
“Bagaimana dengan Mommyku, Dok?”
Anshell baru saja mengantarkan Xandra ke ruangan operasi di mana Dokter Kevin sahabatnya dan Dokter bedah ortopedi tengah melakukan tindakan operasi pada kaki kanan Xandra yang tertancap besi.
“Dua ginjal Nyonya Anditha rusak, Shell. Dan satunya sudah tidak berfungsi lagi.
“Sepertinya benturan hebat yang mengenai Nyonya Anditha sampai terluka parah seperti ini.”
Anshell menatap satu ginjal yang baru saja dikeluarkan oleh Dokter Samuel.
“Kita harus secepatnya mencari donor ginjal yang cocok karena satu ginjal ibumu tidak akan bisa bekerja dengan baik,” ujar Dokter Samuel menerangkan.
Anshell diam seraya paham. “Apa sudah ada orang yang menghubungi pihak bank donor?”
“Sudah. Tidak ada yang cocok!”
Anshell menarik napas dalam-dalam, hancur sudah hatinya mendengarkan semua ini.
Dua ginjal Anditha rusak dan satu sudah tidak bisa berfungsi dan Dokter Samuel sudah mengambilnya.
Hidup Anditha berada di ujung tanduk, begitu juga dengan keadaan sang adik yang nyaris akan di amputasi.
“Baiklah aku akan mencari donor ginjal segera untuk Mommy,” kata Anshell seraya keluar dari dalam ruang operasi. Kini langkahnya berganti di mana Anshell ke ruang sebelah Xandra berada.
“Bagaimana Dokter Rendra? Tidak harus diamputasi kan?”
Dokter tua itu pandangi Anshell sejenak, lalu menarik nafas pelan. “Solusinya sudah saya jelaskan pada anda, Dok. Kami akan memasang pen di kaki adik anda.”
Anshell menarik napas lega. “Baiklah, tolong pantau terus keadaanya Kev. Kabarkan padaku setelah operasi,” pinta Anshell yang diangguhkan pelan oleh Kevin, paham.
Pria itu kembali keluar dan berjalan menuju lantai bawah di mana ruangan kerjanya berada.
Anshell menghubungi Gerry dan meminta asisten pribadinya itu untuk mencarikan donor ginjal yang cocok untuk sang ibu.
Berapapun harganya Anshell akan bayar karena nyawa sang ibu lebih jauh lebih penting dari apapun.
__ADS_1
“Kita pulang yuk, Tha. Keluarga Darren sudah datang juga,” ujar Baby yang dianggukan Toby, benar.
Aretha pandangi dua teman baiknya itu. “Kamu harus banyak istirahat, jangan sampai kamu juga ikutan sakit.
“Masalah Darren aku akan memberitahukan kabarnya setelah Darren keluar dari ruang operasi,” ujar Toby yang dianggukan oleh Bebby benar.
“Yuk, kita baru saja pindah rumah loh, Tha. Viola cari kamu tadi.”
“Putrimu sudah pulang?”
Bebby berikan anggukan pelan, membenarkan kalau Viola sudah pulang.
“Apa dia rindu dengan calon ayahnya?” goda Toby diiringi senyuman.
Aretha tertawa pelan sementara Bebby berikan bibir lima centinya. “Tidak! Siapa lo harus rindu segala!”
“Segitunya honey. Sudahlah, kalian berdua pulanglah setelah Darren keluar dan aku berbicara dengan keluarga Darren, aku pulang ke rumahmu.
“Aku ingin bertemu dengan putriku,” ucap Toby membuat Aretha tertawa pelan.
“Andi sudah menunggu kalian di depan, dia yang akan mengantarkan kalian ke rumah baru,” ucap Toby yang dianggukan Aretha dan juga Bebby.
Aretha dan Beby berlalu pergi dari rumah sakit. Aretha pun tak sabar ingin bertemu dengan Viola putri Bebby.
Seseorang di seberang sana tertawa keras. Dia puas dengan kerja anak buahnya. Akhirnya rencananya berhasil membuat Anshell dan Gavien jera. Apa dua orang itu menyesal setelah ini?
“Bagaimana kondisi dua orang itu?”
“Nyonya Anditha kehilangan satu ginjalnya dan butuh donor ginjal sementara Nona Xandra terancam kehilangan sebelah kakinya!”
“Good! Itulah yang aku mau!” katanya seraya menatap orang kepercayaannya.
“Kini satu lagi tugasmu setelah kamu berhasil dengan tugas ini cepatlah pergi menjauh. Kau paham?”
Pria itu berikan anggukan pelan, seseorang yang tengah menyesap wine pun melemparkan sebuah foto pada si pria.
__ADS_1
“Ingat-ingatlah wajahnya, aku ingin orang ini pun sama menderitanya seperti mereka berdua.
“Jangan langsung dibunuh karena itu kelihatanya tidak asik, aku hanya ingin melihat mereka menderita. Kau paham!”
“Baik Bos!” jawab si pria berlalu pergi meninggalkan bosnya.
“Kau begitu licik juga honey,” seorang pria berjalan mendekat. Dia memeluk wanita yang tengah berpesta seorang diri.
Wanita itu mengulum senyum. “Kamu dari mana hmm? Kenapa selama ini kamu mendadak menghilang?”
Pria itu menghembuskan napas pelan. “Aku harus menemukan keponakanku, menurut orang ku dia membawa cincin berlian milik Bella. Kau tahu bukan kalau cincin itu sangat berarti?”
Seseorang yang tak lain Lalisa menarik sudut bibirnya ke samping. “Lalu kamu belum menemukannya?”
“Sudah.”
Kening Lalisa mengernyit menatap pria tersebut. “Lalu kenapa kamu tidak menangkapnya dan mengambilnya, hah?
“Kita bisa sama-sama membalas dendam kita pada Keluarga sombong itu!”
Pria itu menarik sudut bibirnya ke samping. “Tidak semudah itu aku mengambilnya, Lisa. Keponakanku selalu diawasi oleh salah satu gangster berbahaya di kota ini.”
“Apa maksudnya Andreas?”
Pria yang tak lain Dany mengangguk pelan.
“Ya. Sudah lama aku mengikutinya, tetapi anak buah mereka banyak yang menjaga keponakanku.”
Lalisa menatap lekat seraya berpikir kalau Andreas memang bukanlah tandingannya.
Dia pun harus menghilangkan banyak barang bukti atas pembunuhan Cristal.
“Biar orangku saja yang bertindak. Pekerjaan dia selalu rapih, aku yakin dia bisa mengambil cincin tersebut dari tangan keponakanmu. Apa kamu punya fotonya?” tanya Lalisa.
Dany mengeluarkan dompetnya lalu memberikan satu foto kecil di mana terlihat dua wanita yang tersenyum.
__ADS_1
“Ini foto keponakaku.”
“Keponakan kamu Aretha?”