CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Aku Terpaksa!


__ADS_3

“Tekanan darah dan juga denyut nadi kamu normal. Usahakan tidak panik apa lagi stress karena bila tekanan darah kamu tinggi.


“Kamu tidak bisa operasi dan kita bisa mundur lagi jadwal operasinya. Apa sampai sini kamu paham, Aretha?”


Dokter Kevin memberikan penjelasan pada istri sahabatnya yang siang ini akan melakukan operasi.


Aretha mengangguk paham diiringi hembusan nafas panjang.


“Jam berapa jadwal operasinya?”


“Jam satu siang setelah makan siang.”


Kevin menarik kursi lalu duduk di depan Aretha. “Jangan berpikir hal yang lain-lain fokus saja pada kesehatanmu.


“Kamu akan kembali sehat setelah operasi sekalipun kamu hanya punya satu ginjal.”


“Ya, aku paham kok, Dok.”


“Aku sudah mengikhlaskan juga satu ginjal saya. Lebih cepat bukannya lebih baik kan, Dok?”


Kevin berikan anggukan, setuju. “Aku tidak ingin punya hutang pada Anshell.”


“Baiklah kalau begitu, sekarang istirahat dan rilekskan pikiranmu. Bila perlu apa-apa panggilan suster atau aku.”


Aretha berikan anggukan pelan, paham. “Nanti aku akan datang kesini untuk menjemputmu.”


“Apa Anshell akan turun dan ikut di dalam operasi ini?” tanya Aretha penasaran.


Sudah cukup lama ia tidak melihat suaminya itu. Kevin hela nafas pelan lalu menggeleng.


“Masalah Anshell akan turun tidaknya. Aku nggak tahu, dia tidak ikut di dalam operasi besar ini juga.


“Bila nanti bertemu kamu boleh tanyakan sendiri pada suamimu. Aku pamit, Aretha,” kata Kevin berlalu keluar dari ruangan VVIP tersebut.


Aretha memalingkan wajahnya dari pandangannya yang menatap kepergian Kevin dan kini Ken muncul di balik pintu dan masuk membawakan beberapa paper bag.


“Aku bawa pakaian ganti kamu nanti dan juga aku bawa makanan banyak,” tunjuk Ken seraya menunjukan beberapa paper bag di kedua tangannya.


“Sayang sekali kalau begitu, aku sedang puasa.”


Ken menghela pelan dan meletakan barang bawaan di atas meja sofa. “Jam berapa operasi dimulai?”


“Jam satu setelah makan siang katanya.”


Ken mengangkat satu lengan kirinya dan menatap jam tangan yang melingkar.


“Dua jam lagi?”


“Ya. Apa Dygta sudah mengantarkan makan siang yang aku masak tadi pagi untuk Xandra?” tanya Aretha.


“Nggak usah memikirkan Xandra, lebih baik kamu terfokus saja dulu dengan operasi ini. Ya, sudah istirahatlah nanti aku akan kembali lagi.”


Aretha mengangguk pelan dan membiarkan Ken pergi dari dalam ruangannya.


Sebenarnya, Aretha ingin sekali bertanya perihal Anshell pada Ken. Pria itu pastinya tahu bukan apa pria itu sekarang di sini?


‘Haish, untuk apa kamu terus memikirkan pria itu Aretha. Bukannya beberapa hari ini tidak ada Anshell hidupmu tenang?’ batinnya.


Aretha menarik nafas seraya bangun dari duduknya. Dia berjalan menghampiri kaca besar di dalam ruangannya. Menandangi gedung tinggi di kota Orchard dengan pikiran penuh. Bohong kalau Aretha tidak merindukan suaminya itu.


“Aku pikir kamu nggak akan datang ke sini?”


Kevin melirik sekilas seseorang yang berdiri di sampingnya. Dua jam sudah berlalu kini hari yang dinantikan itu tiba. Operasi transplantasi ginjal.


“Habis sibuk mengurus rencana pertunangan bahkan sudah bertunangan dengan wanita pujaan hati.


“Tentunya, buat kamu lupa kalau ada satu wanita yang selama ini menunggumu datang.”


“Lo nyindir gue ceritanya?” decak Anshell berikan tatapan tajam pada Kevin.


“Ah—apa kamu merasa tersindir, Shell?” balas Kevin dengan senyuman miring.


