
“Apa Nona Xandra berada di sini? Aku dengar Nona Xandra kecelakaan.”
Aretha membuka obrolan dengan Ken di mana pria itu sejak tadi berdiri di samping di mana dia berada.
Aretha berada di taman dan tentunya di temani pria itu sebagai pengawalnya.
“Ya. Nona Xandra berada di sini,” jawab Ken.
Sudah dua hari dirawat dengan bantuan Dokter Kevin, akhirnya keadaan Aretha sudah membaik dan pendarahan pun sudah teratasi sekalipun wajahnya masih pucat.
“Bolehkah aku bertemu dengan Nona Xandra?”
“Adik ipar, anda, Nona,” jawab Ken mengingatkan.
Namun, ekspresi wajah yang ditunjukkan Ken pada Aretha diiringi tawa.
“Ya, dia adik iparku. Tapi, pernikahan aku harus dirahasiakan tidak ada orang yang tahu.”
Miris, tapi itulah kenyataannya.
“Bolehkah aku bertemu?” tanya Aretha lagi seraya menatap Ken.
Pria itu menarik nafas sejenak.
“Hm… boleh. Aku akan mengantarkan anda ke tempat di mana Nona Xandra berada.
“Sekedar informasi saja pada anda, kalau Nona Xandra selama ini sulit dikunjungi siapapun itu dia menolak bertemu dengan orang lain.”
Kening Aretha mengernyit.
“Kenapa?”
“Nona Xandra lumpuh.”
Bola mata Aretha mendelik dengan bibir yang menganga.
“Aku ingin ke sana. Tapi bolehkah aku berpakaian biasa. Aku tidak mau memakai pakain rumah sakit menemui Nona Xandra.”
Ken mengangguk paham. Dia pun lekas membawa Aretha kembali ke dalam kamarnya.
Di sinilah Aretha berada, di sebuah ruangan khusus keluarga Stone di rawat.
Aretha berjalan pelan dan meminta Ken menjauh agar tidak ada orang yang curiga.
Aretha yang fasih berbahasa inggris pun berbicara pada suster dan menjelaskan bahwa dia adalah asistennya pribadinya.
Lama berdebat dengan suster, akhirnya Aretha diizinkan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Gadis muda itu duduk di kursi kayu seraya menatap lurus pada danau. Hanya ada satu suster yang berdiri di belakang Xandra.
“Nona….” Panggil Aretha pelan.
Gadis itu pun hanya diam tak menjawab.
Aretha berjalan mengelilingi kursi tersebut dan berjongkok dengan pelan karena bagian bawahnya masih selalu terasa linu.
Aretha menggenggam tangan Xandra, kedua matanya basah ketika melihat keadaan Xandra yang menyedihkan. Kedua kantung matanya menghitam dan juga tatapannya kosong.
“Nona…” panggil Aretha lagi.
Aretha mengusap lembut. “Ini aku, Aretha.”
Pandangan Xandra turun ke bawah. Hampir sebulan setelah kejadian itu, Xandra kehilangan jati dirinya.
Gadis itu tidak mau ditemui oleh siapapun ketika dokter men vonisnya cacat. Xandra lumpuh.
“Tha…”
Aretha mengangguk pelan, dihapusnya dengan kasar air matanya yang berjatuhan.
__ADS_1
Dia tidak mau menangisi keadaan Xandra, Aretha tidak mau kalau air matanya membuat gadis itu semakin down.
Mental Xandra kini sudah down dengan hidupnya yang sudah hancur. Maka dari itu gadis itu tidak ingin ditemui oleh siapapun.
Aretha memeluk Xandra erat dan duduk di samping Xandra.
“Aku cacat, Tha….”
Aretha menggeleng pelan. “Aku manusia yang menyedihkan sekarangi ini.”
Sebulan sudah, hanya gadis itu yang mendengarkan jeritan hatinya sangat sakit.
Di usianya yang hendak dua puluh tiga tahun, dia cacat.
“Ssstttt…. Jangan bicara seperti itu. Kamu nggak boleh putus asa.”
Xandra mendengus pelan seraya menyentakan tangan Aretha.
“Aku sudah berusaha, tapi dokter mengatakan kalau aku akan selamanya duduk di kursi roda.”
Aretha kembali meraih tangan Xandra lalu menggenggamnya erat.
“Itu hanya kata dokter bukan? Tapi bila Tuhan berkata lain kalau kamu akan sembuh bagaimana?”
“Aku sangat yakin kalau kamu pasti sembuh.”
Xandra diam. “Kita boleh percaya pada perkataan dokter akan diagnose yang dikatakannya pada kita.
“Tapi, kamu harus lebih percaya kekuatan Tuhan. Tidak ada yang tidak mungkin bila Tuhan sudah berkehendak, Xan.
“Aku yakin masih ada jalan agar kamu kembali pulih dan bisa berjalan lagi.”
Aretha terus memberikan motivasi pada Xandra untuk bangkit.
Dia pun tidak mau melihat adik iparnya sedih dan mengasingkan diri karena dia cacat.
Sepanjang Aretha menyembuhkan diri dan mulai melakukan berbagai tes untuk donor ginjal itu.
Kadang, tiga kali Aretha datang dan ikut mendampingi Xandra untuk berkonsultasi dengan dokter ortopedi dan juga terapis.
Sekalipun jawabannya masih tetap saja. Aretha terus memberikan motivasi pada Xandra.
“Istirahatlah,” kata Aretha membantu Xandra untuk duduk.
“Aku sudah siapkan makan siang untukmu.”
Aretha tersenyum lebar seraya meletakan beberapa makanan yang dimasak sendiri untuk Xandra, tentunya dibantu oleh ahli gizi.
