, dia Darren yang tak sengaja melihat Anshell dan Aretha begitu dekat hingga kedua orang itu berciuman di depan banyak orang.


“Kita lanjutkan di apartementku saja yuk, aku nggak sabar ingin lebih dari ini.”


Aretha mencubit pinggang Anshell yang langsung mengaduh kesakitan. “Kalau mau lebih, halalin aku dulu. Jangan seenaknya cicip anak orang, paham!” omel Aretha seraya menarik Anshell untuk meninggalkan tempat tersebut.


Dua jam kemudian…


“Menurut di kartunya si gitu,” ujar Aretha seraya menunjukan kartu yang dia pegang.


Setelah Aretha makan malam dengan Anshell, dia meminta Dygta menemani ke tempat apartemen yang dimaksud Gavien.


Ketika pintu itu terbuka, Aretha berteriak begitu juga dengan wanita di dalamnya. Belum lagi suara seseorang terjatuh di lantai dengan tak sadarkan diri karena ternyata, Xandra memukul Dygta yang pertama masuk ke dalam apartemen tersebut.


“Aretha….”


“Nona Xandra…” seru keduanya.


“Oh, astaga. Dygta,” ucap Aretha seraya berjongkok. Xandra pun ikut berjongkok dan membantu pria yang telah dia pukul.


“Maafkan aku ya,Tha. Aku nggak tahu kalau itu kamu datang.”


Aretha menarik nafas pelan. “Saya paham, Nona. Pasti Nona ketakutan bukan kalau Gavien datang ke sini.”

__ADS_1


Xandra mengangguk meski dia pun bingung dengan kedatangan sekretarisnya ke apartemen Gavien. “Nona.”


“Ya.”


“Boleh aku meminta tolong untuk mengangkat dia dan kita baringkan di dalam.”


“Oh. Ya… ini juga salahku,” ucap Xandra seraya membantu Aretha mengangkat pria muda tersebut.


Xandra menarik nafas pelan lalu berikan segelas air minum untuk Aretha. “Kamu kok tahu aku di sini, Tha?”


“Terima kasih, Nona. Tuan Gavien mendatangi saya di pesta pertunangannya tadi.”


Mendengarkan Gavien bertunangan, wajah Xandra langsung sedih. “Nona,” ucap Aretha pelan seraya mengusap lembut tangan Xandra.


Dipeluknya wanita seusianya yang menangis itu. “Dia jahat padaku, Aretha.”


“Dia mengatakan mencintaiku, tetapi dia malah bertunangan dengan Lalisa,” kata Xandra terdengar pilu.


“Nona… maukah mendengarkan saya berbicara lebih dulu?”


Xandra berikan anggukan, Aretha pun langsung menceritakan apa yang disampaikan oleh Gavien padanya begitu juga dengan apa yang waktu itu dia lihat pada Xandra.


“Tuan Gavien terpaksa,Nona. Tolong percayalah.”


“Ck! Mana bisa aku percaya dengan pria yang sudah membohongiku dan bertunangan dengan wanita lain.” Aretha menggenggam kedua tangan Xandra erat.


“Ini hanya sementara Nona, sampai Tuan Gavien mengantongi kejahatan Lalisa. Saya yakin kalau Tuan Gavien itu sangat mencintai anda, buktinya dia mengurung anda di sini demi keselamatan anda. Lalisa mengejar anda, Nona.”


“Tapi aku akan baik-baik saja, Aretha. Daddy dan juga kakak ku pastinya akan melindungiku.”


“Ya, tapi bagaimana kalau kakak anda sampai tahu dengan hubungan anda dengan Tuan Gavien? Bukannya akan semakin membencinya anda?”


Xandra terdiam sejenak. “Tuan Gavien melakukan hal ini karena dia tak mau anda kenapa-napa.”


Xandra menarik nafas pelan. “Lalu bagaimana dengan kakakku? Apa dia patah hati melihat Lalisa bertunangan dengan Gavien?”

__ADS_1


Apa Aretha harus memberitahukan pada Xandra kalau sekarang ini dia dan kakaknya berhubungan?


__ADS_2