Tatapan kebencian Kevin semakin menjadi sekalipun pria yang berdiri di ruangan operasi itu sahabatnya sendiri.


Kevin sadar diri kalau ia pun bukan pria baik, tetapi tidak sebrengsek sahabatnya itu. Entahlah sikap Anshell yang terlalu bodoh dan lembek pada Lalisa membuat Kevin sendiri ikut geram.

__ADS_1


“Apa kamu ikut turun operasi besar ini, Shell?”


“Tidak! Aku hanya akan memantau saja jalan operasi besar ini.


“Baik pengangkatan maupun penyerahan aku akan selalu memantaunya,” kata Anshell, santai diiringi kedua tangannya yang berada di saku celana menatap sahabatnya.


Lelaki jangkung itu menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Inilah hari yang di tunggu-tunggunya. Operasi besar untuk kesembuhan sang ibu tercinta.


“Apa wanita itu sudah berada di ruangan sebelah?”


“Wanita?” ulang Kevin dengan kernyitan kening.


Pria itu lalu mendengus kasar, paham akan yang dimaksud sahabatnya.


“Wanita yang kau tanyakan itu istrimu sendiri, Shell! Istri yang sudah kamu abaikan dan juga sudah kau lukai hatinya.”


“Haish, aku sudah tidak sabar bagaimana nanti kau akan menuai dari hasil kamu memperlakukan istrimu ini, Shell.


“Aku yakin serratus persen di saat kamu menyadari kalau perbuatan kamu itu salah, aku berharap tidak ada pintu maaf untuk mu dari istrimu!”


“CK! Apa kamu menyumpahiku, hah?”


“Tidak. Aku hanya mengingatkan padamu saja, kalau KARMA itu pasti akan tiba! Kau hanya menunggu waktu saja!” geram Kevin pada sahabatnya.


Anshell pergi dari ruangan tersebut dan meninggalkan sahabatnya sendiri. Ia jengah mendengarkan umpatan kebencian yang terlontar dari mulut sahabatnya sendiri. Bahkan, tidak hanya satu dua orang yang sudah mengingatkan hal itu padanya.


Tetapi, beberapa teman dekat Anshell pun mengatakan hal yang sama. Ya, Anshell akui kalau ia kejam pada Aretha itu pun sesuai dengan apa yang sudah dilakukan oleh orang tua nya pada keluarganya.


Selama Aretha menjalankan perawatan dan juga mengikuti serangkai test donor tersebut. Anshell tidak pernah ada untuk wanita itu bahkan tidak mendampingi sang istri berada. Support pun tidak ada sama sekali.


Anshell melangkah ke samping kanan di mana Aretha sudah terbaring di meja operasi dengan wajah yang tegang.


“Don’t panic, Retha.”


Suara itu membuat kedua matanya mendelik dan langsung menoleh ke samping. Aretha melihat suaminya kini berada di dekatnya.


Bahkan, pria itu berjongkok di sampingnya mensejajarkan arah pandangnya.


“An…”


Ketahuilah sekalipun Anshell tak pernah menampakan diri di depan Aretha, tetapi Aretha adalah tempat di mana ia harus kembali pulang.


Selama ini, Anshell selalu pulang ke apartemen yang sama di mana Aretha tinggal.


Bahkan, Anshell pun tidur di ranjang yang sama dengan istrinya dan itu ia lakukan ketika Aretha sudah terlelap.


Tidak hanya itu, bahkan entah kenapa Anshell ingin dekat dengan istrinya sekalipun ia tidak berani menampakan diri ketika jarak mereka dekat.


Jakarta—singapore setiap harinya menjadi agenda kepulangannya. Anshell selalu mendekat istrinya di mana istrinya menyangka kalau ia tidak pernah pulang dan tidak pernah melihatnya.


Dan perkataan Kevin padanya itu salah, besar. Selama ini, dalam diam Anshell selalu mengawasi Aretha dan menghubungi chef dan Ken yang ia minta untuk melindungi istrinya.


“Kamu akan baik-baik saja setelah operasi ini. Kamu tidak akan mati Aretha sekalipun kamu punya satu ginjal,” kata Anshell seraya menggenggam erat tangan sang istri.


Aretha menghembuskan nafas panjang.


“Ya, aku berharap begitu. Aku akan kembali sehat untuk melanjutkan hidupku dan aku ingin lekas bisa terlepas dari mu.”