“Terima kasih banyak, Tha. Maafkan aku sudah merepotkanmu,” ucap Xandra tulus.
“Itulah tandanya teman. Bukannya kamu menganggapku seorang teman bukan?”
Xandra memeluk Aretha, gadis itu menangis seraya memeluk pinggang Aretha yang berdiri di depannya.
“Aku ingin kamu tetap semangat. Aku yakin kamu pasti sembuh, Xan.”
Xandra berikan anggukan pelan seraya melepaskan pelukannya.
“Di minumlah mumpung masih dingin biar segara. Aku sudah buatkan jus segar untuk membantu menguatkan tulangmu.
Menurut ahli gizi yang selalu datang ke apartemennya. Aretha sering konsultasi masalah gizi untuk pasien seperti kasus Xandra.
Dan inilah yang Aretha dapatkan, semua makanan yang lezat dan bergizi yang sesuai untuk Xandra.
Seseorang di ujung sana pun menatap harus dengan perkembangan putrinya dua minggu ini ketika ada datangnya gadis kampung itu.
Aaron menatap sedih pada putrinya yang kehilangan arah ketika dokter memvonisnya. Namun, kedatangan Aretha membuat putrinya kembali bangkit dan mau berusaha untuk sembuh.
“Oh, ya, Xan. Mungkin beberapa hari kedepan aku nggak bisa datang ke sini nggak apah?”
__ADS_1
Wajah Xandra langsung sedih.
“Kenapa?”
Aretha berikan senyuman terbaiknya. “Cuman dua sampai tiga harian doang kok.”
“Iya, kenapa? Apa kamu sudah lelah terus datang ke sini dan membantuku?” tanya Xandra, menatap sedih.
“Tentu tidak. Aku senang membantumu. Aku harus pulang ke Indonesia.”
Mendengar itu Xandra mendengus.
“Apa si Melanie sudah mengeluh padamu untuk membantumu?” tanya Xandra.
Terakhir yang dia dengar begitu, Melanie kerepotan tidak ada Xandra dan Aretha.
“Tidak. Aku pulang kampung bentar, biasa Nenekku,” kata Aretha memberikan alasan pada Xandra.
Padahal besok adalah jadwal di mana Aretha operasi untuk menyerahkan satu ginjalnya yang entah untuk siapa itu.
Mengenali Anshell?
Sudah jangan ditanya. Dua minggu ini pria itu tidak pernah nampak batang hidungnya sama sekali.
Entah di rumah sakit maupun juga di apartemen, kabar yang Aretha tahu dari Jordan, Toby, Dygta dan Melanie.
Anshell berada di Jakarta, pria itu sibuk mengurus rumah sakitnya dan tentunya saja—Lalisa.
Kabar yang tengah heboh di kantor pun yang Aretha tahu dari melalui Melanie, Anshell sudah bertunangan dengan Lalisa.
Acara pertunangan diadakan private, hanya keluarga saja dan pihak Anshell pun hanya di datangi oleh Aaron Stone. Tidak ada sosok Xandria yang menemani karena adiknya sibuk di rumah sakit.
Padahal, keluarga Stone masih dalam keadaan berduka. Anditha masih belum sadarkan diri sampai detik ini. Tetapi, si sulung sudah melamar tanpa meminta restu dari Anditha.
“Setelah Nenekku baik-baik saja di kampung, aku akan cepat ke sini dan menemanimu sampai sembuh,” kata Aretha pada Xandra.
Gadis itu menarik nafas sejenak lalu memeluk Aretha. “Jangan lama-lama perginya.”
Aretha mengangguk paham. “Tapi, besok akan ada adikku yang datang ke sini mengantarkan makan siang dan makan malam untukmu. Namanya, Dygta,” kata Aretha.
Bibir Xandra mengerucut, ada hati tidak terima kalau Aretha tidak ada.
“Jangan lupa, minum vitamin ini,” tunjuk Aretha pada Xandra.
“Kamu simpan sendiri yah. Aku tidak akan menitipkan pada siapapun. Aku takut ada seseorang yang berbuat tidak-tidak.”
Xandra mengangguk paham. Aretha sudah menceritakan kalau kecelakaan yang dialaminya terbilang seperti disengaja dan itu hanya praduga Aretha saja. Tidak hanya itu Aretha pun tengah meminta Dygta untuk menyelidiki kasus kecelakaan tersebut secara diam-diam.
“Aku nggak akan lama dan setelah urusanku selesai aku akan datang lagi ke sini. Semoga Tuhan mengabulkan doaku dan doamu untuk kesembuhan kamu ini.
“Aku sangat yakin kalau kamu pastinya akan sembuh seperti dulu lagi, bisa berjalan lagi,” ungkap Aretha.
Setetes air mata pun berjatuhan. Xandria yang baru saja datang pun memeluk Aretha.
“Terima kasih banyak, Ka. Nggak usah khawatir, aku akan menjaga Kakaku,” kata Xandria yang dianggukan percaya pada adik kembar Xandra.
“Ya, sudah. Ayo, kita makan,” ajak Aretha pada kedua gadis kembar.
Aretha tersenyum senang menatap adik iparnya yang langsung lahap dengan masakannya.
“Eh, ini lezat sekali. Pantas saja sekarang ini tubuhmu agar berisi tidak sekurus kemarin-kamarin,” sindir Xandria.
“Ka Aretha tidak lama bukan?”
Aretha menggeleng, tidak.
“Kenapa memangnya?” tanya Xandra melirik kembarannya.
“Aku ingin dibuatkan makanan kayak gini. Lezat,” kata Xandria yang langsung dianggukan siap oleh Aretha.
__ADS_1
“Apa kamu akan ikut jalannya operasi besar ini, Shell?”