CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Harga Yang Pantas!


__ADS_3

“Kamu terkejut melihatku berdiri di sini, hmm?”


Anshell berjalan mendekat dimana Aretha berdiri. Wanita itu nampak terkejut dengan kedatangannya yang secara mendadak di hari pernikahannya.


Aretha mencoba tetap menjaga kewarasan dengan kedatangan Anshell ke kampung halamannya. Dia tahu kedatangan Anshell ke sini itu tentunya ada tujuan lain.


Di mana pria itu begitu menakutkan membuat Darren terluka parah bahkan cacat.


Anshell dengan arogansinya kini berdiri saling berhadapan dengan Aretha tanpa memutuskan kontak mata.


“Kenapa kamu datang ke kampungku, An?”


Aretha bukan memberikan jawaban dari pertanyaan Anshell, tetapi wanita itu memilih bertanya akan keganjilan adanya pria itu di hadapannya.


“Tidak mungkin bukan kedatanganmu yang begitu jauh dari kota ke kampung ini hanya untuk mengucapkan selamat padaku?!”


Sudut bibir Anshell tertarik membentuk seulas senyuman sinis tanpa mengurangi sorot mata tajam yang seolah ingin mencabik-cabik gadis kampung di depannya.


“Kamu memang cerdas Aretha.”


Lelaki itu tersenyum tipis. “Kedatanganku kesini tentunya aku ingin membantumu—keluar dari sini—”


Aretha meremas kedua tangannya erat, sesuatu hal yang tidak enak pun menyelusup hatinya.


“Melepasmu dari jerat pria tua itu.”


Mata Anshell menatap tajam dengan kebencian yang kini teramat nyata pada anak pembunuh.


Dendam Anshell semakin menjadi di mana dia teringat bagaimana kakeknya dan juga adiknya dibunuh secara keji oleh mendiang kedua orang tua Aretha.


Anshell menyaksikan bagaimana orang-orang tercintanya diperlakukan keji oleh orang tua Aretha.


Sementara Aretha di depan pun menarik napas nan sesak, tidak ada Anshell yang dulu pernah dia kenal lagi.


Mata indah itu menatapnya dengan tersirat kebencian yang entah apa yang sudah ia lakukan.


Aretha tersenyum getir ketika beberapa pikiran berdatangan kalau pengerannya akan menyelamatkannya dan membawanya pergi dari acara pernikahan ini.


Aretha yang tahu bagaimana kekuasaan seorang Stone, tentunya tidak akan diragukan lagi bukan?


Anshell tau semuanya.

__ADS_1


Lagi, Aretha berpikir keras dengan sorot mata Anshell.


“Aku akan menyelamatkanmu yang terancam menjadi istri kelima belas!”


“Tentu ada syaratnya bukan?” tanya Aretha yang dianggukan pelan oleh pria itu.


Beginilah gadis kampung yang selalu tahu maksud kedatangannya dan tujuannya datang ke sini.


“Tentu semua ini tidaklah gratis bukan?”


“Ya, kamu benar. Tidak ada yang gratis di dunia ini, Aretha!”


Aretha hela nafas pelan. “Apa syarat dan apa keuntungan yang kamu berikan dari semua ini? Kamu sudah menjawabnya bukan kalau semua ini tidak ada yang gratis?”


Anshell mengusap dagunya seolah pria itu berpikir dengan syarat dan keuntungan untuk gadis kampung di depannya.


“Menikah denganku!”


Deg!


Bola mata Aretha membulat lebar dengan mulut yang menganga pandangi Anshell dengan tatapan tidak percaya. Padahal perkataan itu sudah beberapa kali mampir di teling Aretha.


“A-apah?”


“Menikahlah denganku, Aretha,” kata Anshell seolah mengulang perkataan.


Anshell selangkah maju. “Aku akan membantumu untuk membayar hutang pamanmu dari pria tua itu.


“Hutangku, banyak An.”


“Ck! sekalipun banyak aku tetap bisa membayarnya, Aretha.”


Ah—Aretha selalu saja terlupa siapa yang kini berdiri hadapannya, Anshell Damarion Stone seorang Pewaris Keluarga Stone.


“Ya, aku tahu itu. 5 miliar bukan?” sela Anshell cepat.


Tidak ada hal yang tidak tahu dari pria berkuasa itu, pria itu pun jauh-jauh datang ke sini tidak mungkin tidak ada sesuatu bukan?


“Aku akan membayarnya. Aku akan membantu biaya pengobatan Nenekmu. Aku akan menyekolahkan anakmu bahkan aku akan membiayai operasi tumor dan pengobatan bibimu yang tengah sakit keras di kota.”


Aretha menarik napas panjang. “Tolong jangan berbelit lagi, Anshell. Tidak mungkin seorang Anshell Damarion Stone meminta menikah dengan gadis kampung sepertiku ini setelah apa yang kamu lakukan pada Darren. Memberikan semua ini tentunya ada niat tidak baikmu bukan?”

__ADS_1


“Kamu memang pintar jallang!” bisik Anshell tepat di telinga Aretha.


“Aku menikahimu karena aku butuh sesuatu darimu. Kamu akan menjadi istri dari seorang Anshell Stone dan tinggal di nerakaku.”


Dada Aretha bergemuruh panas. “Apa kamu tuli, hah?”


Pria itu berdecak lidah, selama ini tidak ada yang mengatai dirinya. “Aku sudah mengatakan padamu kalau aku menyerah? Aku sudah tidak berharap lagi padamu?”


“Benarkah?” seru Anshell dengan ekspresi yang sengaja terkejut.


“Kamu lebih memilih menikah dengan pria tua itu daripada denganku?”


Aretha diam. “Tolong jangan permainkan aku, An! Aku tahu kamu menyimpan sesuatu hal padaku. Aku tahu bagaimana kamu menolak syarat dariku.”


Berbicara dengan Aretha menang melelahkan dan penuh emosi.


“Tapi aku akan menikahimu secara hukum dan juga agama. Tetapi—”


Aretha mendengkus kesal, kenapa selalu ada tetapi di setiap kalimat pria itu. “Tidak ada pesta dan juga tidak ada restu kedua orang tuaku!”


“Apa itu salah satu syarat?”


Anshell berikan anggukan pelan. “Lalu lainya?”


Aretha berharap semoga jawabanya hanya itu saja, sekalipun nanti dia akan tinggal di dalam neraka Anshell.


“Serahkan satu ginjalmu. Aku butuh satu ginjalmu yang sehat!” pintanya.


“Apaaah?” seru Aretha keras mendengarkan perkataan pria itu.


“Apa kamu sudah gila, hah? menikahi ku hanya untuk meminta satu ginjalku?”


Aretha mengeram filtrasi akan sifat Ansel yang benar berubah seratus delapan puluh derajat ini.


Aretha sudah tidak mengenali Anshell lagi. “Bukannya itu imbalan yang pantas untuk uang 5 milyar berikut juga dengan hal yang lainnya, hmm? Seharusnya kamu beruntung Alea.”


“Kenapa kamu menjadi seperti ini, An?” Aretha menatap sedih. Tidak ada tatapan lembut yang selama ini Aretha lihat tidak ada senyum yang menawan yang pria itu selalu berikan padanya.


Anshellnya kini benar-benar menyerupai iblis. “Aku tidak punya waktu untuk berdebat lagi denganmu, Alana. Kita menikah kontrak. Enam bulan cukup bukan, setelah itu kamu akan bebas dariku!”


“Brengsek kamu, An!”

__ADS_1


“Itu harga yang pantas untuk satu ginjalmu!”



__ADS_2