CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Enyahlah Dari Hidupku!


__ADS_3

“Ya Tuhan. Mereka mau sampai kapan terus berdebat seperti ini.


“Mommy bukannya langsung sembuh tapi malah semakin sakit kepala dengerin kalian terus berdebat kayak gini,” keluh Anditha pada dua lelaki di depannya.


Aaron dan Anshell langsung bungkam. “Tau tuh, Daddy.” Anshell berjalan mendekat seraya memasang wajah sedih agar Anditha luluh.


 “Udah tua aja masih aja cemburu sama anaknya,” ujarnya diiringi bibir tebal itu monyong-monyong pandangi Aaron.


Wajah pria paruh baya itu memerah, marah. Anshell memang putra yang menyebalkan.


“Anshell ingin berbakti pada mu Mom. Daddy terus memintaku untuk pulang.”


Bukan bocah lagi, tapi putra nya itu sudah dewasa. Tidak pantas putra bangkotannya itu manja-manjaan dengan istrinya hal itulah yang membuat Aaron tak henti berdebat dengan putranya yang sudah keterlaluan mengambil simpati istrinya.


Anshell menjulurkan lidahnya, tanda lelaki itu menabuh genderang perang dengan ayahnya sendiri.


“Anshell ini dokter pribadi Mommy. Jadi harus standby di sini, Dad. Aku akan pulang ke rumah setelah Mommy sembuh dan diizinkan professor untuk pulang,” sambung Anshell.


Tapi bukan itu alasan utama seorang Anshelll, melainkan lelaki itu dengan terpaksa harus bertahan di kamar rawat Anditha.


Damian Lukman tengah mencurigainya, mengawasi setiap gerak geriknya atas tindakan kekerasan yang membuat Darren lumpuh begitu juga Damian tengah menyelidiki siapa pemilik donor ginjal untuk Anditha yang sebenarnya.


Aaron menarik nafas dalam-dalam seraya mengatur emosi.


“Mommy mu ini nggak perlu dokter pribadi kayak kamu karena yang dibutuhkan Mommy ya cuman Daddy aja. Sebaiknya kamu pulang dan kembali bekerja seperti biasanya.


“Mommy akan baik-baik saja bersama dengan Daddy,” seru Aaron seraya mengusir Anshell dari dalam kamar istrinya.


“Haish, Daddy ini. Mommy ini pasien vvip Anshel, Daddy. Jadi harus 24 jam dijaga dan diperhatikan,” sahut Anshell tak ingin menyerah.


“Astaga. Kenapa dengan dua pria di depanku ini,” gumam Anditha pelan.


Aaron lekas mendatangi Anditha lalu memeluk istrinya.


“Daddy sama Anshell nggak lelah berantem terus? Mommy saja yang denger capek loh. Kalian bener-bener kayak anak kecil,” sambung Anditha ikut geram.


“Sudah-sudah jika kalian berdua terus berantem. Kalian berdua pergi saja dari kamar Mommy. Mommy ingin istirahat nggak mau dengar suara kalian lagi.”


Kini giliran Anditha yang mengusir dua pria yang berisik itu sekalipun keduanya tidak terima.


Sayangnya, perdebatan kedua pria itu terhenti saat panggilan ‘Mommy’ terdengar keras.


Anditha tersenyum penuh harus, matanya pun basah saat melihat siapa yang berdiri diambang pintu.


“Ya Tuhan. Putri kesayangan Mommy,” gumam Anditha dengan hati yang senang.

__ADS_1


Akhirnya dia kembali bertemu dengan putrinya, Xandra.


Xandra berdiri dengan menggunakan tongkat. Hal ini tentunya membuat hati ibu mana yang tak kala senang setelah Anditha mendengarkan dari suaminya tentang kesehatan putrinya yang mengalami lemah pada otot kaki dan hanya bisa duduk di kursi roda. Tapi, sekarang ini…


Xandra berjalan mendekat dengan tongkat, hal itu membuat Anditha menangis di pelukan sang suami.


“Ya Tuhan, terima kasih banyak engkau kirimkan orang baik pada keluarga kami untuk menolong dan memperhatikan putriku.” Ucapan Anditha nan pelan namun terdengar oleh Anshell yang berada di samping kiri ranjang sang ibu.


Tentunya orang yang baik dikatakan ibunya itu tidak lain seseorang yang Anshell kenal yang sudah lama tidak berjumpa lagi.


“Mommy…”


Xandra memeluk Anditha dengan tangisan. Gadis itu pun turut bahagia melihat ibunya kini sudah siuman.


“Xandra rindu sama Mommy.”


Anditha mengecup puncak kepala sang putri. “Mommy juga rindu sama kamu, Nak. Sangat rindu,” ungkap Anditha.


“Jadi padaku tidak rindukah, Mom?” canda Xandria.


“Tentu. Mommy rindu sama putri-putri Mommy yang cantik seperti kalian,” ucap Anditha seraya menatap wanita yang amat berjasa.


Xandria memeluk Anditha dan lengan wanita paruh baya pun terbentang luas menyambut pelukan hangat dari putri-putrinya, termasuk satu wanita yang Xandria tarik agar ikut memeluk ibunya.


Anditha mengecup pipi satu persatu putri kembarnya begitu juga seseorang di samping Xandria pun turut mendapatkan kecupan hangat dari Andhita.