Satu alis Anshell tertarik ke atas lalu menatap Aretha.


“Aku tidak ingin hidup berdampingan dengan pria kejam sepertimu, An!”


Kenapa perkataan Aretha terdengar sakit. Apa separah ini ia melukai wanita itu sampai dia tidak ingin hidup berdampingan dengannya?


“Kamu tidak mau?”


Pertanyaan Anshell membuat Aretha bingung, bukannya pria itu sudah bertunangan dengan wanita tercintanya?


“Tentu tidak. Aku anak pembunuh bukan? Aku sadar diriku, kok.”


Anshell tidak menjawab namun juga tidak melepaskan kontak matanya dengan istrinya.


“Aku tidak tahu rencana Tuhan. Bila operasi itu gagal dan aku—”


“Stop. Itu tidak akan terjadi.”

__ADS_1


“Itu seandainya, An.”


“Tidak ada seandainya. Kamu harus kembali dan operasi ini tidak akan pernah gagal.


 “Kamu harus kembali hidup dan mendampingi iblis sepertiku, Aretha. Apa kamu paham?” tekan Anshell, keras dan tidak ingin dibantah lagi.


“An!”


“Stop, Retha aku tidak ingin mendengarkan apapun,” tegas Anshell.


Ruangan yang begitu dingin itu sekian detiknya hening seketika.


“Re…” Anshell membawa tangan Aretha untuk mengusap pipinya.


“Apa kamu masih mencintaiku, Re?”


Kelopak mata Aretha mengedip cepat lalu tertawa mendengar kan pertanyaan konyol dari Anshell.


“Aku serius, Re. Kenapa kamu tertawa, hm?”


Aretha bangun dan duduk di atas meja operasi dan menatap Anshell sejenak.


“Aku serius, Retha. Ingin merubah semuanya.”


Aretha merebahkan kepalanya di bidang dada Anshell dengan satu tangan yang mengusap sebelah kiri dada Anshell. Detak jantung Anshell membuatnya rindu.


“Jawab aku, Re?”


“Apa kamu pantas bertanya cinta padaku, setelah kamu meminta satu ginjalku dan juga kamu sudah bertunangan dengan Lalisa?”


“Maaf. Aku terpaksa. Tapi, aku serius ingin memperbaiki rumah tangga kita.”


Aretha melepaskan pelukannya lalu menengadahkan kepalanya ke atas menatap Anshell.


“Apa kamu sudah gila, An?”


“Kamu melakukan ini karena kasihan padaku? Atau kamu kurang puas membuatku menderita akan apa yang sudah kedua orang tuaku lakukan pada keluargamu?”


“Re…”


“Bagaimana, Lalisamu? Apa kamu berkata seperti ini karena kamu kembali dicampakan oleh dia sekalipun kalian sudah bertunangan?” sela Aretha cepat.


“Aku serius,” jawab Anshell diiringi ******* panjang.


“Maaf, Dok. Ini sudah waktunya operasi akan dimulai,” kata suster mengingatkan.


“Lima menit lagi, Suster tolong tunggu sebentar,” jawabnya.


“Re… Aku ingin bersamamu.”


Aretha menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah tahu kalau Anshell pastinya tengah dicampakkan lagi oleh Lalisa dan entah masalahnya kenapa. Pria itu selalu seperti ini bukan kebiasaan?


“Aku ingin tahu alasan kamu, An.”


“Tentang?”


“Apa alasanmu selalu membela Lalisa? Membangga-banggakan Lalisa.


“Oke, aku tahu kalau kamu memang cinta mati padanya? Tidak seharusnya kamu mengemis seperti ini bukan padaku?”


“Posisimu sudah menjadi tunangan wanita itu.”


“Dan posisiku adalah suamimu, Aretha,” sela Anshell cepat.


“Semua yang kamu lakukan pada Lalisa bahkan kamu sampai tunduk pada wanita itu.


“Rela terluka, mengikuti keinginannya, mengalah dan bahkan kamu menurut padanya tentunya ada alasan tersendiri bukan, An?”


“Aku tahu kamu bukan orang bodoh yang mau begitu saja diam dan menerima kan, An?”


Anshell diam diiringi helaan nafas pelan.


“Jawab aku, An?”


“Ya, Re. Aku punya alasan tersendiri.”

__ADS_1


“Bolehkan aku tahu apa alasannya?”


__ADS_2