“Saya turut senang melihat Nyonya sudah siuman dan kembali sehat,” ungkap Aretha.


Wajah Anditha langsung murung, Aretha yang melihat itu pun langsung panik.


 Namun, kepanikan Aretha membuat Xandria dan Xandra begitu juga Aaron tertawa sementara Anshell?


Sudah jangan ditanya bagaimana ekspresi yang ditunjukan lelaki itu. Anshell hanya diam seraya memalingkan pandangannya bahkan lelaki itu menghindar dari keluarganya yang berkumpul di ranjang rumah sakit dimana Anditha berbaring.


“Oh ya, Mom. Kak Aretha bawa makan siang buat Mommy. Kata Daddy, kemarin Mommy suka dengan beef teriyaki yang dibuat Ka Aretha, makanya kami bawa banyak,” ujar Xandria.


“Ya ampun, Nak. Mommy kok jadi merepotkan kamu, sih?”


Anditha kembali menarik Aretha dan memeluk wanita malang itu. “Nggak kok, Nyonya.”


“Mommy, Aretha,” seru Xandria bersamaan dengan Xandra.


“Ya, Mommy. Kalau kamu terus panggil Nyonya. Mommy marah loh,” ujar Anditha yang langsung dijawab Aretha dengan anggukan pelan.


“Apa kamu bawakan oseng udang lagi, Nak? Yang kemarin di habiskan oleh pria itu satu kotak besar berikut nasi-nasinya, sampai nggak ingat sama sekali sama Daddy nya,” kata Aaron, mengadu pada Aretha. Tak lupa pria paruh baya itu melirik putra bangkotanya dengan tatapan kesal.

__ADS_1


Aretha tertawa pelan, oseng udang itu tentunya makanan favorite Anshell makanya tidak akan membagi makanan kesukaan sekalipun pada ayahnya sendiri.


“Aretha masak lagi kok, Tuan.”


Si kembar mendengus pelan, lagi lagi Aretha masih kaku untuk memanggil kedua orang tuanya.


Semua keluarga Stone duduk di sofa panjang untuk makan siang bersama. Hanya saja tersisa makhluk halus yang duduk agak menjauh dari mereka seolah paham jika orang itu tidak ingin dekat-dekat dengan wanita kampung seperti Aretha. Anehnya, Anshell yang sejak kemarin cerewet mendadak seperti orang bisu.


“Ya Tuhan lezat sekali. Selain kamu cantik kamu juga pinter masak, Nak. Pasti nanti mertua kamu bangga mendapatkan menantu sepertimu,” ungkap Anditha, memuji.


Aretha hanya membalas dengan senyuman lalu pandanganya terarah ke samping pada Anshell yang sibuk dengan ponsel genggamnya.


“Kak Anshell nggak akan makan siang bareng, Kak?” tanya Xandra.


“Kakak lagi puasa apa? Mutih?” Bukan pertanyaan lagi, tetapi sindiran.


“Kak Aretha bikin oseng udang banyak loh, Kak. Nggak mau coba?” goda Xandria.


“Mana udangnya montok-montok lagi, Kak. Ayolah, gabung,” bujuk Xandra.


“Nggak. Kakak sudah kenyang,” jawab Anshell ketus.


“Ck! Kenyang makan angin, hah? Padahal tadi pagi Daddy lihat kamu cuman makan roti tawar mana satu lapas doang,” decak Aaron, ikut balas dendam. Pria senja itu menunjukkan oseng udang kesukaan putranya.


Aretha mengambil piring lalu mengambil nasi dan lauknya untuk Anshell. Aretha tahu kalau Anshell sengaja menjauh karena ada dirinya.


“Kak, Lalisa kok nggak datang ke sini, Kak? Kemana dia?” goda Xandria pada Anshell.


Semenjak Andhita sakit, mana ada wanita kebanggaannya itu datang walau hanya sebentar untuk melihat keadaan calon mertuanya itu. Sibuk itulah alasan yang sering Anshell katakan pada kedua orang tuanya.


“Sudah-sudah. Nggak usah menggoda Kakakmu. Mungkin Kakakmu ingin makan di café seberang rumah sakit,” ujar Aaron, lagi.


Si kembar mengangguk, paham.


Aretha bangun dari duduknya dan mendekati Anshell. “Apa Tuan Muda, lapar?”


“Tidak! Apa kamu tuli, hah?” bentak Anshell keras di depan kedua orang tua dan juga kedua adiknya.


Aaron menatap nyalang pada sang putra. Aretha yang paham pun tidak ingin menghancurkan makan siang keluarga Stone.


“Maaf kalau begitu. Saya simpan di atas meja, setelah ini saya pulang kok. Jadi anda tenang saja, Tuan,” ucap Aretha seraya meletakan dua piring di atas meja depan Anshell.


Baru saja Aretha hendak melangkah dari hadapan Anshell, lelaki itu membanting meja di mana dua piring tersebut pun turut melayang dan hancur berkeping-keping di atas lantai.


Tubuh Aretha bergetar hebat, menatap lelaki yang tak lain suaminya itu begitu marah karena keberadaanya di ruang rawat ibunya.

__ADS_1


“Enyahlah dari hidupku, Retha!”


Aretha mendelik, setetes air mata begitu saja jatuh di pipinya saat perkataan yang menyakitkan itu kembali di dengar.


__ADS_2